
Teriakan keras Tumenggung Ludaka tak juga membangunkan perwira bertubuh tambun itu. Kesal dengan ulah manusia yang satu ini, Tumenggung Ludaka seketika menyepak pantat Gumbreg yang mirip dengan keranjang bambu untuk memanen padi di sawah.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Sepakan kaki yang cukup keras ini langsung membuat Demung Gumbreg terbangun dari tidurnya yang pulas. Dia langsung berdiri membelakangi Tumenggung Ludaka sambil menyiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya.
"Mana musuhnya Gusti Pangeran mana??
Biar hamba hajar dia..", ujarnya sambil sesekali menguap lebar. Ada kotoran mata terlihat di sudut mata sang perwira bertubuh tambun itu.
"Eh Kebo Bunting!!
Kau menghadap ke arah mana?", bentak Tumenggung Ludaka sambil mendelik ke arah sahabat yang sudah menemani perjalanan hidupnya selama puluhan tahun ini.
"Oh eh iya salah arah rupanya...", ucap Demung Gumbreg yang segera berbalik badan ke arah Tumenggung Ludaka. Sesudah itu, matanya celingukan kesana kemari mencari sosok yang sempat menjadi momok istirahat mereka baru saja. Begitu tidak menemukan apa-apa yang di cari, dia segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Lah mana musuhnya Lu? Kog tidak ada siapa-siapa...", ucap Gumbreg tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ingin rasanya Tumenggung Ludaka mengumpat keras karena sikap sahabat karibnya, tapi karena ada disitu Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata, terpaksa dia tahan sekuat mungkin. Akhirnya hanya dengusan kasar saja yang terdengar dari mulut Tumenggung Ludaka.
"Huuuhhhhhhh..
Makanya waktunya siaga jangan malah tidur! Kalau mereka sampai bertarung dengan kita, pasti kau yang di bunuh duluan. Eh kebo, mereka sudah pergi, kau cari apa?!"
Mendengar perkataan itu, Demung Gumbreg tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehehe maklum saja Lu..
Aku kecapekan setelah perjalanan jauh jadi maaf jika aku sampai ketiduran", Demung Gumbreg malah cengengesan.
"Alasan saja..
Kita semua memang kecapekan, bukan kau saja. Aku hanya bisa berdoa agar Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tidak menjatuhkan hukuman berat pada prajurit yang lalai dalam tugas nya", ucapan Tumenggung Ludaka seperti memantik kesadaran dari Demung Gumbreg atas sikap lalai nya.
Gleekkkkkkkh!!
Tiba-tiba saja Demung Gumbreg merasa kesulitan untuk menelan ludah nya sendiri. Dia langsung sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal.
Perwira bertubuh tambun itu segera bergegas mendekati Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Ha-hamba telah ceroboh dalam bertugas", Demung Gumbreg menghormat dengan wajah penuh ketakutan setengah mati. Maklum saja, dia pernah menyaksikan langsung bagaimana sikap Panji Tejo Laksono kala marah besar.
Hemmmmmmm..
Dengusan nafas panjang Panji Tejo Laksono semakin membuat nyali Demung Gumbreg ciut. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.
"Karena Paman Gumbreg lalai dalam tugas, maka aku akan memberikan hukuman atas kesalahan itu.
Seterusnya sampai besok pagi, Paman Gumbreg aku tugaskan untuk berjaga. Jangan sampai ketiduran lagi..", titah Panji Tejo Laksono segera.
"S-sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Demung Gumbreg seraya menghela nafas lega.
Semuanya segera kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing. Dua orang prajurit pengawal pribadi Senopati Sembada pun segera menata tempat tidur mereka di dekat kuda mereka.
Sedangkan Demung Gumbreg yang mendapat hukuman, duduk di dekat perapian yang di nyalakan kembali. Sesekali terdengar dia menepuk nyamuk yang menggangu sambil menggerutu.
Plaakkk pllekkk!!
"Aah dasar apes!!
Kenapa pakai acara ketiduran segala? Mana nyamuknya besar-besar lagi. Huh nasib nasib..".
Malam bergulir seiring waktu. Menjelang lepas tengah malam, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Membuat semua orang di tempat itu, bergelung dalam selimut yang menutupi tubuh mereka.
Kukkurruyuuuukkkk...!!!!!
Suara keras kokok ayam terdengar bersahutan dari kejauhan. Ini menjadi penanda waktu alami bagi masyarakat Nusantara kala itu. Pagi itu, mentari pagi mulai muncul di ufuk timur, mengusir dingin malam hari yang menghilang bersama embun pagi.
Di sebuah sungai kecil yang ada di belakang gubuk kayu tempat bermalam mereka, Panji Tejo Laksono mencuci muka. Dingin nya air sungai kecil itu segera membuat Panji Tejo Laksono merasa segar.
"Kau tidak membangunkan ku Kangmas..", protes Endang Patibrata yang menyusul Panji Tejo Laksono dari belakang. Sang pangeran muda dari Kadiri ini pun segera menoleh sambil tersenyum simpul.
Aku tidak tega untuk membangunkan mu", jawab Panji Tejo Laksono sembari berdiri dari tempat mencuci muka.
"Kita langsung ke Kota Kadipaten Anjuk Ladang atau masih ada rencana lain lagi?", Endang Patibrata berjongkok dan menyapu bersih seluruh wajahnya dengan air dingin sungai kecil itu.
"Sepertinya kita tidak boleh langsung menemui Adipati Sasrabahu dulu, Dinda Patibrata.. Aku sudah membuat satu rencana untuk menyelidiki Adipati Anjuk Ladang itu sebelum menemuinya secara langsung", ujar Panji Tejo Laksono yang masih menunggu istri keenam nya itu selesai mencuci muka.
"Aku ikut kata Kangmas Pangeran saja.. Yang penting kita harus hati-hati dalam menjaga keselamatan diri kita sendiri", ujar Endang Patibrata seraya tersenyum penuh arti. Keduanya lalu bergegas menuju ke arah tempat para pengikut Panji Tejo Laksono berada yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Rombongan itu segera meninggalkan tempat itu. Derap langkah kaki kuda mereka beriringan menembus jalan yang membelah hutan lebat di barat Pakuwon Karang Tengah itu. Cericit burung yang bersahutan seakan menjadi penghibur di dalam perjalanan mereka.
*****
"Begitulah kira-kira kejadiannya, Gusti Adipati..
Hamba sudah berulang kali menanyai orang itu dan jawabannya sama sekali tidak berubah", ujar Juru Mpu Klinting sembari menghormat pada Adipati Sasrabahu di ruang pribadi adipati.
Hemmmmmmm...
"Kalau begini terus-terusan, bisa-bisa seluruh cadangan makanan di gudang istana ini habis untuk biaya persiapan yang di minta oleh Paman Mpu Sena.
Aku tidak boleh mengorbankan seluruh Istana Kadipaten Anjuk Ladang hanya demi kepentingan pribadi dia saja. Tapi bagaimana caranya agar tidak menjadi perhatian para bawahannya? Hemmmmmmm...
Brengsek, benar benar brengsek!", ucap Adipati Sasrabahu setelah mendengarkan laporan dari Juru Mpu Klinting tentang borosnya bahan makanan yang diberikan kepada para prajurit Kadipaten Anjuk Ladang.
Musim kemarau kali ini, panen raya di Anjuk Ladang tak sebagus yang di dapat musim lalu. Ini menyebabkan terjadinya penurunan simpanan bahan pangan di beberapa gudang istana. Sementara itu, Adipati Sasrabahu di tuntut untuk menyediakan berbagai kebutuhan yang digunakan untuk pelatihan prajurit yang sedang di lakukan oleh Mpu Sena dan para pengikutnya.
Ini membuat Adipati Sasrabahu pusing tujuh keliling. Dirinya sedang menghadapi dilema terburuk sepanjang hidupnya. Jika dia menolak permintaan dari Mpu Sena, bisa di pastikan bekas Mahamantri I Halu itu akan membongkar rahasia nya dalam meraih singgasana Kadipaten Anjuk Ladang. Tapi jika dia menerima permintaan itu, maka bisa dipastikan bahwa sebelum panen raya berikutnya datang, bencana kelaparan aman melanda wilayah Kadipaten Anjuk Ladang. Tentu saja ini sangat meresahkan pikirannya.
"Mohon ampun Gusti Adipati Sasrabahu jika hamba lancang berbicara. Hamba hanya ingin sekedar mengungkapkan unek-unek yang ada di dalam batin hamba. Mungkin juga Gusti Adipati Sasrabahu bisa menganggapnya sebagai usulan dari hamba.
Begini Gusti Adipati, jujur saja hamba kurang suka dengan sikap Mpu Sena yang memperlakukan Istana Kadipaten Anjuk Ladang sebagai sapi perah. Musim kemarau panjang ini masih akan berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda akan segera berakhir. Hamba takut Anjuk Ladang akan mengalami musim paceklik.
Oleh karena itu, kita harus berhemat dalam pengeluaran bahan pangan. Kita tidak boleh membiarkan Mpu Sena mengancam jiwa para penduduk Anjuk Ladang hanya untuk memuaskan hasrat nafsu serakahnya yang ingin berkuasa di Istana Kotaraja Daha", Juru Mpu Klinting menghormat usai berbicara.
"Itu juga yang menjadi pikiran ku, Juru Mpu Klinting..
Kau orang kepercayaan ku juga salah satu saksi mata perjalanan ku menduduki tahta Kadipaten Anjuk Ladang. Mpu Sena selalu mengancam akan membeberkan rahasia itu jika aku menolaknya. Tentu saja aku bingung harus bersikap bagaimana untuk menghadapi masalah ini? Jujur saja, aku tidak mau kehilangan tahta ku tapi aku juga tidak bisa membiarkan masyarakat Anjuk Ladang terancam bencana kelaparan", balas Adipati Sasrabahu sembari mengerutkan keningnya dalam-dalam pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.
"Apa saat ini kau punya pemecahan masalah ini, Mpu Klinting?"
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Untuk saat ini, hamba belum memiliki cukup pemikiran yang bisa kita gunakan untuk memecahkan masalah yang sedang Gusti Adipati Sasrabahu hadapi. Tapi jika kelak hamba ada pemikiran, akan hamba sampaikan.
Hamba mohon pamit undur diri Gusti Adipati", Mpu Klinting menyembah pada Adipati Sasrabahu sebelum mundur dari ruang pribadi adipati Anjuk Ladang itu. Meninggalkan Adipati Sasrabahu yang pusing tujuh keliling dengan segala persoalan yang sedang dia hadapi.
Setelah meninggalkan Istana Kadipaten Anjuk Ladang, Juru Mpu Klinting bergegas pulang menuju ke arah kediamannya di kawasan barat Kota Kadipaten Anjuk Ladang. Saat melewati pasar yang tak jauh dari tempat tinggalnya, dia tak sengaja berpapasan dengan rombongan Panji Tejo Laksono.
"Gusti Pangeran, orang itu yang semalam lewat di dekat tempat kita bermalam. Sepertinya dia adalah orang penting di dalam Istana Kadipaten Anjuk Ladang.
Hamba tadi sempat melihatnya keluar dari dalam istana", ujar Tumenggung Ludaka berbisik kepada sang pangeran muda.
"Bagus sekali Paman Ludaka..
Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di penginapan itu bersama para pengikut kita. Kau awasi terus pergerakan orang itu. Jika terlihat ia hendak keluar kota, segera laporkan kepada ku", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Baik Gusti Pangeran", Tumenggung Ludaka menghormat lantas bergerak mengikuti langkah Juru Mpu Klinting. Sedangkan kelompok Panji Tejo Laksono memutuskan untuk menginap di sebuah penginapan kecil yang terletak di samping pasar besar Kota Kadipaten Anjuk Ladang.
Lepas tengah hari, Tumenggung Ludaka kembali melaporkan kepada Panji Tejo Laksono tentang pergerakan Juru Mpu Klinting. Dari informasi yang di peroleh Tumenggung Ludaka, Juru Mpu Klinting hendak memeriksa gudang pangan istana di sebelah selatan perbatasan Kota Kadipaten Anjuk Ladang. Panji Tejo Laksono langsung tersenyum lebar ketika mendengar laporan itu.
"Kau terlihat girang sekali, Kangmas Pangeran. Ada hal baik apa yang baru saja terjadi?", tanya Endang Patibrata segera.
"Tentu saja ada, Dinda Patibrata..
Dengarkan aku semuanya. Kita akan melakukan penangkapan terhadap Juru Mpu Klinting hari ini untuk menjalankan rencana kita selanjutnya", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah para pengikutnya. Setelah menghela nafas, dia kembali melanjutkan bicara.
"Kita tangkap dia hidup-hidup!
Jangan sampai lolos!!"