
"Menyamar??!!
Apa maksud nya Kangmas Pangeran? Aku sungguh tidak mengerti", Ayu Ratna yang masih duduk di samping kanan Panji Tejo Laksono seketika menatap wajah tampan sang Adipati baru Seloageng ini.
"Benar, aku akan menanggalkan pakaian kebangsawanan ku dan berdandan layaknya orang biasa. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ku untuk berbaur dengan masyarakat sekitar tempat yang ku datangi", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Lantas, Kangmas Pangeran akan berangkat dengan siapa? Aku tidak bisa membiarkan Kangmas Pangeran berpetualang sendirian tanpa ada yang mengurus", imbuh Ayu Ratna segera.
"Karena dalam penyamaran, aku tentu saja tidak bisa mengajak kalian semua untuk ikut serta.
Kamu Dinda Ayu yang sudah berpengalaman dalam menangani pemerintahan, sebaiknya tetap di sini sebagai pemutus perkara jika Paman Sancaka ada kesulitan. Dan kamu Adik Wulandari, bukan aku tak mau mengajak mu tapi penampilan mu yang tidak seperti pribumi kebanyakan tentu akan menjadi perhatian kebanyakan orang. Jadi kamu untuk sementara tinggal bersama dengan Dinda Ayu di Istana. Ilmu beladiri mu yang tinggi akan sangat membantu jika ada masalah di Istana", ucap Panji Tejo Laksono yang di sambut dengan anggukan kepala dari Song Zhao Meng, "Aku mengerti Kakak Thee".
"Jadi Kangmas Pangeran Tejo Laksono akan mengajak aku dan Luh Jingga ikut serta?", tanya Gayatri yang penasaran.
"Dan juga Kirana. Dia pasti banyak tahu seluk beluk wilayah Kadipaten Kanjuruhan dan Dinoyo. Jadi itu akan memudahkan kita dalam berbaur di masyarakat Jenggala", pungkas Sang Penguasa Kadipaten Seloageng ini sambil tersenyum tipis.
"Hamba di ajak tidak Gusti Pangeran? Sudah lama hamba tidak ikut berpetualang dengan Gusti Pangeran loh", sahut Demung Gumbreg yang duduk di depan Panji Tejo Laksono. Mendengar kawannya itu menawarkan diri, Tumenggung Ludaka menoleh dengan penuh keheranan.
"Tumben kau mau ikut Mbreg.. Biasanya kalau ada hal seperti ini, kau paling malas untuk berangkat", Tumenggung Ludaka benar benar merasa ada yang janggal.
"Huffffffffttt kau tidak tahu saja Lu..
Di rumah ku, Dhek Jum selalu marah-marah karena hal sepele. Anak anak sudah besar semua, eh ibunya turut besar pula emosinya seperti induk ayam sedang angon anaknya. Aku pusing jika di rumah. Makanya lebih baik aku ikut Gusti Pangeran menyamar saja", jawab Demung Gumbreg sembari menghela nafas berat.
"Hehehehe kena batunya ya kau sekarang.. Makanya jangan cuma makan sama tidur saja pas ada di rumah, biar istri mu tidak marah melulu", Tumenggung Ludaka terkekeh kecil mendengar jawaban sahabat karibnya itu. Gumbreg diam saja tanpa menjawab omongan sahabat karibnya itu.
Hemmmmmmm..
"Kalau Paman berdua mau ikut, maka kita akan menyamar sebagai pedagang kain saja. Dinda Gayatri akan menjadi pemilik usaha nya, dibantu oleh Dinda Luh Jingga dan Kirana. Aku dan Paman Ludaka akan menjadi pengawal sedangkan Paman Gumbreg akan menjadi kusir kereta kuda nya.
Paman Gumbreg, Paman Ludaka..
Sekarang juga persiapkan segala sesuatunya untuk kita berangkat. Aku akan memanggil Paman Patih Sancaka dan Senopati Gardana untuk mengabarkan berita ini", titah Panji Tejo Laksono.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", dua orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum mundur dari ruang pribadi Adipati.
Sore itu, Panji Tejo Laksono memberikan perintah kepada Patih Sancaka untuk mengurus Kadipaten Seloageng selama dia menjalankan tugas yang diberikan oleh Prabu Jayengrana. Sedangkan kepada Senopati Gardana, Panji Tejo Laksono menugaskan kepada nya untuk melakukan patroli rutin di sepanjang garis perbatasan wilayah dengan Kadipaten Kanjuruhan yang bersentuhan langsung dengan Seloageng. Kedua warangka praja Seloageng itu pun segera menyanggupi permintaan dari sang adipati.
Keesokan harinya...
Sebuah kereta kuda yang membawa tumpukan kain beraneka ragam nampak bergerak meninggalkan Kota Kadipaten Seloageng. Seorang lelaki bertubuh kekar dengan mengenakan caping bambu yang menutupi sebagian wajah nya menaiki seekor kuda hitam nampak mengawal di depan. Tubuhnya hanya ditutupi oleh baju tanpa lengan dengan warna hitam sedikit kusam. Sebilah pedang yang di bungkus kain hitam juga terlihat tersandang di punggungnya. Dari penampilannya saja sudah kelihatan kalau dia adalah seorang pengawal.
"Hiiyyyyyyyaaaa hiyaaaaa.....", teriak seorang kusir kereta kuda bertubuh tambun sambil sesekali melecutkan cambuknya agar 4 ekor kuda yang menarik kereta kuda itu bergerak lebih cepat. Jalan raya yang menjadi urat nadi perdagangan antar wilayah itu memang terlihat berdebu karena musim kemarau panjang yang telah melanda Tanah Jawadwipa hampir 7 purnama lamanya.
Setelah melewati Pakuwon Bedander dan Pakuwon Weling, rombongan itu sudah mendekati Sungai Lawor yang merupakan batas wilayah Kadipaten Seloageng dan Kanjuruhan.
"Gusti Selir Gayatri, kita sudah mau sampai di perbatasan nih. Tidak mau istirahat dulu?", ujar kusir kereta kuda bertubuh tambun itu sembari terus mengendalikan 4 ekor kuda dengan tali kekang nya.
Tirai kain berwarna biru di belakang punggung sang kusir kereta kuda tersingkap dan wajah cantik seorang perempuan berbaju hijau muda langsung muncul disana. Dengan gemas, perempuan cantik itu segera menepak punggung si kusir kereta kuda sekuatnya.
Plllaaaakkkkk ..
"Waduh sakit sekali.. Kenapa kau pukul punggung ku, Gusti Selir?", protes si kusir kereta kuda sembari meringis mengelus punggungnya yang memerah.
"Sudah di bilang sedang menyamar sebagai pedagang kain tapi masih juga memanggil dengan sebutan Gusti Selir. Paman mau aku laporkan pada Kakang Panji Tejo Laksono?", si perempuan cantik berbaju hijau muda itu yang tak lain adalah Gayatri mendelik kereng pada si kusir kereta kuda. Di dalam kereta, Luh Jingga dan Dyah Kirana terkekeh geli melihat sikap Gayatri.
"Ya maaf Gus... Eh Ndoro Gayatri. Sudah kebiasaan, susah hilangnya", balas si kusir kereta kuda yang tidak lain adalah Demung Gumbreg.
"Kebiasaan buruk itu iya. Kalau sampai keceplosan seperti itu di depan musuh, bisa terbongkar penyamaran kita. Awas jika Paman ulang lagi.
Tadi Kakang Panji Tejo Laksono berpesan agar sebelum malam kita sudah harus menyeberangi Sungai Lawor ini. Jadi sebaiknya kita tidak berhenti di tempat ini", ujar Gayatri yang mendapat anggukan kepala dari Gumbreg.
Setelah menyeberangi Sungai Lawor yang hampir kering airnya karena sudah tidak hujan selama berbulan-bulan lamanya, rombongan itu terus bergerak menuju ke arah timur. Dua pasang mata terus mengawasi rombongan itu. Setelah memastikan bahwa rombongan itu akan memasuki Wanua Pucung dari arah barat, dua orang itu segera bergegas menuju ke balik rimbun pepohonan dimana sepasang kuda mereka tertambat. Tanpa menunggu lama, keduanya segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan menggebrak hewan tunggangan nya ke arah Utara.
Tak berapa lama kemudian, keduanya sampai di sebuah pemukiman kecil yang tersembunyi diantara rimbun pepohonan hutan yang tumbuh subur di barat Wanua Pucung. Setidaknya ada empat rumah berukuran kecil dan satu rumah yang sedikit lebih besar di banding lainnya terlihat di pemukiman kecil itu. Di sekeliling nya terdapat pagar yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar lengan orang dewasa yang di lancipi ujungnya seolah menjadi benteng pertahanan.
Setelah mengikat tali kekang kudanya pada geladak yang ada di halaman samping rumah yang paling besar, keduanya segera bergegas masuk ke dalam rumah.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah sangar berjambang lebat namun berkumis jarang seperti kumis kucing dengan kepala plontos sedang asyik menikmati secangkir tuak bersama dua orang perempuan yang berdandan menor layaknya seorang pelacur saat mereka berdua masuk. Tubuh atasnya tertutup selempang kulit harimau hingga menambah kesan seram bagi siapa saja yang melihatnya. Lelaki berkepala plontos itu segera melotot ke arah dua orang yang baru saja masuk.
"Ada apa kalian kemari ha? Bukankah aku menugaskan kalian berdua untuk menjadi mata-mata di perbatasan?", hardik keras sang lelaki bertubuh gempal itu sembari meletakkan cangkir tuak yang terbuat dari bumbung bambu betung ke meja di hadapannya dengan keras.
"Sabar Lurah e sabar...
Kami kemari karena melihat serombongan pedagang yang melintas di Sungai Lawor dari Seloageng. Sepertinya mereka para pedagang kaya karena kuda mereka cukup mahal jika dibandingkan dengan kuda orang biasa", ucap salah seorang diantara mereka yang bertubuh sedikit pendek. Mendengar laporan itu, si lelaki bertubuh gempal itu segera bangkit dari tempat duduknya dan sepasang pelacur yang sedari tadi menempel di bahunya langsung mundur.
"Berapa banyak jumlah pengawal pribadi mereka?", tanya si lelaki bertubuh gempal yang dipanggil Lurah e itu.
"Cuma dua orang Lurah e, di tambah satu kusir berbadan gemuk. Dan tadi saya melihat di dalam kereta kuda mereka setidaknya ada 2 orang perempuan muda yang cantik-cantik Lurah e", balas si mata-mata yang bertubuh sedikit gemuk.
Tak butuh waktu lama untuk mereka berkumpul. Dalam sekejap mata kemudian mereka sudah bersenjata lengkap. Di pimpin oleh lelaki bertubuh gempal berkepala plontos itu, mereka bergerak cepat menuju ke arah jalan raya yang hendak di lewati rombongan pedagang dari Seloageng itu.
Begitu sampai di tempat yang sudah di tentukan, 14 pria berbaju hitam dengan ikat kepala yang terbuat dari kulit harimau itu segera menyebar di kanan kiri jalan raya. Semuanya bersiap dengan menghunus senjata mereka masing-masing.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak dengan santainya karena tugu tapal batas Wanua Pucung sudah kelihatan dari kejauhan. Tiba-tiba saja..
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Sepasang anak panah melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang berkuda di depan kereta kuda. Mendengar suara desingan anak panah menuju ke arah nya, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menekan punggung kudanya dan melenting tinggi ke udara untuk menghindari serangan. Segera sang pangeran muda mendarat di tanah dengan cepat lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
"Tunjukkan wujud mu jika kalian ksatria. Jangan jadi pengecut yang menyerang sambil bersembunyi!"
Kejadian ini seketika membuat Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg segera bersiap untuk menghadapi segala situasi yang mungkin terjadi. Diam diam Demung Gumbreg meraih gagang pentung sakti nya yang tersembunyi di balik kain yang digunakan untuk alas duduknya. Sedangkan Tumenggung Ludaka perlahan merogoh balik bajunya dimana ratusan pisau belati kecil yang menjadi senjata utama nya berada.
"Hahahaha...!!!"
Terdengar suara tawa keras dari balik rimbun pepohonan dan berikutnya puluhan orang berwajah seram sudah mengepung kereta kuda yang di tumpangi Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana. Seorang lelaki bertubuh gempal berkepala plontos keluar dari balik rimbun pepohonan dengan membawa senjata cakar yang mempunyai tiga ujung besi tajam. Pria bertubuh gempal itu segera melangkah mendekati rombongan Panji Tejo Laksono.
"Siapa kalian dan kenapa menghalangi perjalanan kami?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Hehehehe.. Aku Rudapaksi, penguasa daerah sini. Kalian melintas di wilayah ku tanpa ijin dari ku. Sekarang bayar pajak jalan sebesar 50 kepeng emas maka kalian akan ku biarkan lewat", ucap si lelaki bertubuh gempal itu sambil menyeringai lebar.
Demung Gumbreg yang mendengar nama lelaki bertubuh gempal itu di sebutkan, tak kuasa menahan tawa dan langsung tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha....
Mendengar tawa keras Demung Gumbreg, Rudapaksi si lelaki berkepala plontos itu meradang. Dengan penuh amarah, dia mengacungkan cakar tangan berujung tiga itu pada Gumbreg.
"Apanya yang lucu, kerbau bunting? Kenapa kau tertawa seperti itu ha?", hardik Rudapaksi dengan keras.
"Namamu lucu sekali, Kisanak. Rudapaksi huahahahahahaha... Apa dulu ibu mu di perkosa (rudapaksa) oleh bapak mu hingga punya anak namanya Rudapaksi? Huahahahahahaha...", Gumbreg terus tertawa terbahak-bahak sembari menjawab pertanyaan si lelaki berkepala plontos itu.
"Setan alas!!
Kau berani menghina ku? Akan ku robek-robek mulut busuk muuu...
Kalian semua, bantai saja mereka!!!", teriak Rudapaksi dengan lantang. Mendengar aba-aba dari pimpinan mereka, seluruh lelaki berpakaian serba hitam itu langsung menerjang maju ke rombongan Panji Tejo Laksono.
Tumenggung Ludaka segera melemparkan dua buah pisau belati kecil milik nya kearah dua orang pemanah yang bersembunyi dibalik ranting pohon besar.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg..
Chhreepppppph chhreepppppph ..!
Oouuugghhhhhh !!!
Dua orang pemanah itu langsung terjungkal menyusruk tanah dengan pisau belati kecil milik Tumenggung Ludaka menancap di dadanya. Melihat kawannya terbunuh, tiga orang lelaki bertubuh kekar langsung mengepung Tumenggung Ludaka yang sudah mencabut pedang pendek dari pinggang nya.
Sementara itu 5 orang lainnya segera mengepung Panji Tejo Laksono. Bersenjatakan pedang di tangan, mereka menerjang maju ke arah sang pangeran muda dari Kadiri. Pertarungan sengit pun segera terjadi.
4 orang yang lain langsung mendekati kereta kuda. Saat salah seorang mencoba untuk membuka tirai belakang, sebuah pedang dengan cepat menusuk dada si anak buah Rudapaksi.
Jllleeeeeppppphhh...
Aaauuuuggggghhhhh !!
Lelaki bertubuh gempal itu langsung kelojotan dan tumbang dengan dada bolong tertembus pedang. Tiga orang kawannya langsung mundur dari dekat pintu kereta kuda saat tiga orang wanita cantik turun dengan tenangnya. Kecantikan ketiganya langsung membuat 3 orang anak buah Rudapaksi melongo melihat nya.
"Can.. cantik sekali..
Yang baju putih itu bagian ku!", teriak seorang anak buah Rudapaksi sembari berlari cepat kearah Dyah Kirana.
"Ambil saja, yang baju hijau muda itu milikku", sahut seorang lelaki berbadan besar sembari menerjang maju ke arah Gayatri. Sedangkan yang bertubuh gempal langsung melesat ke arah Luh Jingga.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh whuuthhh..!!
Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh dhieshh..
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, ketiga orang anak buah Rudapaksi langsung bertumbangan di hajar oleh Luh Jingga, Gayatri dan Dyah Kirana. Ada yang giginya rontok terkena pukulan Dyah Kirana, ada yang patah tangan kanan nya setelah di puntir oleh Gayatri sedangkan si tubuh gempal tewas dengan leher nyaris putus terkena tebasan pedang Luh Jingga.
Ketiga orang wanita cantik ini segera menepuk-nepuk tangan mereka usai menjatuhkan para anak buah Rudapaksi. Luh Jingga mengusapkan bilah pedang nya yang berlumuran darah segar ke baju anak buah Rudapaksi yang tak bernyawa sembari berkata,
"Kroco kroco sialan.."