Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pilihan


Kematian Patih Krendawahana yang merupakan salah satu pilar utama dalam upaya pemberontakan Adipati Waramukti terhadap kekuasaan Prabu Jayengrana membuat mental bertanding para prajurit Rajapura runtuh.


Di tambah lagi, pasukan besar yang di pimpin oleh Senopati Gopala telah terdesak mundur ke dalam Kota. Para prajurit Rajapura semakin ketakutan.


Adipati Waramukti yang menyadari bahwa dirinya sudah di kalahkan oleh para prajurit Panjalu, langsung berteriak keras.


"Semuanya mundur ke dalam istana!"


Diawali oleh Adipati Waramukti, beberapa orang perwira prajurit Rajapura yang tersisa langsung ikut masuk ke dalam istana Kadipaten Rajapura yang merupakan pertahanan terakhir mereka dalam menghadapi gempuran pasukan Panjalu.


.


Para perwira prajurit Panjalu tidak ingin membiarkan mereka lolos begitu saja langsung berupaya untuk mengejar. Namun para prajurit pemanah yang sudah di siagakan di atas tembok istana Rajapura segera menjalankan tugasnya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Ratusan anak panah melesat cepat kearah para prajurit Panjalu yang hendak mengejar para prajurit Rajapura ke dalam istana.


"Awas serangan panah!!"


Teriakan keras dari Tumenggung Ludaka membuat para prajurit Panjalu yang hendak memburu para pemberontak itu langsung mengangkat tameng mereka untuk berlindung dari hujan anak panah yang di lepaskan oleh para pasukan pemanah.


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Ratusan anak panah yang di lepaskan oleh para prajurit Rajapura membuat langkah kaki para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono terhenti hingga para pemberontak yang lari ke dalam istana selamat dari pengejaran usai menutup pintu gerbang istana.


"Tahan semuanya..!!


Jangan ada yang mendekati tembok istana Rajapura!"


Ucapan Panji Tejo Laksono langsung membuat gerakan seluruh prajurit Panjalu di bawah pimpinan nya langsung berhenti bergerak. Mereka semua menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang nampak menatap ke arah istana Kadipaten Bojonegoro yang terlihat menjulang tinggi dengan tembok istana yang terbuat dari batu bata.


"Gusti Pangeran, apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita tidak mungkin membiarkan mereka lolos begitu saja bukan?", tanya Tumenggung Ludaka segera.


"Benar Kangmas Tejo Laksono..


Para pemberontak itu harus mendapat hukuman berat karena berani merongrong kewibawaan pemerintah pusat di Kadiri Kangmas. Kita tidak boleh berdiam diri saja ", sahut Mapanji Jayagiri sembari menatap ke arah kakak tertuanya itu segera.


Hemmmmmmm...


"Kita hanya perlu menunggu waktu sebentar, Jayagiri..


Tunggulah beberapa saat lagi ", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti pada Mapanji Jayagiri yang merasa heran dengan sikap kakak tertuanya itu.


"Menunggu apa lagi Kangmas? Jika kita membuang waktu, mereka akan mempersiapkan berbagai macam rencana untuk melarikan diri dari kita. Ayo kita segera menyer...."


Omongan Mapanji Jayagiri langsung terputus karena dari arah selatan, ribuan orang prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Narapraja dan Mapanji Jayawarsa bergerak menuju ke arah mereka.


Begitu sampai di dekat tempat Panji Tejo Laksono dan para pimpinan prajurit Panjalu di tempat itu, Mapanji Jayawarsa terlihat kaget bukan main.


"Kangmas Tejo Laksono??


Ba-bagaimana bisa dia ada di sini?", gumam Mapanji Jayawarsa lirih namun masih cukup jelas di telinga orang orang di sekitar nya.


Sedangkan Senopati Agung Narapraja dan Senopati Muda Jarasanda segera melompat turun dari kudanya dan bergegas menuju ke arah Panji Tejo Laksono berada begitu melihat keberadaan sang putra tertua Prabu Jayengrana itu. Kedua orang pejabat tinggi Kerajaan Panjalu itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Sembah bakti kami, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar kompak dua perwira tinggi prajurit Panjalu itu bersamaan.


"Bangunlah paman berdua. Jangan terlalu banyak adat dalam peperangan besar seperti ini", ujar Panji Tejo Laksono yang membuat kedua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera bangkit dari tempat menyembahnya.


Mapanji Jayawarsa pun dengan ogah-ogahan turun dari kudanya dan berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.


"Salam hormat Kangmas Tejo Laksono. Aku sungguh kaget melihat kemunculan Kangmas di tempat ini. Bagaimana ceritanya Kangmas Tejo Laksono yang sedang bertugas di Negeri Tiongkok bisa sampai di tempat ini?", tanya Mapanji Jayawarsa segera.


"Panjang ceritanya Dhimas.. Nanti kalau ada waktu yang tepat, aku akan menceritakan semuanya.


"Alah kita tidak perlu repot-repot membuang waktu lagi, Kangmas Tejo Laksono..


Kita serbu saja mereka sekarang. Mereka sudah terjepit seperti seekor tikus di pojokan kamar", sergah Mapanji Jayawarsa segera. Panji Tejo Laksono langsung tersenyum simpul mendengar ucapan adik tirinya itu.


"Kalau kau memang merasa bisa seperti itu kenapa tidak kau lakukan, Dhimas?


Tembok istana Rajapura ini cukup tinggi untuk di lompati, sedangkan di atas tembok ada ratusan orang prajurit pemanah Rajapura siap melepaskan anak panah nya. Apa kau siap kehilangan banyak prajurit Panjalu hanya untuk keberhasilan yang belum tentu bisa di pastikan?", tanya Panji Tejo Laksono yang seketika membuat Mapanji Jayawarsa terdiam seribu bahasa. Setelah berpikir sejenak, Mapanji Jayawarsa segera berbicara perlahan.


"Aku belum siap jika Kanjeng Romo Prabu Jayengrana menanyakan hal itu Kangmas. Untuk selanjutnya, biar Kangmas Tejo Laksono yang memimpin pasukan Panjalu. Bukankah begitu lebih baik, Paman Senopati Narapraja?", Mapanji Jayawarsa segera menoleh ke arah Senopati Agung Narapraja yang masih diam di tempatnya.


"Hamba setuju dengan pendapat Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Pengalaman Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dalam perang melawan para prajurit Blambangan dulu, pasti akan sangat berguna menghadapi tantangan dari para pemberontak Rajapura ini", Senopati Agung Narapraja langsung setuju dengan pendapat Mapanji Jayawarsa.


"Aku juga setuju jika Kangmas Tejo Laksono yang memimpin..


Dengan jumlah prajurit sedikit saja, Kangmas Tejo Laksono sudah bisa menjebol pertahanan para pemberontak Rajapura di sisi timur. Apalagi dengan jumlah prajurit sebanyak ini, pasti Kangmas Tejo Laksono sudah bisa membawa pulang kemenangan untuk Kadiri ", sahut Mapanji Jayagiri sambil tersenyum lebar. Mendengar ucapan itu, semua orang mengangguk mengerti.


"Baiklah jika kalian semua setuju aku yang memimpin pasukan ini.


Sekarang semuanya, kita kepung Istana Kadipaten Rajapura ini! Jangan biarkan semut pun lolos dari pengawasan kalian semua!", perintah Panji Tejo Laksono langsung membuat semua orang menjawab dengan lantang.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!!"


Setelah itu, semua anggota prajurit Panjalu langsung membuat pagar betis dengan jarak sekitar seratus depa dari tembok istana Rajapura untuk mengepung Istana Kadipaten Rajapura dari berbagai sisi. Ratusan prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Landung menyisir seluruh kota Rajapura untuk mencari persembunyian para prajurit Rajapura. Para prajurit Rajapura yang tertangkap oleh para prajurit Panjalu selanjutnya di bawa ke hadapan Panji Tejo Laksono untuk mendapatkan pengadilan.


Di depan pintu gerbang istana, Panji Tejo Laksono menggunakan rumah seorang warga bernama Nyi Sintren untuk di gunakan sebagai pusat kegiatan pengepungan Istana Kadipaten Rajapura. Dari sana seluruh taktik diatur sedemikian rupa agar pihak Adipati Waramukti yang masih berada di dalam istana Rajapura bisa menyerah.


Sementara di luar tembok istana Rajapura sudah di kepung oleh pasukan Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono, di dalam istana Rajapura sendiri, Adipati Waramukti nampak duduk dengan gelisah di atas singgasana Kadipaten Rajapura.


Di hadapannya Mantri Dharmadyaksa Mpu Supala, Mantri Pamgat Mpu Warma dan Juru Waruga, tiga petinggi istana Rajapura yang tersisa nampak duduk bersila di lantai Pendopo Agung Kadipaten Rajapura. Mereka diam seribu bahasa dengan kepala menunduk ke arah lantai pendopo agung. Kematian Patih Krendawahana di tangan Panji Tejo Laksono dan Senopati Gopala di tangan Senopati Agung Narapraja benar benar memberikan pukulan telak pada semangat mereka untuk memenangkan peperangan ini.


Hemmmmmmm...


Terdengar suara hembusan nafas panjang dari Adipati Waramukti sebelum mulai berbicara setelah sedari tadi hanya diam saja sambil berpikir keras bagaimana caranya agar bisa lolos dari para prajurit Panjalu.


"Mpu Supala..


Biasanya kau banyak sekali memiliki pemikiran jitu untuk semua masalah. Sekarang coba kau katakan pada ku, apa pendapatmu mengenai situasi kita saat ini?", Adipati Waramukti menatap ke arah Mpu Supala yang duduk di sebelah kanan singgasana.


"Mohon ampun Gusti Adipati...


Untuk saat ini hamba tidak bisa berpikir jernih. Kematian Patih Krendawahana yang kita gadang-gadang sebagai penopang utama dari niat Gusti Adipati Waramukti untuk memberontak terhadap kekuasaan Prabu Jayengrana benar benar di luar perkiraan hamba.


Selain itu jumlah prajurit kita yang ada di dalam istana ini juga tidak lebih dari 5 ribu prajurit yang terdiri dari dua ribu prajurit pemanah dan 3 ribuan orang prajurit petarung. Sedangkan cadangan bahan makanan dan air bersih untuk kita sekarang di istana hanya cukup untuk bertahan selama 1 pekan Gusti Adipati. Inilah sebabnya mengapa hamba benar benar bingung mau bersikap bagaimana ", Mpu Supala menyembah pada Adipati Waramukti.


"Kalau begitu, pangkas jatah makan para prajurit kita menjadi 2 kali sehari agar kita punya lebih banyak waktu untuk bertahan di dalam istana ini, Mpu Supala..


Juru Waruga,


Bagaimana situasi di luar istana sekarang?", Adipati Waramukti mengalihkan perhatian nya pada Juru Waruga, satu-satunya perwira tinggi prajurit Rajapura yang masih hidup karena berhasil lolos dari maut saat berhadapan dengan Ayu Ratna. Tiga kawannya yang lain yakni Demung Kingkin, Juru Mondo dan Bekel Gupati masing-masing terbunuh oleh Gayatri, Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Seluruh istana Kadipaten Rajapura telah di kepung oleh pasukan Panjalu. Kini mereka di pimpin oleh seorang lelaki muda yang membunuh Patih Krendawahana tadi. Kalau tidak salah dengar dia adalah seorang pangeran dari Daha yang bernama Panji Tejo Laksono.


Kesemua sisi istana mereka kepung rapat hingga tak seorangpun bisa luput dari perhatian mereka. Hamba rasa pilihan kita hanya ada dua Gusti Adipati ", Juru Waruga menghormat pada Adipati Waramukti begitu mengakhiri laporan nya.


Hemmmmmmm


"Apa itu Juru Waruga? Cepat katakan pada ku", Adipati Waramukti nampak begitu antusias mendengar ucapan dari perwira tinggi prajurit Rajapura itu. Juru Waruga kembali menyembah pada Adipati Waramukti sebelum bicara,


"Menyerah atau mati kelaparan di dalam istana".