Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Lodaya Menagih Janji


HAAAAAAHHHHHHHH??!!!


Gayatri dan Luh Jingga berteriak kaget mendengar ucapan Song Zhao Meng. Kedua perempuan cantik itu langsung saling berpandangan sejenak seolah saling berbicara satu sama lain.


"Kalau di hitung waktunya, terakhir aku berhubungan badan dengan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono memang sekitar sebulan yang lalu Wulandari. Dan kau sendiri juga tahu bahwa sebelum berangkat ke Jenggala untuk melaksanakan tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku memang yang dapat giliran menemani malam Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono.


Tapi masak iya aku hamil?", Gayatri mengerutkan keningnya pertanda heran.


"Tapi kalau melihat tingkah mu yang tiba-tiba aneh begitu, sepertinya omongan Wulandari memang tidak salah Kangmbok Gayatri.


Sebaiknya kita segera panggil tabib istana ini untuk memastikan nya", sahut Luh Jingga segera.


"Kenapa jauh-jauh mesti memanggil tabib istana, Kakak Jingga??


Aku juga bisa memeriksa keadaan Kakak Gayatri. Sini ulurkan tanganmu Kak..", jawab Song Zhao Meng sembari membuka lebar telapak tangan kirinya untuk menerima tangan Gayatri.


"Aku tidak menolaknya, Wulandari.. Tapi singkirkan dulu bunga mawar di tangan kanan mu itu dulu..


Perut ku mual mencium baunya..", Gayatri memencet hidung nya agar tidak membaui harum bunga mawar yang sangat menyiksa diri nya itu.


Mendengar jawaban itu, Song Zhao Meng segera meletakkan beberapa kuntum bunga mawar itu agak jauh dari tempat mereka bertiga. Lalu memeriksa pergelangan tangan kiri Gayatri untuk memeriksa denyut nadi putri Patih Sindupraja ini. Song Zhao Meng terdiam tanpa bicara sembari menghitung jumlah detak jantung perempuan cantik itu. Wajahnya langsung tersenyum cerah seketika.


Melihat perubahan air muka Song Zhao Meng, Luh Jingga dan Gayatri yang penasaran pun bertanya bersamaan.


"Bagaimana hasilnya?"


Song Zhao Meng memandang kedua kakak madu nya itu bergantian lalu tersenyum penuh arti.


"Denyut nadi Kak Gayatri ada dua. Itu tandanya ada dua kehidupan yang berjalan bersamaan", ucap Song Zhao Meng segera.


Gayatri dan Luh Jingga yang memang tidak mengerti ilmu ketabiban segera saling berpandangan sejenak. Luh Jingga segera membuka mulutnya.


"Apa maksud mu bicara begitu, Wulandari? Jangan berbelit-belit. Membuat ku bingung saja..", ujar Luh Jingga sembari memberengut kesal.


"Iya nih. Kau ini katakan dengan bahasa yang bisa kami mengerti", timpal Gayatri yang juga tak kalah penasaran. Mendengar protes dari kedua orang kakak madu nya itu, Song Zhao Meng tersenyum lebar.


"Itu artinya Kakak Gayatri sedang hamil. Kalau kakak tidak percaya, boleh panggil tabib istana untuk datang kemari..", jawab Song Zhao Meng lugas.


Senyum lebar terukir di wajah Gayatri mendengar jawaban itu. Tapi dia tidak bisa langsung percaya begitu saja. Segera dia memerintahkan kepada dua prajurit penjaga yang sedang bertugas di depan pintu masuk taman sari Istana Kadipaten Seloageng untuk memanggil tabib istana.


Dua orang prajurit itu segera menghormat pada Gayatri dan bergegas meninggalkan tempat itu untuk menghubungi tabib istana yang bernama Mpu Darmanta.


Tak berapa lama kemudian, dua orang prajurit itu segera kembali bersama dengan seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus dengan kumis tebal namun sebagian telah memutih karena uban. Lelaki itu langsung menyembah pada Gayatri, Song Zhao Meng dan Luh Jingga begitu dia sampai di sana.


"Mohon ampun Gusti Selir..


Kalau boleh hamba tahu, ada gerangan apa Gusti Selir Gayatri memanggil hamba kemari?", tanya Mpu Darmanta sang tabib istana Seloageng sembari menghormat.


"Badan ku kurang enak akhir-akhir ini. Kau periksa keadaan ku segera. Jangan sampai salah tafsir. Lakukanlah..", jawab Gayatri segera.


Mendengar perintah itu, Mpu Darmanta segera bangkit dari tempat duduknya dan memeriksa tangan kiri Gayatri. Begitu selesai memeriksa, Mpu Darmanta segera menghormat pada Gayatri sambil tersenyum penuh arti.


"Mohon ampun Gusti Selir..


Melihat keadaan yang terjadi, Gusti Selir Gayatri baik-baik saja. Malah ada satu kabar gembira untuk Gusti Selir. Selamat Gusti Selir Gayatri, saat ini Gusti Selir sedang berbadan dua.."


Mendengar ucapan dari Mpu Darmanta sang tabib istana, senyum lebar terukir di wajah cantik Gayatri.


"Wah selamat ya Kangmbok Gayatri, ternyata kau yang lebih dulu dipercaya untuk mengandung keturunan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono.


Aku pasti akan membantu menjaga mu dari hal buruk yang mungkin terjadi ", ucap Luh Jingga sembari tersenyum tipis.


"Untuk Kak Gayatri, akan ku siapkan ramuan penguat kandungan agar bayi mu nanti sehat dan kuat.


Kakak Gayatri pasti akan menyukai nya..", imbuh Song Zhao Meng segera.


Dari arah belakang, muncul Dyah Kirana dan Ayu Ratna yang baru saja selesai di dapur istana. Melihat kerumunan mereka, dua istri Panji Tejo Laksono ini langsung mendekat.


"Ada apa ini Kangmbok Gayatri?


Kenapa Mpu Darmanta juga ada disini? Kangmbok Gayatri sakit?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut mungil Ayu Ratna.


Gusti Selir Gayatri baik-baik saja bahkan sangat baik. Hamba kemari untuk memeriksa keadaan Gusti Selir Gayatri, tidak disangka ternyata ada kabar gembira bagi para masyarakat Kadipaten Seloageng. Keturunan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono yang mulia, telah di kandung oleh Gusti Selir Gayatri", sahut Mpu Darmanta sang tabib istana seraya menghormat pada Ayu Ratna.


Tentu saja kabar ini membahagiakan sekaligus mengejutkan bagi Ayu Ratna. Dia adalah permaisuri pertama Panji Tejo Laksono dan sampai saat ini masih belum bisa mengandung jabang bayi untuk sang pangeran, dan kini justru Gayatri sang selir lebih dulu memiliki keturunan untuk meneruskan trah Panjalu dari Panji Tejo Laksono. Ini sangat membuat nya tertekan.


Namun, meski begitu keadaan nya, Ayu Ratna tetap tersenyum lebar ketika mendengar berita bahagia ini.


"Aku ucapkan selamat pada mu, Kangmbok Gayatri. Jaga baik-baik kondisi tubuh mu karena sebentar lagi kau akan melahirkan bayi trah Panjalu", ucap Ayu Ratna segera.


"Aku juga ingin mengucapkan selamat, Kangmbok Gayatri.. Semoga Hyang Agung selalu melindungi mu dan jabang bayi di perut mu itu", sambung Dyah Kirana sembari tersenyum simpul.


"Terimakasih banyak semuanya.. Kalian semua memang saudari ku yang terbaik..", balas Gayatri yang terlihat bahagia. Berulang kali, putri Patih Sindupraja ini mengusap perutnya yang masih rata.


Dengan cepat, kabar gembira tentang kehamilan Gayatri ini menyebar ke seluruh penghuni Istana Kadipaten Seloageng. Bahkan pula, seluruh penduduk Kota Kadipaten Seloageng pun segera mengetahuinya dengan cerita dari mulut ke mulut.


Namun yang paling terlihat bahagia dengan adanya kabar ini tentu saja adalah Patih Sindupraja. Bekas tumenggung di keprajuritan Panjalu yang di angkat menjadi warangka praja Kadipaten Seloageng menggantikan posisi Patih Sancaka ini, langsung mengadakan acara selamatan besar di Kepatihan Seloageng. Dia mengundang ratusan orang penduduk dan perwira prajurit Seloageng makan besar sebagai ucapan syukur kepada Sang Hyang Akarya Jagat atas rahmat yang di terima oleh putrinya itu.


****


Dari Seloageng yang tengah heboh dengan berita kehamilan Gayatri, kita berpindah ke Tanah Perdikan Lodaya.


Siang itu, Pangeran Arya Tanggung, sang pangeran merdeka yang menjadi penguasa mutlak Tanah Perdikan Lodaya, mengadakan pertemuan dengan para punggawa Istana Lodaya di Pendopo Agung Tanah Perdikan Lodaya. Ada sesuatu hal yang penting yang harus mereka bicarakan siang hari itu.


"Patih Umbara..


Sudah cukup lama waktu berlalu setelah peperangan besar antara Jenggala dan Panjalu. Bantuan dari kita untuk membantu mereka mencapai kemenangan, juga sudah berhasil. Menurut ku, ini sudah waktunya untuk kita menagih janji pada Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", ujar Pangeran Arya Tanggung yang berdiri memunggungi semua orang yang hadir di tempat itu. Dia bicara sambil menatap singgasana Tanah Perdikan Lodaya.


"Gusti Pangeran benar..


Memang sudah saatnya kita berangkat ke Seloageng untuk meminta janji yang pernah di ucapkan oleh Pangeran Panji Tejo Laksono sewaktu meminta bantuan kepada kita.


Hamba juga sudah melihat bahwa Gusti Putri Rara Kinanti sudah sangat amat menantikan janji Pangeran Panji Tejo Laksono. Kalau tidak segera di laksanakan, hamba takut Gusti Putri Rara Kinanti akan nekat dan berangkat sendiri ke Seloageng untuk menemui Pangeran Panji Tejo Laksono", jawab Patih Umbara segera.


Pangeran Arya Tanggung berbalik badan begitu mendengar jawaban sang warangka praja Tanah Perdikan Lodaya itu. Dia segera duduk di atas singgasana nya.


"Kalau begitu, aku utus Paman Patih Umbara sebagai wakil ku untuk berangkat ke Seloageng. Jangan lupa membawa beberapa hadiah sebagai ungkapan niat baik kita.


Tumenggung Pandu,


Kau yang sudah pernah bertempur bersama dengan Pangeran Panji Tejo Laksono tentu lebih di kenal baik oleh keponakan ku itu. Jadi aku perintahkan kepada mu untuk mengawal Paman Patih Umbara ke Seloageng..", titah Pangeran Arya Tanggung sembari mengangkat tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran..", ucap Patih Umbara dan Tumenggung Pandu bersamaan.


Tak jauh dari acara pertemuan itu, Putri Rara Kinanti yang mencuri dengar omongan mereka langsung tersenyum bahagia. Betapa tidak, hal yang sangat dia inginkan akan segera terwujud.


Keesokan harinya, rombongan besar Tanah Perdikan Lodaya berangkat menuju ke arah Kadipaten Seloageng yang berbagi perbatasan wilayah mereka di Sungai Kapulungan atau yang kita kenal dengan nama Sungai Brantas. Rombongan besar ini dipimpin oleh Patih Umbara dan di kawal oleh Tumenggung Pandu yang merupakan salah satu orang kepercayaan Pangeran Arya Tanggung sang pangeran merdeka dari Lodaya.


Beberapa ratus orang prajurit juga ikut mengawal rombongan ini karena beberapa kereta kuda yang mengangkut beberapa barang bawaan berharga mereka yang terdiri dari beberapa kain sutra, perhiasan emas, permata, satu kereta penuh hasil bumi dan palawija. Bukan takut akan terjadi nya perampokan yang mungkin muncul, tetapi lebih pada penjagaan keamanan agar mereka selamat sampai tujuan.


Usai menyeberangi Sungai Kapulungan, dari dermaga penyeberangan Wanua Ranja, mereka bergerak kearah barat laut dimana Kota Kadipaten Seloageng yang terletak di kaki Gunung Kelud berada. Dan tepat menjelang tengah hari, rombongan Tanah Perdikan Lodaya sampai di Istana Kadipaten Seloageng.


Kedatangan mereka langsung di sambut baik oleh Patih Sindupraja yang menjadi wakil Panji Tejo Laksono selama sang pangeran muda tidak berada di istana. Di Pendopo Agung Istana Kadipaten Seloageng, singgasana nampak kosong sedangkan di kursi permaisuri hanya ada Ayu Ratna dan Song Zhao Meng saja.


"Selamat datang di Istana Kadipaten Seloageng, Ki Patih Umbara..


Kedatangan kalian sungguh mendadak sekali jadi mohon maaf jika tidak ada penyambutan untuk kalian", ucap Patih Sindupraja dengan sopan.


"Tidak apa-apa Ki Patih Sindupraja..


Kedatangan ku kali ini memang atas perintah dari Gusti Pangeran Arya Tanggung dan kami tidak melakukan pemberitahuan lebih dulu", balas Patih Umbara segera.


"Oh kalau begitu, maafkan kami jika kalian tidak disambut dengan baik. Kalau boleh tau, ada apa gerangan hingga kalian kemari?


Maaf, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono sedang ada urusan penting di Kotaraja Daha jadi aku sementara yang mengurus pemerintahan di Seloageng", tanya Patih Sindupraja seraya menatap ke arah Patih Umbara.


Hemmmmmmm..


"Sayang sekali, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono tidak ada di tempat. Padahal ini berkaitan erat dengan beliau", Patih Umbara menghela nafas panjang sebelum melanjutkan omongannya.


"Kami datang untuk menagih janji.."