Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pemberontakan Adipati Arya Natakusuma ( bagian 4 )


Patih Tundungwaja mendengus dingin sembari mencabut keris besarnya dari tanah usai mendengar ucapan dari sang mapatih Kerajaan Panjalu ini. Segera dia menancapkan keris besarnya ke samping kanan dan mulai komat kamit membaca mantra. Kedua tangan nya memutar di depan dada lalu menangkup sempurna.


Asap putih tipis muncul dari pertemuan telapak tangan itu. Berikutnya cahaya putih kehijauan muncul di bahu sang patih. Cahaya putih kehijauan itu segera bergulung-gulung melingkari kedua lengan lelaki tua berjanggut putih itu lalu mengumpul di telapak tangannya.


"Ajian Pamungkas Sejati..


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"


Selarik cahaya putih kehijauan menerabas cepat kearah Mapatih Warigalit segera usai sang warangka praja Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini menghantamkan telapak tangannya ke arah kakak seperguruan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana itu.


Whhhuuutthh..


Mapatih Warigalit menggeser sedikit posisi tubuhnya ke belakang untuk bersiap menghadapi lawannya. Perlahan tapak tangan kiri mengeluarkan cahaya merah menyala berhawa panas seperti api yang berkobar. Dengan bertumpu pada ujung tumbuhan semak belukar tempat nya berdiri, dia yang menggunakan Ajian Sepi Angin, melenting tinggi ke udara menghindari serangan Patih Tundungwaja.


Usai mendarat di atas kepala arca Dwarapala yang ada di sisi lain pintu gerbang selatan Istana Katang-katang, Mapatih Warigalit segera melesat cepat kearah samping kanan Patih Tundungwaja. Secepat kilat, tombak pendeknya mengibas cepat kearah sang sesepuh Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini segera.


Shhheeetttthhh!!


Cahaya putih dan dingin setipis kain yang sangat tajam terlontar dari sabetan Tombak Angin. Jangankan kayu, batu besar pun akan terbelah menjadi dua jika sampai terkena cahaya putih ini. Ini adalah Ilmu Tombak Suci tahap akhir yang di sebut dengan jurus "Tombak Pembelah Nirwana". Mapatih Warigalit bisa menggunakannya setelah mempelajari Kitab Tombak Suci puluhan tahun lamanya.


Merasakan sesuatu sedang bergerak cepat mengancam nyawa nya, Patih Tundungwaja segera hantamkan tapak tangan kiri nya yang berselimut cahaya putih kehijauan ke arah cahaya putih tipis yang diikuti oleh angin dingin yang berseliweran di sekitarnya itu.


Whhhuuuggghhhh!!


Blllaaammmmmmmm..!!!


Namun rupanya itu hanya pengalihan perhatian untuk Patih Tundungwaja.


Selepas membabatkan Tombak Angin nya, Mapatih Warigalit dengan gerakan cepat yang sukar di ikuti oleh mata biasa, di tambah kegelapan malam yang menyelimuti seluruh dunia, mendadak muncul di samping kanan Patih Tundungwaja sembari menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berselimut Ajian Tapak Dewa Api.


Whhhuuuggghhhh!!


Patih Tundungwaja yang tak pernah mengira kalau ada serangan cepat itu, gelagapan setengah mati melihat datangnya serangan sang warangka praja Istana Katang-katang. Dengan cepat ia berusaha keras untuk menghadapi serangan cepat itu dengan Ajian Pamungkas Sejati miliknya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulut Patih Tundungwaja sesaat sebelum tubuh tua nya menghantam tanah. Meskipun dia segera berdiri, sisa darah segar masih juga keluar dari mulut nya. Sembari batuk darah, dia menatap tajam ke arah Mapatih Warigalit.


"Menyerahlah, hai Wong Mataram!!


Kalian tidak akan punya kesempatan untuk masuk ke dalam Istana Katang-katang!", ucap Mapatih Warigalit sembari tersenyum tipis.


Dari arah barat laut, terdengar suara teriakan para prajurit Panjalu yang mengarah ke tempat itu. Rupanya mereka berhasil memadamkan api kebakaran yang melahap bangunan di Ksatrian Kadri.


"Dan kami harus menjadi tahanan lantas menerima hukuman mati?


Sebagai seorang ksatria, lebih baik aku melawan hingga titik darah penghabisan!!"


Setelah bicara seperti itu, Patih Tundungwaja mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Kedua telapak tangannya memancarkan cahaya putih kehijauan yang jauh lebih terang dari sebelumnya. Rupanya dia ingin mengadu nyawa dengan satu serangan terakhir.


Melihat itu, Mapatih Warigalit pun tak mau kalah. Kakak seperguruan Prabu Jayengrana ini segera memusatkan tenaga dalam nya pada kaki karena itu adalah kunci utama untuk pergerakan maha cepatnya dari Ajian Sepi Angin.


Dengan sekuat tenaga, Patih Tundungwaja segera menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah Mapatih Warigalit. Gelombang besar cahaya putih kehijauan meluncur cepat kearah sang warangka praja Istana Kotaraja Daha.


Whhhuuuuummmmmmm....


Mapatih Warigalit segera melesat cepat kearah kanan menghindari gelombang cahaya putih kehijauan itu segera.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!


Pintu gerbang Istana Katang-katang langsung meledak dan hancur lebur berkeping-keping. Beberapa orang prajurit penjaga gerbang istana yang berdiri di belakang pintu gerbang istana pun tewas dengan tubuh nyaris hancur. Sebagian lagi harus terlempar ke belakang dan menabrak kawan kawan nya yang berjaga di belakang.


Sedangkan Mapatih Warigalit yang lolos dari serangan maut itu, bergerak cepat ke arah belakang Patih Tundungwaja. Dengan cepat ia menusuk pinggang sang punggawa sepuh Istana Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini dengan Tombak Angin milik nya.


Jllleeeeeppppphhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Serangan maha cepat sang perwira sepuh Panjalu itu langsung menembus pinggang hingga perut Patih Tundungwaja. Lelaki tua yang sudah mengabdi puluhan tahun untuk Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini roboh ke tanah setelah Mapatih Warigalit mencabut bilah tajam Tombak Angin dari tubuhnya. Patih Tundungwaja kelojotan sebentar lalu diam tak bergerak lagi.


Teriakan keras dari Patih Tundungwaja sontak membuat Adipati Arya Natakusuma pun mengalihkan pandangannya pada mereka. Melihat orang tua yang sudah bersamanya selama beberapa tahun terakhir ini tewas bersimbah darah, Adipati Arya Natakusuma langsung melesat cepat kearah Mapatih Warigalit yang masih berdiri menatap ke arah mayat lelaki tua itu.


"Gelap Ngampar..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"


Gelombang besar cahaya biru kehitaman dengan cepat menerjang maju ke arah Mapatih Warigalit. Jarak yang begitu dekat, membuat semua orang berpikir pasti sang Mapatih Warigalit akan tewas terkena ilmu kanuragan yang di lepaskan oleh Adipati Arya Natakusuma.


Saat itu, sekelebat bayangan melesat cepat kearah punggung sang warangka praja Istana Kotaraja Daha ini dan menghadang laju pergerakan Ajian Gelap Ngampar.


Blllaaammmmmmmm!!!


Asap tebal membumbung tinggi ke angkasa setelah ledakan dahsyat itu terjadi. Namun asap putih itu segera menghilang tersapu angin semilir yang berhembus dari selatan. Mata Adipati Arya Natakusuma terbelalak lebar melihat sesosok tubuh lelaki bertubuh tegap dengan cahaya kuning keemasan menutupi seluruh tubuhnya.


"Matur nuwun Dhimas Prabu Jayengrana untuk pertolongannya..", ujar Mapatih Warigalit segera dan sosok lelaki bertubuh tegap yang tidak lain adalah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana itu segera mengangguk perlahan.


"Kita adalah saudara seperguruan Kakang Warigalit.. Tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada ku untuk ini semua..", ucap Prabu Jayengrana kalem tapi sangat berwibawa.


Dari arah samping kanan, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Prabu Jayengrana dan Mapatih Warigalit.


"Maaf Ananda terlambat untuk membantu, Kanjeng Romo Prabu, Paman Warigalit", ucap Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Prabu Jayengrana.


"Untuk dia, biar saya saja yang menghadapi nya.."


Selepas bicara demikian, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Adipati Arya Natakusuma. Melihat pergerakan cepat kearah nya, sang penguasa daerah Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini langsung mengumpulkan tenaga dalam nya pada telapak tangan. Gumpalan cahaya biru kehitaman pun semakin membesar di tangan sang Adipati muda itu. Dia berencana untuk menjatuhkan Panji Tejo Laksono saat sang pangeran muda ini sampai di dekat nya.


Saat mereka berdua tinggal selangkah jaraknya, Adipati Arya Natakusuma segera menghantamkan tapak tangan kanan ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu pun sontak menyambut serangan itu dengan Ajian Brajamusti yang sudah di persiapkan saat bergerak cepat ke arah Adipati Arya Natakusuma.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!


Ledakan dahsyat terdengar kembali dari depan pintu gerbang selatan Istana Katang-katang yang porak poranda. Baik Panji Tejo Laksono dan Adipati Arya Natakusuma tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Panji Tejo Laksono terdorong mundur 2 tombak jauhnya sedangkan Adipati Arya Natakusuma hampir 4 tombak. Ini menandakan bahwa sebenarnya Panji Tejo Laksono jauh lebih unggul dibandingkan dengan penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini.


Darah segar meleleh keluar dari sudut bibir Adipati Arya Natakusuma. Sembari mengusap sisa darah yang keluar dari mulut nya, Adipati Arya Natakusuma menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


'Sesuai yang di katakan oleh orang orang, Pangeran Panji Tejo Laksono memang berilmu tinggi. Aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri ku jika tidak ingin mati konyol sia-sia'


Adipati Arya Natakusuma segera merentangkan kedua tangannya ke samping badannya. Tiba-tiba saja, muncul cahaya biru terang yang cukup menyilaukan mata dari tubuh Adipati Arya Natakusuma. Seluruh cahaya biru terang ini memancarkan hawa panas yang sanggup membuat orang lain di sekitarnya kepanasan. Perlahan cahaya ini membungkus seluruh tubuh Adipati Arya Natakusuma hingga wujud nya mirip dengan makhluk biru yang menakutkan. Ini adalah bentuk dari Ajian Raga Iblis Biru yang menjadi ajian pamungkas milik nya yang sangat terkenal di seputar wilayah Kadipaten Bhumi Sambara Mataram.


Secepat kilat, Adipati Arya Natakusuma menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu pun segera merapal mantra Ajian Tameng Waja yang segera membuat seluruh tubuh nya di lapisi dengan cahaya kuning keemasan.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Terdengar suara keras saat hantaman tangan kanan Adipati Arya Natakusuma yang diliputi oleh cahaya biru terang Ajian Raga Iblis Biru, memukul dada Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu tersurut mundur beberapa langkah ke belakang namun dia masih baik-baik saja. Setelah itu Panji Tejo Laksono menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Adipati Arya Natakusuma sembari menghantamkan tangan kanannya ke arah kepala sang adipati muda.


Bhhhaammmmmmmm!!


Adipati Arya Natakusuma segera tersungkur ke tanah dan berguling beberapa kali hingga hampir 2 tombak jauhnya. Namun Ajian Raga Iblis Biru yang membuat nya memiliki peningkatan kekuatan yang luar biasa membuat nya segera berdiri lagi. Dia langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Saling pukul, saling tendang dan saling sikut pun segera terjadi di antara mereka berdua.


Lebih dari 20 jurus berlalu...


Adipati Arya Natakusuma yang mulai gusar karena tidak bisa menjatuhkan Panji Tejo Laksono mencabut keris pusaka yang ada di pinggangnya. Dia langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menusukkan keris pusaka berlekuk 7 itu ke dada sang pangeran muda.


Thhrraaanggg!!!


Suara logam keras yang sedang beradu terdengar saat keris pusaka Adipati Arya Natakusuma menusuk dada Panji Tejo Laksono. Mata Adipati Arya Natakusuma membeliak lebar tatkala ia melihat keris pusaka di tangannya bahkan tidak sanggup melukai kulit ari sang pangeran muda. Panji Tejo Laksono hanya menyeringai lebar melihat itu semua. Sang pangeran muda dengan cepat memutar tubuhnya lalu melayangkan tendangan keras kearah perut Adipati Arya Natakusuma.


Bhhhuuuuuuggggh..


Auuuggghhhhh!!!


Sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini langsung terhuyung huyung mundur sambil memegangi perutnya yang sakit seperti baru di hantam balok kayu besar. Saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono langsung bersedekap tangan di depan dada yang kemudian memunculkan sebuah keris pusaka yang memancarkan cahaya kuning keemasan.


Itu adalah Keris Nagasasra yang bersemayam dalam tubuh Panji Tejo Laksono. Keris pusaka itu bukan hanya sanggup membunuh seorang manusia tapi juga mampu menghabisi nyawa para makhluk halus.


Dengan cepat, Panji Tejo Laksono langsung melompat maju ke arah Adipati Arya Natakusuma. Tangan kanannya pun segera menghujamkan Keris Nagasasra ke dada sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram. Adipati Arya Natakusuma yang sebelumnya begitu memamerkan kemampuan Ajian Raga Iblis Biru sama sekali tidak berusaha untuk menghindar dari hujaman Keris Nagasasra.


"Hahahaha...


Ayo sini Pangeran Panji Tejo Laksono! Tusuk bagian tubuh ku yang kau su...."


Jllleeeeeppppphhh!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Jerit keras Adipati Arya Natakusuma terdengar saat Keris Nagasasra menembus ulu hati tembus ke punggung nya. Matanya melotot lebar seakan tak percaya melihat Ajian Raga Iblis Biru nya mampu di tembus oleh Keris Nagasasra.


"B-bagaimana mung..kinnnn...?!!"


Saat Panji Tejo Laksono mencabut Keris Nagasasra dari ulu hati Adipati Arya Natakusuma, lelaki tampan berkumis tipis itu segera terhuyung huyung mundur sambil memegangi dadanya yang bolong. Darah segar memancar keluar dari luka tusukan di ulu hati nya ini. Setelah itu, Adipati Arya Natakusuma pun roboh ke tanah dan tak lama kemudian dia tewas bersimbah darah.


Melihat itu, para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara yang masih tersisa langsung melemparkan senjata mereka masing-masing sebagai tanda menyerah. Kematian para petinggi Kadipaten Bhumi Sambara Mataram telah membuat mental bertarung mereka runtuh apalagi ribuan orang prajurit Panjalu dari Ksatrian Kadri sudah datang mengepung mereka dari berbagai penjuru mata angin. Jangankan untuk menang, bisa hidup tanpa luka saja sudah merupakan suatu keberuntungan bagi mereka semua.


Panji Tejo Laksono segera mendekati Prabu Jayengrana dan Mapatih Warigalit usai mengkandaskan perlawanan Adipati Arya Natakusuma.


"Kau hebat, anak ku..


Sudah sepantasnya bagi mu untuk menerima hadiah untuk keberhasilan mu menyelamatkan Istana Katang-katang dari para pengacau ini..", ujar Prabu Jayengrana sambil menepuk pundak sang anak.


"Saya hanya menjalankan tugas sebagai salah satu dari ksatria Panjalu, Kanjeng Romo Prabu..


Namun sebelum itu, saya minta Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk menilai kinerja para mahamantri yang sama sekali tidak bergerak menghadapi kejadian ini. Seharusnya ini adalah tanggung jawab mereka sebagai punggawa Istana Kotaraja Daha", ujar Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada Sang Maharaja Panjalu itu segera.


Hemmmmmmm...


Prabu Jayengrana mengelus jenggotnya yang mulai beruban. Dia nampak berpikir keras sebelum kemudian berkata,


"Kau benar putraku..


Saatnya untuk perubahan..".