Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Racun Penghancur Hati


Usai berkata demikian, Ki Samparjagad segera menghilang dari pandangan mata semua orang.


Nyi Dadap Segara segera salurkan tenaga dalam nya pada Pedang Tulang Iblis di tangan nya setelah mendengar perintah dari Ki Samparjagad. Sinar hitam pekat berhawa dingin berbau amis darah seketika membesar dan menimbulkan perasaan takut yang mengerikan. Dengan berteriak keras, Nyi Dadap Segara segera membabatkan Pedang Tulang Iblis ke arah Song Zhao Meng.


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!


Sinar hitam pekat berhawa dingin itu dengan cepat menerabas ke arah Song Zhao Meng. Sadar bahwa ada peningkatan jumlah tenaga dalam yang keluar dari Pedang Tulang Iblis, Song Zhao Meng segera memutar kedua telapak tangannya lalu mengangkat nya ke atas sejajar dengan dada.


Tiba-tiba saja muncul lembaran balok es tebal yang dengan cepat menghadang laju pergerakan sinar hitam pekat dari Pedang Tulang Iblis.


Zzzeeeerrrrrttthh!!


Krrraaaakkkkkk!!!


Bongkahan es setebal hampir 3 jengkal jemari tangan orang dewasa ini mampu menahan sinar tajam Pedang Tulang Iblis. Melihat lawannya mampu menahan sinar hitam pekat berhawa dingin dari pusaka di tangan nya, Nyi Dadap Segara tersentak.


Dari arah luar istana, ribuan orang prajurit Seloageng di bawah pimpinan Tumenggung Bajrageni yang baru datang dari Ksatrian Seloageng langsung merangsek masuk ke dalam istana. Ini seketika membuat keadaan menjadi berbalik. Jika awalnya para prajurit Seloageng begitu terdesak oleh orang orang Kelompok Bulan Sabit Darah, kini mereka berada di atas angin. Perlahan namun pasti, mereka berhasil memojokkan para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah. Meski di pihak Istana Kadipaten Seloageng banyak jatuh korban jiwa, namun istana mulai mereka kuasai kembali.


'Brengsek!!


Pimpinan ketiga seenaknya saja pergi tanpa mempedulikan aku dan yang lainnya. Aku tidak boleh berlama-lama di tempat ini kalau tidak ingin mati konyol', batin Nyi Dadap Segara. Mata perempuan cantik yang sudah tak muda lagi itu melirik kiri kanan nya untuk mencari jalan pelarian. Begitu melihat pintu gerbang timur istana terbuka lebar, segera ia menyusun siasat untuk secepatnya kesana.


Nyi Dadap Segara dengan cepat mengayunkan kembali Pedang Tulang Iblis nya ke arah Song Zhao Meng bertubi tubi.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


5 larik sinar hitam pekat berhawa dingin kembali menerjang ke arah Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok yang kini punya nama Jawa yakni Dewi Wulandari itu segera memutar tubuhnya . Gerakan tubuhnya yang terlihat seperti orang menari ini dengan cepat menciptakan balok balok es tebal sebagai pertahanan menghadapi sinar tajam Pedang Tulang Iblis. Sedikit demi sedikit, pertarungan sengit antara Song Zhao Meng dan Nyi Dadap Segara mendekati pintu gerbang timur istana Kadipaten Seloageng.


Selepas melepaskan serangan jarak jauh beruntun ke arah Song Zhao Meng, Nyi Dadap Segara segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah pintu gerbang timur istana.


"Kau mau kabur? Tidak semudah itu, penyihir!!", teriak Song Zhao Meng yang melihat pergerakan Nyi Dadap Segara. Perempuan cantik bermata sipit ini dengan cepat meningkatkan jumlah tenaga dalam nya pada telapak tangan nya dan segera membuat gerakan indah dengan menaikkan kedua telapak tangannya.


Tiba-tiba, balok es tebal langsung tercipta di pintu gerbang timur istana Kadipaten Seloageng. Ini membuat rencana pelarian Nyi Dadap Segara terhenti. Perempuan cantik berbaju hitam itu segera mengayunkan Pedang Tulang Iblis dengan di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke arah balok es tebal yang menutupi jalan di gerbang timur istana Kadipaten Seloageng dengan sekuat tenaga.


Shhrreeettthhh !


Blllaaaaaarrr...,!!


Ledakan keras terdengar di balok es tebal yang menutup jalan keluar. Namun ledakan keras itu masih belum cukup kuat untuk menghancurkan balok es tebal ciptaan Song Zhao Meng. Melihat usaha nya sia-sia dan juga Song Zhao Meng yang melesat cepat kearah nya, Nyi Dadap Segara segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Dia bermaksud untuk melompat tembok istana Kadipaten Seloageng.


Belum sempat dia menyeberangi tembok istana, tiba-tiba selarik sinar merah menyala seperti api yang berkobar menyongsong gerakan tubuh Nyi Dadap Segara. Meski sempat kaget setengah mati karena serangan tiba-tiba itu, Nyi Dadap Segara segera menyilangkan Pedang Tulang Iblis ke depan dada nya untuk menahan sinar merah menyala berhawa panas menyengat ini.


Blllaaammmmmmmm !!


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Terdengar suara raungan keras dari mulut Nyi Dadap Segara bersamaan dengan ledakan dahsyat itu. Tubuh Nyi Dadap Segara terlempar kembali ke dalam Istana Kadipaten Seloageng. Perempuan cantik asal Wanua Siganggeng ini menyusruk tanah dengan keras. Dia langsung muntah darah segar sementara Pedang Tulang Iblis terlepas dari genggaman tangannya dan menancap di halaman Pendopo Agung Kadipaten Rajapura. Meski separuh wajah nya di tutupi cadar kain hitam, namun darah segar yang merembes keluar membuktikan bahwa perempuan itu terluka dalam parah.


Saat Nyi Dadap Segara hendak bangkit dari tempat jatuhnya, Song Zhao Meng segera mengibaskan tangan kanannya ke arah kaki perempuan cantik itu. Sebuah balok es tebal tercipta dan memasung kaki Nyi Dadap Segara hingga perempuan itu tidak bisa bergerak sama sekali.


Sedangkan dari arah luar tembok istana dimana sinar merah menyala berhawa panas menyengat itu berasal, sesosok bayangan berkelebat cepat kearah mereka.


Sosok bayangan itu segera mendarat di tanah dekat Nyi Dadap Segara terkapar. Song Zhao Meng bergegas mendekati nya.


"Kakak Thee, kau sudah pulang?", sambut Song Zhao Meng segera.


"Saat meninggalkan Pakuwon Tumapel, aku punya firasat buruk tentang Istana Kadipaten Seloageng, Dinda Wulan. Aku segera berpamitan dengan Gayatri dan Luh Jingga karena kepikiran terus dengan istana. Dam ternyata firasat ku benar.


Apa yang sedang terjadi di sini, Dinda? Kenapa ada orang Jenggala di tempat ini?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang menyaru sebagai prajurit Jenggala kini sudah terpojok. Dari jumlah 1500 orang, kini hanya tersisa kurang dari seperempatnya saja dan mereka tersudut di salah satu bagian istana.


"Dia yang membawa orang-orang itu Kakak Thee. Salah seorang diantara mereka telah menculik Cici Ayu..", Song Zhao Meng segera menunjuk ke arah Nyi Dadap Segara yang terbelenggu oleh pasungan es ciptaan putri Kaisar Huizong ini. Panji Tejo Laksono langsung terhenyak mendengar jawaban Song Zhao Meng. Penguasa Kadipaten Seloageng ini terlihat sangat marah. Bagaimana tidak, beberapa bagian bangunan Istana Kadipaten Seloageng hancur berantakan dan sebagian terbakar api karena para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah sengaja melemparkan obor obor penerangan ke arah atap bangunan yang terbuat dari ijuk aren dan daun alang-alang kering. Ribuan mayat bergelimpangan tak tentu arah dan ini tentu saja membuat pemandangan istana Kadipaten Seloageng menjadi menakutkan. Apalagi ditambah dengan laporan dari Song Zhao Meng tentang penculikan terhadap Ayu Ratna, darah Panji Tejo Laksono langsung mendidih.


Dengan penuh amarah, Panji Tejo Laksono langsung mendekati Nyi Dadap Segara. Lelaki tampan bertubuh tegap itu segera meraih cadar kain hitam yang menutupi sebagian wajah Nyi Dadap Segara dan melemparkannya ke sembarang tempat. Topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah juga tak luput dari sambaran paksa tangan sang pangeran muda. Begitu wajah Nyi Dadap Segara terlihat, Panji Tejo Laksono segera mengenalinya.


"Oh jadi kau rupanya yang mengacau di Istana ku ini ha? Katakan pada ku, kemana kawan mu membawa istri ku? Cepat katakan, jika tidak akan ku siksa kau sampai rasanya kau ingin mati tapi tak bisa!!", ancam Panji Tejo Laksono sembari melotot kereng pada Nyi Dadap Segara.


"Uhukkk uhukkk uhukkk..


Hehehehe, Adipati Seloageng. Kau pikir aku akan takut dengan ancaman muu?? Kau sal..


Aaaarrrgggggghhhhh !!!", Nyi Dadap Segara yang belum sempat menyelesaikan omongannya, langsung menjerit keras saat Panji Tejo Laksono yang murka dengan keras menginjak lengan kiri. Kuatnya tenaga dalam yang dikeluarkan oleh sang pangeran muda langsung membuat lengan perempuan cantik asal Wanua Siganggeng itu patah.


Kau salah besar. Aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapa saja yang berani mengganggu ketentraman keluarga dan rakyat Seloageng ini!", ucap Panji Tejo Laksono sembari terus menekan kaki kanan nya ke arah lengan kiri Nyi Dadap Segara.


Aaaarrrgggggghhhhh !!


"Ampun, aduh ampun... Sakit sekali oh Dewa. Lekas angkat kaki mu dari tangan kiri ku bajingan!!


Pendekar macam apa kau ini yang tega menyiksa seorang perempuan yang terluka?!!Aaaarrrgggggghhhhh !!", Nyi Dadap Segara terus memaki maki Panji Tejo Laksono yang semakin menekan kaki kanan nya di atas lengan kiri Nyi Dadap Segara yang patah.


"Aku tidak akan menghentikan tindakan ku ini. Kalau kau tetap tidak mau bicara, setelah lengan kiri mu, selanjutnya adalah kaki kiri mu yang akan ku buat cacat!!


Cepat katakan sekarang juga, kemana kawan mu membawa lari istri ku?!!", bukannya mengurangi tekanan nya, Panji Tejo Laksono malah semakin keras menginjak lengan kiri Nyi Dadap Segara.


"AAAARRRGGGGGGHHHHH...


Ba-baiklah aku akan memberi tahu siapa dan dimana istri mu di sembunyikan. Ta-tapi lepaskan dulu kaki mu..", ujar Nyi Dadap Segara seraya berlinang air mata karena tak kuat menerima siksaan yang dia alami.


Shhhrriinggg..!!


Saat itu juga, sebuah senjata rahasia melesat cepat kearah Nyi Dadap Segara. Ada seseorang yang ingin membungkam mulut perempuan cantik itu. Panji Tejo Laksono yang waspada dengan cepat mengibaskan tangannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Walhasil, senjata rahasia itu segera berbalik arah dan menusuk dada sang pengirim yang tidak lain adalah salah satu dari Empat Setan Bulan Darah yang masih hidup.


Chhreepppppph!!


Aaauuuuggggghhhhh !!


Pria bertubuh kekar dengan jubah merah itu meraung keras saat senjata rahasia yang dia lemparkan, malah menyerang balik dan menancap di dahinya. Dia langsung jatuh terjengkang dan kelojotan sebentar sebelum akhirnya diam untuk selamanya. Empat Setan Bulan Darah memang pengawal pribadi Ki Samparjagad yang di tugaskan untuk membunuh siapapun anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang ingin berkhianat.


"Huhhh, dasar perusuh laknat!!


Ayo cepat katakan pada ku. Jangan mengulur-ulur waktu atau kau ingin kehilangan sebelah lengan mu ini ha?", Panji Tejo Laksono kembali mengalihkan pandangannya pada Nyi Dadap Segara.


"Istri mu di bawa oleh pim..pinan ketiga, Ki Samparjagad ke Padepokan Ular Siluman di kaki Gunung Kawi.


Sekarang lepaskan tanganku. Aku sudah tidak kuat lagi", hiba Nyi Dadap Segara. Setelah mendengar keterangan itu, Panji Tejo Laksono langsung memindahkan kaki kanan nya. Wajah cantik Nyi Dadap Segara langsung terlihat lega.


Song Zhao Meng segera merogoh kantong baju nya dan mengambil sebutir benda berwarna biru tua dengan aroma wangi yang khas. Tanpa bicara sedikit pun, putri dari Kaisar Huizong ini langsung menjejali mulut Nyi Dadap Segara dengan benda itu. Awal mulanya Nyi Dadap Segara berusaha keras untuk menolak benda itu, namun Song Zhao Meng dengan cerdik memencet hidung perempuan cantik itu hingga mulutnya terbuka dan Song Zhao Meng memasukkan benda beraroma khas itu dengan cepat.


"Aapa ini?", tanya Nyi Dadap Segara segera.


"Racun penghancur hati.


Kalau kau tidak meminum penawarnya 1 butir setiap hari, maka racun itu akan membuat kau muntah darah, hati mu membusuk dan seluruh lobang yang ada di tubuh mu akan mengeluarkan darah. Kau akan punya kesempatan hidup hanya setengah hari setelah tubuh mu tersiksa seperti itu.


Di tempat ini, hanya aku yang bisa membuat penawar nya. Jadi jangan coba-coba untuk kabur dari tempat ini jika kau masih ingin hidup", jawab Song Zhao Meng dengan tatapan mata dingin. Mata Nyi Dadap Segara membeliak lebar mendengar penjelasan dari perempuan cantik bermata sipit ini.


Panji Tejo Laksono langsung manggut-manggut mendengar ucapan Song Zhao Meng. Segera dia menoleh ke arah Senopati Gardana yang terduduk di tanah tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Senopati Gardana, kemari kau..!!"


Senopati Gardana yang baru saja selesai menghabisi nyawa Setan Bulan Darah terakhir yang di hadapinya langsung bangkit dari tempat duduknya. Sambil meringis menahan rasa sakit akibat beberapa bagian tubuh nya terluka setelah bertarung habis-habisan, Senopati Gardana segera mendekati sang penguasa Kadipaten Seloageng ini.


"Daulat Gusti Pangeran Adipati...


Ada tugas apa yang mesti hamba lakukan?", ujar Senopati Gardana seraya menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Katakan pada orang orang Jenggala itu, yang menyerah akan di ringankan hukuman nya tapi yang ngotot ingin melawan, aku ijinkan semua prajurit Kadipaten Seloageng untuk membantai mereka", titah Sang Penguasa Kadipaten Seloageng ini dengan lantang. Suara keras itu cukup terdengar jelas di telinga setiap orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa.


"Ka-kakang bagaimana ini? Aku masih ingin hidup lebih lama lagi", ujar seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang mulai was-was memikirkan masa depannya. Tangannya terlihat gemetar memegang gagang pedang nya. Dia benar-benar ketakutan setengah mati.


"Aku juga sama Adhi..


Empat Setan Bulan Darah sudah terbunuh oleh para punggawa Istana Kadipaten Seloageng. Ki Samparjagad juga sudah pergi dari tempat ini. Nyi Dadap Segara pun sudah mendekati ajalnya.


T-tapi apakah tidak ada jalan lain untuk kita? Kita menyerah atau menunggu ajal menjemput di depan mata? Aku bingung mau apa?", balas seorang lelaki bertubuh gempal yang terus bergerak mundur karena kepungan para prajurit Seloageng semakin menyudutkan mereka.


Di sela-sela kebuntuan pemikiran para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang masih hidup, Senopati Gardana yang telah mendapat mandat dari Panji Tejo Laksono segera berteriak keras,


"Sekarang katakan apa pilihan kalian,


Menyerah atau mati?!!".