
Putri Anarawati langsung tersadar dari pikiran indahnya begitu mendengar suara Panji Tejo Laksono, " Ah sudah sampai. Kenapa cepat sekali?".
Mendengar gumaman itu, Panji Tejo Laksono langsung tersenyum tipis sekilas lalu wajah tampan nya kembali datar seperti biasa.
"Terus kenapa kalau cepat? Tuan Putri masih ingin berlama-lama di gendongan ku?"
Tersipu malu wajah cantik Putri Anarawati mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Untung saja waktu itu adalah malam hari. Jika siang pasti wajah Putri Anarawati pasti terlihat memerah menahan rasa malu. Apalagi saat Panji Tejo Laksono menurunkan tubuhnya, rasanya ada sesuatu yang hilang dari hidup putri Maharaja Jaya Indrawarman Kedua itu.
"Sebaiknya, Tuan Putri segera masuk ke dalam istana. Di luar keadaan tidak aman bagi seorang perempuan secantik dirimu, Tuan Putri", ucap Panji Tejo Laksono sembari membenarkan bajunya yang sedikit kusut.
Putri Anarawati tersenyum simpul mendengar suara Panji Tejo Laksono yang terdengar seperti nada lagu yang indah di telinga nya. Gadis cantik yang tinggi nya sepundak Panji Tejo Laksono ini terlihat begitu senang di sisi sang pangeran muda dari Kadiri.
Sambil tersenyum manis, Putri Anarawati memandang wajah tampan Panji Tejo Laksono, " Terimakasih atas perhatian mu, Tuan Muda Tejo Laksono. Sebaiknya aku segera masuk, mungkin dua pelayan ku sudah masuk ke istana dan menunggu kedatangan ku".
Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.
Putri Anarawati langsung menarik baju Panji Tejo Laksono dan dengan cepat mendaratkan ciuman di pipi kanan sang pangeran. Sembari menahan malu, putri Maharaja Jaya Indrawarman Kedua itu segera berlari cepat kearah gerbang istana. Kejadian ini begitu cepat, hingga Panji Tejo Laksono hanya melongo tanpa sempat berkomentar apa-apa. Dia baru sadar setelah melihat Putri Anarawati menatap nya dari gerbang istana sebelum menghilang dari pandangan.
"Putri ini hemmmmmmm, benar benar pemberani".
Setelah itu Panji Tejo Laksono segera berbalik badan dan melompat tinggi ke udara lalu melesat cepat diantara pucuk pepohonan menuju ke arah timur, ke Pelabuhan Vijaya.
Sesampainya di Pelabuhan Vijaya, terlihat Gumbreg sedang membakar udang besar sebesar lengan orang dewasa di temani oleh Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Luh Jingga. Panji Tejo Laksono yang baru sampai langsung mendekati mereka, "Wah, sepertinya ini enak. Mana bagian ku Paman?".
Ucapan Panji Tejo Laksono langsung membuat keempat orang itu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Tiga orang terlihat tersenyum cerah, sedangkan Luh Jingga nampak masam wajah nya.
"Ini Gusti Pangeran, sudah hamba siapkan", Gumbreg mengulurkan satu udang besar bakar yang sudah di tusuk pakai sepotong bambu yang entah darimana dia dapatkan. Panji Tejo Laksono langsung menerima udang bakar berbumbu yang berbau harum itu segera.
Dengan lahap, Panji Tejo Laksono duduk di atas sebuah pancang tiang pelabuhan sembari langsung menikmati udang besar bakar yang di berikan Gumbreg. Habis satu ekor, Gumbreg segera mendekati nya, " Hukuman hamba sudah beres bukan Gusti Pangeran?".
Panji Tejo Laksono langsung melotot lebar ke arah Demung Gumbreg. Apalagi sorot mata Luh Jingga terlihat kesal memandang ke arah nya. Segera Panji Tejo Laksono menginjak jempol kaki Demung Gumbreg yang berdiri di samping kiri nya.
"Aduuuhhhhh jempol kaki ku....!!"
Demung Gumbreg langsung merintih kesakitan saat jempol kaki nya diinjak oleh Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda langsung mendelik ke arah pria bertubuh tambun itu, " Siapa yang sedang menghukum mu Paman ha? Atau kau memang ingin aku hukum ya?".
'Duh seperti nya aku salah omong lagi', batin Gumbreg sambil menahan rasa sakit di jempol kaki nya.
"Ti-tidak kog Gusti Pangeran, hamba tidak di hukum. Ini khusus hamba carikan untuk Gusti Pangeran.
Mohon ampun, tolong jangan injak jempol kaki hamba Gusti Pangeran. Itu sedang cantengan", hiba Gumbreg segera.
Hihihihi...
Terdengar ketawa lirih dari mulut Tumenggung Ludaka sementara Rajegwesi terlihat senyum di kulum berusaha keras agar tidak tertawa melihat nasib sial yang dialami Gumbreg.
"Lain kali kalau Paman Gumbreg bicara sembarangan lagi, awas saja..
Luh Jingga, ikut aku sekarang", Panji Tejo Laksono bergegas meninggalkan tempat itu di temani Luh Jingga.
Begitu Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga sudah naik ke atas kapal, tawa Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi langsung pecah.
Demung Gumbreg langsung mendelik ke arah mereka berdua, "Dasar kampret! Kau senang ya melihat aku menderita?"
"Salah mu sendiri. Sudah tahu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono diam diam ada urusan dan kau di gunakan sebagai pijakan nya, eh kau malah bilang hukuman.
Bukankah itu sama saja dengan membongkar rahasia Gusti Pangeran, Mbreg?".
"Tapi Lu, aku kan hanya jujur saja dengan apa yang terjadi. Lagipula aku memang di hukum untuk mencari udang di tepi pantai tadi", Demung Gumbreg tak mau di salahkan.
"Kau memang tidak salah Mbreg, tapi omongan mu yang salah tempat.
Sudah tahu kalau Gusti Pangeran menyembunyikan pertemuan nya eh malah kau bongkar di depan Luh Jingga. Sebenar benarnya seorang bawahan, tetap salah jika kita tidak pandai membawa diri saat bersama dengan majikan. Ingat itu", sahut Rajegwesi sembari tersenyum tipis.
Gumbreg tak menjawab omongan Tumenggung Rajegwesi. Dalam diam dia merutuki kesialan yang menimpanya sejak tadi sore.
Luh Jingga yang membantu Panji Tejo Laksono melepaskan baju kebesaran sang pangeran muda terlihat mengendus-endus bau pakaian itu. Panji Tejo Laksono yang melihatnya, langsung menatap nya dengan sedikit heran, " Kau sedang apa Luh?"
"Tidak ada Gusti Pangeran, hanya hamba mencium aroma wangi berbeda dari pakaian ini. Biasanya hamba mencuci dengan taburan bunga mawar, tapi kenapa berubah jadi melati sekarang?", Luh Jingga menggaruk kepalanya.
'Haish, perempuan memang seperti kucing saja. Pintar sekali membedakan bau. Itu pasti bau tubuh Putri Anarawati yang aku gendong tadi'
"Oh mungkin itu tadi karena teh melati yang di hidangkan tumpah ke baju ku.. Sudah jangan terlalu di pikirkan, ini sudah malam. Sebaiknya kita segera beristirahat ", ujar Panji Tejo Laksono sembari merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu tempat tidur nya.
Setelah merapikan baju Panji Tejo Laksono, Luh Jingga segera keluar dari kamar tidur sang pangeran.
Malam semakin larut. Suasana dingin udara Pelabuhan Vijaya terasa lebih dingin dari biasanya. Semua orang terlihat terlelap tidur di tempat mereka masing-masing kecuali beberapa prajurit jaga yang masih terlihat mengobrol dengan kawannya.
Keesokan paginya..
Di dalam Istana Kerajaan Champa, Maharaja Jaya Indrawarman Kedua nampak kaget mendengar laporan dari Putri Anarawati mengenai munculnya Kelompok Bintang Selatan di ibukota Kerajaan Champa. Apa lagi saat Putri Anarawati mengatakan bahwa pasukan Champa telah di susupi para pasukan pemberontak yang berpusat di Kota Panduranga ini.
"Ini tidak bisa di biarkan!
Mahamantri,
Segera lakukan pemeriksaan di seluruh Kotaraja. Barangsiapa yang terlibat, tangkap dan jebloskan ke penjara.
Devadikara,
"Daulat Maharaja Champa", jawab seluruh punggawa istana Champa segera.
Setelah perintah di turunkan, pemeriksaan besar besaran di lakukan. Beberapa orang di tangkap oleh para prajurit dan di jebloskan ke penjara, sedangkan di pelabuhan Vijaya para pelaut yang berlabuh di usir dengan di berikan nya surat jalan bagi mereka termasuk kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono.
Rakryan Purusoma langsung memasang wajah cerah begitu surat jalan itu mereka dapatkan, sedangkan Panji Tejo Laksono memilih menitipkan sepucuk surat pada Devadikara untuk Putri Anarawati sebagai ucapan perpisahan.
Perlahan kapal jung besar Panji Tejo Laksono meninggalkan Pelabuhan Vijaya menuju ke arah Utara.
Putri Anarawati langsung menangis sejadi jadinya saat membaca surat yang di kirim oleh Panji Tejo Laksono. Devadikara berusaha keras menghibur cucu nya itu.
"Sudahlah, Cucu ku ..
Tidak perlu kau tangisi kepergian pemuda itu. Dia dalam perjalanan ke Tanah Tiongkok untuk melaksanakan tugas nya. Kalau memang kau di takdirkan untuk berjodoh dengan nya, pasti akan ada jalan untuk kalian bertemu. Pasrahkan diri kita pada kuasa Dewa Penguasa Alam Semesta ", ujar Devadikara sembari mengelus kepala Putri Anarawati.
Kepergian Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba dari wilayah Kerajaan Champa benar benar membawa duka yang mendalam terhadap Putri Anarawati.
Sementara itu, kapal jung besar yang di tumpangi oleh Panji Tejo Laksono dan rombongannya terus melaju ke arah Utara. Sepanjang perjalanan kali ini lancar tanpa hambatan berarti.
Setelah 15 hari berlayar, akhirnya kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono sampai di Pelabuhan Lin'an. Selama melintasi Selat Taiwan, kapal jung mereka di hantam topan sekali hingga menderita kerusakan ringan namun masih sanggup melanjutkan perjalanan.
Kota Lin'an adalah sebuah kota pelabuhan besar di masa Dinasti Song berkuasa. Ratusan kapal berlabuh di pelabuhan Kota Lin An menjadi lalu lintas perdagangan antar negara baik lewat laut maupun lewat sungai. Pun kota besar ini juga merupakan salah satu wilayah paling makmur di masa itu.
Gubernur Hangzhou, Su Dong PO berhasil membangun kota ini menjadi kota yang berkembang pesat di masa pemerintahannya. Di saat awal dia diangkat sebagai Gubernur Hangzhou pada tahun 1089 Masehi, sang gubernur yang juga seorang penyair terkenal memiliki pandangan sendiri soal kemajuan kota yang juga merupakan pelabuhan dalam bagi para pelaut dari mancanegara.
Panji Tejo Laksono menatap puluhan kapal besar yang berlabuh di pelabuhan Lin'an saat perlahan kapal jung besar mereka perlahan merapat ke dermaga. Sembari terus menatap tanah negeri asing itu, dia melirik ke arah Rakryan Purusoma yang berdiri tak jauh dari tempat nya berdiri, " Jadi ini kota tempat tinggal Kaisar Song, Paman Purusoma?"
"Bukan Gusti Pangeran, Kaisar Song tinggal di Istana Kekaisaran Kota Kaifeng.
Kita harus melanjutkan perjalanan dengan kereta kuda untuk sampai kesana", jawab Rakryan Purusoma sembari menghormat pada sang pangeran.
"Tapi sebelumnya kita harus menemui Gubernur Hangzhou untuk meminta surat jalan agar tidak ada kesulitan untuk sampai kesana.
Ini adalah aturan baku untuk semua pendatang yang ingin menemui Kaisar Song", imbuh Rakryan Purusoma segera.
Setelah mereka kapal jung mereka berlabuh sempurna, rombongan Panji Tejo Laksono yang di pimpin oleh Rakryan Purusoma segera mencari tempat bermalam. Beberapa barang bawaan mereka masih di tinggal di dalam kapal jung karena mereka harus mencari kereta kuda untuk mengangkut hadiah bagi Kaisar Song. Sepanjang perjalanan mereka di buat terpesona dengan keramaian Kota Lin'an yang penuh dengan lalu lintas para pedagang dan penduduk yang berlalu lalang. Bangunan tinggi menjulang nampak terlihat di arah barat daya.
Sembari mengagumi keramaian kota itu, Rakryan Purusoma akhirnya menemukan sebuah penginapan yang cukup besar dengan gerbang megah dengan tulisan "Penginapan Musim Semi" yang terletak tidak jauh dari kediaman Gubernur Hangzhou, Su Dong Po. Penginapan dua lantai ini begitu megah berdiri di tepi jalan raya Kota Lin'an.
Seorang lelaki berpakaian bahan murah namun rapi dan bersih khas baju pelayan Negeri Tiongkok segera mendekati mereka. Senyum ramah terukir di wajah nya yang berkulit kuning.
"Selamat datang di Penginapan Musim Semi, Tuan..
Ada yang bisa saya bantu?", ujar si pelayan dalam bahasa Tionghoa yang kental. Rakryan Purusoma yang fasih berbahasa Tionghoa langsung menjawabnya dengan cepat dan sopan.
"Kami ingin 12 kamar untuk beristirahat selama dua hari disini, pelayan.
Apakah ada?", tanya Rakryan Purusoma. Mendengar logat bicara Rakryan Purusoma dan setelah memperhatikan para pengikutnya, sang pelayan langsung paham bahwa mereka pendatang dari luar negeri.
"Ada Tuan. Kebetulan masih banyak kamar kosong di tempat kami.
Biar nanti para pelayan yang menyiapkan tempat kalian. Biayanya per malam adalah 1 tail perak kecil, karena semuanya ada 12 kamar di kali 2 malam, maka jumlah seluruh nya adalah 24 tail perak. Jika ditambah dengan pelayanan kamar dan makanan maka seluruh nya 36 tail perak Tuan", ujar lelaki berkumis tipis dengan senyum ramah. Di saat usaha penginapan lagi sepi begini, ada yang memborong 12 kamar nya tentu berkah tersendiri bagi nya.
1 tail perak kecil Dinasti Song setara dengan 1 kepeng perak Kerajaan Panjalu.
"Tuan, kami datang dengan banyak orang. Ada kemungkinan bisa tinggal lebih lama di tempat ini. Bisa 4 atau bahkan 5 hari. Berilah kami potongan, aku jamin usaha tuan tidak akan rugi", Rakryan Purusoma menawar biaya penginapan mereka.
"Haiya, itu sudah sangat sedikit kami ambil untung, Tuan.
Tak bisa kalau mesti pakai potong harga", Si pelayan itu mencoba bertahan.
"Kalau begitu mohon maaf, kami cari penginapan yang lain saja. Permisi Tuan", balas Rakryan Purusoma sembari berbalik arah. Demung Gumbreg yang sudah capek karena berjalan kaki, langsung menggerutu kesal dengan sikap Rakryan Purusoma.
"Kog malah balik lagi sih? Kaki ku sudah pegal nih!"
"Tutup mulut mu Mbreg, kita tidak bisa bahasa mereka jadi hanya bisa ikut saja dengan apa kata Rakryan Purusoma", potong Tumenggung Ludaka sambil menggelandang tangan Gumbreg.
"Tapi Lu..."
Belum sempat Gumbreg selesai bicara, terdengar suara dari sang pelayan, "Tunggu dulu Tuan, kita masih bisa bicara lagi tentang harga nya".
Mendengar perkataan itu, Rakryan Purusoma segera tersenyum tipis dan berbalik badan nya.
"Baiklah, aku kasih potongan harga. Kalian cukup bayar 30 tail perak kecil saja untuk dua hari.
Silahkan bayar di muka", ujar si pelayan sembari tersenyum kecut. Rakryan Purusoma kemudian memberi isyarat kepada Tumenggung Rajegwesi yang memegang peranan sebagai keuangan perjalanan mereka.
Usai membayar, mereka di antar ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat. Rupanya di penginapan ini di sediakan pelayanan istimewa seperti bisa mandi air hangat dan hiburan yang di adakan setiap malam. Tambahan lagi makanan di tempat ini juga lumayan enak meski sedikit terasa asing di lidah orang orang Kerajaan Panjalu.
Sore itu saat Panji Tejo Laksono sedang menikmati berendam air hangat di lantai dua kamar tidurnya, tiba tiba terdengar keributan dari lantai bawah. Terdengar seperti suara orang bertarung sengit menggunakan senjata. Panji Tejo Laksono langsung menyambar pakaian nya dan berganti pakaian dengan cepat. Dia segera melihat ke arah keributan yang sedang terjadi.
Dua lelaki muda sedang mengadu kepandaian ilmu beladiri nya di lantai bawah. Beberapa meja makan telah hancur berantakan akibat pertarungan sengit mereka. Seorang pemuda berbaju khas Tanah Tiongkok mengacungkan pedangnya ke arah seorang pemuda berbaju putih dengan penuh amarah.
"Huang Lung...
Hari ini akan ku balas kematian guru ku!"