
Teriakan keras dari Tumenggung Surajaya dari Kalingga ini membuat panik seluruh Prajurit Panjalu, namun mereka terlambat beberapa saat. Api yang berkobar membakar Benteng Pertahanan Karangwuluh telah menutup pintu keluar dari tempat itu. Hal ini semakin membuat para prajurit Panjalu dan Rajapura yang berada di dalam Benteng Pertahanan Karangwuluh menjadi sibuk berusaha menyelamatkan diri masing-masing daripada bertarung melawan musuh mereka.
Para pemanah suruhan Tumenggung Gurunwangi terus menghujani seluruh Benteng Pertahanan Karangwuluh dengan anak panah berapi mereka tanpa henti. Gentong minyak lampu jarak yang di tata sedemikian rupa oleh Demung Anggasuta rupanya semakin membuat api tak terkendali. Tumenggung Gurunwangi menyeringai lebar dan terus menatap ke arah para prajurit Panjalu dan Rajapura yang satu persatu mulai berjatuhan karena terkena anak panah berapi dan sesak napas karena asap juga api yang terus berkobar. Wajah perwira muda dari Panjalu itu seperti iblis dari neraka yang menjelma menjadi sosok manusia. Demung Anggasuta yang sempat melihat raut muka sang pimpinan sampai bergidik ngeri.
Jerit jerit kesakitan terdengar dari dalam Benteng Pertahanan Karangwuluh yang kini tengah di lahap api. Saat api semakin tak terkendali, Tumenggung Gurunwangi yang memimpin pasukan Rajapura segera memberikan isyarat kepada Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman.
"Semuanya, kita mundur dari tempat ini!"
Begitu perintah Tumenggung Gurunwangi di berikan, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman langsung memerintahkan kepada para prajurit Rajapura yang berada di bukit sebelah Benteng Pertahanan Karangwuluh untuk meninggalkan tempat itu. Di bawah pimpinan Tumenggung Gurunwangi, Demung Anggasuta dan Ki Juru Kanoman para prajurit Rajapura yang berjumlah sekitar 8 ribu orang bergerak cepat menuju ke arah benteng pertahanan mereka selanjutnya yang terletak di timur Kota Kadipaten Rajapura tepatnya di Wilayah Pakuwon Getas.
Sementara itu Mapanji Jayawarsa hanya melongo tak menduga kalau akan kejadian seperti ini. 8 ribu orang prajurit Panjalu terperangkap dalam jebakan kebakaran di Benteng Pertahanan Karangwuluh hanya karena ketidakmampuan nya mengatur pergerakan pasukan. Meski para prajurit Panjalu yang lain berusaha mati-matian berusaha untuk menolong kawan mereka, namun usaha mereka sia-sia belaka karena kebakaran di Benteng Pertahanan Karangwuluh sudah tidak mungkin untuk di padamkan lagi.
Jerit keras yang memilukan hati terdengar dari dalam kobaran api yang terus membumbung tinggi ke angkasa. Bau daging manusia yang terbakar menyebar ke seluruh tempat itu.
"Paman Senopati,
Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Kenapa bisa ada jebakan seperti ini dalam perang?", tanya Mapanji Jayawarsa yang naik kereta perang di samping Senopati Agung Narapraja yang berkuda. Wajahnya terlihat pucat pasi menatap ke arah api yang berkobar membakar Benteng Pertahanan Karangwuluh. Sudah hampir bisa dipastikan bahwa Tumenggung Surajaya dari Kalingga dan 8 ribu orang prajurit Panjalu tewas dalam kebakaran besar itu.
"Dalam perang, segala hal lumrah di lakukan untuk mencapai kemenangan, Gusti Pangeran. Mohon maaf jika hamba lancang, tapi sebelumnya pasukan kita memang terlalu gegabah meremehkan orang orang Kadipaten Rajapura ini", ujar Senopati Agung Narapraja tanpa menoleh ke arah Mapanji Jayawarsa yang kehabisan kata-kata setelah mendengar penuturan sang Senopati. Kata kata Senopati Agung Narapraja jelas sekali menyalahkannya untuk kecerobohan yang telah prajurit Panjalu lakukan.
Tiba tiba saja kilat menyambar disertai bunyi guntur yang memekakkan telinga. Angin dingin berdesir kencang membawa mendung hitam dari arah selatan. Tak berapa lama kemudian hujan deras mengguyur wilayah seputar Benteng Pertahanan Karangwuluh. Kobaran api yang semula membumbung tinggi ke angkasa, perlahan meredup akibat siraman air hujan yang turun.
Begitu api padam, di Benteng Pertahanan Karangwuluh terlihat pemandangan yang memilukan hati. Ribuan orang prajurit Panjalu dan Rajapura tewas dengan tubuh hangus terbakar. Sulit sekali membedakan antara para prajurit Panjalu ataupun Rajapura karena kondisi tubuh mereka yang sebagian besar gosong akibat kebakaran besar itu. Asap masih mengepul dari sisa sisa puing bangunan Benteng Pertahanan Karangwuluh. Dalam kebakaran besar itu, hampir 13 ribu orang prajurit Panjalu dan Rajapura menjadi korban.
Senopati Agung Narapraja langsung memerintahkan kepada para prajurit perbekalan untuk mendirikan tenda sebagai tempat istirahat bagi para prajurit Panjalu, sedangkan yang lain langsung di tugaskan untuk menggali makam bagi para prajurit Panjalu yang tewas agar tidak menjadi sarang penyakit.
Dengan perasaan bercampur aduk, para prajurit Panjalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh Senopati Agung Narapraja. Dalam guyuran air hujan deras, mereka bahu membahu membuat makam masal bagi kawan kawan seperjuangan mereka.
Malam itu, di tenda besar yang menjadi tempat berkumpulnya para perwira tinggi prajurit Panjalu untuk menata kekuatan, tidak terdengar suara apapun selain kebisuan para perwira tinggi yang duduk bersila di hadapan Mapanji Jayawarsa dan Senopati Agung Narapraja. Bagaimanapun, kehilangan 8 ribu prajurit dalam satu langkah salah merupakan kehilangan terbesar dalam sejarah peperangan yang pernah di jalani oleh para perwira tinggi, terutama para perwira sepuh seperti Senopati Agung Narapraja. Ini benar-benar memalukannya.
Di tengah keheningan yang ada, Senopati Agung Narapraja angkat bicara.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Selanjutnya langkah apa yang akan kita lakukan? Selaku pimpinan pasukan utama Panjalu, mohon Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa memberikan perintah", ucap Senopati Agung Narapraja sembari menghormat pada Mapanji Jayawarsa.
"A-aku bingung harus berbuat apa, Paman Senopati.
Jujur saja, kejadian Benteng Pertahanan Karangwuluh ini benar benar di luar perkiraan ku. Tak disangka mereka begitu licik hingga tega mengorbankan nyawa orang sendiri untuk menjebak para prajurit Panjalu", ujar Mapanji Jayawarsa dengan terbata-bata.
Hemmmmmmm..
"Dalam perang, semua hal bisa menjadi pilihan bagi para pemimpin. Semua orang pasti akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup, tapi yang menyadari kesalahannya sebelum berlanjut adalah orang yang bijaksana.
Jika dari awal Gusti Pangeran bersedia mendengarkan apa kata hamba, mungkin kejadian nya tidak akan seperti ini. 8 ribu lebih prajurit Panjalu gugur sia-sia. Sekarang apakah Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa sudah bersedia untuk mendengarkan omongan perwira tua ini?", Senopati Agung Narapraja langsung menohok omongan kepada Mapanji Jayawarsa. Semua orang di tenda besar itu pun dalam hati juga menyalahkan kecerobohan Mapanji Jayawarsa namun mereka tidak berani untuk bersuara.
"Aku mengerti Paman Senopati..
Selanjutnya aku akan mendengar semua omongan dari mu. Selanjutnya Paman Senopati Narapraja saja yang mengatur para prajurit, aku cukup mengendalikan mereka saja", meski dongkol dalam hati, Mapanji Jayawarsa terpaksa berkata demikian. Ini setidaknya bisa mengurangi kekesalan para perwira dan para prajurit yang melihat rekan seperjuangan tewas tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Kalau begitu, untuk sementara para prajurit Panjalu berdiam di tempat ini.
Senopati Arya Danaraja, perintahkan orang orang mu untuk memanggil para prajurit Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi yang bermarkas di bantaran Kali Comal. Malam hari ini juga, Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung harus sampai di tempat ini beserta para pasukannya. Kita tidak akan bergerak sebelum mereka tiba dan memberikan berita yang di dapat dari pengintaian mereka", ucap Senopati Agung Narapraja tegas.
Mendengar perintah itu, para perwira tinggi prajurit Panjalu mengangguk mengerti. Mereka semua tahu bahwa Senopati Agung Narapraja adalah orang berpengalaman dalam peperangan besar bersama dengan Panji Watugunung atau yang sekarang menjadi Raja Panjalu. Panji Watugunung tersohor sebagai panglima perang yang tangguh dan pintar membaca situasi. Salah satu yang menjadi cerita yang beredar luas di kalangan masyarakat Panjalu adalah saat kemenangan Panji Watugunung atau juga dikenal sebagai Prabu Jayengrana saat mengalahkan Prabu Maharaja Mapanji Garasakan dari Jenggala.
Hanya dua orang yang terlihat seperti tidak senang dengan adanya kepemimpinan Senopati Agung Narapraja. Mereka berdua adalah Senopati Wanapati dan Pangeran Mapanji Jayawarsa.
Malam semakin larut. Semua orang telah menempati tenda peristirahatan mereka masing-masing, malas untuk keluar. Hanya beberapa orang prajurit Panjalu yang terlihat masih bersiaga dalam posisi patroli di sekitar tenda tenda tempat para prajurit beristirahat.
"Kurang ajar !
Paman Senopati Narapraja benar benar tidak memberi muka pada ku di pertemuan tadi sore. Ingin sekali aku menghajar orang tua bangka itu.
Randuwangi,
Menurut mu apa yang harus kita lakukan? Aku ingin dengar pendapat mu", Mapanji Jayawarsa menoleh ke arah Demung Randuwangi yang berdiri tegak di samping kanan nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Menurut hamba, untuk saat ini, biarlah Gusti Senopati Agung Narapraja bertindak seperti itu. Karena tewasnya ribuan orang prajurit Panjalu tadi siang pasti akan menjadi bahan pertimbangan Gusti Prabu Jayengrana atas kepemimpinan Gusti Pangeran di medan perang. Jadi untuk memenangkan peperangan ini, kita juga tidak bisa mengesampingkan pengalaman Gusti Senopati Narapraja. Gusti Pangeran harus menahan diri sementara waktu ", ujar Demung Randuwangi sembari menghormat pada Mapanji Jayawarsa.
"Tapi apa selama nya kita hanya bisa menahan diri saja di remehkan seperti ini, Randuwangi?
Aku sangat tidak terima dengan ini semua ", Mapanji Jayawarsa dengan gemas memukul kursi kayu tempat duduknya dengan keras hingga gagang kursi kayu itu pecah.
"Tentu saja tidak, Gusti Pangeran.
Namun untuk sementara biarlah Gusti Senopati Narapraja yang menjadi pemimpin. Jika sudah tiba saatnya nanti, kita balas perbuatan nya dengan cara yang paling menyakitkan ", sahut Demung Randuwangi segera.
"Iya, kau benar Randuwangi..
Paman Senopati Narapraja, kau tunggu saja nanti pembalasan dendam ku! ", Mapanji Jayawarsa mengepalkan tangannya erat-erat sambil terus menatap ke arah luar tenda yang berhujan lebat.
Sampai pagi, hujan deras terus mengguyur sekitar tempat itu. Meski ayam jantan berkokok lantang menandakan bahwa pagi hari telah tiba, namun langit timur tak kunjung cerah juga. Gerimis terus tercurah dari langit hingga beberapa tempat rendah telah tergenang oleh air hujan.
Saat matahari sepenggal naik di langit timur, satu rombongan prajurit mendatangi perkemahan besar prajurit Panjalu di dekat Benteng Pertahanan Karangwuluh. Mereka adalah para prajurit Pasukan Garuda Panjalu yang di pimpin oleh Senopati Muda Jarasanda. Tumenggung Landung sendiri memimpin pasukan Lowo Bengi bersama Gayatri dan Mapanji Jayagiri menyusup ke sekitar wilayah Kota Kadipaten Rajapura.
Sesampainya di perkemahan besar para prajurit Panjalu, Senopati Muda Jarasanda segera menemui Senopati Agung Narapraja yang kini menjadi pimpinan utama Pasukan Kerajaan Panjalu. Segera Senopati Agung Narapraja memanggil semua perwira tinggi prajurit Panjalu untuk berkumpul untuk mempersiapkan rencana setelah kedatangan Senopati Muda Jarasanda.
"Dhimas Jarasanda..
Sekarang katakan pada kami, bagaimana situasi yang ada di sekitar Kota Kadipaten Rajapura? Kabar yang kau bawa sangat penting untuk rencana kita selanjutnya", ujar Senopati Agung Narapraja sembari mempersilahkan Senopati Muda Jarasanda memaparkan hasil pekerjaan Pasukan Lowo Bengi.
"Begini Kakang Senopati Agung..
Rajapura ternyata menyiapkan pertahanan berlapis di sekitar Kota Kadipaten untuk membendung gempuran pasukan kita. Selain Karangwuluh, mereka juga membangun benteng pertahanan di Pakuwon Getas. Tempat itu memiliki pertahanan alam yang baik dengan sungai yang mengelilingi separuh lebih tempat itu.
Ini semua adalah taktik perang yang otaknya adalah Tumenggung Gurunwangi, salah satu perwira tinggi prajurit Rajapura. Kakang tentu ingat dengan Galungwangi dan Pangeran Suryanata bukan?", tanya Senopati Muda Jarasanda segera.
"Galungwangi? Bukankah dia adalah pengawal pribadi Pangeran Suryanata dari Rajapura?", rupanya Senopati Agung Narapraja masih ingat dengan dua orang pemberontak di awal pemerintahan Prabu Jayengrana itu.
"Kakang Senopati Agung benar..
Tumenggung Gurunwangi adalah anak dari Galungwangi, pengawal pribadi Pangeran Suryanata. Dialah otak dari pemberontakan Rajapura terhadap Panjalu", ucapan Senopati Muda Jarasanda membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut mendengarnya.
"Bangsat kecil itu..!!
Sudah beruntung Gusti Prabu Jayengrana mengampuni nyawa nya dan ibunya, tapi setelah dewasa malah merongrong kewibawaan pemerintah pusat. Akan ku bunuh dia dengan tangan ku sendiri.
Dhimas Jarasanda,
Segera paparkan situasi di dalam benteng pertahanan Getas. Besok pagi kita gempur mereka!", ucap Senopati Agung Narapraja dengan berapi-api. Senopati Muda Jarasanda lalu memaparkan hasil pekerjaan Pasukan Lowo Bengi. Saat itu di susunlah rencana penyerbuan terhadap Benteng Pertahanan Getas yang menjadi benteng pertahanan terakhir Rajapura sebelum memasuki kota Kadipaten nya.
Sementara para prajurit Panjalu sibuk mengatur rencana untuk menundukkan para prajurit Rajapura, sebuah perahu jung besar berbendera biru merah bergambar burung Garuda nampak mendekati Pelabuhan Halong. Di geladak kapal jung, puluhan orang yang menumpang kapal besar itu menatap daratan dengan wajah sumringah. Seorang pemuda tampan berpakaian biru tua nampak berdiri di haluan kapal tersenyum tipis sembari berkata,
"Tanah Jawadwipa, aku kembali.."