Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pangeran Suryavarman


Kerajaan Khmer atau juga dikenal dengan nama Kampujadesa atau Negeri Kamboja adalah sebuah dinasti kerajaan yang menguasai seluruh daerah di sekeliling Teluk Siam kala itu. Berdasarkan sejarah, Pangeran Jayavarman dari Dinasti Syailendra di Jawa Tengah, melarikan diri dari Pulau Jawadwipa, memutuskan hubungan dengan Dinasti Syailendra dan mengangkat dirinya menjadi Dewaraja dengan gelar Chakrawartin ( penguasa dunia ) di Gunung Mahendraparvata usai membangun sebuah kota di Utara Danau Tonle Sap yang di beri nama Hariharalaya yang berarti rumah bagi Harihara (dewa persatuan antara Wisnu dan Siwa).


Pangeran Jayavarman atau yang lebih di kenal dengan sebutan Dewaraja Jayavarman 2 ini mengembangkan Kerajaan Khmer atau Negeri Kamboja menjadi wilayah yang luas dengan Hariharalaya sebagai pusat pemerintahan.


Kesuksesan Raja keturunan Dinasti Syailendra ini terus di lanjutkan hingga para keturunan nya memerintah. Pada masa pemerintahan Yasovarman 1, pusat pemerintahan Kerajaan Khmer bergeser ke kota baru yang di bangun. Kota ini di beri nama Yasodharapura atau Angkor yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan yang lebih luas pada masa selanjutnya.


Di tahun 1100 Masehi, Raja Khmer yang berkuasa adalah Draranindravarman Yang Pertama. Kerajaan Khmer berkembang pesat meluas ke seluruh kawasan Teluk Siam. Mereka bertetangga dengan Kerajaan Champa di Timur, Dinasti Song di Utara, Negara Pali di Barat dan Langkasuka di selatan.


Semenjak masa pemerintahan raja terdahulu, Kerajaan Khmer atau Negeri Kamboja membangun angkatan laut nya dengan mengagumkan. Mereka menguasai hampir seluruh lalu lintas perdagangan yang melewati Laut China Selatan di dekat wilayah mereka. Negeri agraris ini begitu makmur dengan perdagangan dan pertanian.


Satu satunya pengacau keamanan di perairan laut mereka hanyalah sekelompok perompak laut yang bernama Perompak Bendera Hitam. Karena itu mereka sangat berambisi untuk menumpas kelompok bajak laut itu sampai ke akarnya. Ini adalah syarat mutlak jika mereka ingin di akui sebagai penguasa di Laut China Selatan.


Kapal jung besar berbendera segitiga kuning bertepi hijau muda itu terus mendekati tempat pertarungan antara kelompok Panji Tejo Laksono dan para perompak laut pimpinan Si Janggut Merah.


Seorang lelaki bertubuh tegap seusia Panji Tejo Laksono, berkumis tipis dan berwajah tampan nampak berdiri tegak haluan kapal sembari terus menyaksikan pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono melawan Si Janggut Merah. Dari pakaian yang dikenakan, terlihat jelas bahwa dia adalah seorang bangsawan.


"Siapa pemuda itu? Kenapa dia mampu bertarung seimbang dengan Si Janggut Merah?"


Berbagai pertanyaan melintas di kepala sang pemuda tampan itu sembari terus menyaksikan pertarungan hidup mati antara Panji Tejo Laksono dan Si Janggut Merah.


Si Janggut Merah terus memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan pedang besar beruntun yang mematikan. Saat itu Si Janggut Merah berhasil mengunci pergerakan Panji Tejo Laksono. Satu sabetan pedang besar Si Janggut Merah langsung terarah ke leher sang pangeran muda dari Kadiri.


Shreeeeettttthhh !


Tiba-tiba kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Saat bilah pedang besar Si Janggut Merah hampir menyentuh kulit lehernya, tubuh Panji Tejo Laksono menghilang tersapu angin. Si Janggut Merah terperanjat melihat itu semua. Apalagi tiba tiba saja Panji Tejo Laksono muncul dua tombak di belakang Si Janggut Merah.


"Ka-kau ba-bagaimana bisa muncul di disitu? I-ini tidak mungkin", ujar Si Janggut Merah yang langsung grogi saat itu juga.


"Tentu saja dengan bergerak cepat. Kau terlalu lambat, Janggut Merah.."


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Si Janggut Merah geram seketika. Lelaki bertubuh tinggi besar itu segera melompat tinggi ke udara dan membabatkan pedang besar ke arah Panji Tejo Laksono. Lagi lagi Panji Tejo Laksono menghilang begitu saja hingga pedang besar Si Janggut Merah menghantam lantai geladak kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono.


Bruuuuaaaakkkkhhh!!


Lantai geladak kapal jung besar itu langsung berlobang besar. Panji Tejo Laksono dengan lincah berkelit kesana kemari menghindari sabetan pedang besar Si Janggut Merah. Semakin lama semakin banyak lobak tercipta di lantai geladak kapal akibat serangan pedang besar Si Janggut Merah.


Panji Tejo Laksono yang melihat itu seketika sadar bahwa jika Si Janggut Merah di biarkan terlalu lama bisa-bisa lantai geladak kapal jung akan hancur di buatnya. Secepat kilat, Panji Tejo Laksono merapal Ajian Tapak Dewa Api nya. Seketika sinar merah menyala berhawa panas bergulung di lengan kanannya. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menerjang maju ke arah Si Janggut Merah yang baru saja berbalik badan.


Kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba saja di depan nya membuat Si Janggut Merah gugup. Sekuat tenaga dia menebaskan pedang besarnya ke arah kepala lawan.


Panji Tejo Laksono sedikit merendahkan tubuhnya lalu menghantam dada kanan Si Janggut Merah dengan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala .


Blllaaammmmmmmm !


Aaaarrrgggggghhhhh !


Byyuuurrrrrrrrr....!!


Si Janggut Merah menjerit keras saat Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar dada kanannya. Pria bertubuh tinggi besar yang berusia sekitar 4 dasawarsa ini terpental jauh ke belakang dan terjatuh ke dalam lautan. Tak berapa lama kemudian tubuhnya mengambang dengan mulut mengeluarkan darah segar. Dia tewas dengan dada hangus seperti terbakar api. Mayatnya segera menjadi santapan ikan hiu yang terpancing oleh bau darah.


Kematian Si Janggut Merah membuat sisa sisa anggota Perompak Bendera Hitam yang melakukan perlawanan semakin lemah apalagi saat pasukan laut Kerajaan Khmer datang dan ikut campur. Satu persatu mulai tewas berjatuhan di tangan para prajurit Panjalu dan kerajaan Khmer.


10 orang perompak laut terakhir memilih untuk melemparkan senjata mereka dan berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


Sang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah tampan dan kumis tipis langsung berjalan mendekati Panji Tejo Laksono yang baru saja membantai Si Janggut Merah, pimpinan Perompak Bendera Hitam.


"Maaf jika aku mengganggu mu, Ksatria. Di lihat dari cara berpakaian mu dan ilmu beladiri yang kau gunakan, sepertinya kau bukan orang Sriwijaya atau Langkasuka.


Kalau boleh tau, darimana kau berasal?", tanya si pemuda tampan berpakaian layaknya seorang bangsawan itu dengan sopan.


"Ah aku sungguh tidak sopan. Belum memperkenalkan diri tapi sudah bertanya nama.


Nama ku Suryavarman. Siapa namamu ksatria?", imbuh sang pemuda tampan berkumis tipis yang mengaku bernama Suryavarman.


"Namaku Tejo Laksono, seorang duta dari sebuah pulau di Laut Selatan. Negeri ku bernama Panjalu, di Pulau Jawadwipa", Panji Tejo Laksono segera membungkukkan badannya pertanda hormat pada Suryavarman.


"Ah Tanah Jawadwipa ya? Aku dengar dari cerita orang bahwa buyut ku juga berasal dari Tanah Jawadwipa, tepatnya dari Negeri Mataram karena dia adalah pangeran dari Dinasti Syailendra. Senang sekali bisa berjumpa dengan seorang kawan dari tanah leluhur ku..


Kalian ini mau kemana? Sepertinya hendak melakukan perjalanan jauh", tanya Suryavarman sembari tersenyum.


"Kami adalah duta besar Panjalu ke Tanah Tiongkok. Kami di utus oleh Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta, Maharaja Panjalu", jawab Panji Tejo Laksono segera.


Hemmmmmmm...


"Kemampuan beladiri kalian sungguh hebat. Si Janggut Merah adalah penyakit di lalu lintas perdagangan lewat laut, banyak kapal dagang yang menjadi korban keganasan mereka. Mewakili Kerajaan Khmer, aku berterimakasih kepada mu Tuan Tejo Laksono..


Kalian masih separuh perjalanan. Masih jauh jika ingin ke Tanah Tiongkok.Kalau begitu, singgah lah dulu ke Prey Nagara untuk memperbaiki kapal kalian ini. Kalau memaksakan diri, kapal kalian tidak akan mampu melewati hantaman ombak besar di Laut China Selatan.


Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasih karena kalian telah meringankan tugas ku sebagai penjaga laut Kerajaan Khmer", ujar Suryavarman sembari menunjuk ke arah geladak kapal jung besar Panji Tejo Laksono yang rusak akibat pertarungan dengan Perompak Bendera Hitam.


Panji Tejo Laksono tak segera menjawab tawaran Suryavarman. Matanya menjelajah ke arah geladak kapal jung nya yang memang rusak di beberapa tempat. Belum lagi ada layar utama yang sobek karena pertarungan.


"Paman Purusoma,


Apakah kapal kita masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Sepertinya kita perlu ke pelabuhan terdekat untuk perbaikan. Ada beberapa kerusakan yang cukup parah untuk segera di perbaiki", Rakryan Purusoma menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm..


"Baiklah, aku terima tawaran mu, Tuan Suryavarman. Kapal jung kami memang perlu di perbaiki segera", Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Suryavarman sembari mengangguk setuju.


Mendengar jawaban itu, Suryavarman tersenyum tipis dan segera memerintahkan kepada para anak buahnya untuk mengawal kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono ke Prey Nagara atau Kota Pohon Randu yang merupakan kota pelabuhan besar Kerajaan Khmer.


Prey Nagara atau juga Prey Nokor adalah sebuah kota pelabuhan besar di selatan wilayah Kerajaan Khmer dimana penguasa nya Ksitindraditya, ayah Suryavarman adalah raja daerahnya. Ksitindraditya sendiri adalah sepupu jauh satu buyut dengan Dewaraja Draranindravarman 1 yang berkuasa saat ini di Kampujadesa atau Negeri Kamboja. Ksitindraditya menjadi raja dari daerah paling selatan karena alasan politik. Dia di takutkan akan menuntut hak atas tahta Kerajaan Khmer yang seharusnya menjadi hak nya karena dari urutan penerus tahta, dia lebih berhak untuk menjadi Maharaja Khmer di banding sepupunya Draranindravarman 1. Ini juga yang menjadi dasar pemberontakan Suryavarman di kemudian hari.


Begitu tiba di Prey Nagara, kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono segera di sandarkan pada dermaga. Sementara para awak kapal melakukan perbaikan, Panji Tejo Laksono dan 20 pengawal pribadi nya langsung di sediakan tempat menginap di Istana Prey Nagara oleh Suryavarman. Pangeran yang tersingkir dari tempat yang seharusnya menjadi hak nya itu begitu menyukai Panji Tejo Laksono karena selain Panji Tejo Laksono rendah hati, dia juga sopan pada nya.


"Jadi Tuan Tejo Laksono ini juga seorang pangeran di negeri tuan?", tanya Suryavarman sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono begitu mereka telah sampai di tempat peristirahatan yang di sediakan Istana Prey Nokor, kota daerah setingkat kadipaten di Jawa.


"Benar Pangeran Suryavarman..


Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ini adalah putra sulung dari Prabu Jayengrana, Raja Panjalu di Tanah Jawadwipa. Meski putra sulung, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono harus berusaha keras agar menjadi penerus tahta Kerajaan Panjalu karena tingkat kebangsawanan ibunya sedikit lebih rendah dari Ratu kedua. Ini juga yang menjadi alasan kenapa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono harus menjadi duta besar ke Kekaisaran Dinasti Song. Selain untuk mencari pengalaman, juga harus mencari pengakuan dari para Dewan Saptaprabu agar bisa menduduki jabatan Yuwaraja di Negeri Panjalu kami, Pangeran Suryavarman", ujar Rakryan Purusoma yang ikut berbicara dalam perbincangan sore hari itu.


Mendengar itu, Suryavarman terdiam sejenak. Rupanya ucapan Rakryan Purusoma memberikan sedikit pencerahan pada pemikiran nya.


"Tuan Pangeran Panji Tejo Laksono saja hanya untuk menduduki posisi Yuwaraja saja harus berusaha keras sampai mempertaruhkan nyawa.


Kalau begitu, aku pun tidak mau kalah. Aku akan berjuang keras juga untuk mengambil hak atas tahta Kerajaan Khmer karena sesungguhnya tahta Kerajaan Khmer adalah hak ayahku, Ksitindraditya yang di rampas oleh Paman Draranindravarman", Suryavarman segera mengepalkan tangannya erat-erat sambil menatap ke arah langit Utara yang sedikit berwarna kemerahan seperti tengah menatap Dewaraja Draranindravarman berdiri di sana.


Panji Tejo Laksono dan Rakryan Purusoma saling berpandangan mendengar ucapan itu dan tak menanggapi nya seolah ini hanya omong kosong belaka.


Ksitindraditya dan istrinya, Narendralaksmi sangat senang bahwa putra mereka akhirnya memiliki teman yang sepemikiran. Mereka menjamu rombongan Panji Tejo Laksono sebaik-baiknya di Istana Prey Nokor.


Selama tiga hari mereka di Istana Prey Nokor sembari menunggu perbaikan kapal jung besar, Panji Tejo Laksono dan Pangeran Suryavarman banyak berbincang tentang banyak hal. Mereka bertukar pikiran dan pengalaman pribadi. Keduanya saling mengagumi karena memiliki kelebihan masing-masing. Pangeran Suryavarman mengagumi sosok Panji Tejo Laksono karena tingginya ilmu beladiri dan kecerdasan nya, sedangkan Panji Tejo Laksono mengagumi sosok Pangeran Suryavarman karena kelihaian membangun pertemanan dan luasnya wawasan kenegaraan nya.


Pada hari keempat di Prey Nokor, rombongan Panji Tejo Laksono berpamitan kepada Pangeran Suryavarman juga pada Ksitindraditya dan Narendralaksmi untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Tiongkok.


Pangeran Suryavarman mengantar mereka hingga ke pelabuhan Prey Nokor.


"Jika sudah selesai di Tanah Tiongkok, mampirlah kemari Pangeran Panji Tejo Laksono..


Prey Nokor akan selalu terbuka lebar untuk kalian", ujar Pangeran Suryavarman sembari tersenyum simpul.


"Terimakasih atas semua budi baik mu, Pangeran Suryavarman. Seumur hidup ku aku tidak akan pernah melupakannya.


Aku pamit. Jaga diri mu baik-baik dan semoga kelak semua impian mu tercapai ", ucap Panji Tejo Laksono seraya membungkuk hormat kepada Pangeran Suryavarman.


Setelah cukup berpamitan kepada Pangeran Suryavarman, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan segera naik ke atas geladak kapal jung besar mereka. Perlahan perahu besar itu meninggalkan Pelabuhan Prey Nokor menuju ke arah Utara.


Setelah menyusuri pesisir pantai, kapal jung besar itu menggunakan tenaga angin melaju ke arah Utara.


Keesokan harinya, setelah seharian melakukan perjalanan, tiba tiba kapal jung mereka di kepung puluhan kapal berbendera merah bergaris tengah putih. Mereka terlihat seperti nya menaruh curiga dengan kehadiran perahu jung berbendera asing yang belum pernah mereka temui sebelumnya.


Sebuah kapal yang paling besar langsung bergerak mendekati kapal jung milik rombongan Panji Tejo Laksono. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dengan wajah memiliki beberapa bekas luka akibat pertarungan nampak berdiri di haluan kapal besar itu sembari menatap tajam ke arah kapal jung besar berbendera asing itu dengan sedikit penasaran. Dari dandanan nya seperti nya dia adalah orang penting dari kelompok perahu pengepung.


Diatas geladak kapal jung, Panji Tejo Laksono berdiri sembari menatap ke arah puluhan kapal berbendera merah bergaris tengah putih.


"Gusti Pangeran,


Sepertinya ini adalah kapal perang Kerajaan Champa. Bendera merah bergaris tengah putih itu adalah tanda bahwa mereka dari kerajaan itu", bisik Rakryan Purusoma yang berdiri di samping Panji Tejo Laksono.


"Tanyakan pada mereka, apa mau mereka?


Kalau mereka macam macam, aku tidak akan segan segan untuk menghadapi mereka semua", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran".


Usai berkata demikian, Rakryan Purusoma segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan berjalan ke sisi kiri geladak kapal jung dan berteriak keras.


"Maaf Tuan, apa maksud kalian bersikap seperti ini?


Kami adalah duta besar yang lewat di sini", ucap Rakryan Purusoma dengan cepat.


Si lelaki bertubuh gempal itu sedikit mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Rakryan Purusoma. Logat bicara nya asing dan tidak pernah di jumpai sebelumnya. Setelah menghela nafas, dia berkata dengan cepat.


"Setiap kapal asing yang melintasi wilayah laut Kerajaan Champa, wajib melapor ke kepala pelabuhan Vijaya.


Sekarang kalian ikut kami".