
Perlahan asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono mulai menghilang bersamaan dengan hilangnya seringai di wajah Resi Mpu Wisesa. Mata lelaki tua berjanggut panjang hitam bercampur putih itu melotot lebar saat menyaksikan tubuh Panji Tejo Laksono yang bersinar kuning keemasan.
"A-ajian Tameng Waja?
Ba-bagaimana mungkin dia memiliki ilmu kanuragan semacam itu?", ucap Resi Mpu Wisesa seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan mata nya.
"Kunyuk busuk!!
Aku tidak percaya jika aku tidak bisa mengalahkan mu!!", setelah mengumpat keras, Resi Mpu Wisesa segera menancapkan tongkatnya ke tanah. Kedua tangannya terentang lebar ke samping kanan dan kiri tubuhnya lalu keduanya segera menangkup di atas kepala dan turun ke depan dada. Mulut pertapa tua itu segera komat-kamit merapal mantra.
Angin kencang berhawa dingin menderu-deru tiba-tiba di sekeliling tempat Resi Mpu Wisesa berdiri hingga menyebabkan orang yang berada di dekatnya langsung menjauh. Dari kedua telapak tangan, muncul cahaya biru terang seperti petir yang menyambar. Ini adalah perwujudan dari Ajian Guntur Bawono yang merupakan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang menjadi andalan Resi Mpu Wisesa selama ini.
Panji Tejo Laksono segera merapal Ajian Dewa Naga Langit nya. Ajian yang berguna untuk meningkatkan tenaga dalam berpuluh kali lipat ini membuat sinar kuning keemasan yang menutupi seluruh tubuhnya semakin bersinar terang.
Melihat cahaya tubuh Panji Tejo Laksono semakin terang, Resi Mpu Wisesa semakin geram. Dia meningkatkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua telapak tangan hingga sinar biru terang disana semakin membesar.
"Ajian Guntur Bawono...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!
Dua larik sinar biru terang layaknya petir menyambar ke arah Panji Tejo Laksono saat tapak tangan kanan dan kiri Resi Mpu Wisesa di hantamkan kearah sang pangeran Adipati. Layaknya guntur yang memekakkan gendang telinga, suara keras diikuti oleh angin menderu kencang terdengar dari sana.
Shhraaaaaakk...
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr.... dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar saat sinar biru terang seperti kilat petir itu menyambar tubuh Panji Tejo Laksono. Semua orang terkejut bukan main dan merasa panik saking takutnya terjadi apa-apa dengan Panji Tejo Laksono. Hanya Gayatri dan Luh Jingga saja yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian itu dan terus membantai anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang menghadang mereka.
Asap tebal membumbung tinggi ke angkasa beserta debu debu yang beterbangan memenuhi udara di halaman depan Pertapaan Panumbangan. Saat debu mereda dan asap tebal yang menghalangi pandangan mata semua orang mulai menghilang, untuk kedua kalinya Resi Mpu Wisesa dibuat melongo. Tubuh Panji Tejo Laksono sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri dan tak ada sedikitpun luka yang timbul pada kulit tubuhnya setelah menerima hantaman Ajian Guntur Bawono. Malah sang penguasa baru Kadipaten Seloageng ini tersenyum tipis sembari menatap tajam ke arah Resi Mpu Wisesa.
"Sudah dua kali kau menyerang ku, Resi Mpu Wisesa.. Sekarang giliran ku!!", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat seperti anak panah lepas dari busurnya ke arah Resi Mpu Wisesa. Tangan kanannya telah di liputi oleh sinar merah menyala seperti api yang berkobar.
Kecepatan Ajian Sepi Angin tingkat tinggi membuat gerakan tubuh Panji Tejo Laksono seperti terbang di udara. Dalam sekejap mata dia sudah berada di depan Resi Mpu Wisesa seraya menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah pimpinan ketujuh Kelompok Bulan Sabit Darah itu.
Whhhuuutthh..
Resi Mpu Wisesa gelagapan juga melihat kedatangan serangan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba. Dengan seluruh tenaga dalam yang ada, dia memapak hantaman tangan kanan Panji Tejo Laksono yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api.
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan dahsyat kembali terdengar saat dua ajian kanuragan milik mereka berdua beradu. Gelombang kejut besar tercipta dari benturan dua ilmu itu. Beberapa orang yang bertarung di dekat mereka ikut merasakan imbasnya. Beberapa orang langsung terpelanting karena tidak kuat menahan kuatnya pengaruh gelombang kejut yang menyebar ke sekeliling tempat itu.
Panji Tejo Laksono terdorong mundur dua langkah sedangkan Resi Mpu Wisesa terseret mundur hampir dua tombak jauhnya. Panji Tejo Laksono yang tidak membuang waktu. Pangeran muda dari Kadiri ini kembali melesat cepat kearah yang berlawanan arah dan memapak tubuh Resi Mpu Wisesa yang masih terdorong mundur. Segera Panji Tejo Laksono menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah pinggang Resi Mpu Wisesa.
Whhhuuuggghhhh !!
Resi Mpu Wisesa yang merasakan hawa panas mengarah ke pinggang nya buru-buru menjatuhkan tubuhnya ke tanah untuk menghindari hantaman Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Sinar merah menyala berhawa panas yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono langsung menghantam gapura Pertapaan Panumbangan.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Gapura masuk Pertapaan Panumbangan meledak dan hancur berantakan. Kayu penyangga gapura itu sampai mencelat hampir satu tombak jauhnya dan hampir menimpa cantrik Pertapaan Panumbangan.
Panji Tejo Laksono terus memburu Resi Mpu Wisesa. Dengan gerakan cepat, Panji Tejo Laksono berhasil mendaratkan sebuah tendangan keras kearah perut sang pertapa tua saat pimpinan ketujuh Kelompok Bulan Sabit Darah itu baru saja berdiri.
Dhiiieeeessshh!!
Oouuugghhhhhh!!
Terhuyung huyung mundur Resi Mpu Wisesa. Tubuh tua nya nyaris menyentuh tanah karena kerasnya tendangan dari sang putra tertua Prabu Jayengrana itu. Saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono dengan cepat mencekal pergelangan tangan kanannya dan memuntir nya ke belakang.
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
Resi Mpu Wisesa menjerit keras merasakan tangan kanannya seperti mau patah. Kendati dia meronta hendak melepaskan diri namun Panji Tejo Laksono semakin menguatkan puntiran nya hingga rasa sakit di tangan kanan Resi Mpu Wisesa semakin menjadi.
Lepaskan tanganku keparat!! Ayo kita bertarung secara jantan!", umpat Resi Mpu Wisesa sembari meringis menahan sakit.
"Boleh saja kau minta aku lepaskan, tapi katakan pada ku dulu siapa pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah dan dimana markas mereka? Cepat katakan!", hardik keras Panji Tejo Laksono sembari terus memuntir lengan tangan kanan Resi Mpu Wisesa.
"Sampai mati pun, aku tak akan mengatakannya bang ...
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!!", Resi Mpu Wisesa kembali menjerit keras saat Panji Tejo Laksono semakin menguatkan tenaganya untuk memuntir lengan tangan nya.
Melihat pimpinan ketujuh Kelompok Bulan Sabit Darah tertangkap oleh Panji Tejo Laksono, puluhan orang bertopeng hitam dengan ukiran bulan sabit terbalik berwarna merah menyala langsung berupaya untuk menolong namun Panji Manggala Seta, Luh Jingga, Gayatri, Akuwu Bonokeling, Senopati Gardana dan Bekel Wirabraja membuat pagar betis untuk mencegah mereka mendekati Panji Tejo Laksono dan Resi Mpu Wisesa. Mereka sama sekali tidak bisa menolong Resi Mpu Wisesa yang terus meraung kesakitan.
"Cepat katakan kalau tidak, tangan kanan mu akan patah, Resi Mpu Wisesa!", bentak Panji Tejo Laksono sembari menguatkan puntiran nya.
"Aaaarrrgggggghhhhh.. Baik baik, akan ku katakan tapi lepaskan dulu tangan ku", teriak Resi Mpu Wisesa mencoba mengelabuhi.
"Kau pikir aku bodoh, Pertapa palsu??
Cepat katakan atau ku patahkan tangan kanan mu", ujar Panji Tejo Laksono sembari mendengkul pinggang sang pertapa.
"Ba-baik baik akan ku katakan akan ku katakan..
Pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah aku tidak tahu jelas karena dia selalu mengenakan topeng emas. Na-nama panggilan nya adalah Malaikat Bertopeng Emas. Markas besar Kelompok Bulan Sabit Darah ada di kaki Gunung Penanggungan sebelah timur, di Lembah Kalong", mendengar penuturan Resi Mpu Wisesa, Panji Tejo Laksono mengendurkan puntiran nya hingga kesempatan ini di gunakan Resi Mpu Wisesa untuk melepaskan diri. Pimpinan ketujuh Kelompok Bulan Sabit Darah itu segera menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari Ajian Guntur Bawono kearah dada Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm !!!
Namun belum sampai dua langkah dia beranjak, tangan kiri Panji Tejo Laksono dengan cepat mencekal pergelangan tangan kiri sang pertapa tua. Kendati Resi Mpu Wisesa berupaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Panji Tejo Laksono, namun sang pangeran muda ini malah semakin menguatkan cekalan tangan nya. Dari balik asap tebal yang menutupi sebagian wajah nya, Panji Tejo Laksono berkata dengan nada dingin,
"Kau benar benar orang tua yang tidak tahu diuntung!"
Sebuah sinar hijau kebiruan melompat dari mulut Panji Tejo Laksono yang terbuka dan segera mengikat tubuh Resi Mpu Wisesa. Sang pangeran tertua di Kerajaan Panjalu itu rupanya melepaskan Ajian Waringin Sungsang setelah menerima hantaman Ajian Guntur Bawono milik Resi Mpu Wisesa.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh tubuh Resi Mpu Wisesa bahkan hingga ke setiap sendi sendi di tubuhnya. Perlahan Ajian Waringin Sungsang menyedot tenaga dalam dan daya hidup sang pertapa tua palsu yang merupakan salah satu dari 7 pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah ini.
AAAARRRGGGGGGHHHHH...!!!
Resi Mpu Wisesa menjerit keras saat merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Perlahan tubuhnya mengering dan menghitam bersamaan dengan keluarnya darah segar dari mata, hidung, telinga dan mulut nya. Saat Ajian Waringin Sungsang menyedot habis semua tenaga dalam dan daya hidup sang pertapa tua itu, Panji Tejo Laksono segera menghantamkan tapak tangan kanan kearah dada Resi Mpu Wisesa yang kini tinggal menyisakan kulit dan tulang.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Tubuh Resi Mpu Wisesa meledak dan hancur lebur menjadi abu. Dia tewas di tangan sang pangeran muda dari Kadiri. Begitu melihat Resi Mpu Wisesa tewas, sisa anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang masih hidup berusaha untuk kabur. Dari seratus dua puluh orang anggota, hanya 2 orang yang berhasil melarikan diri. Sementara itu di pihak Kadipaten Seloageng, sedikitnya 200 prajurit tewas dalam peristiwa itu.
Panji Tejo Laksono nampak menghela nafas panjang setelah selesai pertarungan sengit melawan Resi Mpu Wisesa. Maharesi Tirtanata segera mendekat kepada sang pangeran muda dan dengan cepat berlutut di hadapan nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..
Hamba sungguh tidak tahu jika Wisesa adalah salah satu dari pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah. Pertapaan Panumbangan sama sekali tidak terlibat dalam kelompok itu", ujar Maharesi Tirtanata segera. Wajar saja jika dia khawatir karena bagaimanapun Resi Mpu Wisesa sudah tinggal puluhan tahun di tempat itu.
"Maharesi Tirtanata tidak perlu khawatir..
Orang-orang ku sudah mengetahui bahwa Pertapaan Panumbangan tidak tahu menahu mengenai keterlibatan Resi Mpu Wisesa dalam Kelompok Bulan Sabit Darah. Namun, karena Resi Mpu Wisesa sudah lama ada di tempat ini, biarkan para prajurit memeriksa apakah diantara cantrik Pertapaan Panumbangan ada yang terhasut oleh orang itu atau tidak.
Maharesi Tirtanata tidak keberatan bukan?", Panji Tejo Laksono segera menatap wajah sepuh Maharesi Tirtanata.
"Tentu saja tidak, Gusti Pangeran Adipati. Kami selaku penduduk Kadipaten Seloageng selalu patuh pada pemerintah", jawab Maharesi Tirtanata segera.
Sementara Panji Tejo Laksono dan para prajurit Seloageng memeriksa Pertapaan Panumbangan, dua orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang berhasil meloloskan diri terus melesat cepat kearah timur. Meski sudah terlihat kelelahan setelah pertarungan melawan para prajurit Seloageng, keduanya tidak mempedulikan lagi keadaan tubuh mereka. Salah seorang diantara mereka yang bertubuh kurus segera menoleh ke arah kawannya sambil berkata,
"Kita harus segera sampai di Tumapel, Kakang!"