
"Anak Akuwu Berbek? Kenapa anak Akuwu bisa menjadi maling seperti ini?", Panji Tejo Laksono seakan tak percaya dengan omongan orang orang Wanua Sono.
Ki Sanjiwana menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Aku tidak punya kuasa untuk menanyakannya, Taji Lelono.
Pangkat ku hanya Lurah, tidak punya hak untuk menanyakan maksud dan niat dari seorang putra Akuwu meskipun dia terbukti melakukan tindak kejahatan", ujar Ki Sanjiwana sembari melirik ke arah Raden Bagaskara yang masih di biarkan begitu saja tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
"Kalau putra seorang Tumenggung Panjalu, apa bisa mengurus nya?", tanya Luh Jingga yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
Ki Sanjiwana dan Jagabhaya Wanua Sono langsung saling berpandangan mendengar ucapan itu.
"Tentu saja bisa. Bahkan jika itu kesalahan seorang Adipati pun, anak seorang Tumenggung Panjalu masih di benarkan untuk bertindak.
Begitu menurut hukum Kitab Kutaramanawa ", jawab Jagabhaya Wanua Sono segera.
"Kalau begitu sekarang tidak perlu repot-repot lagi mengadu ke Pamgat Kadipaten.
Kakang Taji, sebaiknya kau segera bertindak", ujar Luh Jingga dengan cepat.
Mendengar perkataan Luh Jingga, semua orang yang ada di tempat itu terperangah. Mereka segera menatap wajah Panji Tejo Laksono dengan seakan meminta jawaban termasuk Raden Bagaskara yang masih diam seribu bahasa.
Hemmmmmmm
Tersenyum dengusan nafas dingin Panji Tejo Laksono sembari mendelik tajam ke arah Luh Jingga.
"Mulut mu kenapa susah sekali di kendalikan?", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Luh Jingga merasa tidak nyaman. Gadis cantik itu segera mendekati Panji Tejo Laksono.
"Maafkan aku Kakang..
Aku tidak bermaksud untuk pamer kedudukan. Tapi jika maling ini di bawa ke Pakuwon Berbek, tentu dia akan di bebaskan tanpa peradilan. Aku tidak mau melihat kejahatan merajalela tanpa ada yang berani menindak tegas", Luh Jingga menundukkan kepalanya.
"Ya aku tahu itu, tapi jangan suka mengumbar kedudukan di mata semua orang.
Selain akan di pandang angkuh, juga akan membuat kita dalam masalah", kata Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Luh Jingga.
"Iya sekarang aku mengerti. Ini yang terakhir. Besok besok tidak akan terulang lagi. Janji deh", Luh Jingga mengacungkan kelingking tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia berjanji. Gayatri yang banyak diam langsung mengacungkan jempol nya pada Luh Jingga.
Panji Tejo Laksono tidak menanggapi ucapan Luh Jingga dan berlalu menuju ke arah Raden Bagaskara yang masih kaku di sudut ruangan serambi kediaman Lurah Wanua Sono.
"Sekarang aku tanya. Atas nama Tumenggung Ludaka dari Kotaraja Kadiri, jawab pertanyaan ku dengan jujur. Kalau kau menjawab pertanyaan ku tanpa kebohongan sedikit pun, ku pasti kan kau akan mendapatkan pengurangan hukuman untuk kejahatan mu.
Apa maksud mu menjadi garong yang meresahkan masyarakat Pakuwon Berbek?", Panji Tejo Laksono menatap wajah Raden Bagaskara.
"Aku aku terpaksa melakukan nya.
Ayahku Mpu Kenari tidak mau menyumbangkan persediaan pangan di gudang makanan Pakuwon untuk membantu wilayah Wanua Joho yang terkena bencana kelaparan karena tanaman padi dan palawija mereka hancur karena hama tikus yang merajalela. Dia malah marah besar pada ku dan mengusir ku dari Istana Pakuwon Berbek.
Karena itu aku menjadi pencuri untuk membantu warga Wanua Joho. Hanya ini yang bisa aku lakukan agar rakyat Wanua Joho terbantu untuk melanjutkan hidup", jawab Raden Bagaskara dengan lugas.
Kaget semua orang mendengar kata kata yang keluar dari mulut Raden Bagaskara. Ki Sanjiwana sendiri mengetahui bahwa Wanua Joho yang bersebelahan dengan Wanua Sono memang tengah dalam masalah bencana kelaparan karena gagal panen. Beberapa kali dia sempat mengulurkan bantuan ke wilayah tetangganya itu namun itu tidak cukup membantu wanua itu dari kelaparan yang melanda. Entah bantuan dari mana, perlahan Lurah Wanua Joho mampu menyelamatkan rakyat nya dengan membeli bahan makanan meskipun saat terakhir Ki Sanjiwana kesana, pakaian Lurah Wanua Joho sudah compang camping penuh tambalan. Jika merunut sejarah itu dan perkataan Raden Bagaskara, maka benarlah jika dia yang membantu Wanua Joho diam diam.
Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Ki Sanjiwana yang berdiam diri di samping nya.
"Menurut Ki Sanjiwana, apa perkataan dari Raden Bagaskara ini ada benarnya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Benar Raden...
Sepertinya jika di kaitkan dengan munculnya bantuan diam diam untuk Wanua Joho baru baru ini, perkataan Raden Bagaskara ada benarnya. Sebab pencurian yang marak terjadi justru muncul setelah peristiwa bencana kelaparan itu melanda Wanua Joho.
Mohon Raden Taji Lelono bersikap adil untuk masalah ini", ujar Ki Sanjiwana dengan penuh hormat kepada Panji Tejo Laksono dan memanggil nya dengan sebutan Raden yang menandakan bahwa Taji Lelono adalah anak bangsawan.
Hemmmmmmm..
"Ini menyangkut rasa keadilan untuk semua orang. Baiklah aku akan membuat keputusan yang adil untuk semua orang.
Raden Bagaskara, aku akan membebaskan mu tapi dengan syarat kau harus mengembalikan semua barang yang kau curi dari orang yang menjadi korban mu. Kau tahu meski niat mu baik, tapi cara mu salah.
Sedangkan untuk membantu Wanua Joho, aku akan menulis surat kepada ayah mu untuk memberikan bantuan kepada mereka. Jika bantuan masih belum cukup, kau bisa datang ke tempat Tumenggung Ludaka di Katumenggungan", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat semua orang merasa lega. Meski mengambil barang orang, tapi Raden Bagaskara tidak pernah melukai mereka jadi dia masih bisa diampuni kesalahannya. Terlebih lagi, Panji Tejo Laksono mengharuskan Raden Bagaskara mengembalikan semua barang yang diambil nya.
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono langsung membebaskan totokan Raden Bagaskara. Putra Akuwu Berbek itu segera berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono dan menghaturkan sembah.
"Terimakasih atas kebijaksanaan Raden..
Selamanya Bagaskara tidak akan melupakan budi baik Raden pada ku", ujar Raden Bagaskara dengan penuh hormat. Andai saja Panji Tejo Laksono tidak mengadili nya dengan arif, pasti saat ini dia sudah di hukum mati oleh nya.
Malam itu juga, Panji Tejo Laksono menuliskan sepucuk surat untuk Akuwu Berbek. Sementara itu Raden Bagaskara mengembalikan semua barang yang diambilnya dengan diantar Ki Lurah Sanjiwana dan Jagabhaya Wanua Sono.
Usai mengembalikan barang curian, mereka kembali ke kediaman Ki Sanjiwana. Panji Tejo Laksono langsung memberikan surat itu pada Raden Bagaskara dan saat itu juga dia di haruskan untuk pulang ke Pakuwon Berbek dengan pengawalan Jagabhaya Wanua Sono sebagai saksi.
"Raden Taji Lelono sungguh bijaksana dalam mengambil keputusan.
Saya benar benar kagum dengan sikap dan kearifan Raden hari ini", ujar Ki Sanjiwana sembari tersenyum simpul.
"Sudahlah Ki..
Aku hanya tidak ingin orang yang baik tapi menempuh jalan yang salah semakin terjerumus dalam perilaku nya. Kita harus mengadili setiap perkara dari pendengaran kita untuk dua sisi yang berbeda. Jangan buru-buru menyalahkan orang lain tanpa tahu duduk persoalan yang sebenarnya", kata Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Nasehat Raden akan selalu saya dengarkan..
Sudah malam, sebaiknya kita beristirahat Raden", ujar Ki Sanjiwana dengan santun.
Malam segera berlalu dengan cepat. Berganti pagi hari yang di penuhi kehangatan sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah celah awan tebal di angkasa. Kicau burung bersahutan di ranting pohon nangka yang ada di samping halaman rumah Ki Lurah Sanjiwana.
Pagi itu, usai sarapan pagi bersama, Panji Tejo Laksono mohon pamit pada Ki Sanjiwana untuk meneruskan perjalanan nya ke Kadiri.
Saat matahari sepenggal naik di langit timur, mereka bertiga segera menggebrak kuda tunggangan nya kearah timur. Pemandangan alam yang indah menjadi teman seperjalanan mereka menuju ke arah Kotaraja Kadiri.
Sebelum tengah hari mereka telah sampai di sebuah wanua yang memiliki dermaga penyeberangan ke wilayah Kotaraja Kadiri.
"Kakang Taji, kita tidak makan dulu sebelum menyeberangi Sungai Brantas ini?",tanya Gayatri sembari melompat turun dari kudanya sebelum melangkah ke arah dermaga penyeberangan mengikuti Panji Tejo Laksono sembari menuntun kuda nya.
"Nanti saja, Gayatri..
Setelah menyeberangi Sungai Brantas, akan ku ajak kau menikmati makanan Kotaraja Kadiri. Tahan sebentar lapar mu", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul. Mereka bertiga segera masuk ke sebuah perahu penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kadipaten Anjuk Ladang dan Kotaraja Kadiri atau juga di sebut sebagai Kota Daha.
Panji Tejo Laksono langsung membayar biaya penyeberangan mereka sebesar 3 kepeng perak dan 6 perunggu. Perlahan perahu penyeberangan itu bergerak menuju ke seberang Sungai Brantas. Air sungai yang keruh kecoklatan di tambah lebih tinggi dari biasanya menandakan bahwa musim hujan masih berlangsung di wilayah Kerajaan Panjalu.
Tepat di depan gapura Istana Katang-katang, Panji Tejo Laksono langsung menarik tali kekang kudanya dan segera turun dari kudanya begitu juga dengan Luh Jingga dan Gayatri. 8 orang prajurit yang bertugas langsung mendekati mereka setelah Panji Tejo Laksono yang berjalan ke arah pintu gerbang istana sedangkan Luh Jingga dan Gayatri masih berdiri di tempat yang agak jauh.
"Mau apa kau kemari Kisanak? Di Balai Paseban Agung sedang di adakan pertemuan besar, yang tidak berkepentingan dilarang masuk", ujar sang prajurit penjaga gerbang istana dengan tegas.
Panji Tejo Laksono langsung membuka caping bambu nya dan merogoh kantong baju nya lalu mengeluarkan lencana emas bergambar Candrakapala.
"Aku ingin menemui ayahanda ku, apa itu juga tidak boleh?", ucap Panji Tejo Laksono segera. Melihat lencana itu, sang prajurit langsung berlutut dan menghaturkan sembah pada Panji Tejo Laksono. Ketujuh teman nya pun ikut menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Memang mereka tidak mengenal Panji Tejo Laksono yang sudah dewasa karena saat berusia 1 dasawarsa, Panji Tejo Laksono sudah berguru kepada Resi Mpu Sakri di Padepokan Padas Putih.
"Mohon ampuni kami Gusti Pangeran. Kami benar-benar buta tidak bisa melihat siapa yang sedang kami hadapi", ujar sang pimpinan prajurit penjaga itu sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Antarkan aku ke Balai Paseban Agung sekarang", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab ke delapan prajurit itu bersamaan.
Sang kepala prajurit penjaga langsung menjadi caraka Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga masuk ke dalam istana. Gayatri dan Luh Jingga nampak takjub dan kagum dengan kemegahan dan keindahan Istana Katang-katang. Mereka seperti rusa yang masuk kampung, nampak silau dan takjub dengan tempat itu sementara Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat tingkah laku mereka.
Hari itu, di Balai Paseban Agung sedang di gelar pisowanan para Adipati wilayah timur Kerajaan Panjalu. Tampak duduk di atas singgasana Kerajaan Panjalu, Sang Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta atau juga disebut sebagai Prabu Jayengrana. Di kanan kiri nya, tiga permaisuri raja yakni Dewi Anggarawati, Ayu Galuh dan Dewi Naganingrum nampak duduk dengan anggun. Sementara itu di lajur kanan ada Mapatih Warigalit, Panglima Agung Narapraja, Senopati Tunggul Arga, Senopati Jarasanda, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg nampak duduk di dengan tenang. Di lajur kiri ada Mahamantri Mpu Kepung, Mahamantri Jayakerti, Sang Pamgat Jnanaloka, Dang Acarya Ring Kasaiwan Mpu Gandasena, Dang Acarya Ring Kasogatan Wiku Wikalpa, Tumenggung Rajegwesi, dan Demung Sukerta.
Di kursi Adipati nampak Adipati Seloageng Tejo Sumirat, Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari, Adipati Karang Anom Windupati, Adipati Anjuk Ladang Abiyakta, Adipati Singhapura Damar Galih, Adipati Tanggulangin Prangbakat, Adipati Bojonegoro Tunggaraja, Adipati Lasem Wanapati dan Adipati Muria Balapati.
Semua orang nampak tegang mendengar laporan dari Tumenggung Ludaka mengenai berita dari telik sandi yang melaporkan adanya pergerakan pasukan besar yang menuju ke wilayah Kadipaten Singhapura dari timur.
Hemmmmmmm..
"Jadi mereka bukan dari pihak Jenggala?", tanya Prabu Jayengrana sembari menatap ke arah Tumenggung Ludaka usai sang Tumenggung memberikan berita.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Menurut telik sandi yang melaporkan, pasukan itu bukan berasal dari Jenggala tapi ada sebuah bendera hijau bergambar gada berwarna emas", Tumenggung Ludaka menghaturkan sembah.
"Bukankah itu adalah lambang Tanah Perdikan Blambangan, Tumenggung Ludaka?
Sebab satu-satunya yang menggunakan bendera hijau dengan gambar gada emas seingat ku hanya Blambangan saja", sahut Mahamantri Jayakerti segera.
"Ucapan Paman Jayakerti benar adanya. Itu adalah bendera Tanah Perdikan Blambangan.
Karena aku pernah melihat bendera itu sewaktu rombongan prajurit Blambangan di Singhapura dulu", ujar Mapatih Warigalit yang pernah memimpin pasukan Panjalu saat penaklukan Pasukan Jenggala dulu di Singhapura.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu kita tidak boleh berdiam diri saja. Meski aku belum tahu tujuan mereka kemari, tapi membawa pasukan dalam jumlah besar itu bukan sesuatu yang baik.
Panglima Agung Narapraja,
Siapkan para prajurit mu untuk berangkat ke perbatasan wilayah dengan Jenggala. Aku tidak mau kita kecolongan dengan meremehkan kekuatan mereka", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar Senopati Narapraja sembari menghormat pada Prabu Jayengrana.
Saat semua orang sedang mendengarkan titah Sang Maharaja Panjalu, dari arah depan Panji Tejo Laksono berjalan masuk ke dalam Balai Paseban Agung. Kedatangan mereka langsung mengejutkan semua orang yang hadir di tempat itu.
Panji Tejo Laksono langsung menghaturkan sembah pada Prabu Jayengrana.
"Ananda Panji Tejo Laksono menghaturkan sembah bakti pada Ayahanda Prabu Jayengrana, sang Maharaja Panjalu", ujar Panji Tejo Laksono segera.
Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga langsung terbelalak matanya tapi keduanya sama-sama tidak berani untuk menanyakan perihal ini di depan semua sentana Kerajaan Panjalu yang hadir di tempat itu.
Dewi Anggarawati langsung berdiri dari tempat duduknya dan terburu buru mendekati Panji Tejo Laksono.
"Ngger Putra ku Cah Bagus,
Kau sudah pulang nak. Biyung kangen sekali dengan mu", ujar Dewi Anggarawati sambil memeluk tubuh Panji Tejo Laksono. Mata perempuan paruh baya itu nampak berkaca-kaca saat memeluk tubuh sang buah hati.
"Tejo Laksono juga kangen sekali dengan Kanjeng Ibu..
Kanjeng Ibu sehat bukan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Ibu mu sehat nak. Putraku....", ujar Dewi Anggarawati sambil terus memeluk tubuh Panji Tejo Laksono.
Ehhemmmmmmm ehemmmm..
Terdengar deheman keras dari Panji Watugunung. Dewi Anggarawati dan Panji Tejo Laksono langsung sadar diri bahwa mereka tengah dalam pisowanan para sentana Kerajaan Panjalu.
"Mohon maaf Kangmas Prabu, aku lupa diri karena kehadiran putra ku.
.
Aku akan mengajak putra ku ke Kaputren. Mohon kau mengijinkan", ujar Dewi Anggarawati sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Silahkan Dinda Ratu..
Nanti aku akan segera menyusul mu kesana", ujar Prabu Jayengrana segera. Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga segera menyembah pada Prabu Jayengrana dan bergegas mengikuti langkah Dewi Anggarawati menuju ke arah Keputren.
Ada dua orang kakek tua yang terlihat gembira dengan kedatangan Panji Tejo Laksono, sementara 3 orang lainnya kelihatan kurang suka dengan hadirnya sang putra tertua Panji Watugunung itu.
Pisowanan agung di lanjutkan kembali.
Di Keputren Istana Katang-katang, Dewi Anggarawati segera menuju ke arah Puri Agung pribadinya. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik mempesona itu segera duduk di kursi nya sementara Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga duduk bersila di bawahnya.
"Tejo Laksono putraku,
Kau belum memperkenalkan dua orang yang mengikuti mu ini. Siapa mereka?"tanya Dewi Anggarawati segera.
"Mereka berdua adalah Gayatri dan Luh Jingga, Biyung. Kalau masalah lain biar mereka sendiri yang mengatakan", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Mungkin Gusti Ratu belum mengenal baik hamba ini.
Hamba adalah putri Dewi Anggarasasi dan Tumenggung Sindupraja. Sebelum nya mohon maaf jika hamba lancang. Ada satu hal yang membuat saya bertanya tanya. Apa benar Taji Lelono ini adalah Pangeran Panji Tejo Laksono?", Gayatri menghaturkan sembah. Dewi Anggarawati segera tersenyum simpul mendengar omongan Gayatri. Dia hapal betul dengan sikap Panji Tejo Laksono. Dengan lembut dia bicara.
"Tentu saja,
Ini adalah putra ku Panji Tejo Laksono"