
"Jangan bertindak gegabah, Dhimas Jayagiri!"
Ucapan lantang itu seketika mengagetkan semua orang yang ada di tempat itu. Semua orang segera menoleh ke arah sumber suara yang ada di ujung pintu masuk balai pertemuan benteng pertahanan Panjalu ini. Termasuk Mapanji Jayagiri yang menatap tajam ke arah pintu masuk balai pertemuan.
Dari arah pintu, seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah nampan namun terlihat licik dengan seringai tipis di sudut kiri bibir nya melangkah masuk. Melihat pakaiannya yang mewah dengan sulaman benang emas pada pinggir nya jelas memperlihatkan bahwa dia adalah seorang bangsawan. Ya, dia adalah Mapanji Jayawarsa, Pangeran Adipati Bojonegoro yang datang bersama beberapa orang pengawal pribadi dan beberapa nayaka praja Bojonegoro.
Setelah diangkat menjadi Adipati baru Bojonegoro, Mapanji Jayawarsa langsung merubah tatanan pemerintahan di wilayah yang kini menjadi tanah lungguh nya. Para pejabat lama seperti Patih Mpu Nalagandi dan Senopati Mpu Sangku dengan orang orang muda seperti Patih Gelangwesi dan Senopati Randusongo yang patuh dengan semua titah nya. Para pejabat lama itu kemudian di tempatkan di jabatan yang nyaris tidak memiliki wewenang apapun dalam tampuk kepemimpinan sang pangeran muda dari Kadiri ini seperti Mantri Amancapraja, Mantri Prawiracarita ataupun jabatan lain.
Perombakan besar-besaran yang di lakukan oleh Mapanji Jayawarsa bukan tanpa ada masalah di belakang nya. Para pejabat lama yang merasa dirinya di singkirkan oleh Adipati baru Bojonegoro itu tentu saja tidak tinggal diam. Pada dasarnya mereka lah yang mengatur roda perekonomian Bojonegoro. Dengan sengaja mereka menahan peredaran barang makanan pokok masyarakat Bojonegoro hingga saat ini di Bojonegoro terjadi paceklik.
Di tambah lagi dengan keinginan sang Adipati baru Bojonegoro yang ingin memperkuat angkatan perangnya yang berakibat pada naiknya pajak bumi dan upeti tahunan. Keadaan ini semakin mencekik leher para warga Kadipaten Bojonegoro.
Ini mengakibatkan munculnya berbagai ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Mapanji Jayawarsa. Beberapa kali telah terjadi bentrokan kecil telah terjadi antara para petani dan petugasnya penarik pajak namun peristiwa ini tidak sampai meluas dan terdengar oleh telinga para punggawa Istana Kotaraja Kadiri. Hingga pihak Istana Kotaraja Kadiri menganggap bahwa Kadipaten Bojonegoro baik-baik saja.
"Kangmas Jayawarsa..
Kenapa kau datang kemari? Ini bukan tempat mu bisa memerintah sesuka hati", ujar Mapanji Jayagiri yang memang dari awal sampai hari ini kurang menyukai kakak tirinya yang satu ini.
"Oh apakah ini sikap seorang adik pada kakak nya yang datang berkunjung kemari, Dhimas Jayagiri?
Jangan lupa kalau tempat ini masih wilayah Kadipaten Bojonegoro dan aku berhak untuk mengatur semua yang ada di dalam wilayah kekuasaan ku", balas Mapanji Jayawarsa tak kalah sengit.
"Meskipun ini adalah wilayah Kadipaten Bojonegoro, tapi wilayah ini adalah daerah kekuasaan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, Kangmas. Dan aku adalah utusan dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk mengantikan tugas dari Paman Senopati Agung Narapraja.
Jadi Kangmas tidak perlu repot-repot lagi untuk mencoba menghalangi tugas dan tanggung jawab ku pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Ingat itu!", ujar Mapanji Jayagiri sambil menatap tajam ke arah Mapanji Jayawarsa.
"Siapa bilang aku ingin menghalangi tugas mu, Dhimas Jayagiri??
Aku hanya memperingatkan mu untuk tidak bertindak gegabah dalam menghadapi situasi ini. Apa aku salah?", sahut Mapanji Jayawarsa dengan nada suara yang sudah lebih rendah dari sebelumnya. Bagaimanapun juga, dia sangat takut pada Prabu Jayengrana yang tak segan-segan untuk menghukum siapapun yang mengganggu tugas yang dia berikan. Mapanji Jayagiri yang pintar sengaja menggunakan nama ayah mereka untuk menakut-nakuti kakak tirinya itu.
"Tidak salah, Kangmas Jayawarsa. Tapi bukan pada tempatnya. Aku tidak mau siapapun mengganggu ku dalam mengambil keputusan, karena tanggung jawab nya aku sendiri yang memikul.
Kangmas Jayawarsa tidak di sambut di tempat ini. Silahkan Kangmas pulang ke Istana Kadipaten Bojonegoro", ucap Mapanji Jayagiri sambil mengangkat tangan kanannya.
"Huhhh dasar sombong..!!
Suatu hari nanti kau pasti akan menyesali kesombongan mu. Para punggawa Istana Bojonegoro, ayo kita pergi dari tempat ini!", setelah berkata demikian, Mapanji Jayawarsa segera berbalik arah keluar dari dalam ruang pertemuan itu. Patih Gelangwesi dan Senopati Randusongo segera mengekor di belakangnya.
Mereka bertiga segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan langsung menggebrak nya keluar dari dalam benteng pertahanan Wanua Sungging diikuti oleh para prajurit pengawal pribadi Adipati Bojonegoro.
Melihat kepergian Mapanji Jayawarsa dan para pengikutnya, para perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Tumenggung Purubaya dan Tumenggung Lamuri dari Muria, Tumenggung Banar dari Anjuk Ladang dan Demung Krida dari Lasem serta Tumenggung Landung menarik nafas lega. Sebab jika sampai dua pangeran muda ini baku hantam karena perdebatan itu, sudah pasti mereka akan kebingungan untuk memisahkan mereka.
Pembahasan soal rencana penyerbuan itu segera di lanjutkan kembali setelah kepergian sang Adipati baru Bojonegoro. Di bantu oleh Tumenggung Landung yang memang sudah berpengalaman dalam menangani peperangan bersama Prabu Jayengrana muda alias Panji Watugunung, Mapanji Jayagiri segera menyusun segala sesuatu yang di butuhkan untuk menggempur para prajurit Jenggala.
Setelah melewati tugu tapal batas Wanua Sungging, Mapanji Jayagiri segera menarik tali kekang kudanya. Ini membuat pergerakan rombongan prajurit Bojonegoro segera terhenti.
"Kurang ajar Jayagiri!
Dia berani mempermalukan ku di depan para punggawa prajurit Panjalu. Ingin rasanya ku bunuh dia saat ini juga!", teriak Mapanji Jayawarsa sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Tak satupun para prajurit Bojonegoro yang berani bersuara. Suasana menjadi hening seketika.
"Randusongo!! Kemari kau.!!", yang di panggil oleh Mapanji Jayawarsa segera melompat turun dari kudanya dan mendekati kuda pimpinan rombongan itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati..
Ada tugas untuk hamba?", ucap Senopati Randusongo segera.
"Jayagiri perlu di beri pelajaran, Randusongo!!
Kau datangi Ki Krembung di sarangnya. Minta dia untuk membocorkan rencana Jayagiri ke pihak Jenggala. Ini upah untuk nya", Mapanji Jayawarsa segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sekantong kepeng emas yang kira kira berisi 100 kepeng emas. Segera dia mengulurkan nya pada Senopati Randusongo. Sang perwira tinggi prajurit Bojonegoro itu segera menerima kantong kain hitam itu dan segera menyimpannya di balik bajunya.
Setelah itu, segera ia melompat ke atas kuda tunggangan nya dan dengan cepat menggebrak kuda nya itu melesat ke arah tenggara. Mapanji Jayawarsa segera menyeringai lebar menatap kepergian Senopati Randusongo dan 10 orang prajurit pengawal nya.
'Jayagiri !! Aku pasti akan berpesta begitu mendengar berita kau di kalahkan orang-orang Jenggala itu hehehehe..'
Setelah itu Mapanji Jayawarsa segera kembali memacu kuda nya menuju ke arah Istana Kadipaten Bojonegoro bersama Patih Gelangwesi dan para prajurit pengawalnya.
Sementara itu, Senopati Randusongo terus memacu kuda tunggangan nya menuju ke arah kediaman Ki Krembung yang ada di Utara Sungai Kapulungan atau Sungai Brantas tepatnya di seberang wilayah Kota Pakuwon Tamwelang.
Ki Krembung adalah sosok pendekar yang bersedia untuk melakukan apa saja asal mendapatkan uang, entah itu pekerjaan kotor ataupun bersih. Julukan nya sebagai Pendekar Golok Serigala di wilayah Kadipaten Matahun, Bojonegoro dan perbatasan wilayah Jenggala cukup terkenal. Lelaki paruh baya bertubuh gempal yang doyan dengan perempuan perempuan cantik ini selalu membutuhkan banyak kepeng perak dan emas untuk memenuhi hasrat nya di tempat tempat pelacuran yang ada di dekat tepi Sungai Kapulungan.
Sesampainya di sebuah rumah kayu yang cukup besar dan ramai oleh para lelaki hidung belang dan terletak tak jauh dari bantaran Sungai Kapulungan, Senopati Randusongo segera menghentikan laju kudanya. Beberapa orang perempuan cantik dengan hanya memakai kemben setengah melorot yang memperlihatkan buah dada besar mereka langsung celingukan menatap ke arah para prajurit dan seorang lelaki bertubuh kekar yang berpakaian bangsawan itu.
"Wah ada orang berduit datang..
Aku duluan yang maju, jangan ada yang mencoba untuk merebut nya", ujar seorang perempuan cantik berumur sekitar dua setengah dasawarsa yang berbibir merah merona dengan pupur bedak putih yang berbau wangi. Dia di panggil dengan sebutan Kenanga. Entah itu nama asli atau hanya samaran belaka.
Kenanga memang primadona bagi tempat pelacuran yang di kelola oleh Ki Sumo, sang pemilik rumah yang juga mengasuh para pelacur di tempat itu.
"Kau tenang saja, Kenanga..
Setelah kau menggaet perwira itu, para prajurit nya juga masih lumayan untuk kami kami disini hihihihihihi", jawab genit salah seorang diantara para perempuan berbaju minim itu.
"Gusti Perwira, sepertinya ini baru pertama kali aku melihat mu datang kemari.
Apa yang bisa ku bantu? Kalau kau ingin melemaskan otot-otot mu yang besar itu di atas ranjang, aku siap untuk melayani mu. Tapi biayanya tidak kurang dari 1 kepeng emas karena aku wanita tercantik di tempat ini hihihi", tanya Kenanga sambil menawarkan diri nya.
"Aku tidak mau bercinta dengan mu. Aku cuma mencari keberadaan Ki Krembung. Kalau kau tahu keberadaan nya, cepat beritahu aku", jawab Senopati Randusongo segera.
"Kalau tanya keberadaan orang, biayanya 1 kepeng perak", jawab Kenanga sambil membuka telapak tangannya ke depan Senopati Randusongo.
"Mahal sekali.. Hanya tanya orang saja harus pakai bayar segala..", sergah Senopati Randusongo.
"Kalau tidak mau bayar ya sudah! Cari saja sampai keluar biji mata mu, Gusti Perwira. Aku yakin kau tidak akan bisa menemukannya", ujar Kenanga ketus sambil berbalik badan. Namun Senopati Randusongo segera menyambar pergelangan tangan kiri Kenanga hingga primadona tempat pelacuran itu langsung berhenti.
"Sabar, kenapa cepat sekali marah? Aku hanya bercanda..
Ini satu kepeng emas. Kalau kau bisa mempertemukan aku dengan Ki Krembung, ini akan jadi milik mu", ujar Senopati Randy sambil menjejalkan sekeping kepeng emas ke tangan Kenanga. Mata pelacur cantik itu langsung melebar begitu melihat kepingan kepeng emas di tangan kirinya. Dia tidak menyangka bahwa Senopati Randusongo akan memberikan kepeng emas padahal dia tadi hanya berpura-pura saja meminta imbalan.
"Mari mari Gusti Perwira, aku antar ke tempat Ki Krembung", ujar Kenanga sambil menarik tangan Senopati Randusongo.
Sambil berjalan masuk ke dalam rumah besar itu, Senopati Randusongo segera menoleh ke arah anak buah nya.
"Kalian tunggu saja di luar sampai aku kembali".
Para prajurit pengawalnya hanya mengangguk sambil menghormat pada atasan mereka.
Kenanga terus menggelandang tangan Senopati Randusongo memasuki lorong rumah besar yang terdiri dari puluhan kamar tidur itu. Saat sampai di ujung lorong, Kenanga melepaskan tangan Senopati Randusongo dan segera mengetuk sebuah pintu kamar yang ada di pojokan.
Thhooookkkk thhooookkkk thhoookkk!!!
"Tua bangka, cepat bangun!! Ada orang yang mencari mu, sepertinya dia punya pekerjaan untuk mu..
Cepat buka pintu kamar nya. Tua bangka, bangun!!!", teriak Kenanga sambil mengetuk pintu kamar itu terus menerus. Sepertinya dia mengenal baik Ki Krembung hingga memanggil nama nya dengan sebutan tua bangka.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dengusan nafas gusar dan langkah kaki ke arah pintu kamar tidur. Dan ...
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!!
Wajah seorang lelaki bertubuh gempal dengan janggut pendek tebal dengan wajah tirus seperti rupa seekor serigala menyembul dari balik daun pintu. Keringat masih membasahi dadanya yang bidang. Sementara di atas ranjang, seorang perempuan muda sedang telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menatap ke arah Kenanga dan Senopati Randusongo. Bukannya risih karena di lihat oleh mereka, perempuan itu malah sengaja menggoda Senopati Randusongo dengan membuka pahanya lebar-lebar sambil tersenyum genit.
Tentu saja Senopati Randusongo sebagai lelaki normal juga terpancing birahinya melihat pemandangan itu. Namun suara keras Ki Krembung segera menyadarkannya.
"Hei Perwira tengik!
Kau mencari ku ada urusan apa? Cepat katakan, perempuan ku sedang menunggu untuk ku tiduri", ucap Ki Krembung segera.
"Ada tugas untuk mu, Pendekar Golok Serigala. Kau tinggal pergi ke dalam perkemahan besar para prajurit Jenggala di barat Kota Pakuwon Babat, dan katakan pada pimpinan mereka bahwa prajurit Panjalu berencana untuk menggempur mereka besok.
Ini setengah upah mu. Setelah selesai temui aku di pasar besar Kota Bojonegoro untuk meminta separuh nya lagi", ujar Senopati Randusongo sambil melemparkan sekantong kepeng emas yang berisi sekitar 50 kepeng emas kepada Ki Krembung. Pria paruh baya bertubuh gempal itu segera menangkap nya dan tersenyum lebar.
"Tugas gampang..
Besok pagi temui aku di tempat yang kau janjikan. Siapkan sisa upah ku. Kalau kau bohong, kepala mu yang akan ku jadikan gantinya", setelah berkata demikian, Ki Krembung segera masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tidur. Terdengar suara tawa cekikikan dari dalam, dan berikutnya terdengar suara melengguh keenakan dari dalam kamar tidur itu.
"Gusti Perwira, tugas ku sudah selesai bukan? Sekarang waktunya aku untuk keluar", ujar Kenanga sambil berbalik arah namun kembali tangan Senopati Randusongo mencekal pergelangan tangan nya.
"Apa lagi?", tanya Kenanga heran.
"Aku mau tidur dulu dengan mu", ujar Senopati Randusongo sambil bergerak cepat menggendong tubuh ramping Kenanga.
"Hei itu di luar perjanjian, Gusti Perwira. Kalau kau mau tidur dengan ku, bayaran nya 2 kepeng emas loh", ucap Kenanga sambil menatap wajah tegas Senopati Randusongo yang menggendongnya masuk ke salah satu kamar kosong yang tak jauh dari tempat Ki Krembung.
"Itu gampang!", ujar Senopati Randusongo sambil menutup pintu kamar tidur segera. Tak berapa lama kemudian terdengar suara ******* nikmat Kenanga yang sedang melayani nafsu birahi Senopati Randusongo.
Cukup lama Senopati Randusongo mengayuh kenikmatan bersama dengan Kenanga. Para prajurit Bojonegoro yang menunggu di luar sudah menggerutu dalam hati sejak tadi.
Senopati Randusongo keluar dari dalam rumah besar itu sambil mengipasi badannya yang berkeringat diikuti oleh Kenanga yang menggelayut manja di lengan kiri nya.
"Sudah sampai di sini saja. Aku akan pulang ke Bojonegoro", ujar Senopati Randusongo sambil tersenyum penuh arti.
"Kalau kemari lagi, jangan lupa cari aku ya Gusti Perwira. Ku jamin pelayanan ku tak akan mengecewakan mu", sahut Kenanga sambil tersenyum genit.
Setelah melepaskan tali kekang kudanya, Senopati Randusongo segera melompat ke atas kuda nya dan memacu nya menuju ke Kota Kadipaten Bojonegoro.
Siang berlalu begitu cepat. Tak terasa senja telah merubah cakrawala barat menjadi merah yang menjadi pertanda bahwa sebentar lagi malam akan segera tiba.
Ki Krembung yang menggunakan ilmu meringankan tubuh nya Ajian Langkah Serigala berlari cepat seperti tidak menapak tanah.
Tepat saat senja mulai menghilang yang di tandai dengan keluarnya para kelelawar mencari makan, Ki Krembung sudah sampai di dekat perkemahan besar para prajurit Jenggala. Sambil tersenyum penuh arti, Ki Krembung segera melesat cepat kearah tenda besar yang menjadi pusat pergerakan para prajurit Jenggala.
"Saatnya menjalankan tugas"