
Rombongan penari tayub dari Kadipaten Karang Anom itu segera melanjutkan perjalanan. Di sebuah penginapan besar yang ada di dekat Alun-alun Kota Kadipaten Seloageng, seorang anak buah Maheswara mengarahkan rombongan itu kesana. Di gapura masuk penginapan besar itu tertulis nama penginapan besar dalam huruf Jawa Kuno, Penginapan Kembang Melati.
Seorang wanita paruh baya bertubuh sedikit gemuk dengan bedak pupur tebal dan bibir berpoles warna merah segera menyambut kedatangan rombongan itu di depan pintu penginapan.
"Jadi ini rombongan penari tledek dari Karang Anom itu, Karto?", tanya perempuan itu dengan nada ramah sembari melemparkan senyum manis nya.
"Benar Nyi Lesmanawati..
Mereka adalah orang-orang yang akan menghibur di acara penobatan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng yang baru", jawab bawahan Maheswara yang bernama Karto itu segera.
"Wah cantik cantik ya tledek nya..
Ayo ajak mereka masuk Karto. Sumirah, Kanti, Benggol, Wugu.. Kemari kalian, ayo bantu para tamu kita membawa barang mereka", Nyi Lesmanawati berteriak keras memanggil para pembantunya. Tak berapa lama keempat orang pembantu Nyi Lesmanawati segera bergegas datang. Dengan cekatan, mereka membantu mengangkut barang para anggota penari tledek dan para penabuh gamelan ke dalam Penginapan Kembang Melati.
"Eh Karto, mereka rencana nya berapa lama menginap disini? Kalau lama, nanti aku beri uang jajan untuk kamu", tanya Nyi Lesmanawati sambil tersenyum penuh arti.
"Wah kalau itu, saya tidak tahu Nyi..
Gusti Maheswara hanya menyuruh saya untuk mengantar mereka kemari. Nanti saya tanyakan pada Gusti Maheswara ya", jawab Karto segera. Lelaki bertubuh gemuk pendek itu segera keluar dari Penginapan Kembang Melati begitu rombongan penari tayub dari Kadipaten Karang Anom pimpinan Rara Pujiwati itu telah masuk seluruhnya ke dalam penginapan.
Begitu malam semakin larut, Gorawangsa sang Pendekar Pedang Pencabut Nyawa diam-diam keluar dari dalam bilik kamar nya. Sembari mengenakan penutup wajah dari kain hitam, lelaki bertubuh gempal itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Di kegelapan malam, tubuh Gorawangsa melesat lincah di antara puncak puncak bangunan penduduk Kota Kadipaten Seloageng. Di tepi batas selatan Kota Kadipaten Seloageng, Gorawangsa menghentikan gerakannya pada sebuah cabang pohon beringin besar yang tumbuh di dekat tapal batas selatan Kota Kadipaten Seloageng. Mata Gorawangsa menatap ke sekeliling tempat nya berada. Pandangannya tertuju pada dua sosok bayangan hitam yang muncul dari arah selatan. Kedua sosok bayangan hitam itu terus mendekati tempat Gorawangsa berada. Begitu sampai, keduanya segera meloncat ke atas pohon beringin besar tempat Gorawangsa berada.
"Bagaimana Kakang Gorawangsa? Apa kau sudah sampai di istana Seloageng?", suara perempuan terdengar dari salah satu bayangan hitam yang sedikit lebih pendek di banding yang satunya.
"Belum, Nalini..
Rombongan penari tayub yang aku ikuti hanya mendapatkan tempat istirahat di luar tembok istana. Jadi aku belum bisa memahami tata letak istana juga mengatur arah perjalanan begitu aku berhasil membantai Panji Tejo Laksono", jawab Gorawangsa sambil menatap ke tengah kota Seloageng dimana Istana Kadipaten Seloageng berdiri. Kedua bayangan hitam itu saling pandang mendengar jawaban Gorawangsa.
"Lantas , bagaimana rencana Kakang selanjutnya? Menunggu masuk ke dalam istana, atau ada hal lain yang mungkin Kakang pertimbangkan?", nada berat suara laki-laki terdengar dari salah satu bayangan hitam yang bertubuh tinggi.
"Begini saja, Paksijandu..
Kau dan Nalini cari tahu tata letak istana malam ini juga. Laporkan semua hal yang berkaitan dengan istana Seloageng pada ku. Jangan membuat keributan sekecil apapun di dalam istana Kadipaten Seloageng agar mereka tidak waspada terhadap kemungkinan pembunuhan pada Panji Tejo Laksono. Apa kalian mengerti?", Gorawangsa segera menatap ke arah dua bayangan hitam yang merupakan adik seperguruannya. Mereka adalah Nalini dan Paksijandu, dua orang anggota Padepokan Gunung Bromo yang selama ini membantu setiap sepak terjang Gorawangsa sebagai pembunuh bayaran paling ditakuti. Keduanya selalu bersembunyi dibalik nama besar Gorawangsa hingga tak seorangpun tahu bahwa setiap pergerakan Gorawangsa selalu diikuti oleh kedua saudara seperguruannya.
"Kami mengerti, Kakang", jawab Paksijandu segera.
"Berhati-hatilah dalam bertindak. Saat ini Prabu Jayengrana pasti sudah berada di istana itu untuk menobatkan putra nya. Meski sudah tua, tapi Raja Panjalu itu bukan orang sembarangan", ucap Gorawangsa mengingatkan kedua adik seperguruan nya. Keduanya mengangguk mengerti dan segera melesat cepat kearah tengah Kota Kadipaten Seloageng untuk mengintai Istana Seloageng, meninggalkan Gorawangsa yang masih berdiri di atas cabang pohon beringin besar.
Dua bayangan hitam Nalini dan Paksijandu terus bergerak cepat menuju ke arah istana Kadipaten Seloageng. Ilmu meringankan tubuh mereka yang telah mencapai hampir sempurna, membuat gerakan tubuh mereka seringan gerakan burung layang-layang yang terbang di langit. Atap demi atap rumah penduduk Kota Kadipaten Seloageng menjadi batu loncatan untuk mereka mendekati istana Seloageng.
Keduanya segera mendarat di atas pohon sawo besar yang tumbuh di dekat tembok istana. Pandangan mata mereka berdua yang terlatih untuk melihat di kegelapan malam, dapat melihat jelas bahwa setiap beberapa saat rombongan prajurit penjaga istana berpatroli di luar tembok istana dengan persenjataan lengkap. Ini membuktikan bahwa pengamanan acara penobatan Adipati baru Seloageng benar benar ketat.
"Sepertinya pengamanan acara ini sangat ketat, Kakang..
Kita harus berhati-hati jika ingin menyusup masuk ke dalam istana", ujar Nalini sembari menunjuk ke arah rombongan prajurit patroli yang baru melintas.
"Kalau begitu, sebaiknya kita menggunakan Ajian Sirep Megananda, Lini..
Itu bisa mengurangi tingkat keamanan ketat yang sedang di jalankan. Bagaimana menurut mu?", Paksijandu terus mengedarkan pandangannya pada penjor dan umbul-umbul yang terpasang rapi di setiap sudut istana.
"Tapi Kakang Gorawangsa berpesan agar kita tidak membuat keributan sekecil apapun di istana ini. Apa itu tidak akan jadi masalah?", tanya Nalini segera.
Ayo kita lakukan", ujar Paksijandu sambil menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Melihat itu, Nalini pun segera ikut melakukan hal yang sama. Mulut keduanya komat kamit merapal mantra Ajian Sirep Megananda.
Angin semilir berhembus perlahan, menyebarkan sirep yang mampu membuat orang tertidur pulas.
Dua orang prajurit penjaga gerbang istana satu persatu mulai ambruk dan tertidur begitu terkena Ajian Sirep Megananda yang di lepaskan oleh Paksijandu dan Nalini. Satu persatu penjaga istana Kadipaten Seloageng pun roboh tak berdaya, terserang kantuk yang teramat sangat.
Di ruang pribadi Adipati Seloageng, Panji Tejo Laksono yang masih berbincang dengan Pangeran Arya Tanggung, Raden Damar Sasongko, Raden Windusegoro dan Patih Dyah Suwanda merasakan hawa dingin berdesir perlahan. Raden Damar Sasongko yang paling rendah ilmu kanuragan nya terlihat menguap lebar sebagai tanda bahwa dia sedang mengantuk.
Hemmmmmmm..
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Panji Tejo Laksono. Pangeran Arya Tanggung yang menyadari hal itu, segera bertanya kepada sang pangeran muda.
"Ada apa Nakmas Pangeran? Sepertinya.ada yang sedang mengganggu pikiran mu", Pangeran Arya Tanggung menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang terlihat tidak senang.
"Ada yang ingin menebarkan sirep, Paman Pangeran. Paman Patih, dan kalian berdua Raden Damar Sasongko juga Raden Windusegoro, bersiaplah..
Ada penyusup sakti yang ingin membuat keributan di tempat ini. Ayo kita tangkap mereka", ujar Panji Tejo Laksono yang segera berdiri dari tempat duduknya. Keempat orang itu sedikit terkejut mendengar ucapan itu, mereka segera bergegas berdiri mengikuti langkah Panji Tejo Laksono yang menatap ke arah selatan.
"Dua orang itu ada di dekat gerbang selatan istana. Mari kita lihat apa mau mereka", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono segera merapal mantra Ajian Halimun. Perlahan asap putih tipis menutupi seluruh tubuh nya dan sekejap mata kemudian tubuhnya telah menghilang dari pandangan mata keempat orang itu.
Pangeran Arya Tanggung, Patih Dyah Suwanda, Raden Windusegoro dan Raden Damar Sasongko saling berpandangan sejenak sesaat setelah Panji Tejo Laksono menghilang. Namun mereka segera teringat pada kata kata yang baru saja diucapkan oleh Panji Tejo Laksono dan segera bergegas menuju ke arah gerbang selatan istana Kadipaten Seloageng.
Usai melepaskan Ajian Sirep Megananda, Paksijandu dan Nalini segera melesat cepat kearah tembok istana Kadipaten Seloageng. Keduanya mendarat dengan mulus di atas tembok istana dan bersiap untuk melanjutkan aksi mereka. Namun langkah kedua murid Padepokan Gunung Bromo ini seketika terhenti saat sesosok laki-laki tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan mereka.
"Setan alas !
Mengagetkan ku saja. Siapa kau? Kenapa tiba-tiba muncul di depan kaki?", hardik Paksijandu setelah mengatasi keterkejutan nya.
"Harusnya aku yang bertanya, siapa kalian? Kenapa menebarkan sirep di istana ini?", sosok lelaki yang tidak lain adalah Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Paksijandu dan Nalini.
"Itu bukan urusanmu dan kau tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan kami. Minggirlah dari jalan kami atau kau akan menyesal karena sudah mengganggu urusan kami", balas Paksijandu sambil menyeringai lebar penuh ancaman pada Panji Tejo Laksono.
"Dasar penyusup bodoh!
Berani membuat keributan di tempat ini sama dengan kalian sudah bosan hidup. Kau harus mendapat hukuman yang setimpal", ujar Panji Tejo Laksono sembari bersiap untuk bertarung. Melihat sang lelaki yang muncul tiba-tiba di hadapannya sudah menyiapkan kuda-kuda ilmu silat nya, Paksijandu segera menyeringai lebar sembari menjejak tempat nya berdiri dengan keras. Tubuh Paksijandu melesat cepat bagaikan sebuah anak panah lepas dari busurnya.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono sedikit kaget juga namun sang pangeran muda dari Kadiri ini segera merapal Ajian Sepi Angin nya untuk mengimbangi kecepatan gerak Paksijandu yang menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Panji Tejo Laksono.
Whhhuuuggghhhh !!
Dengan lincah, Panji Tejo Laksono menghindari hantaman tangan Paksijandu. Sedikit menggeser posisi tubuhnya, sang pangeran muda melayangkan pukulan tangan kanannya ke arah perut Paksijandu yang terkejut melihat serangannya dengan mudah di hindari oleh Panji Tejo Laksono. Murid Padepokan Gunung Bromo ini seketika menggeser tangan kiri nya untuk menangkis hantaman Panji Tejo Laksono.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Meski berhasil menangkis hantaman tangan Panji Tejo Laksono, namun Paksijandu terdorong mundur dan terseret hampir 5 langkah ke belakang. Tangan kirinya seperti mati rasa. Segera dia menoleh ke arah Nalini yang masih memperhatikan situasi.
"Nalini, bantu aku menghadapi nya"