
Meskipun gerutu Dyah Kirana terdengar lirih namun itu masih bisa di tangkap gendang telinga Nyi Kembang Sore. Meskipun kesal dengan omongan Dyah Kirana, perempuan cantik yang menyandang status janda kembang ini berusaha keras untuk tidak menampakkan emosi nya. Dia malah tersenyum tipis seraya menatap ke arah Dyah Kirana.
"Nisanak, sebaiknya jaga ucapan mu agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Meskipun kau disini adalah tamu ku dan tamu adalah raja, tapi jika kau tidak sopan disini, jangan salahkan aku jika tidak menghargai mu", ucap Nyi Kembang Sore lembut namun penuh dengan ancaman.
Mendengar perkataan itu, Dyah Kirana yang dari awal memang kurang menyukai sosok Nyi Kembang Sore langsung mendelik kereng pada si pemilik warung makan yang cantik ini.
"Kau kira aku ta...", belum sempat Dyah Kirana menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono lebih dulu memotong nya.
"Maafkan sikap calon istri saya, Nyi.. Maklum saja dia sedang datang bulan jadi kurang bisa mengatur emosinya", ucap Panji Tejo Laksono sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.
"Oh baru calon toh?!
Belum juga jadi istri, galaknya seperti macan beranak. Kalau sudah jadi istri pasti suaminya kena omel terus-terusan itu", gumam Nyi Kembang Sore pelan tapi terasa begitu menusuk perasaan Dyah Kirana. Tak ayal lagi, semburat merah tercipta di wajah cantik putri Resi Ranukumbolo ini. Dia benar-benar kesal. Sembari menggeram marah, dia menunjuk ke arah Nyi Kembang Sore.
"Kau...."
"Adik Kirana, jangan terpancing dengan omongan orang yang ingin merusak hubungan kita dengan Kakang Tejo.
Ingatlah, bunga yang mekar di pagi hari lebih indah daripada bunga layu di waktu sore (kalimat sindiran khas negeri Tiongkok yang bermakna secantik apapun seorang janda tetap saja lebih baik seorang gadis perawan)", ucap lembut Song Zhao Meng sembari menepuk punggung tangan kiri Dyah Kirana untuk menenangkan perasaan gadis cantik itu seraya melirik ke arah Nyi Kembang Sore.
Ucapan Song Zhao Meng ini dengan telak menohok perasaan Nyi Kembang Sore. Untuk sesaat perempuan cantik itu terdiam namun sekejap berikut nya, dia langsung marah besar.
"Nisanak, sepertinya tempat ku ini tidak cukup baik untuk melayani mu. Silahkan kalian keluar dan cari tempat makan yang lain.
Kantil, antar tamu sampai ke pintu!", setelah berkata seperti itu, Nyi Kembang Sore bergegas balik badan dan meninggalkan tempat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Wajah cantik nya merah padam menahan marah.
Mendapat pengusiran itu, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya segera berdiri dari tempat duduknya. Mereka bergegas keluar dari dalam warung makan Nyi Kembang Sore. Kantil menatap tajam ke arah mereka saat kuda-kuda mereka bergerak meninggalkan Warung Makan Kembang Sore.
Siang itu Panji Tejo Laksono akhirnya menikmati makan siang di sebuah warung makan yang di jaga oleh seorang lelaki paruh baya bersama istrinya. Meski tidak seramai warung makan Nyi Kembang Sore, namun masakan mereka cukup lezat untuk mengisi perut yang keroncongan. Dari tempat itu pula mereka mengetahui bahwa Nyi Kembang Sore adalah seorang janda kembang yang banyak di gilai oleh para lelaki yang tinggal di seputar Kota Kadipaten Pasuruhan.
Sepasang mata terus mengawasi gerak-gerik mereka tanpa berkedip sedikitpun karena takut mereka akan menghilang. Sementara itu, seorang wanita cantik terus memperhatikan mereka dari air bening dalam kuali besar yang penuh bebungaan.
Setelah selesai makan siang, Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Ki Jatmika dan Song Zhao Meng kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa mereka mampir ke pasar besar untuk membeli beberapa makanan kering yang biasa digunakan untuk perjalanan jauh.
Saat matahari mulai tergelincir ke arah barat, rombongan Panji Tejo Laksono sampai di tapal batas Kota Kadipaten Pasuruhan. Tugu batu besar seukuran gajah berdiri tegak di tepi jalan raya menuju ke arah selatan menjadi penanda batas kota ini.
Sebuah hutan yang cukup lebat menjadi pemisah antara Kota Kadipaten Pasuruhan dan wilayah nya terasa begitu sejuk karena pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan raya yang membelah hutan ini menjadi dua bagian. Beberapa jenis burung terlihat beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan lainnya sambil berkicau riang. Tak hanya itu, suara beberapa monyet liar pun turut serta hingga menambah kesan yang mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati saat memasuki hutan ini.
Saat hampir memasuki tengah hutan itu, tiba-tiba burung burung terbang bersamaan seolah takut pada sesuatu. Kuda kuda mereka meringkik keras seperti takut pada hal yang menakutkan dan mereka tak mau lagi melanjutkan perjalanan.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kuda kuda kita seperti sedang ketakutan", ujar Ki Jatmika yang kebingungan mengendalikan kuda tunggangan nya.
Belum sempat ada yang menanggapi, tiba-tiba dari arah langit di depan rombongan Panji Tejo Laksono, sesosok wanita cantik melayang turun dengan anggun. Dyah Kirana langsung mendengus keras karena gusar melihat siapa yang datang.
"Janda gila itu lagi rupanya..
Rupanya dia masih belum bisa menerima saat kalah bicara dengan mu, Kangmbok Wulandari", ujar Dyah Kirana segera. Song Zhao Meng pun mengangguk mengerti.
"Kau benar, Adik Kirana..
Mari kita lihat apa mau perempuan itu? Kalau mau macam-macam, aku tak akan ragu-ragu lagi untuk menghajar nya", ucap Song Zhao Meng.
"Aku pun juga tidak mau jika punya madu janda gatal seperti dia", sahut Dyah Kirana yang melompat turun dari kudanya bersama dengan Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika. Mereka berempat pun segera melangkah mendekati Nyi Kembang Sore.
Perempuan cantik itu nampak menyunggingkan senyuman tipis namun penuh dengan penuh tanda misteri. Senyuman yang sanggup membuat semua orang bergidik ngeri.
"Mau apa kau menghalangi jalan kami, Nyi Kembang Sore? Bukankah urusan kita sudah selesai?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah perempuan cantik itu.
"Pendekar tampan, aku hanya akan mengatakan hal ini sekali saja jadi tolong dengar baik-baik.
Ikutlah denganku dan tinggalkan para perempuan mu itu. Aku akan membuat mu menjadi raja di Kerajaan Siluman Perut Bumi", ucap Nyi Kembang Sore sembari tersenyum penuh arti.
Asal tahu saja, setelah memperoleh ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan tingkat tinggi dari Nyi Ayu Pangukir, Nyi Banowati alias Nyi Kembang Sore menaklukkan kerajaan siluman yang ada di selatan Kota Kadipaten Pasuruhan. Konon kabarnya, hutan tempat mereka bertemu adalah pintu masuk ke dalam sebuah kerajaan siluman yang bernama Kerajaan Siluman Perut Bumi.
Beraninya kau menggoda calon suami ku. Tadi aku masih memberi mu maaf karena Kakang Tejo menyuruh ku. Tapi kali ini tidak ada maaf untuk mu lagi", setelah berkata demikian, Dyah Kirana segera melesat cepat kearah Nyi Kembang Sore. Tangan kanannya dengan cepat mencabut Pedang Bulan Sunyi di pinggangnya.
"Huhhhhh dasar wanita tak tahu diri..
Kau belum tahu tingginya gunung dan dalamnya lautan. Kau bodoh berpikir bisa mengalahkan ku!!", kata Nyi Kembang Sore sembari melompat mundur dan mengibaskan selendang kuning yang ada di tangan kanannya.
Whhhuuutthh..!!
Sentakan keras selendang kuning milik Nyi Kembang Sore membuat ujung selendang ini melesat ke arah Dyah Kirana. Seperti memiliki nyawa, ujung selendang ini segera membelit tangan kanan Dyah Kirana yang sedang memegang Pedang Bulan Sunyi. Ujung selendang ini terus bergerak cepat membelit seluruh tubuh Dyah Kirana hingga perempuan cantik itu tidak bisa bergerak sama sekali.
Dyah Kirana segera melemparkan gagang Pedang Bulan Sunyi ke arah tangan kiri yang bebas. Dia berencana untuk memotong selendang kuning itu dengan pedang di tangan kiri.
Nyi Kembang Sore yang menyadari pergerakan Dyah Kirana segera menarik ujung selendangnya yang merupakan sebuah senjata pusaka ampuh yang tersohor di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur sebagai Selendang Pengikat Sukma. Akibatnya, Dyah Kirana kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah hingga Pedang Bulan Sunyi menancap di tanah. Tak sampai di situ saja, Nyi Kembang Sore langsung membanting ujung selendang kuning yang membelit tubuh Dyah Kirana ke arah belakangnya.
Whhuuuuuuuggggh...
Bhhhuuuuuuggggh!!!
Dyah Kirana yang tak berdaya di belit selendang kuning milik Nyi Kembang yang mampu menghilangkan kemampuan tenaga dalam seseorang ini harus menghantam tanah dengan keras. Wajah cantik nya kotor terkena tanah dan rerumputan. Melihat itu, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Dyah Kirana.
Melihat itu, Nyi Kembang Sore segera kibaskan tangan kirinya ke arah sang pangeran muda dari Kadiri ini.
Whhuuusshhh!!
Serangkum angin berwarna hitam dengan hawa dingin berdesir kencang kearah Panji Tejo Laksono. Dari angin hitam itu, muncul empat sosok makhluk hitam bertanduk dan bermata merah seperti yang Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan lihat di rumah makan tadi.
Keempat makhluk hitam menyeramkan ini langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Kepalang tanggung, Panji Tejo Laksono langsung menghantam dada salah satu makhluk hitam menyeramkan itu dengan pukulan keras nya yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Blllaaaaaarrr..
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!
Makhluk hitam menyeramkan ini langsung terpental dan menghantam bumi dengan keras. Dia langsung tewas seketika. Namun ajaibnya, makhluk hitam menyeramkan itu segera bangkit lagi dan kembali ikut mengeroyok Panji Tejo Laksono dari empat penjuru mata angin.
Sadar lawannya bukan manusia, Panji Tejo Laksono langsung ingat dengan ucapan Maharesi Yogiswara tentang kemampuan Ajian Brajamusti. Segera sang pangeran muda dari Daha ini merapal mantra Ajian Brajamusti. Kedua telapak tangannya berselimut cahaya putih kebiruan yang memancarkan kilat kecil yang menyambar-nyambar layaknya petir di tengah badai.
Dua makhluk hitam menyeramkan itu segera menerjang dari arah timur dan barat. Panji Tejo Laksono dengan cepat tekuk lutut nya, lantas menghantamkan kedua telapak tangan pada bagian pusar dua makhluk hitam menyeramkan itu segera.
Whhhuuummmm..
Blllaaammmmmmmm!! blllaaammmmmmmm!!
Dua ledakan beruntun terdengar di sambung teriakan kesakitan dari dua makhluk hitam menyeramkan itu. Keduanya terpental jauh ke belakang dengan perut bolong tembus ke pinggang nya. Seketika mereka mati dan berubah menjadi abu hitam yang segera menghilang tersapu angin.
Melihat lawannya bisa menghabisi nyawa kawan mereka, dua makhluk hitam menyeramkan yang tersisa mendengus murka. Keduanya segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja berdiri tegak usai melepaskan dua hantaman Ajian Brajamusti.
Melihat kedatangan dua makhluk hitam menyeramkan ini, Panji Tejo Laksono jejakkan kaki ke tanah dengan keras. Tubuhnya seketika melenting tinggi ke udara. Di udara, sang pangeran muda dari Kadiri ini merubah gerakan tubuhnya dengan bersalto sekali hingga kepalanya berada di bawah. Secepat kilat dia meluncur turun ke arah dua makhluk hitam ini sembari menghantamkan kedua telapak tangan nya yang di lambari cahaya putih kebiruan ke arah mereka.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Kembali ledakan dahsyat terdengar. Dua makhluk hitam menyeramkan ini langsung tewas seketika dan menjadi abu hitam seperti kawan nya tadi. Debu beterbangan menutupi seluruh tempat itu.
Tiba-tiba suara tawa keras membahana Nyi Kembang Sore terdengar.
"Hahahaha, pendekar tampan kau memang hebat. Tak salah jika aku menyukai mu. Kekasih mu ada di tangan ku.Tapi kalau kau memang hebat,
Kejar aku ke Istana Perut Bumi!"