Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Singgasana Panjalu


Mahamantri I Sirikan Mpu Kepung dan Mahamantri I Halu Mpu Sena yang ada di tempat itu langsung terkejut bukan main mendengar keputusan yang di keluarkan oleh Prabu Jayengrana. Keduanya seakan tak ingin melepaskan jabatan yang selama ini memperkaya kehidupan mereka selama ini. Mereka berdua menggigit gigi mereka kuat-kuat dan mengepalkan tangannya erat-erat walaupun tidak berani membantah titah Sang Maharaja Panjalu.


Sedangkan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma dan Mahamantri I Hino Mpu Suryadharma tertunduk tanpa berkata apa-apa. Mereka berdua menerima keputusan itu dengan lapang dada.


Sedangkan untuk Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena di turunkan pangkatnya menjadi Mantri muda. Beberapa Demung dan Juru juga di turunkan pangkatnya setingkat lebih rendah.


Untuk Dharmadyaksa ring Kasaiwan yang baru di tunjuk Mpu Setyaka, bekas Akuwu Pakuwon Watugaluh. Meski tidak hadir di tempat itu, namun beberapa orang prajurit di tugaskan untuk menjemput nya di Pakuwon Watugaluh di bawah pimpinan Tumenggung Landung.


Hanya Senopati Tunggul Arga saja yang tetap menjadi pimpinan prajurit Panjalu di bawah Senopati Agung Jarasanda. Ini menjadi sesuatu yang menjadi pikiran semua orang yang ada di tempat itu. Semua orang yang di lengserkan langsung berpikir bahwa Senopati Tunggul Arga lah yang menjadi pengkhianat di antara mereka semua.


Sementara untuk pengganti Adipati di wilayah Kadipaten Bhumi Sambara, Prabu Jayengrana akan membahasnya lebih lanjut dengan Dewan Saptaprabu dan para punggawa Istana Kotaraja Daha yang baru purnama depan.


Usai pembubaran pisowanan dadakan ini, semuanya kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Prabu Jayengrana kembali ke istana pribadi nya bersama para istri, sedangkan yang lain pun segera bergegas menuju ke tempat tinggal pribadi mereka.


Panji Tejo Laksono pun berpamitan pada sang ayah untuk pulang ke Seloageng yang merupakan tanah lungguh nya.


"Apa kau sudah kangen dengan istri-istri mu, Tejo Laksono?", Dewi Anggarawati tersenyum tipis usai Panji Tejo Laksono menyampaikan keinginannya. Dia sangat paham betul dengan sifat putra semata wayangnya ini.


"Hehehehe, Biyung Ratu Anggarawati memang paling mengerti dengan Ananda..


Saya juga ingin beristirahat sejenak sebelum menjalankan tugas yang telah di berikan Kanjeng Romo Prabu kepada saya, Biyung ", Panji Tejo Laksono menghormat pada ibunya setelah berbicara.


"Lagipula kau juga baru saja mengalahkan para pemberontak dari Bhumi Sambara Mataram itu, Ngger Cah Bagus..


Sudah sepantasnya kau mendapatkan hak mu untuk bersenang-senang sebentar", sahut Prabu Jayengrana segera. Raja Panjalu itu tersenyum penuh arti menatap ke arah putra sulung nya itu.


"Oh iya, jangan lupa untuk menikahi Endang Patibrata Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono..


Selepas ini, saat kau kembali ke Daha, dia sudah harus menjadi istri mu", imbuh Cempluk Rara Sunti yang ikut serta dalam pertemuan itu. Selain Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati, Cempluk Rara Sunti dan Dewi Srimpi juga ada di kediaman pribadi raja karena mereka ingin bicara sesuatu dengan sang Maharaja Panjalu.


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Endang Patibrata yang tertunduk malu dengan wajah yang semburat memerah.


"Tentu saja, Biyung Selir..


Janji adalah hutang dan aku bukan orang yang suka ingkar janji", jawab Panji Tejo Laksono seraya tersenyum simpul.


Setelah berpamitan pada sang Maharaja Panjalu dan ibunya, Panji Tejo Laksono bersama dengan Endang Patibrata di kawal oleh Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg menuju ke Seloageng.


****


"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, Kakang Mpu Kepung...


Gusti Prabu Jayengrana seenaknya saja menggeser posisi kita menjadi pejabat negara tanpa kuasa seperti ini. Aku sungguh tidak bisa menerimanya..", ujar Mpu Gandasena dengan berapi-api.


Setelah pisowanan agung tadi berakhir, Mpu Gandasena bersama Mpu Sena dan beberapa orang pejabat negara yang dilengserkan dari jabatan nya memang mengikuti langkah Mpu Kepung ke arah kediamannya. Sepertinya mereka semua tidak rela jika harus di turunkan pangkatnya.


"Aku sependapat dengan mu, Adhi Gandasena..


Gusti Prabu Jayengrana sungguh tidak adil hanya karena kesalahan kecil kita seenaknya menempatkan kita sebagai pejabat tanpa kuasa. Ini sama dengan membunuh kita secara perlahan Kakang Kepung", timpal Mpu Sena yang terlihat seperti seorang yang sedang marah besar.


"Lagipula, kenapa hanya kita yang mendapatkan penurunan pangkat? Kenapa Senopati Tunggul Arga yang juga ikut bersama kita tidak diturunkan pangkatnya?


Ini sungguh tidak adil Kakang ", sambung Mpu Gandasena seraya menatap ke arah Mpu Kepung yang nampak duduk bersila sambil mengelus dagunya yang berjenggot jarang.


Hemmmmmmm..


"Aku juga tidak bisa berbuat banyak selain menerima keputusan ini, Adhi Sena Adhi Gandasena..


Keputusan ini diambil karena kesalahan kita yang ceroboh dalam menyikapi kondisi yang terjadi di seputar Kotaraja Daha. Bahkan Gusti Permaisuri Kedua Nararya Ayu Galuh pun tidak akan mau membantu kita untuk menghadapi masalah ini. Dia pasti juga kesulitan dalam mencari celah yang bisa kita gunakan untuk lepas dari kesalahan kita", ujar Mpu Kepung tanpa memandang kepada dua bekas petinggi utama Kerajaan Panjalu ini.


"Kalau Gusti Permaisuri Kedua saja tidak bisa membantu kita lepas dari masalah ini, lantas bagaimana caranya kita bisa mengangkat Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa untuk menjadi Raja Panjalu selanjutnya?


Sedangkan saat ini, dengan pangkat kita yang sekarang, akan sulit sekali bagi kita untuk menyokong Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa karena kita tidak memiliki kekuasaan sama sekali Kakang..", Mpu Gandasena menatap ke arah lelaki sepuh yang duduk bersila di depan nya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Adhi Gandasena benar Kakang Mpu Kepung..


Saat ini para pendukung Panji Tejo Laksono sebagian besar masih memiliki kekuasaan di Istana Katang-katang. Meskipun secara kedudukan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa sama dengan Panji Tejo Laksono, tapi pendukung nya seperti Mapatih Warigalit, Senopati Agung Jarasanda dan Mpu Setyaka bekas Akuwu Pakuwon Watugaluh itu akan semakin mudah melanjutkan perjalanan pangeran sialan itu ke singgasana.


Kita harus segera melakukan sesuatu Kakang Mpu Kepung. Kalau tidak, jika sampai Panji Tejo Laksono duduk di singgasana Kerajaan Panjalu habislah sudah kita semua", ucap Mpu Sena segera.


"Kau tidak salah Adhi Sena..


Jika sampai Panji Tejo Laksono menjadi raja Panjalu, tentu dia akan menyelidiki semua asal usul darimana kekayaan yang kita miliki. Jika sampai itu terjadi, maka kita semua pasti akan berakhir di tiang gantungan.


Begini saja, aku akan mendekati Gusti Ratu Kedua agar mau membantu kita dengan alasan kekhawatiran akan hilangnya tahta Kerajaan Panjalu yang akan di ambil oleh Panji Tejo Laksono.


Sedangkan kalian...


Kemarilah, ini masalah rahasia aku tidak akan mengatakan dengan keras", Mpu Kepung memberikan isyarat kepada Mpu Sena dan Mpu Gandasena untuk mendekat. Dengan sangat hati-hati, Mpu Kepung menyampaikan pemikiran nya. Mpu Sena dan Mpu Gandasena saling berpandangan sejenak setelah Mpu Kepung bicara.


"Tetapi ini sangat berbahaya Kakang Kepung..


Jika sampai bocor ke telinga Gusti Prabu, kita semua akan langsung di hukum mati..", ucap Mpu Gandasena segera.


"Ini semua kembali pada diri kalian masing-masing. Pilih melakukan apa yang ku katakan dengan resiko besar namun ada kesempatan untuk selamat atau memilih diam tanpa berbuat sesuatu dan bersiap siap untuk di hukum gantung?


Pikirkan baik-baik sebelum berbicara ", pungkas Mpu Kepung sembari menatap wajah Mpu Sena dan Mpu Gandasena yang berkerut karena sedang berpikir keras.


Setelah cukup lama diam, akhirnya Mpu Sena menghembuskan nafas dengan kasar sebelum berbicara.


Huuuuffffffffff...


"Baiklah Kakang Mpu Kepung..


Sudah kepalang tanggung, basah pun tak ada masalah. Aku ikuti saran mu", ujar Mpu Sena segera.


"Aku juga Kakang Kepung..


Lebih baik aku melawan hingga titik darah penghabisan daripada berdiam diri menunggu ajal", imbuh Mpu Gandasena seraya mengepalkan tangannya erat-erat.


"Bagus..!! Itu baru namanya semangat..


Karena kita bukan pejabat yang berwenang penuh, kita justru malah jadi bebas bergerak. Berangkatlah sekarang juga ke Anjuk Ladang dan Karang Anom. Ingat untuk berhati-hati agar tidak tercium oleh hidung semua orang ", ujar Mpu Kepung sembari tersenyum tipis.


"Baik Kakang Kepung.."


Dua punggawa Istana Kotaraja Daha yang baru saja dilengserkan oleh Prabu Jayengrana dari jabatannya ini segera bergegas meninggalkan kediaman Mpu Kepung. Di kawal oleh Panewu yang kini pangkatnya turun menjadi Bekel, Mpu Gandasena segera bergegas menuju ke arah barat menuju ke Istana Anjuk Ladang. Sedangkan Mpu Sena pun bergerak menuju ke arah selatan tepatnya ke Kadipaten Karang Anom untuk menemui keponakannya Adipati Windupati dengan kawalan Juru Sudiwara yang semula berpangkat Demung.


Selepas kepergian mereka berdua, Mpu Kepung menyeringai lebar.


"Bidak catur ku sudah mulai bergerak, Prabu Jayengrana..


Jangan kira bisa menyingkirkan ku dari kekuasaan di Istana Katang-katang dengan mudah. Kau akan menerima kejutan yang tidak akan pernah kau duga sebelumnya Hehehehe..."


*****


Kedatangan Panji Tejo Laksono di Istana Katang-katang langsung di sambut gembira oleh Gayatri, Luh Jingga, Ayu Ratna, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Mereka setengah berlari ke pintu gerbang Istana Kadipaten Seloageng begitu menerima kabar gembira tentang kedatangan sang pangeran muda.


Gayatri yang sedang hamil muda langsung melompat dan menubruk tubuh Panji Tejo Laksono tanpa mempedulikan semua orang yang ada di tempat itu. Panji Tejo Laksono yang sedikit kaget melihat perubahan sikap putri Patih Sindupraja ini tak menolak saat Gayatri memeluknya erat di depan mata semua orang. Sang pangeran muda bahkan tersenyum simpul seraya mengelus rambut Gayatri yang hitam legam sepinggang panjangnya.


"Eh Kangmbok Gayatri..


Jangan seenaknya saja ya. Ingat Kangmas Pangeran itu bukan hanya milikmu saja..", ujar Ayu Ratna setelah melihat Gayatri tak juga melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono.


"Iya nih Kangmbok Gayatri..


Mentang-mentang sedang hamil muda mau menang sendiri. Tidak boleh begitu Kangmbok", Luh Jingga turut berbicara.


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono kaget bukan main. Dia segera menatap wajah cantik para istri nya seolah ingin mencari tahu tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Luh Jingga. Song Zhao Meng, Dyah Kirana, Luh Jingga dan Ayu Ratna kompak tersenyum dan mengangguk kecil seolah memberikan jawaban atas pertanyaan yang tak terucapkan di bibir sang pangeran muda.


Panji Tejo Laksono langsung membalas pelukan hangat Gayatri bahkan sampai berputar saking senangnya.


"Hahahaha...


Ini sungguh berita baik. Aku akan menjadi seorang ayah hahahaha..", tawa lepas dari mulut Panji Tejo Laksono terdengar memenuhi seisi Istana Kadipaten Seloageng. Bagaimanapun juga dia begitu gembira tentang kehamilan Gayatri ini.


Saat Panji Tejo Laksono sudah sedikit reda kegembiraannya, terdengar suara deheman seorang perempuan dari belakang nya.


Ehheemmmm ehheemmmm..


"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Apa tidak ingin mengenalkan aku?"