Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Orang-orang Wanua Karang Pulut 2


Para prajurit Panjalu langsung bergerak cepat meninggalkan benteng pertahanan di dekat Kali Aksa menuju ke arah Pakuwon Kunjang yang terletak di wilayah Kayuwarajan Kadiri. Daerah penyangga Kotaraja Kadiri ini dulunya merupakan kekuasaan langsung Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana ketika masih menjadi Yuwaraja. Setelah Panji Watugunung naik tahta Kerajaan Panjalu, wilayah ini seharusnya menjadi wilayah putra mahkota atau Yuwaraja Panjalu selanjutnya namun hingga saat ini, wilayah ini masih kosong tak bertuan. Belum adanya pemimpin wilayah membuat urusan pemerintahan daerah di serahkan kepada Patih Kayuwarajan Kadiri yang memerintah di luar tembok Istana Katang-katang.


Empat Pakuwon yang menjadi wilayah nya yakni Kunjang, Kadri, Kepung dan Watugaluh menikmati kemakmuran yang merata. Ini merupakan daerah penyangga Kotaraja yang begitu di perhatikan oleh Prabu Jayengrana secara langsung. Di Pakuwon Kadri terdapat Ksatrian Kadiri yang menjadi tempat tinggal para prajurit Kotaraja. Watugaluh menjadi lumbung pangan, Kunjang menjadi penghasil ternak dan Kepung menyumbangkan hasil bumi yang melimpah ruah.


Jadi meskipun hanya wilayah kecil yang hanya terdiri dari 4 pakuwon saja, namun Kayuwarajan Kadiri memiliki peran paling penting dalam kehidupan Kotaraja Daha di bandingkan dengan daerah penyangga Kotaraja lainnya seperti Gelang-gelang, Seloageng, Karang Anom dan Anjuk Ladang.


Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Halimun nya dengan cepat sampai di dekat istana Pakuwon Kunjang. Bersama dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera bergegas menuju ke arah Istana Pakuwon Kunjang.


Kedatangannya membuat terkejut para prajurit yang sedang berjaga di depan pintu gerbang istana pakuwon ini. Salah seorang diantara mereka yang telah mengenali Panji Tejo Laksono, langsung berlutut dihadapan sang pangeran muda dari Dahanapura ini.


"Sembah bakti kami, Gusti Pangeran Adipati.


Kiranya ada keperluan apa hingga membuat Gusti Pangeran Adipati berkunjung ke Istana Pakuwon Kunjang ini?", tanya sang kepala regu prajurit penjaga dengan penuh hormat.


"Aku ingin bertemu dengan Manik Badra sang Akuwu Kunjang, sekarang.


Suruh dia menemui ku", perintah Panji Tejo Laksono segera. Sang pimpinan prajurit itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum bergegas masuk ke dalam istana.


Tak berapa lama berselang, seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tipis dan rambut gimbal tanpa terikat datang bersama sang pimpinan regu prajurit penjaga gerbang istana. Dia adalah Manik Badra, penguasa wilayah Pakuwon Kunjang. Di sampingnya ada seorang lelaki bertubuh kekar dengan mata tajam dan alis tebal yang merupakan pimpinan kedua tertinggi di Pakuwon Kunjang yang mengatur para prajurit. Namanya adalah Bekel Yawana. Keduanya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono karena sebelumnya sudah di beritahu tentang kedatangan sang pangeran tertua di Kerajaan Panjalu ini oleh prajurit penjaga gerbang.


"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Adipati", ujar Akuwu Manik Badra segera.


"Terimakasih atas penghormatan mu, Akuwu Kunjang. Tapi aku kemari bukan untuk menerima sopan santun mu.


Ada sesuatu yang sangat penting untuk di bicarakan", balas Panji Tejo Laksono.


"Kalau begitu, sebaiknya kita bicarakan di dalam Gusti Pangeran. Mari silahkan masuk", ajak Akuwu Manik Badra sembari mempersilahkan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Dyah Kirana masuk ke dalam istana Pakuwon Kunjang.


Mereka semua segera masuk ke dalam balai pisowanan Pakuwon Kunjang.


"Kedatangan ku malam ini adalah untuk meminta bantuan kepada mu, Akuwu Manik Badra..


Kotaraja Daha sedang dalam bahaya besar. Ada puluhan ribu orang prajurit Jenggala sedang berkemah di samping Telaga Mendalan. Besok pagi mereka pasti bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha", ujar Panji Tejo Laksono setelah semuanya berkumpul di balai pisowanan Pakuwon Kunjang.


Betapa kagetnya Akuwu Kunjang dan Bekel Yawana mendengar ucapan itu.


"Haaahhhhh??!!


Ba-bagaimana mungkin itu bisa terjadi Gusti Pangeran Adipati? Bukankah para telik sandi Panjalu sudah menyelidiki seluruh pergerakan mereka? Ke-kenapa yang satu ini bisa lolos dari pengamatan para telik sandi?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Akuwu Manik Badra.


"Yang jelas ini bukan kesalahan para telik sandi Panjalu, Akuwu..


Ada sesuatu di luar nalar manusia yang menyelimuti pergerakan mereka. Jadi kita beruntung bisa tahu lebih awal sebelum mereka mencapai tujuan. Karena ini adalah jalur mereka menuju ke arah Kotaraja Daha, maka aku akan menahan pergerakan prajurit Jenggala di sini", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Lantas apa yang harus hamba lakukan untuk membantu Gusti Pangeran?", kembali Akuwu Manik Badra bertanya.


"Malam ini juga, ungsikan warga Pakuwon Kunjang sedikit menjauh dari rumah mereka. Biar nanti para prajurit Panjalu akan menyamar sebagai warga biasa dan menyergap mereka. Jumlah pasukan kita lebih sedikit, jadi jika ingin mengalahkan para prajurit Jenggala, kita harus menggunakan segala cara", balas Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Akuwu Manik Badra dan Bekel Yawana mengangguk mengerti.


Dengan gerak cepat, para prajurit Pakuwon Kunjang yang berjumlah sekitar 1000 orang bergerak mengungsikan para penduduk Kunjang ke sebuah wanua yang berjarak sekitar 2000 depa dari kota kecil ini. Malam buta itu terjadi perubahan besar di dalam kota kecil Kunjang.


Selepas tengah malam, para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg datang dengan membawa sekitar 30 ribu prajurit. Bantuan dari Lodaya sejumlah 17 ribu orang prajurit yang di pimpin oleh Tumenggung Pandu dan Ki Juru Mpu Krepa juga turut hadir.


Panji Tejo Laksono langsung berbagi tugas dengan para perwira tinggi prajurit Panjalu dan Lodaya. Tumenggung Ludaka mengatur penyamaran para prajurit Panjalu untuk mendiami rumah rumah penduduk. Demung Gumbreg menata berbagai macam jebakan dan rintangan yang akan di gunakan untuk memecah belah barisan para prajurit Jenggala, Senopati Muda Jarasanda membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok kecil yang di gunakan untuk memancing perhatian para prajurit Jenggala sedangkan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga, Dyah Kirana, Tumenggung Raditya dari Karang Anom dan Senopati Gardana bersama dengan Tumenggung Pandu dan Ki Juru Krepa akan bertindak sebagai pasukan utama yang akan bertempur langsung melawan para prajurit Jenggala.


Akuwu Manik Badra yang baru saja mengungsikan para anggota keluarga nya ikut bergabung dengan pasukan Panjalu bersama seluruh prajurit Pakuwon Kunjang. Mereka tidak ingin ketinggalan berpartisipasi dalam upaya mempertahankan kedaulatan negeri mereka.


Malam itu menjadi malam yang paling panjang di Pakuwon Kunjang.


Pagi menjelang tiba di wilayah Pakuwon Kunjang. Namun hujan deras dengan lebat mengguyur bumi seolah-olah tumpah dari langit. Namun itu tidak mengurangi ketegangan yang di alami oleh orang-orang Wanua Karang Pulut yang bersembunyi di dekat jembatan kayu penghubung jalan raya antara Kunjang dan Hantang. Mereka bersembunyi dibalik rimbun pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu. Semuanya bersiap untuk mengadu nyawa melawan para prajurit Jenggala.


Dari arah timur, puluhan ribu orang prajurit Jenggala bergerak dalam barisan yang tertata rapi. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok dengan seorang perwira menengah sebagai pimpinan. Meski hujan deras terus mengguyur sekitar wilayah itu, namun tak menghentikan niat Senopati Mpu Balitung untuk sampai di Kotaraja Daha secepat mungkin. Di benak nya, dia berdiri gagah sambil menyaksikan keruntuhan Kerajaan Panjalu.


Begitu para prajurit Jenggala mendekati jembatan kayu penghubung, kurang lebih berjarak sekitar 200 depa, dari sisi Utara muncul 500 orang bersenjatakan panah. Dengan cepat mereka melepaskan anak panah ke arah para prajurit Jenggala.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Hujan anak panah itu langsung menghujani para prajurit Jenggala yang sama sekali tidak menduga bahwa akan ada sergapan di tempat itu.


Chhreepppppph chhreepppppph..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Beberapa ratus orang prajurit Jenggala langsung tersungkur tertembus anak panah yang di lepaskan oleh orang orang Wanua Karang Pulut. Pimpinan terdepan dalam barisan prajurit Jenggala, Ki Juru Sambu selamat dari maut. Dia segera mencabut pedangnya dan menggebrak kudanya ke arah orang orang Wanua Karang Pulut sambil berteriak keras.


"Kejar mereka!!!!"


Ribuan orang prajurit Panjalu langsung bergerak mengejar ke arah orang-orang Wanua Karang Pulut yang setelah melepaskan tembakan anak panah ke arah mereka, langsung bergerak menuju ke arah jembatan kayu penghubung jalan raya.


Mpu Tolu, sang Lurah Wanua Karang Pulut mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa orang-orang yang bertugas untuk merobohkan jembatan kayu penghubung jalan itu untuk bersiap.


Begitu orang-orang Wanua Karang Pulut melewati jembatan kayu, ribuan prajurit Jenggala terus mengejar di belakang nya. Sebagian para prajurit Jenggala yang berhasil melewati jembatan kayu, Mpu Tolu langsung berteriak keras.


"Robohkan jembatan nya!!!!"


Ratusan pria bertubuh gempal dengan cepat menarik tali tambang besar yang tersembunyi di balik dedaunan. Tenaga mereka yang besar seketika membuat pancang jembatan kayu itu tercerabut dari tempat nya.


Krrraaaakkkkkk...


Brruuaaaakkkkkkkh !!!


Namun setidaknya ada sekitar 500 orang prajurit Jenggala yang berhasil menyeberangi jembatan. Ki Juru Sambu salah satu dari sekian prajurit Jenggala yang selamat.


Melihat ada orang Jenggala yang berhasil lolos dari jebakan maut mereka, Mpu Tolu langsung memerintahkan kepada warga Wanua Karang Pulut yang bersenjatakan panah untuk membidik mereka.


"Tembaaaakkkkkk...!!!!!"


Shrrriinnnggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


Ratusan orang prajurit Jenggala menjadi bulan-bulanan anak panah yang di lepaskan oleh para penduduk Wanua Karang Pulut. Ki Juru Sambu langsung berlindung di balik tubuh salah satu anak buah saat hujan anak panah itu datang.


Jllleeeeeppppphhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Anak buah Ki Juru Sambu melengguh keras saat anak panah menembus tubuh nya. Sembari menggeram keras, Ki Juru Sambu melemparkan tubuh anak buah nya dan melesat cepat kearah para penduduk Wanua Karang Pulut sambil membabatkan pedang nya.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Dua orang penduduk Wanua Karang Pulut langsung tersungkur setelah sabetan pedang perwira menengah prajurit Jenggala ini mengamuk. Meski mereka memiliki ilmu kepandaian bela diri namun para penduduk Wanua Karang Pulut bukanlah tandingan bagi seorang perwira sekelas juru. Dalam sekejap mata saja, puluhan orang tewas di tangan sang perwira menengah.


Mpu Tolu yang geram melihat warganya di bantai tanpa bisa dicegah, hendak bergerak namun sesosok bayangan putih berkelebat cepat ke arah Ki Juru Sambu dan menghantamkan tangan kanan nya.


Ki Juru Sambu dengan cepat menyilangkan bilah pedangnya yang berlumuran darah segar di depan dada untuk menahan pukulan keras yang cukup mengagetkan nya.


Dhhaaaassshhh...


Kerasnya hantaman tangan kanan si bayangan berkelebat cepat yang tak lain adalah Panji Manggala Seta langsung membuat Ki Juru Sambu tersurut mundur beberapa tombak ke belakang.


Hoooeeeeggggh!!!


Ki Juru Sambu langsung memuntahkan darah segar pertanda bahwa dia menderita luka dalam. Meskipun demikian sepertinya dia masih sanggup untuk bertahan. Buktinya dia masih sanggup berdiri meski dengan meringis menahan rasa nyeri pada dada nya.


"Ki Lurah, bawa orang orang mu untuk mundur! Sekarang!!", teriak Panji Manggala Seta tanpa menoleh ke arah Ki Lurah Mpu Tolu.


"Tapi Nakmas...."


"Tidak ada tapi-tapian!!


Cepat mundur!! Biar aku yang akan mengurus mereka!!", ujar Panji Manggala Seta sembari merogoh kantong baju nya.


Mpu Tolu mengangguk mengerti. Segera dia memberikan isyarat kepada orang orang Wanua Karang Pulut untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Jangan harap kalian bisa pergi seenaknya!! Prajurit ku, bunuh orang orang dusun itu!!", teriak Ki Juru Sambu. Sekitar seratus orang prajurit Jenggala yang masih hidup segera berlari cepat hendak mengejar orang orang Wanua Karang Pulut yang masuk ke dalam hutan.


Panji Manggala Seta langsung memutar tubuhnya dan dengan cepat mengibaskan kedua tangan nya ke arah para prajurit Jenggala yang berlari ke arah orang orang Wanua Karang Pulut.


"Badai Jarum Kelabang Neraka...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!


Shrrriinnnggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


Puluhan jarum berwarna merah hitam langsung melesat cepat kearah para prajurit Jenggala. Tinggal dua puluh depa mereka sampai di tepi hutan tempat persembunyian orang orang Wanua Karang Pulut saat jarum jarum beracun milik Panji Manggala Seta menembus tubuh mereka.


Chhreepphh chhreepphh chhreepphh!!


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Dua puluh orang prajurit Jenggala langsung tersungkur ke tanah dengan luka membiru berbau busuk dan mulut berbusa sebagai tanda keracunan. Panji Manggala Seta terus melemparkan jarum jarum Racun Kelabang Neraka ke arah para prajurit Jenggala yang tersisa. Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata, seratus orang prajurit Jenggala terbunuh oleh jarum beracun milik Panji Manggala Seta.


Mata Ki Juru Sambu mendelik lebar melihat kejadian itu. Namun dari belakang, terdengar suara riuh derap langkah kaki kuda mendekati tempat itu. Ki Juru Sambu langsung menyeringai lebar.


"Kau memang hebat, pendekar!


Tapi kau yang seorang diri tidak akan mampu melawan puluhan ribu orang prajurit kami", ucap Ki Juru Sambu penuh keangkuhan.


"Siapa bilang aku ingin melawan para prajurit Jenggala? Kau ini benar-benar bodoh ya?..


Tapi sebelum mereka datang, aku masih punya cukup waktu untuk membunuh mu, bajingan!", balas Panji Manggala Seta sembari tersenyum tipis. Belum sempat Ki Juru Sambu membalas omongan itu, Panji Manggala Seta telah bergerak cepat ke arah sang perwira menengah prajurit Jenggala itu. Tangan kanannya telah menghunus Pedang Kelabang Neraka yang merupakan pasangan Ajian Langkah Kelabang Sewu yang di ajarkan oleh ibunda nya, Dewi Srimpi.


Gerakan tubuhnya yang bagaikan kilat, langsung menebas tangan kiri sang perwira Jenggala yang tidak punya kesempatan untuk menghindar dari serangan cepat lawannya.


Chhrrrraaaaaassss..!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Ki Juru Sambu menjerit keras saat pedang pendek berwarna biru kemerahan itu memotong lengan kiri nya. Darah segar langsung mengalir keluar dari luka itu. Namun ada rasa panas menyengat yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Ki Juru Sambu.


"K-kau bajing..an be..Ra..cuuunnnn..!!!


Setelah berkata demikian, tubuh Ki Juru Sambu roboh ke tanah. Dari mulutnya keluar busa putih yang menjadi tanda bahwa dia tewas keracunan.


Panji Manggala Seta menatap sebentar ke arah mayat Ki Juru Sambu sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu kearah barat sambil berkata,


"Itu akibat nya jika orang orang Jenggala seperti mu berani coba-coba mengusik ketenangan kerajaan kami.


Kalian akan mati".