Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 2 )


'Panji Tejo Laksono?


Bukannya itu nama putra sulung Prabu Jayengrana? Atau jangan-jangan dia hanya punya nama yang sama dengan pangeran dari Kerajaan Panjalu itu? Hemmmmmmm, aku harus menanyakan nya agar tidak salah langkah', batin Iblis Bukit Manoreh sembari mengerutkan keningnya kala mendengar Panji Tejo Laksono menyebut nama.


"Bocah busuk!!


Apa kau putra sulung Prabu Jayengrana dari Daha? Jawab jujur, jangan mencoba untuk menipu ku..", sorot mata Iblis Bukit Manoreh tajam menghujam ke arah Panji Tejo Laksono. Siapapun orangnya pasti akan bergidik ngeri saat melihat tatapan mata yang seakan ingin membelah tubuh orang yang di tatap untuk melihat isi hatinya.


"Iblis tua!!


Tak salah jika kau menyebut Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai putra sulung Prabu Jayengrana. Dia memang calon pewaris tahta kerajaan Panjalu selanjutnya", sahut Senopati Sembada yang baru saja mengakhiri perlawanan Setan Mata Satu. Pria picak itu tewas dengan dada robek setelah menerima tebasan pedangnya.


Iblis Bukit Manoreh yang tidak suka jika pembicaraan nya di ganggu, menggeram lirih sembari memutar telapak tangan kanan nya sejajar pinggang. Satu kali sentakan keras, angin kencang berhawa panas meluruk ke arah Senopati Sembada.


Whhuuusshhh!!


Blllaaaaaarrr!!!


Senopati Sembada yang tidak siap dengan serangan cepat itu langsung terlempar ke belakang dan menyusruk tanah hampir 2 tombak jauhnya. Dia langsung muntah darah segar pertanda bahwa dia menderita luka dalam yang cukup parah.


"Serangga kecil pengganggu!


Aku tidak meminta jawaban dari mulut busuk mu..", ucap Iblis Bukit Manoreh sembari melirik kearah Senopati Sembada yang terkapar tak berdaya di tanah.


"Kenapa masih diam saja? Cepat jawab pertanyaan ku, bocah keparat!!", maki Iblis Bukit Manoreh yang mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.


"Sudah di jawab oleh Senopati Sembada, Iblis Bukit Manoreh..


Apa lagi yang perlu aku bicarakan?", jawab Panji Tejo Laksono tenang. Meskipun demikian, ia waspada terhadap segala gerak-gerik lawannya itu.


HAHAHAHAHAHAHA...!!


Tawa lantang terdengar dari mulut Iblis Bukit Manoreh. Panji Tejo Laksono yang sedikitpun tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap lelaki tua bertubuh kekar itu mundur selangkah ke belakang untuk bersiap karena merasa ada yang ganjil dari tawa sang iblis.


"Hyang Yamadipati sungguh berwelas asih pada ku.. Dia tidak mau aku jauh-jauh ke Kadiri untuk mencari pembunuh adik seperguruan ku Patih Tundungwaja..


Panji Tejo Laksono, sekarang bersiaplah untuk mati!!", mata Iblis Bukit Manoreh mendelik ke arah sang pangeran muda dari Kadiri.


"Meskipun aku bukanlah pembunuh saudara seperguruan mu, tapi aku juga tidak mau kalau kau datang ke Daha.


Sudah cukup kau membuat kekacauan di wilayah Kadipaten Lewa dan Anjuk Ladang. Atas nama pemerintah Kerajaan Panjalu, aku jatuhkan hukuman mati untuk mu..", tegas Panji Tejo Laksono segera.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita buktikan sendiri siapa yang lebih pantas hidup lebih lama di dunia ini!!"


Selepas berkata demikian, Iblis Bukit Manoreh menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan kedua cakar tangan nya menyilang. Sepuluh larik cahaya merah kehitaman langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Rupanya Iblis Bukit Manoreh langsung mengerahkan Ajian Sepuluh Cakar Kematian yang merupakan salah satu ilmu kanuragan yang dia andalkan.


Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!


Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja hingga tubuhnya segera di lambari cahaya kuning keemasan. Setelah itu ia segera melesat cepat kearah Iblis Bukit Manoreh dengan Ajian Sepi Angin nya.


Whhhuuutthh!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Ledakan keras beruntun terdengar saat sepuluh larik cahaya merah kehitaman itu menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Namun itu tidak menghentikan gerakan cepat sang pangeran muda. Seolah tidak terjadi apa-apa, Panji Tejo Laksono terus menerjang maju ke arah Iblis Bukit Manoreh dengan tangan yang berwarna merah menyala seperti api yang berkobar.


Tak mau menunggu lama lagi, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah kepala Iblis Bukit Manoreh. Lelaki tua berjanggut putih itu mengumpat keras sambil menyilangkan kedua tangan nya untuk menahan hantaman Ajian Tapak Dewa Api.


"Bangsaaaaaaaaattttt..!!!"


Blllaaammmmmmmm!!!!


Tubuh kekar lelaki tua yang tidak memakai baju itu langsung terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Saat tubuh nya masih belum berhenti tersurut mundur, tiba-tiba saja muncul cahaya merah menyala berhawa panas dari arah samping kanan bersamaan dengan hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono yang muncul tiba-tiba disana.


"Setan alas,!!!"


Umpat Iblis Bukit Manoreh yang segera menjatuhkan diri ke tanah hingga hantaman Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono hanya menghajar mantel hitam kesayangannya yang membuat kain lebar itu bolong. Secepat kilat, Iblis Bukit Manoreh merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kaki kanan ke arah pinggang Panji Tejo Laksono dengan menggunakan tangan sebagai tumpuan.


Dhhaaaassshhh!!


Serangan cepat itu langsung di sambut dengan jejakan kaki kiri hingga tubuh Panji Tejo Laksono melenting mundur beberapa tombak ke belakang. Begitu mendarat dengan sempurna, Panji Tejo Laksono langsung memutar tubuhnya dan kembali melesat cepat kearah Iblis Bukit Manoreh.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Sekitar tempat pertarungan mereka porak poranda akibat adanya benturan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mereka miliki. Beberapa lobang sebesar kerbau tercipta di tanah. Yang lebih parah, satu hantaman Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono yang di hindari oleh Iblis Bukit Manoreh, menghajar sebuah tiang rumah tempat tinggal lelaki bertubuh kekar itu hingga tiang rumah itu hancur dan sebagian rumah langsung berderak lalu rubuh separuh.


Para pengikut dari kedua orang yang bertarung ini memilih untuk menjauh dari tempat pertarungan mereka. Sebab jika sampai terkena serangan nyasar dari mereka, bisa di pastikan bahwa nyawa akan melayang.


Iblis Bukit Manoreh yang awalnya merasa akan mudah mengakhiri pertarungan ini mulai di liputi rasa cemas. Mereka telah bertarung hampir dua kali waktu menanak nasi, dan Panji Tejo Laksono sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Hanya selepas mengeluarkan ilmu kanuragan tingkat tinggi nya, cahaya merah kebiruan menutupi seluruh tubuhnya dengan cepat lalu hilang tanpa bekas. Setelah itu kemampuan dan tenaga dalam Panji Tejo Laksono kembali pulih seperti sedia kala.


Bocah keparat ini rupanya memiliki ilmu yang bisa mengembalikan tenaga dalam nya. Berapa kali pun dia melepaskan banyak tenaga dalam, tubuhnya langsung kembali seperti semula. Aku harus secepatnya mengakhiri pertarungan ini kalau tidak maka aku sendiri yang akan binasa'


Sembari membatin dalam hati, Iblis Bukit Manoreh melirik ke arah Cendana dan Cendani yang masih bertarung dengan sengit melawan Endang Patibrata. Beberapa bekas luka sayatan pedang telah menghiasi tubuh mereka.


"Cendana Cendani..


Kemari kalian!!!!"


Mendengar suara guru nya, Cendana dan Cendani langsung menyalurkan tenaga dalam mereka pada pedang di tangan mereka. Cahaya biru redup berhawa dingin berpendar cepat dari bilah pedang mereka. Keduanya langsung menebaskan pedangnya kearah Endang Patibrata bersilangan.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Dua hawa dingin berdesir kencang mengikuti dua cahaya biru redup yang menerabas cepat kearah Endang Patibrata. Sang putri Lurah Wanua Pulung Singo Manggolo ini pun tak tinggal diam dengan segera membabatkan pedang nya ke arah dua cahaya biru redup berhawa dingin itu.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh..


Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!


Endang Patibrata tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Meskipun dia tidak terluka sama sekali, tapi serangan itu membuat perhatian nya teralihkan. Hingga saat menatap ke arah Cendana dan Cendani, dua orang itu telah pergi dari tempat nya. Rupanya itu hanya serangan pengalihan.


Cendana dan Cendani langsung melesat cepat ke samping kanan dan kiri Iblis Bukit Manoreh.


"Kenapa guru memanggil kami? Setan betina yang kami hadapi, bukanlah pendekar kacangan guru", protes Cendani yang di sambut anggukan kepala oleh Cendana.


Iblis Bukit Manoreh tak menjawab omongan kedua orang muridnya. Kedua tangan nya langsung memegang bahu kedua muridnya. Tiba-tiba rasa sakit yang teramat sangat menggerogoti seluruh tubuh Cendana dan Cendani.


"Gu-guru a-ada apa iniii? Sakit sekali guruu..", teriak Cendani sembari mengerang kesakitan. Iblis Bukit Manoreh mendengus dingin sembari berkata dengan nada datar.


"Saatnya kalian membalas kebaikan ku selama ini", ucap Iblis Bukit Manoreh yang terus menghisap tenaga dalam milik Cendana dan Cendani.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Cendana dan Cendani meraung keras saat rasa sakit yang teramat sangat menyerang sekujur tubuh mereka. Mereka berdua berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Iblis Bukit Manoreh, namun semua usaha mereka hanya sia-sia belaka.


Perlahan lobang sebesar biji nangka yang ada di kedua telapak tangannya menutup seperti hendak pulih seperti sedia kala. Ini adalah daya Ajian Rawa Rontek yang menjadi ilmu pamungkas dari Iblis Bukit Manoreh. Untuk menutupi bekas luka saat pertarungan dengan Mpu Sastrarukmi yang menghancurkan Jimat Merah Delima miliknya, harus menggunakan tenaga dalam dari dua bocah kembar berbeda jenis kelamin. Itulah sebabnya mengapa Iblis Bukit Manoreh mau menerima Cendana dan Cendani sebagai murid.


Setelah seluruh tenaga dalam Cendana dan Cendani terhisap oleh Iblis Bukit Manoreh, dua murid kembar ini langsung tersungkur tak berdaya di tanah. Luka di kedua telapak tangan Iblis Bukit Manoreh juga telah menutup sempurna.


Melihat itu, Iblis Bukit Manoreh menyeringai lebar. Pandangan mata nya langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono.


"Sekarang aku sudah siap untuk melayani semua ilmu kesaktian mu, Panji Tejo Laksono.


Hahahaha...


Kau pasti akan mampus di tangan ku..", ucap Iblis Bukit Manoreh dengan pongahnya. Sebelum bergerak ke arah Panji Tejo Laksono, kakek tua bertubuh kekar itu menendang Cendana dan Cendani yang terkapar lemah di sampingnya.


Dhasshhh dhasshhh!!


Auuuggghhhhh!!!


Tubuh Cendana dan Cendani terlempar ke arah Endang Patibrata. Karena sudah tidak memiliki tenaga dalam lagi, keduanya langsung muntah darah segar saat terbanting ke tanah.


Sementara itu Panji Tejo Laksono segera menghantamkan Tapak Dewa Api nya ke arah dada Iblis Bukit Manoreh saat pendekar tua itu mendekatinya.


Blllaaammmmmmmm!!


Tubuh Iblis Bukit Manoreh seketika terpelanting jauh ke belakang dengan keadaan separuh gosong. Dia mati seketika. Namun tak berselang lama kemudian dia bangkit kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Seringai lebar terukir di wajah lelaki tua itu. Panji Tejo Laksono terperangah heran melihat itu semua.


Hehehehe...


"Ayo Panji Tejo Laksono..


Pilih bagian tubuh ku mana lagi yang akan kau serang he hahahaha.. Aku akan menerima 3 serangan mu sebelum aku membalasnya", tawa pongah terdengar dari mulut Iblis Bukit Manoreh.


Panji Tejo Laksono mendengus dingin mendengar ocehan lelaki tua itu. Mulutnya komat-kamit merapal mantra Ajian Brajamusti. Cahaya putih kebiruan tercipta di telapak tangan kanannya bercampur dengan kilat kecil petir yang menyambar ke segala arah.


Setelah menjejak tanah dengan keras, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Iblis Bukit Manoreh sambil menghantamkan Ajian Brajamusti di tapak tangan kanan nya ke arah dada Iblis Bukit Manoreh. Lelaki tua itu sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri malah tersenyum lebar ketika serangan itu datang.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Brajamusti telak menghantam dada Iblis Bukit Manoreh. Tubuh lelaki tua hancur separuh dan berserakan ke segala arah. Dia tewas seketika. Namun itu tidak berlangsung lama. Perlahan daging tubuh Iblis Bukit Manoreh yang hancur berhamburan ini bergerak mengumpul seperti ada sesuatu yang menarik mereka.


Hanya dalam waktu singkat, seluruh tubuh Iblis Bukit Manoreh yang hancur berantakan telah bersatu kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Mata Iblis Bukit Manoreh menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan mulutnya menyunggingkan senyuman lebar seolah menghina sang pangeran muda.


Panji Tejo Laksono kembali terperanjat melihat kejadian itu. Ini semua di luar nalar pemuda yang menjadi Adipati Seloageng itu. Tak satupun pendekar sanggup menghadapi Ajian Brajamusti. Bahkan golongan siluman pun akan tewas jika terkena hantaman ilmu ini.


'Bagaimana cara untuk membunuh iblis tua ini?


Jagad Dewa Batara, berilah petunjuk mu..'