
"Sebelumnya Eyang minta maaf pada mu karena sudah merepotkan mu, Cucu ku..
Begini, Eyang ingin kau yang mewarisi wilayah ini dan mengatur pemerintahan nya", ujar Panji Gunungsari dengan penuh harap. Pria sepuh yang berusia hampir sekitar 8 dasawarsa ini menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono seolah ingin mendengar jawaban iya dari cucu nya ini.
Kaget Panji Tejo Laksono mendengar ucapan ini. Dia benar benar tidak menyangka bahwa inilah permintaan dari eyang nya.
"Cucu minta maaf pada eyang sebelumnya jika jawaban dari saya nanti tidak akan menyenangkan hati Eyang.
Gelang-gelang sudah di serahkan kepada Dhimas Manggala Seta untuk menjadi pengganti Eyang Bupati di masa depan. Jadi mohon ampun beribu ampun Eyang, cucu mu ini tidak bisa mengabulkan permintaan dari Eyang Bupati", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Bupati sepuh Gelang-gelang ini.
"Hhhuuuuuufffftttt...
Bocah itu berulang kali datang kemari dan menemui ku tapi selalu menolak jika aku memintanya untuk menggantikan kedudukan ku, Tejo Laksono. Dan kini kau pun menolaknya juga dengan alasan bocah itu.
Apakah nasib Kabupaten Gelang-gelang akan berakhir di bawah pemerintahan ku?", gumam Panji Gunungsari lirih.
Terenyuh juga Panji Tejo Laksono melihat kegundahan hati sang kakek tua itu. Namun dia juga tidak kuasa untuk menerima permintaan itu begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan gejolak di masyarakat Panjalu. Kelompok yang mendukung Mapanji Jayawarsa pasti tidak akan tinggal diam melihat ini terjadi.
"Eyang Bupati,
Jujur saja pembagian tanah lungguh untuk para putra raja Panjalu sudah di tentukan. Ini juga untuk membuat semua orang merasa puas dengan apa yang di berikan kepada mereka. Aku sudah duduk di singgasana Kadipaten Seloageng, Jayawarsa berkuasa di Bojonegoro, Mapanji Jayagiri yang akan menjadi menantu Prabu Langlangbumi di Galuh Pakuan akan mendapatkan hak pemerintahan Kadipaten Rajapura sedangkan Dhimas Manggala Seta memang di beri kuasa untuk duduk di tahta Kabupaten Gelang-gelang.
Namun itu semua bisa berubah asal Kanjeng Romo Prabu Jayengrana dan Eyang Bupati sama-sama sepakat untuk merubah pembagian itu. Jadi untuk saat ini, saya tidak bisa memenuhi permintaan Eyang Bupati sampai ada perintah dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", tolak halus Panji Tejo Laksono. Namun jawaban itu justru membuat Panji Tejo Laksono bersemangat setelah mendengarnya.
"Benarkah yang kau katakan, cucu ku? Kau bersedia meneruskan tahta Kabupaten Gelang-gelang asal Ayahmu menyetujui?", ujar Panji Gunungsari segera.
Panji Tejo Laksono terkesiap juga mendengar suara kakek tua itu. Dalam hati dia merutuk karena sudah salah bicara. Dengan terpaksa dia mengangguk.
'Melepaskan Kabupaten Gelang-gelang untuk menjadi tanah lungguh ku, tidak akan semudah membalik telapak tangan. Pasti akan ada gonjang-ganjing besar di kalangan para punggawa istana untuk masalah ini. Sebaiknya aku ikuti saja alurnya untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi'
Panji Gunungsari tersenyum senang dengan anggukan kepala dari Panji Tejo Laksono.
"Oh iya, jika kau lewat daerah Bukit Lanjar, temui nenek buyut mu. Pasti dia akan senang sekali jika kau mampir kesana. Tempo hari, beberapa murid nya datang kemari dan membawa pesan dari perempuan tua itu yang isinya kenapa lama sekali tidak ada kerabatnya yang datang berkunjung", ujar Bupati Panji Gunungsari dengan tersenyum tipis.
"Kebetulan saya mendapat tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk menjadi duta ke Jenggala. Nanti akan saya sempatkan untuk mengunjungi nenek buyut di Bukit Lanjar, Kanjeng Eyang", ucap Panji Tejo Laksono segera.
Usai berbincang-bincang sebentar, dua orang berbeda usia itu segera kembali ke Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang. Panji Tejo Laksono kembali duduk di lantai pendopo bersama dengan Tumenggung Sindupraja, Luh Jingga dan Dyah Kirana sementara Panji Gunungsari kembali bertahta di singgasana nya.
"Kalian semua, apa ada yang belum mengenali wajah tampan cucu ku ini?", Bupati sepuh Gelang-gelang menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling Pendopo Agung Kabupaten Gelang-gelang.
"Mohon ampun Gusti Bupati..
Hamba sudah mengenal Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono jauh sebelum bertemu disini.
Memang kenapa Gusti Bupati bertanya demikian?", tanya Patih Dyah Sumantri sang warangka praja Gelang-gelang sembari menghormat pada Panji Gunungsari.
"Ada seorang perwira prajurit Gelang-gelang yang tidak mengenali cucu ku malah mendukung beberapa berandal pasar yang memeras orang-orang di pasar besar Kota Gelang-gelang.
Senopati Rumpaka, bagaimana kau mendidik dan mengatur anak buah mu?", Panji Gunungsari menoleh ke arah sang pimpinan prajurit Gelang-gelang. Lelaki sepuh itu ternyata masih memiliki wibawa di mata semua penduduk Kabupaten Gelang-gelang. Ini terbukti ketika suara keras nya mampu membuat Senopati Rumpaka pucat pasi seketika.
"Mohon ampun Gusti Bupati..
Segera akan hamba tindak sesuai dengan peraturan yang berlaku", ucap Senopati Rumpaka segera.
"Mulai dari sekarang, aku minta kau memeriksa setiap bawahan mu. Jika ada yang berani menyelewengkan jabatan untuk kepentingan pribadi nya, turunkan pangkatnya. Kalau masih juga tidak sadar, berhentikan dia dari keprajuritan Gelang-gelang", titah sang bupati sepuh berjenggot putih itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Bupati", ujar Senopati Rumpaka segera.
Setelah acara pisowanan harian para punggawa istana Gelang-gelang rampung, Panji Gunungsari mengajak Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya untuk bersantap siang bersama sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke arah Seloageng.
Panji Gunungsari tersenyum tipis melepas kepergian sang cucu dari depan gerbang istana Kabupaten Gelang-gelang . Mata kakek tua itu terus mengikuti setiap langkah kaki kuda yang di tunggangi oleh Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang bergerak menuju ke arah timur dimana Kota Kadipaten Seloageng berada.
Jalan raya menuju ke arah Kadipaten Seloageng becek seperti baru tersapu rinai hujan yang cukup deras. Sisa-sisa genangan air masih terlihat di sana-sini. Beberapa kali air keruh terciprat setelah terinjak kaki kuda yang di tunggangi oleh Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.
Begitu memasuki tugu tapal batas wilayah antara Gelang-gelang dan Seloageng yang terletak di dekat sebuah sungai kecil dan hutan lebat, Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan kudanya. Para pengikutnya yakni Luh Jingga, Dyah Kirana, Tumenggung Sindupraja dan 10 orang prajurit pengawal pribadi sang tumenggung segera mengikuti langkah sang pangeran.
Di depan mereka, beberapa orang berperawakan sedang dengan wajah sangar terlihat sedang mengepung dua orang perempuan muda berbaju putih dengan beberapa hiasan berwarna kuning cerah seperti bulan purnama. Sepertinya beberapa orang berperawakan sangar ini satu perguruan karena mereka mengenakan pakaian serupa, coklat tua dan hitam. Salah seorang diantara mereka yang memakai ikat kepala dari kulit harimau terlihat seperti pimpinan dari kelompok pria-pria itu tadi.
"Ada apa Kangmas Pangeran?", tanya Luh Jingga segera.
Panji Tejo Laksono tidak menjawabnya melainkan dia menunjuk ke arah pertarungan sengit antara mereka itu. Di sana terlihat bahwa meskipun dua orang perempuan muda itu di kepung oleh para pria itu, mereka masih mampu mengimbangi permainan silat dari para pengeroyok nya.
Panji Tejo Laksono tak tinggal diam. Dengan gerakan tubuh seringan kapas, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera melenting tinggi ke udara, menyambar ranting dari pohon jati yang mulai bertunas dan kembali mendarat di atas punggung kuda tunggangan nya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Panji Tejo Laksono segera melemparkan ranting kayu jati itu ke arah salah satu pengeroyok dua orang perempuan muda berbaju putih itu.
Whhhuuutthh!
Plllaaaakkkkk..
Lemparan ranting kecil yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi itu langsung menumbangkan sang pria pengeroyok dan dia terjungkal ke depan sambil menjerit keras.
Kejadian itu sontak memancing perhatian para pengeroyok dan dua gadis muda berpakaian serba putih itu segera. Sang pimpinan pria pengeroyok yang merupakan pria yang paling tinggi di antara yang lain langsung mendengus keras lalu mengacungkan pedangnya kearah Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.
"Bajingan tengik!
Berani-beraninya kalian mengganggu para murid Padepokan Bukit Gandarwa ha? Apa kalian sudah bosan hidup??!", hardik si pimpinan pria pengeroyok itu seraya menyebut nama Padepokan Bukit Gandarwa untuk menakuti Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
"Lancang sekali mulut mu, hai begundal!
Apa kau tidak tahu bagaimana cara bersopan santun pada Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, penguasa Kadipaten Seloageng ini ha?", teriak Tumenggung Sindupraja yang geram dengan sikap para anak murid Padepokan Bukit Gandarwa itu.
Pria bertubuh gempal tinggi besar yang memakai ikat kepala dari kulit harimau itu terdiam sebentar sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seringai tipis terukir di wajahnya yang berewokan.
"Kalau dengan dandanan nya yang mirip mantri pasar dan wajah tampan nya menjadi alasan untuk menyebutnya sebagai Adipati Seloageng, maka aku Surowono juga layak di panggil sebagai Mapatih Warigalit", ejek pria bertubuh gempal bernama Surowono itu yang langsung di sambut gelak tawa dari para pengikutnya.
Hahahaha...
"Dasar manusia kurang ajar!!
Mulut tajam kalian pantas mendapat pelajaran!", bentak Tumenggung Sindupraja yang segera melompat turun dari kudanya dan melesat cepat kearah Surowono dan para murid Padepokan Bukit Gandarwa. Para prajurit pengawal pribadi nya pun segera mencabut senjata mereka masing-masing dan mengikuti langkah sang ayah selir pertama Panji Tejo Laksono ini.
Panji Tejo Laksono yang hendak menghentikan langkah ayah mertuanya masih kalah cepat dengan gerakan sang perwira sepuh Panjalu itu. Dia hanya menghela nafas panjang sambil terus mengamati situasi pertarungan sengit yang kini terpampang di depan mata nya.
Luh Jingga dan Dyah Kirana tak mau ketinggalan. Dua orang wanita cantik yang dari tadi menahan geram karena sikap kurang ajar Surowono, ingin ikut menghajar pria sombong itu.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh..
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh dhieshh!!!
Jika tadi anak murid Padepokan Bukit Gandarwa yang mengeroyok dua orang perempuan muda berbaju putih itu, kini keadaan nya berbalik. Dalam beberapa jurus saja, satu persatu mulai bertumbangan di hajar oleh Luh Jingga, Dyah Kirana dan para pengawal pribadi Tumenggung Sindupraja.
Dhhiiieeeeesssshhh...
Oouuugghhhhhh!!!
Surowono meraung keras saat tendangan keras Tumenggung Sindupraja mendarat di perutnya. Pria bertubuh tinggi besar itu harus jatuh berlutut di tanah sambil memegangi perutnya yang sakit bukan main. Melihat lawannya sudah sampai di akhir ilmu nya, Tumenggung Sindupraja segera memutar tubuhnya dan kembali melayangkan tendangan ke arah wajah Surowono.
Dhhaaaassshhh!!
Surowono langsung terjungkal menyusruk tanah dengan pipi kiri nya terdapat cap pelindung kaki milik Tumenggung Sindupraja. Dua gigi depannya copot dan dari mulutnya keluar darah segar. Dia sudah setengah mampus tersungkur di tanah.
Saat Tumenggung Sindupraja hendak menghantam kepala Surowono, Panji Tejo Laksono langsung berkata lantang.
"Sudah cukup Kanjeng Romo Tumenggung!
Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk para begundal seperti mereka. Lepaskan saja".
Mendengar ucapan itu, Tumenggung Sindupraja mendengus dingin. Rasa marahnya yang ingin menghajar Surowono sampai mampus langsung sirna begitu Panji Tejo Laksono bersuara demikian. Begitu juga dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana serta para prajurit pengawal pribadi Tumenggung Sindupraja. Mereka segera menghentikan tindakannya menghajar para murid Padepokan Bukit Gandarwa itu.
"Kali ini aku beri ampunan kepada kalian. Kalau sampai di kemudian hari aku melihat kalian berulah lagi di wilayah Kadipaten Seloageng, aku sendiri yang akan mencabut nyawa kalian.
Sekarang pergi kalian!!".
Para murid Padepokan Bukit Gandarwa segera bergegas meninggalkan tempat itu sambil memapah kawan mereka yang cidera parah tak terkecuali Surowono yang nyaris kehilangan nyawa di tangan Tumenggung Sindupraja.
Setelah mereka pergi, dua orang perempuan muda berbaju putih yang sedari tadi menyaksikan pertarungan langsung mendekati Panji Tejo Laksono yang masih duduk di atas pelana kuda tunggangan nya.
"Mohon maaf jika kami lancang.
Kalau boleh tau, apakah paduka ini adalah Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana dari Panjalu? Kami sedang mengemban tugas untuk menemui Pangeran Panji Tejo Laksono", tanya si perempuan muda yang sedikit lebih tinggi di banding salah satunya dengan sopan.
"Benar, aku Panji Tejo Laksono, putra sulung dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.
Siapa kalian dan ada urusan apa mencari ku?", tanya Panji Tejo Laksono yang sedikit keheranan karena merasa tidak mengenal para perempuan muda itu sebelumnya juga tidak mengenali ciri pakaian yang mereka kenakan.
Perempuan muda cantik berbaju putih itu segera saling berpandangan sejenak dengan kawannya sebelum mulai berbicara,
"Saya Anggrek Kuning dan ini Anggrek Lembayung.
Kami utusan Padepokan Anggrek Bulan di Bukit Lanjar".