
Semua orang saling berpandangan mendengar ucapan Tumenggung Ludaka. Mereka tidak memahami maksud Tumenggung Ludaka menghentikan mereka menghentikan upaya penangkapan pembunuh Akuwu Sastrogalih. Demung Gumbreg pun merasa heran dengan sikap Tumenggung Ludaka namun dia menahan diri untuk tidak bertanya.
"Masalah ini sudah cukup sampai disini, Paman Ludaka..
Jangan menyeret nama Adipati Prangbakat yang hanya di catut nama besar untuk memudahkan Akuwu durjana ini bertindak sewenang-wenang", ujar sosok berpakaian serba hitam dengan penutup wajah itu.
"Hamba mengerti", balas Tumenggung Ludaka sembari membungkukkan badannya pada sosok berpakaian hitam-hitam itu.
Usai mendengar jawaban Tumenggung Ludaka, sosok berpakaian serba hitam yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah luar tembok Istana Pakuwon Widoro. Tak seorang pun berani menghalangi jalan nya.
"Prajurit,
Singkirkan mayat Akuwu Sastrogalih ini. Jangan sampai mayat durjana ini mengotori tempat ini", perintah Tumenggung Ludaka dengan lantang.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung ", 4 prajurit Pakuwon Widoro segera bergegas menggotong mayat Akuwu Sastrogalih keluar dari istana.
"Sekarang semua orang kumpulkan para kerabat dekat istana Pakuwon di balai pisowanan, aku akan bicara dengan mereka", imbuh Tumenggung Ludaka dengan cepat.
Para prajurit Pakuwon Widoro segera melaksanakan perintah Tumenggung Ludaka. Sedangkan para prajurit Kadipaten Tanggulangin di siagakan untuk berjaga di sekitar istana.
Begitu mereka membubarkan diri, Demung Gumbreg segera mendekati Tumenggung Ludaka.
"Lu kau berhutang penjelasan pada ku..
Siapa sosok berpakaian hitam-hitam itu tadi? Kenapa kau membiarkannya kabur begitu saja usai membunuh Akuwu Sastrogalih?", tanya Demung Gumbreg segera.
Mendengar pertanyaan itu, Tumenggung Ludaka langsung mendekat kepada Demung Gumbreg.
"Dia adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Mbreg..
Mana mungkin aku berani menahannya? Aku masih sayang nyawa ku", bisik Tumenggung Ludaka.
APPAAAAA????!!!
Demung Gumbreg kaget setengah mati mendengar ucapan Tumenggung Ludaka.
"Bisa tidak gak pakai teriak lantang begitu Mbreg?
Gendang telinga ku sampai sakit mendengar suara mu", Tumenggung Ludaka meniupkan udara ke tangan nya yang berbentuk seperti cangkir kemudian menempelkan nya ke telinga.
"Kog kamu tidak langsung memberi tahu ku Lu?
Aku kan juga ingin menghormati Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Kau ini benar-benar keterlaluan menyembunyikan rahasia sebesar ini", gerutu Demung Gumbreg segera.
"Lha ini yang aku tidak mau. Kau itu ceroboh dan tidak bisa berpikir panjang.
Kalau Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono gila hormat dan ingin menonjolkan diri, buat apa coba datang kemari dengan pakaian hitam hitam begitu? Pakai penutup wajah pula.
Mikir Mbreg mikir", Tumenggung Ludaka menyentuh pelipisnya dengan jari telunjuk. Mendengar itu Demung Gumbreg terdiam sejenak.
"Mungkin karena beliau ingin menyembunyikan jati diri nya Lu", ujar Demung Gumbreg sambil mengerutkan keningnya.
"Nah itu kamu tahu. Tumben sekali kau bisa menggunakan akal sehat mu.
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memang ingin tak seorang pun tahu tentang dirinya saat ini. Itu sebabnya mengapa aku membantu nya untuk tetap sesuai dengan keinginan nya", Tumenggung Ludaka tersenyum tipis.
"Memang kau tahu ini sejak kapan Lu??", Gumbreg masih penasaran.
"Kau pikir siapa yang melaporkan masalah Akuwu Sastrogalih kepada Gusti Prabu Jayengrana? Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang melakukan nya.
Karena ini menyangkut kepentingan masyarakat Kerajaan Panjalu, Gusti Prabu Jayengrana memberikan lencana emas untuk membantu kita bertindak sekaligus untuk membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono menyembunyikan jati diri nya.
Saat ini Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sedang topo ngrame Mbreg, kalau sampai dia menggunakan jati diri nya untuk menegakkan keadilan maka dia gagal dan wajib mengulang kembali lagi dari awal", Tumenggung Ludaka menerangkan secara gamblang tentang tujuan Panji Tejo Laksono menyembunyikan jati diri.
"Oh pantas saja kalau begitu..
Lantas setelah ini apa tindakan kita? Ke kota Kadipaten Tanggulangin lagi?", tanya Demung Gumbreg kemudian.
"Tentu saja.
Biar Adipati Prangbakat sendiri yang menentukan pengganti Akuwu Sastrogalih di Pakuwon Widoro karena ini adalah daerah kekuasaan nya.
Oh iya karena nanti ada hiburan di Katumenggungan, kau tidak usah ikut menonton. Tledek nya cantik cantik, aku takut kalau kau ikut, nanti kau hutang lagi untuk saweran tayub nya", Tumenggung Ludaka tersenyum tipis. Dia tahu bahwa sahabat karibnya itu tidak akan mampu menahan godaan hiburan.
"Eh kau tenang saja, kali ini aman Lu..
Kau tahu tanah bengkok ku baru saja panen raya jadi aku punya banyak duit buat saweran tayub. Aku tidak perlu berhutang lagi pada mu", Demung Gumbreg tersenyum penuh arti.
"Boleh saja kalau kau memaksa..
Tapi jika kau kehabisan uang lagi maka akan ku laporkan kau pada Juminten saat pulang ke Kotaraja Kadiri nanti", ancam Tumenggung Ludaka.
"Iya iya, aku akan berhati-hati", jawab Demung Gumbreg segera.
Mereka segera bergegas menemui para kerabat dekat Akuwu Sastrogalih yang sudah berkumpul di balai pisowanan untuk memberikan pemahaman kepada mereka.
****
Panji Tejo Laksono langsung melepaskan penutup wajah nya begitu memasuki tapal batas Wanua Drenges. Pangeran muda ini terus menggebrak kudanya menuju ke arah kediaman Nyi Murti yang ada di barat pemukiman.
Begitu sampai di rumah Nyi Murti, Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari langit. Gayatri, Nyi Murti, Kantil dan Ki Randu menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dengan gembira.
"Aku mengucapkan terima kasih banyak Pendekar atas pertolongan mu untuk Kantil.
Tanpa pertolongan mu, tidak mungkin Kantil bisa lolos dari jerat Akuwu Sastrogalih", ujar Nyi Murti segera.
"Aku hanya membantu sekedarnya saja Nyi..
Kau tidak perlu berlebihan", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Tapi apakah Akuwu Sastrogalih tidak akan datang memburu Kantil lagi, Pendekar? Aku takut ini hanya sementara saja", Ki Randu mengelus jenggotnya.
"Kalian tenang saja..
Akuwu Sastrogalih sudah tidak mungkin lagi mengejar Kantil. Orang orang Istana Kadiri sudah membereskannya", Panji Tejo Laksono mendudukkan dirinya di samping mereka.
Mendengar perkataan itu, Nyi Murti, Ki Randu dan Kantil langsung tersenyum bahagia sedangkan Gayatri nampak termenung seperti tengah memikirkan sesuatu.
Hari itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri menghabiskan waktu di Wanua Drenges setelah Nyi Murti memaksa mereka untuk tinggal karena ingin berterimakasih.
Keesokan harinya, Panji Tejo Laksono dan Gayatri memacu kudanya meninggalkan Wanua Drenges menuju ke arah barat. Pemandangan alam yang indah sepanjang perjalanan benar benar membuka wawasan Panji Tejo Laksono dan Gayatri tentang wilayah Kerajaan Panjalu yang luas.
Menjelaskan tengah hari, mereka memasuki kawasan hutan Bedrug yang menjadi perbatasan wilayah antara Kadipaten Tanggulangin dan Wengker.
Seorang lelaki sepantaran dengan Panji Watugunung, tengah di kepung oleh puluhan orang yang mengenakan topeng tengkorak manusia saat Panji Tejo Laksono dan Gayatri sampai disana. Meski sang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal itu masih terlihat lincah, namun beberapa luka sudah menghiasi tubuhnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Panji Tejo Laksono langsung melesat ke arah pertarungan itu sembari mencabut pedang nya. Gayatri pun tidak tinggal diam, dan ikut serta dalam tindakan Panji Tejo Laksono.
Whuuussshh..
Jleeggg jleeggg!!
"Maaf Paman..
Ijinkan aku untuk ikut campur dalam masalah ini. Aku paling benci dengan yang main keroyokan seperti ini", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Terimakasih atas bantuan mu Pendekar muda..
Aku memang sedikit kerepotan mengurus cecunguk cecunguk Padepokan Lembah Tengkorak ini", jawab si lelaki bertubuh kekar itu sembari menatap ke arah lawan yang mengepung mereka.
"Simpan terimakasih mu Paman. Kita hadapi para cecunguk ini lebih dulu", ujar Panji Tejo Laksono sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seorang yang seperti nya merupakan pimpinan mereka berjalan maju.
"Singo Manggolo,
Nasib mu cukup baik juga rupanya. Akan ada orang yang menemani mu berangkat ke neraka karena berani ikut campur disini", ujar seorang lelaki bertubuh gempal dengan cepat.
"Heh Dadaplangu..
Perkara siapa yang akan mati masih belum jelas. Kau tidak perlu banyak koar koar untuk membunuh ku. Lakukan saja jika kau mampu", balas si lelaki bertubuh kekar yang di panggil dengan nama Singo Manggolo itu segera.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Nyawa sudah di ujung tanduk masih berlagak sok jagoan.
Kalian semua, bunuh mereka bertiga! Kita persembahkan mayat mereka untuk Dewa Yama!", teriak si lelaki bertubuh gempal yang di panggil Dadaplangu itu dengan lantang.
Mendengar perintah Dadaplangu, puluhan orang berperawakan kekar dengan mengenakan topeng tengkorak manusia menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Singo Manggolo.
Panji Tejo Laksono dengan cepat memutar pedangnya dan sedikit merunduk menghindari dua tusukan trisula anak murid Padepokan Lembah Tengkorak.
Satu tebasan pedang nya mengayun cepat kearah perut salah seorang dari mereka, sedangkan tangan kirinya menggunakan Ajian Tapak Dewa Api menghantam dada seorang lainnya.
Shrraaaakkkkhhhh...
Blllaaammmmmmmm!!!
Dua orang anak murid Padepokan Lembah Tengkorak langsung jatuh tersungkur tak bernyawa dengan dada hangus dan perut robek hingga usus terburai keluar.
Melihat dua kawannya di jatuhkan dengan cepat, dua orang lain langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Dengan cepat, Panji Tejo Laksono menendang trisula yang tergeletak di atas tanah. Tombak bermata tiga itu langsung melesat cepat kearah perut anak murid Padepokan Lembah Tengkorak yang sial.
Jllleeeeeppppphhh!!
Satu orang roboh dan seorang lainnya masih menerjang maju sembari mengayunkan tongkat besi nya ke arah kepala Panji Tejo Laksono.
Whhhhuuuuggghhh!!
Panji Tejo Laksono berkelit menghindari gebukan tongkat besi lawan, memutar tubuhnya dan melompat ke udara kemudian melesat turun sembari mengayunkan pedangnya kearah leher lawan.
Chrraaasssshhh..!!
Seorang lagi terjerembab ke tanah dengan leher nyaris putus. Dua orang yang mengeroyok Gayatri, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Panji Tejo Laksono yang sudah membantai empat kawan mereka. Dengan penuh nafsu untuk balas dendam, mereka melompat ke arah sang pangeran muda.
Gayatri yang terbebas dari keroyokan 4 orang, dengan lincah bergerak menghindari sabetan pedang dan golok lawan nya yang tinggal dua orang.
Perempuan cantik yang menyamar sebagai laki laki itu dengan lincah menggerakkan jari telunjuknya yang menempel pada jari tengah. Dua belati tajam melesat cepat kearah lawan hingga terlihat hanya sinar putih keperakan.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!!
Dua orang anak murid Padepokan Lembah Tengkorak itu mundur sembari menangkis serangan belati terbang milik Gayatri yang seolah memiliki nyawa.
Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg!!
Denting nyaring terdengar dari benturan dua senjata tajam mereka. Gayatri terus mendesak para murid Padepokan Lembah Tengkorak dengan serangan nya yang cepat dan berbahaya.
Gayatri merentangkan kedua tangannya lebar lebar hingga mengakibatkan dua belati terbang nya menjauh. Lalu dengan gerakan cepat Gayatri menyilangkan kedua tangannya hingga dua senjata itu melesat ke arah dua anak murid Padepokan Lembah Tengkorak yang saling memunggungi.
Whhhhuuuuggghhh!!
Dengan cepat dua anak murid Padepokan Lembah Tengkorak menghindari serangan yang mengincar lehernya. Namun rupanya itu yang di harapkan Gayatri. Dua belati terbang nya langsung menancap tengkuk hingga tembus tenggorokan. Dua orang itu langsung roboh dengan belati menancap.
Dadaplangu yang menghadapi Singo Manggolo terus melancarkan serangan bertubi-tubi kearah lelaki bertubuh kekar itu. Meski kemampuan beladiri mereka berimbang, namun sebenarnya tenaga dalam Dadaplangu setingkat lebih rendah dari Singo Manggolo.
Singo Manggolo langsung merentangkan kedua tangannya lalu menangkup di depan dada dengan cepat. Dia mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk melepaskan Ajian Waringin Sungsang nya. Sinar hijau kebiruan bergerak dari kaki menggulung naik hingga terkumpul di kedua tangan Singo Manggolo.
Dadaplangu terkejut bukan main melihat kemampuan ilmu kedigdayaan Singo Manggolo. Dengan cepat ia mengeluarkan Ajian Iblis Tengkorak yang merupakan ilmu andalan Padepokan Lembah Tengkorak. Seluruh tubuh nya mengeluarkan asap putih yang berbau busuk.
Singo Manggolo langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah Dadaplangu. Selarik sinar hijau kebiruan menerabas cepat kearah Dadaplangu.
Whhhhuuuummmm...
Blllaaammmmmmmm!!!
Dadaplangu terpelanting jauh ke belakang. Topeng tengkorak manusia nya terlepas dari wajahnya dan dia muntah darah segar. Melihat itu, dua orang anak murid Padepokan Lembah Tengkorak yang sedang menghadapi Panji Tejo Laksono segera melemparkan dua bola berwarna hitam kearah sang pangeran.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!
Dengan cepat Panji Tejo Laksono menghantamkan Ajian Tapak Dewa Api untuk menghadang serangan itu.
Blllaaaaaarrr!
Dua bola itu meledak menyebarkan asap hitam tebal yang menghalangi pandangan semua orang. Saat asap tebal mulai menghilang, dua lawan Panji Tejo Laksono berikut Dadaplangu sudah menghilang dari tempat itu.
Hemmmmmmm
"Mereka kabur rupanya, Taji", ujar Gayatri sambil berjalan mendekati Panji Tejo Laksono.
"Sudah biarkan saja, tak perlu di kejar..
Aku mengucapkan terima kasih kepada mu anak muda. Tanpa bantuan kalian, aku belum tentu bisa selamat. Siapa nama kalian? Nama ku Singo Manggolo, dari Wanua Pulung ", tanya Singo Manggolo segera.
"Aku Taji Lelono, Paman. Ini Gayatri teman ku, sekalipun berdandan layaknya seorang lelaki tapi dia tetap perempuan kog hehehe", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Ini sudah sore, sebaiknya kita bergegas ke tempat ku. Tak begitu jauh dari sini. Kalian bisa bermalam di sana.
Mari kita berangkat", ajak Singo Manggolo sambil tersenyum. Setelah menimbang beberapa saat, Panji Tejo Laksono akhirnya mengiyakan ajakan Singo Manggolo. Mereka bertiga segera berkuda menyusuri jalan setapak di tepi hutan Bedrug ke arah barat.
Tepat sebelum senja, tiga orang itu sampai di sebuah rumah besar yang ada di dekat persimpangan jalan Wanua Pulung. Singo Manggolo langsung melompat turun dari kudanya diikuti oleh Panji Tejo Laksono dan Gayatri.
Dua orang pekatik atau juru rawat kuda langsung menerima kuda mereka dan menuntun hewan tunggangan itu ke kandang.
Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang bertubuh gempal dengan perut buncit dan kumis tebal menatap tajam ke arah 2 orang yang mengikuti Singo Manggolo. Sesaat kemudian si lelaki sepuh yang berusia lebih dari 7 dasawarsa ini tersenyum tipis karena tahu siapa mereka.
"Nah Taji Lelono, Gayatri. Perkenalkan ini adalah bopo ku, Lurah Wanua Pulung ini, nama beliau adalah Warok Suropati.
Bopo, ini dua pendekar muda yang tadi membantu ku melawan Dadaplangu dan anak murid nya", Singo Manggolo memperkenalkan mereka masing-masing. Warok Suropati tersenyum lebar sembari menatap ke arah Gayatri yang ada di sebelah kanan Singo Manggolo.
"Meski kau bersembunyi di balik caping bambu mu, aku tetap tahu Gayatri.
Bahwa kau adalah putri bangsawan Seloageng".