
Mendengar perkataan Gayatri, Panji Tejo Laksono langsung sadar bahwa prajurit yang nyaris menabraknya tadi adalah sang pembunuh Rakryan Maheswara. Segera Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah pintu keluar penjara namun tak terlihat lagi batang hidung si prajurit yang di curigai sebagai pembunuh dari Kelompok Bulan Sabit Darah.
Di belakang Panji Tejo Laksono, Gayatri dan yang lainnya sudah sampai di tempat Panji Tejo Laksono berada. Mereka segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu untuk menemukan si penyamar yang telah menghabisi nyawa Rakryan Maheswara. Namun yang mereka cari sudah tidak terlihat lagi di tempat itu.
"Senopati Gardana, segera sebarkan perintah!
Tutup gerbang kota dan tangkap semua orang yang memiliki tahi lalat di pipi sebelah kanan", titah Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati", Senopati Gardana segera menyembah pada Panji Tejo Laksono sebelum bergegas menjalankan tugas yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono.
Kehebohan segera terjadi di Kota Seloageng. Pintu gerbang kota dengan cepat di tutup oleh para prajurit hingga tak seorangpun diijinkan untuk keluar masuk Kota Kadipaten Seloageng. Para prajurit menjaga ketat setiap pintu gerbang kota dengan senjata lengkap.
"Gusti Prajurit, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba pintu gerbang kota di tutup?
Saya harus cepat sampai di Singhapura sebelum esok pagi. Kalau tidak, barang dagangan saya akan membusuk dan saya akan merugi besar", seorang pedagang yang sering bepergian ke luar daerah, menatap ke arah para prajurit yang berjaga di gerbang kota timur, berharap dia akan diberi jalan. Di belakangnya puluhan orang yang hendak meninggalkan Kota Kadipaten Seloageng ikut menunggu.
"Atas perintah Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, saat ini kota Seloageng di tutup sampai pembunuh yang menghabisi nyawa Rakryan Maheswara tertangkap", jawab sang prajurit dengan tegas.
Suasana di jalan keluar Kota Kadipaten Seloageng langsung riuh rendah setelah mendengar penjelasan sang prajurit. Kasak kusuk pun langsung terdengar diantara mereka.
"Maaf Gusti Prajurit, tapi kami pedagang bukan pembunuh. Apakah tidak ada ciri khusus yang membedakan kami dengan pembunuh itu?", tanya seorang pedagang yang lain di belakang orang yang awal bertanya.
"Pembunuh itu memiliki tahi lalat di pipi sebelah kanan nya, badannya gempal dan rambutnya gondrong.
Siapapun yang memiliki ciri seperti itu, dilarang untuk keluar dari Kota Kadipaten Seloageng", jawab sang prajurit sembari mengedarkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang hendak keluar dari dalam Kota.
Salah seorang diantara kerumunan orang itu langsung sedikit menunduk. Kepalanya yang tertutup tudung kain hitam yang nyaris menyamarkan wajahnya langsung di tarik untuk lebih menutupi wajahnya. Di pipi sebelah kanan nya ada sebuah tahi lalat sebesar biji jagung yang menghiasi wajahnya. Dia nampak gelisah namun berusaha untuk menenangkan diri agar tidak memancing perhatian.
"Kalau itu yang menjadi ciri si pembunuh, Gusti Prajurit bisa memeriksa kami. Kalau kami tidak seperti yang dimaksudkan, mohon kami diijinkan untuk meninggalkan Kota Kadipaten Seloageng. Tapi kalau kami ada yang di curigai sebagai pembunuh dari Rakryan Maheswara, silahkan Gusti Prajurit tahan kami.
Bukankah ini adil untuk kita semua?", sahut seorang pedagang tua lainnya yang juga ikut berkerumun di tempat itu. Mendengar usulan itu, para prajurit Seloageng saling berpandangan dan mereka setuju untuk mengikuti usulan sang pedagang tua.
Satu persatu mulai di periksa. Yang lolos pemeriksaan, langsung diperkenankan untuk meninggalkan Kota Kadipaten Seloageng. Mereka yang lepas dari pemeriksaan menarik nafas lega dan segera melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.
Saat para prajurit hendak mendekati kelompok yang di tempati oleh lelaki bertudung hitam, sang lelaki diam diam menggeser posisi tubuhnya sedikit ke belakang. Para prajurit yang memeriksa di depan tidak menyadari pergerakan si lelaki bertudung hitam ini, namun salah seorang prajurit di belakang yang melihat itu langsung berteriak keras sambil menunjuk ke arah si lelaki bertudung hitam, " Hei kenapa kau tiba-tiba mundur kebelakang?!".
Teriakan keras dari sang prajurit langsung memicu perhatian semua orang yang ada . Semuanya segera menoleh ke arah yang di tunjuk oleh si prajurit. Takut kalau di sangka satu kelompok, orang orang di sekitar lelaki bertudung hitam langsung membuat jarak dengan orang itu.
"A-aku hanya takut Gusti Prajurit. Mohon tidak salah paham", ujar si lelaki bertudung hitam itu segera.
"Itu hanya alasan mu saja. Cepat lepaskan tudung pelindung kepala mu sekarang!", perintah seorang prajurit yang menjadi kepala regu penjaga gerbang Kota Kadipaten Seloageng itu sembari terus memperhatikan gerak-gerik si lelaki bertudung hitam. Empat orang prajurit segera mengepung si lelaki bertudung hitam yang kini tersudut di depan tembok pintu gerbang kota.
"Wajah saya penyakitan, Gusti Prajurit. Saya malu untuk menampakkan wajah saya", jawab si lelaki bertudung hitam itu seraya sedikit membungkukkan badannya.
"Banyak bicara!
Di suruh lepas ya lepas saja. Jangan banyak alasan", salah seorang prajurit yang mengepung langsung maju ke depan si pria bertudung hitam itu sembari meraih kain hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Begitu berhasil, dia langsung menariknya dengan keras hingga wajah si lelaki bertudung hitam itu langsung kentara. Sebuah tahi lalat sebesar biji jagung menghiasi pipi kanan nya.
Melihat itu, si kepala regu prajurit penjaga gerbang Kota Kadipaten Seloageng langsung sadar bahwa orang inilah yang sedang di cari oleh Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Segera dia memberikan isyarat kepada para anak buahnya untuk maju.
"Tangkap orang ini!"
Begitu perintah di keluarkan, para prajurit penjaga gerbang kota Seloageng yang berjumlah 8 orang langsung mengepung si lelaki bertubuh gempal itu. Salah seorang diantara mereka langsung menerjang maju ke arah si lelaki.
Whhhuuuggghhhh !!
Si lelaki bertudung hitam itu segera berkelit menghindari terjangan kaki si prajurit. Gerakan tubuhnya terlihat begitu santai hingga bisa di pastikan bahwa dia adalah seorang pendekar berilmu tinggi. Melihat serangan nya di hindari, si prajurit dengan cepat kembali maju sambil membabatkan pedang nya.
Shreeeeettttthhh !
Lagi-lagi si lelaki bertudung hitam itu menggeser posisi tubuhnya sedikit sembari melayangkan tendangan memutar keras ke arah punggung si prajurit.
Bhhhuuuuuuggggh..
Oouuugghhhhhh !!
Si prajurit langsung terjungkal menyusruk tanah berumput di dekat pintu gerbang. Dua orang segera menerjang maju ke arah si lelaki bertudung hitam setelah melihat kawannya di jatuhkan. Mereka langsung menyabetkan pedang nya ke arah leher dan kaki si lelaki bertudung hitam.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!
Dengan lincah dan gesit, si lelaki bertudung hitam itu segera menghindar dari serangan dua orang prajurit penjaga gerbang Kota Kadipaten Seloageng. Kawan kawan prajurit yang lain langsung mengeroyok si lelaki bertudung hitam itu tanpa menunggu lebih lama lagi. Pertarungan satu lawan delapan orang itu berlangsung sengit.
Seorang pemuda tampan berbaju putih dengan ikat kepala dari kain hitam dengan sebuah manik menghiasi ikat kepala nya nampak tertegun sejenak melihat pemandangan yang ada di depannya. Delapan orang prajurit sedang kerepotan menghadapi seorang lelaki bertudung hitam yang sangat di kenalinya.
'Sembada, Si Demit Abang...
Kenapa tiba-tiba dia membuat keributan di tempat ini? Ada yang tidak beres..', batin si pemuda tampan berbaju putih itu sembari menatap tajam ke si lelaki bertudung hitam yang sedang menghajar para prajurit Kadipaten Seloageng.
Dhasshhh dhasshhh..
Oouuugghhhhhh !!
Kepala regu prajurit penjaga gerbang Kota Kadipaten Seloageng meraung keras setelah dua pukulan keras beruntun dia terima dari si lelaki bertudung hitam. Usai mengandaskan perlawanan sengit para prajurit Seloageng, si lelaki bertudung hitam itu segera menepuk-nepuk telapak tangannya sambil menyeringai lebar.
"Kalian hanya kroco kroco kecil berani mencoba untuk melawan ku..
Jangankan kalian, melawan Tejo Laksono saja aku tidak akan mundur. Chuuuihhhhhh.."
Usai berkata demikian, si lelaki bertudung hitam itu berbalik badan dan hendak melangkah menuju ke arah pintu gerbang kota. Namun pandangan matanya langsung tertuju pada sosok berpakaian serba putih dengan ikat kepala hitam berhias manik hijau.
"Tabib Putih, aku tidak ada urusan dengan mu. Jangan menghalangi jalan ku!", hardik keras si lelaki bertudung hitam itu segera.
"Sembada Si Demit Abang..
Kau menganiaya orang sembarangan. Menebar angkara murka di atas bumi. Bagaimana mungkin aku akan membiarkan mu berbuat seenaknya saja begitu?", ujar si lelaki muda tampan yang di panggil dengan sebutan Tabib Putih oleh si lelaki bertudung hitam yang tak lain adalah Sembada yang berjuluk Demit Abang dari Gunung Welirang.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Ini salah mereka sendiri yang ingin menghalangi jalan ku, Tabib Putih. Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan untuk merusak wajah tampan mu itu hingga kau tidak akan laku untuk menikah seumur hidup mu hehehehe", Sembada terkekeh kecil sembari menatap ke arah Si Tabib Putih ini.
"Kau bukan dewa, Sembada.. Aku yang akan menghentikan sepak terjang mu yang membuat kerusakan di muka bumi ini", ujar Si Tabib Putih sembari meletakkan bumbung bambu yang sedari tadi dibawanya.
"Bangsat kecil..!! Kau minta di hajar rupanya. Jangan menyesali apa yang kau lakukan, Tabib Putih!", sembari berteriak keras, Sembada langsung melesat cepat kearah sosok lelaki muda berpakaian serba putih ini seraya mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah wajah tampan Si Tabib Putih.. Ilmu Silat Cakar Iblis yang dia pelajari, langsung digunakannya.
Shhraaaaaakk !!
Si Tabib Putih segera berkelit menghindari cakaran Sembada Si Demit Abang sembari mengarahkan sikut kanan nya ke arah pinggang Sembada. Anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu dengan cepat mundur selangkah ke belakang dan mengayunkan cakar tangan kirinya ke arah sikut kanan lawannya yang terjulur maju.
Melihat serangan lawannya, Tabib Putih segera tarik siku tangan kanannya sembari menyapu kaki Sembada. Si lelaki bertubuh gempal itu segera menjejak tanah dan tubuhnya melenting tinggi ke udara lalu meluncur turun sambil mengayunkan dua cakar tangan nya ke arah Si Tabib Putih.
Shhraaaaaakk shhraaaaaakk !!
Sepuluh larik sinar hitam kehijauan segera menerabas cepat kearah Si Tabib Putih. Ini adalah ilmu andalan Sembada yang bernama Sepuluh Jari Iblis Merobek Neraka. Hawa dingin berdesir kencang mengikuti sepuluh larik sinar hitam kehijauan itu. Tabib Putih segera berguling ke tanah menghindari sinar hitam kehijauan yang segera menghantam tanah tempat Tabib Putih berdiri.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaaaaarrr..
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!
Sembari berguling ke tanah, Tabib Putih merogoh kantong baju nya dan segera melemparkan 4 jarum berwarna merah kehitaman yang menandakan bahwa itu adalah jarum beracun yang mematikan ke arah Sembada.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Sembada yang melihat kilatan jarum berwarna hitam yang dilemparkan ke arah nya, langsung kembali mengayunkan cakar tangan nya untuk menghentikan pergelangan jarum merah kehitaman karena tidak ada tempat untuk menghindar karena masih di udara.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh..
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaaaaarrr !!!
Tiga ledakan keras terdengar saat sinar hitam kehijauan dari Sembada beradu dengan jarum merah kehitaman yang dilemparkan oleh Tabib Putih. Namun satu jarum lolos dan menancap di lengan kiri Sembada. Lelaki bertubuh gempal itu langsung terhuyung setelah mendarat di tanah. Rasa panas menyengat dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh nya. Sembada dengan cepat menotok beberapa jalan darahnya untuk mengurangi kecepatan penyebaran racun di tubuh nya.
Si Tabib Putih segera tersenyum lebar ketika melihat Sembada yang mulai memucat wajahnya karena pengaruh racun jarum merah kehitaman yang dia lemparkan.
"Percuma saja kau menotok jalan darah mu, Sembada.. Racun Kelabang Neraka ku tetap saja akan membunuhmu jika kau tidak segera meminum obat penawarnya", ujar Si Tabib Putih sambil tersenyum penuh kemenangan.
Dari arah belakang, muncul Panji Tejo Laksono yang berkuda bersama Senopati Gardana, Luh Jingga dan Gayatri yang diikuti oleh para prajurit Kadipaten Seloageng. Rupanya suara ledakan keras yang tercipta saat ilmu kanuragan kedua pendekar itu beradu, terdengar oleh Panji Tejo Laksono yang sedang mengatur rencana penangkapan terhadap pembunuh Rakryan Maheswara. Mata Panji Tejo Laksono langsung melebar saat melihat sosok lelaki muda berpakaian serba putih itu. Senyum manis terukir di wajah penguasa Kadipaten Seloageng ini.
Melihat perubahan wajah sang suami, Luh Jingga segera bertanya.
"Siapa dia Kangmas Pangeran?"