
"Bawa saja mereka..
Karena bukan kepala Iblis Bukit Manoreh, setidaknya ada saksi mata selain kalian yang menyaksikan langsung aku mengalahkan iblis tua itu".
Mendengar perkataan sang pangeran muda ini, Endang Patibrata langsung mengangguk mengerti.
"Mohon ijinkan hamba untuk ikut ke Anjuk Ladang, Gusti Pangeran. Jika dibutuhkan untuk kesaksian, dengan pangkat dan jabatan yang hamba miliki, setidaknya itu bisa sedikit membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk berbicara", Senopati Lewa membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka seakan meminta pertimbangan dalam menentukan jawaban untuk permintaan dari Senopati Sembada itu. Tumenggung Ludaka mengangguk setuju tanpa bicara. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung bicara.
"Baiklah kalau itu yang jadi keinginan mu, Senopati Sembada..
Kau boleh ikut ke Anjuk Ladang. Cedera dalam mu itu tidak akan mengganggu perjalanan kami bukan?", tegas Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Senopati Sembada tersenyum senang.
"Ini hanya luka kecil, Gusti Pangeran. Jangankan untuk ke Anjuk Ladang, ke Kotaraja Daha pun hamba masih sanggup", ucap Senopati Sembada penuh keyakinan.
"Eleh jangan sombong..
Kalau kau sampai sakit di perjalanan, kami tinggal kau senopati. Kami bukan layanan rawat jalan yang akan membantu sakit mu loh", sahut Gumbreg segera.
"Gusti Demung Gumbreg tidak perlu khawatir soal itu", ucap Senopati Sembada sambil tersenyum kecut.
Beberapa orang prajurit Kadipaten Lewa yang masih hidup, di perintahkan untuk mengubur mayat kawan mereka yang terbunuh di hari itu. Sedangkan mayat-mayat kelompok Iblis Bukit Manoreh mereka lemparkan ke dalam rumah sang iblis yang sudah porak poranda lalu mereka bakar.
Tumenggung Ludaka sendiri langsung mencari sisa kain untuk membungkus potongan lengan kanan Iblis Bukit Manoreh lalu mengikatkan nya pada pelana kuda tunggangan nya. Setelah semua persiapan beres, rombongan Panji Tejo Laksono langsung meninggalkan tempat itu. Kini dalam rombongan itu bertambah Senopati Sembada dan dua orang prajurit pengawal pribadi nya.
Karena matahari sore sudah memunculkan semburat jingga di langit barat, rombongan Panji Tejo Laksono terpaksa menghentikan langkah kaki kuda mereka di tepi sebuah hutan lebat yang terletak di wilayah Pakuwon Karang Tengah yang menjadi wilayah penyangga Kota Kadipaten Anjuk Ladang.
"Sebaiknya kita segera mencari tempat bermalam di sini, Gusti Pangeran.
Sebentar lagi malam akan segera tiba", saran Tumenggung Ludaka yang di sambut anggukan kepala tanda mengerti oleh Panji Tejo Laksono.
"Kau benar sekali, Paman Ludaka..
Tak baik juga jika kita ingin memaksakan diri untuk terus meneruskan perjalanan karena jarak pandang mata kita akan sangat terbatas. Apalagi hutan di depan sepertinya merupakan hutan yang cukup lebat", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Saat itu juga, mereka mencari-cari tempat yang bisa di gunakan untuk bermalam. Pandangan mata Demung Gumbreg tertuju pada sebuah gubuk kayu yang cukup tersembunyi karena terhalang oleh sebuah pohon besar.
"Itu ada gubuk Gusti Pangeran..
Sebaiknya kita kesana saja", usul Demung Gumbreg sembari menunjuk ke arah gubuk.
"Baiklah, kita kesana saja. Semuanya kita bermalam di tempat itu", Panji Tejo Laksono menepuk bahu kudanya dan seketika kuda nya berjalan mendekati gubuk kayu itu. Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Cendana dan Cendani serta Senopati Sembada dan dua orang prajurit pengawal pribadi nya segera mengikuti langkah sang pimpinan rombongan.
Senja hari datang seperti biasanya. Ratusan kelelawar beterbangan keluar dari sarangnya untuk mencari makanan. Burung burung siang sudah kembali bertengger di sarang mereka masing-masing, sedangkan burung burung malam mulai bergerak.
Diantara kegelapan malam hari yang menyelimuti wilayah Kadipaten Anjuk Ladang, bara api perapian yang di gunakan untuk menghangatkan tubuh Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan tampak bergoyang karena sesekali ditiup angin semilir. Cuaca begitu dingin menusuk tulang, tepat di bulan paro tengah musim kemarau panjang ini.
Semua orang nampak sibuk menata tempat tidur untuk mereka sendiri. Karena gubuk kayu itu hanya mampu untuk di tempati oleh Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata, maka pengikutnya membuat tempat peristirahatan mereka di sekitar gubuk kayu itu.
Demung Gumbreg menata dedaunan dan alang-alang kering di dekat pintu masuk gubuk reyot itu. Tak jauh dari tempat ia beristirahat, Tumenggung Ludaka pun melakukan hal yang sama. Senopati Sembada memilih untuk bersemedi di dekat pohon besar karena ingin menggunakan waktu istirahat mereka sebagai waktu untuk memulihkan tenaga dalam nya. Sementara Cendana dan Cendani memilih untuk beristirahat di samping perapian. Dan dua orang prajurit pengawal pribadi Senopati Sembada mendapat tugas untuk berjaga jaga malam ini.
Suasana tempat itu begitu damai dan sunyi, seolah terlelap dalam indahnya mimpi. Hanya dengkuran halus Demung Gumbreg saja yang terdengar, menjadikan nya sebagai orang yang tidur duluan.
Menjelang tengah malam, terdengar suara derap langkah kaki kuda dari kejauhan. Dua orang prajurit yang sedang berjaga langsung mendekati Senopati Sembada.
"Gusti.. Gusti Senopati Sembada, bangun Gusti..
Ada beberapa puluh ekor kuda sedang bergerak kemari..", bisik salah seorang prajurit segera.
Begitu mendengar laporan itu, Senopati Sembada langsung membuka matanya. Tangan kanannya segera terayun ke arah perapian yang masih menyala.
Whuuuggghh!!
Seketika api perapian langsung padam. Ini juga membuat Cendana dan Cendani serta Tumenggung Ludaka terbangun dari tidurnya. Mereka segera menoleh ke arah Senopati Sembada yang segera menyilangkan telunjuk tangan nya ke depan mulut.
"Mohon tenanglah..
Ada serombongan orang berkuda yang sedang bergerak kemari", bisik Senopati Sembada lirih. Mendengar perkataan itu, Cendana dan Cendani langsung menggenggam erat gagang senjata mereka, sedangkan Tumenggung Ludaka langsung menyepak paha Demung Gumbreg yang tertidur pulas.
"Apa-apaan kau Lu? Kenapa kau tend.. heeemmmmppppp hemmmmppppp..!!!", Demung Gumbreg yang hendak marah karena di bangunkan paksa oleh sahabat karibnya itu, tak bisa melanjutkan omelan nya setelah Tumenggung Ludaka bergerak cepat membekap mulutnya.
"Kau bisa diam tidak?", Tumenggung Ludaka mendelik kereng pada Demung Gumbreg. Cahaya bulan yang melewati purnama masih cukup cerah menerangi malam hari itu lewat celah celah dedaunan pohon rindang hingga wajah kereng Tumenggung Ludaka masih terlihat oleh Demung Gumbreg. Sang perwira bertubuh tambun itu segera mengangguk.
"Ada orang yang sedang bergerak kemari. Kau dengar tidak derap langkah kaki kuda mereka?
Jadi jangan banyak bicara dan kecilkan suara mu. Mengerti?!", Demung Gumbreg mengangguk mengerti dan Tumenggung Ludaka segera melepaskan bekapan tangannya.
Setelah itu, Tumenggung Ludaka bergerak ke arah pintu masuk gubuk kayu reyot yang menjadi tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono.
Thook thoookkk thhookkkk!
Ketukan pelan terdengar. Dari dalam gubuk terdengar suara gerakan.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Ada sekelompok orang yang bergerak menaiki kuda kemari. Mohon bersiap-siap..", ujar Tumenggung Ludaka lirih. Dari dalam gubuk kayu terdengar suara gerakan dan berikut nya pintu gubuk terbuka. Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata keluar dari dalam sana.
Setelah itu, Panji Tejo Laksono, Endang Patibrata dan Tumenggung Ludaka bergerak cepat bersembunyi dibalik pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu. Begitu pula dengan para pengikutnya yang lain. Suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang.
Derap langkah kaki kuda itu semakin mendekati tempat mereka bermalam. Dari balik tempat persembunyian mereka, semuanya dapat melihat jelas bahwa ada puluhan obor yang menerangi. Setidaknya ada sekitar 20 obor yang bergerak mendekat.
Begitu sampai di dekat tempat itu, salah seorang diantara orang-orang itu menarik tali kekang kudanya dan rombongan itu berhenti seluruhnya.
"Kenapa kita berhenti di sini, Gusti Juru? Bukankah Kota Kadipaten Anjuk Ladang masih cukup jauh dari tempat ini", ujar salah seorang diantara mereka yang ternyata merupakan rombongan pasukan prajurit. Melihat dari jarit hijau yang mereka gunakan, juga umbul umbul kecil kuning hijau di salah satu dari mereka, bisa dipastikan bahwa mereka adalah para prajurit dari Kadipaten Anjuk Ladang.
"Hemmmmmmm...
Biarkan aku berpikir sebentar, Bekel Tanur. Kita adalah perwira prajurit Kadipaten Anjuk Ladang tapi kita di wajibkan untuk patuh pada perintah Mpu Sena. Ini yang tidak bisa aku terima, Bekel Tanur.
Jujur saja, bekas Mahamantri I Halu itu semakin membuat ku muak dengan segala ocehannya", keluh seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal dan wajah tegas. Dia adalah Mpu Klinting, salah satu perwira menengah Kadipaten Anjuk Ladang yang di tugaskan untuk mengirim bahan pangan ke para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang sedang melakukan latihan perang.
"Hamba juga demikian, Gusti Juru..
Jujur saja hamba sangat tidak setuju dengan sikap Gusti Adipati Sasrabahu yang seperti terlalu takut pada Mpu Sena. Sekarang ini dia hanya seorang Wredamantri. Bukan lagi seorang Mahamantri I Halu. Lantas untuk apa Gusti Sasrabahu begitu takut pada nya? Hamba betul-betul tidak habis pikir", ucap seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos namun berkumis tebal dan berjambang lebat. Namanya Bekel Tanur, salah satu perwira rendah bawahan Juru Mpu Klinting yang sangat di percaya oleh perwira paruh baya itu.
"Aku pun juga heran dengan sikap Gusti Adipati Sasrabahu itu, Bekel Tanur..
Ah sudahlah, aku malas memikirkannya saat ini. Kepala ku langsung terasa pusing. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kembali ke Kota Kadipaten Anjuk Ladang. Ayo kita berangkat..", ucap Juru Mpu Klinting sembari menepuk pundak kuda tunggangan nya hingga hewan pelari ini langsung bergerak meninggalkan tempat itu. Bekel Tanur dan para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang yang lain segera mengikuti langkah sang pimpinan.
Setelah mereka sudah cukup jauh dari tempat itu, Panji Tejo Laksono keluar dari dalam tempat persembunyiannya diikuti oleh Tumenggung Ludaka, Endang Patibrata dan para pengikutnya yang lain. Sang pangeran muda nampak mengerutkan keningnya pertanda sedang berpikir keras.
"Paman sudah dengar apa yang mereka bicarakan tadi?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Tumenggung Ludaka.
"Sepertinya Adipati Sasrabahu bukan orang yang sesederhana yang kita pikirkan, Gusti Pangeran..
Ada sesuatu yang sedang terjadi di Kadipaten Anjuk Ladang dan ini bukan sesuatu yang baik", ujar Tumenggung Ludaka segera.
"Benar sekali Paman Ludaka..
Ini semua pasti berkaitan dengan Mpu Sena dan mungkin semua orang yang di lengserkan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana kemarin ikut terlibat di dalamnya. Itu tebakan ku Paman", Panji Tejo Laksono sungguh tidak menduga kalau akibat pelengseran jabatan beberapa pejabat tua kemarin akan berdampak seperti ini.
"Kita harus hati-hati dalam bertindak, Gusti Pangeran. Jangan sampai kecurigaan kita terhadap mereka membuat mereka mengubah rencana yang mereka miliki.
Seperti menangguk ikan di dalam kolam, ikan nya harus tertangkap tapi airnya jangan sampai keruh", nasehat bijak Tumenggung Ludaka.
"Aku sependapat dengan mu, Paman Ludaka..
Eh dimana Paman Gumbreg? Kog tidak kelihatan?", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Tumenggung Ludaka sadar bahwa kawannya itu tidak ada diantara mereka.
Segera Tumenggung Ludaka celingukan kesana kemari mencari sosok lelaki bertubuh tambun itu. Setelah tidak menemukannya, dia bergerak menuju ke arah tempat persembunyian yang digunakan Demung Gumbreg tadi. Mata Tumenggung Ludaka seketika melebar melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
"Jagad Dewa Batara!!!
Kau tidur lagi Mbreg???!!"