Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Suara Tanpa Wujud


Tumenggung Murdaya segera menoleh ke arah belakang dan melihat Panji Tejo Laksono berdiri di belakangnya.


"Gus-gusti Pangeran Panji Tejo Laksono??", ucap Tumenggung Murdaya setengah tak percaya melihat munculnya Panji Tejo Laksono secara tiba-tiba di belakang tubuhnya. Dia kini sadar, tanpa bantuan saluran tenaga dalam tingkat tinggi dari Panji Tejo Laksono ke tubuhnya, jelas dia sudah tewas di tangan Resi Sanggabuana.


"Mundurlah Tumenggung Murdaya..


Biar aku saja yang menghadapi orang tua aneh itu", ujar Panji Tejo Laksono sembari melangkah melewati samping kanan Tumenggung Murdaya yang masih berdiri di tempatnya.


"Tapi Gusti Pangeran, ini adalah tugas hamba sebagai penjaga istana Kadipaten Kalingga.


Biarkan hamba yang menghadapi perusuh itu", ucap Tumenggung Murdaya segera.


"Kau bukan lawannya, Murdaya. Mundur!!", terdengar suara berat Adipati Aghnibrata dari arah pintu samping balai tamu kehormatan. Seketika itu juga, Tumenggung Murdaya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum berjalan mendekati Adipati Aghnibrata.


Tempat itu semakin banyak di datangi oleh orang orang Istana Kadipaten Kalingga. Semuanya kini sudah bersiap untuk menangkap perusuh kedamaian itu dengan senjata mereka masing-masing.


Resi Sanggabuana menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang kini berjalan mendekati nya. Tindak tanduk pemuda tampan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sedikitpun pada sang pertapa tua itu.


"Apa kau yang bernama Panji Tejo Laksono?", tanya Resi Sanggabuana sembari melotot ke arah sang pangeran muda dari Kadiri.


"Benar aku Panji Tejo Laksono. Aku rasa aku tidak pernah berurusan dengan mu sebelumnya, kakek tua..


Lalu kenapa kau membuat kekacauan di tempat ini?", ganti Panji Tejo Laksono bertanya kepada Resi Sanggabuana.


"Aku Resi Sanggabuana, Si Langkah Kilat dari Selatan. Kita memang tidak ada masalah sebelumnya tapi aku kemari untuk menuntut balas atas kematian murid kesayangan ku yang sudah kau bunuh tempo hari ", ujar Resi Sanggabuana sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.


"Siapa murid mu, kakek tua?


Aku Sama sekali tidak tahu menahu tentang murid kesayangan mu itu", Panji Tejo Laksono sedikit mengernyitkan keningnya pertanda bahwa dia sedang berpikir keras.


"Kau mungkin tidak tahu bahwa Tumenggung Gurunwangi yang kau bunuh di tepi Hutan Koncar kemarin mempunyai seorang guru seperti aku.


Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi Panji Tejo Laksono ", Resi Sanggabuana mengepalkan tangannya erat-erat sambil mendengus keras saat menyebut nama mendiang Tumenggung Gurunwangi.


"Oh jadi kau guru dari otak pemberontakan terhadap Kerajaan Panjalu itu rupanya..


Baik, jika kau ingin menuntut balas atas kematian murid mu, maka akan ku layani permintaan mu. Majulah Resi Sanggabuana!"


Usai berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono langsung bersiap untuk bertarung. Menggunakan ilmu silat Padas Putih nya, dia menyiapkan kuda-kuda ilmu silat tangan kosong itu segera. Melihat Panji Tejo Laksono sudah bersiap untuk bertarung, Resi Sanggabuana mendengus keras lalu menjejak tanah dengan satu hentakan kuat. Tubuh tua lelaki berjanggut putih panjang itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan tangan kanannya ke arah dada.


Whuuthhh whuuthhh!


Dengan begitu lincahnya, Panji Tejo Laksono menangkis dan menahan serangan tangan kosong itu. Pertarungan ilmu silat tangan kosong berlangsung sengit hingga beberapa jurus lamanya.


Selepas 15 jurus berlalu, Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara setelah Resi Sanggabuana menyapukan kaki kanan pada betis kaki sang pangeran muda dari Kadiri.


Melihat serangan nya mentah, Resi Sanggabuana segera memutar tubuhnya sembari melakukan gerakan cepat dengan tangan membentuk cakar seperti cakar seekor macan kearah perut sang putra tertua Prabu Jayengrana itu.


Shhraaaaaakk..!


Sambaran cakar tangan berselimut hawa dingin berdesir kencang itu langsung di sadari oleh Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini terlambat beberapa saat hingga cakar tangan Resi Sanggabuana mampu merobek baju nya sekaligus melukai kulit perut sang pangeran meski tidak terlalu dalam.


Panji Tejo Laksono buru buru melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Melihat perutnya yang terluka itu, sang pangeran muda dari Kadiri ini terlihat kesal.


Setelah mengusap darah segar yang meleleh keluar dari lukanya, Panji Tejo Laksono langsung bersedekap tangan di depan dada sembari memejamkan matanya. Mulutnya komat-kamit merapal mantra Ajian Tameng Waja miliknya. Perlahan sinar kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.


Sementara itu, Resi Sanggabuana menyeringai lebar setelah berhasil melukai Panji Tejo Laksono. Pertapa tua yang berdandan layaknya seorang pengemis di pasar besar ini merentangkan kedua tangannya lebar lebar ke samping kanan dan kiri tubuhnya. Setelah itu ia menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Selarik sinar biru gelap berhawa dingin menusuk tulang tercipta dari telapak tangan Resi Sanggabuana. Ini adalah tahap akhir Ajian Tapak Penghancur Gunung yang di beri nama Tapak


Asal tahu saja, Resi Sanggabuana adalah adik seperguruan Resi Wangsanaya dari Saunggalah. Keduanya berguru kepada Dewa Guru Ragamulya dari Kedewaguruan Gunung Tangkuban Parahu. Resi Sanggabuana mengajarkan dasar Ajian Tapak Penghancur Gunung pada Tumenggung Gurunwangi, lalu Tumenggung Gurunwangi atas perintah Resi Sanggabuana mendatangi Resi Wangsanaya di Saunggalah untuk menyempurnakan ilmu nya hingga tahap akhir.


Begitu Ajian Tapak Penghancur Gunung sudah sempurna, Resi Sanggabuana segera melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono yang kini badannya bersinar kuning keemasan.


"Tapak Penghancur Semesta...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt !!"


Ledakan dahsyat terdengar saat sinar biru gelap berhawa dingin yang di lepaskan oleh Resi Sanggabuana tepat menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Debu dan asap tebal menutupi sekitar tempat Panji Tejo Laksono berdiri hingga sosoknya seperti hilang terkena hantaman Ajian Tapak Penghancur Gunung.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Mampus kau bocah keparat!! Kini Gurunwangi tersenyum lebar dari atas Swargaloka..


Huahahahahahaha !!!"


Tawa keras terdengar dari mulut Resi Sanggabuana begitu melihat tubuh Panji Tejo Laksono tertelan oleh debu dan asap tebal yang membumbung tinggi ke udara. Dia begitu yakin bahwa sang pangeran muda dari Kadiri itu sudah menemui ajalnya.


Namun tawa keras dan senyum lebar itu mendadak sirna begitu asap tebal yang menutupi seluruh tempat itu mereda. Di tempatnya Panji Tejo Laksono masih berdiri tegak tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berada. Malahan sang putra tertua Prabu Jayengrana itu terlihat tersenyum tipis menatap ke arah nya. Ini semakin membuat Resi Sanggabuana terkejut bukan main.


Dalam ingatan nya, terngiang cerita gurunya Dewa Guru Ragamulya yang pernah bercerita tentang sebuah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mampu menahan semua ilmu ajian kesaktian apapun di muka bumi. Menurut Dewa Guru Ragamulya, ilmu kanuragan itu adalah ilmu yang diturunkan langsung oleh para dewa di Kahyangan kepada seorang Resi di Gunung Mahameru sebagai hadiah atas pertapaan nya yang mengguncang Swargaloka.


'Ajian Tameng Waja.. Bocah keparat ini rupanya memiliki ilmu dewa. Pantas saja Gurunwangi dengan mudah dia habisi.


Keparat...


Aku tidak akan kalah dari bocah keparat ini!', batin Resi Sanggabuana sembari menggeram keras.


"Apa sudah cukup kau menyerang, Resi Sanggabuana?


Jika iya maka sekarang giliran ku untuk menyerang balik", setelah berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono yang sudah merapal mantra Ajian Sepi Angin nya, melesat cepat bagaikan terbang ke arah Resi Sanggabuana. Gerakannya yang begitu cepat layaknya anak panah dilepaskan dari busurnya, membuat Resi Sanggabuana sedikit terkejut juga namun pertapa tua berpakaian compang camping itu segera mempersiapkan Ajian Tapak Penghancur Gunung untuk menyambut kedatangan serangan Panji Tejo Laksono.


Tangan kanan Panji Tejo Laksono yang sudah berwarna merah menyala seperti api berkobar akibat sinar merah kekuningan dari Ajian Tapak Dewa Api langsung menghantam ke arah Resi Sanggabuana yang segera menyambut serangan itu dengan tapak tangan kanan nya.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!


Ledakan dahsyat kembali terdengar. Panji Tejo Laksono terdorong mundur 10 langkah kaki ke belakang. Sementara Resi Sanggabuana terpental hampir 4 tombak jauhnya dari tempat mereka beradu ajian kanuragan. Lelaki tua berjanggut panjang itu langsung muntah darah segar setelah tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Rupanya Ajian Tapak Penghancur Gunung nya mental ke tubuhnya sendiri.


Semua orang yang menonton pertarungan itu langsung menarik nafas lega begitu melihat Resi Sanggabuana terkapar di tanah.


"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memang hebat.. Patut menjadi suami dari Gusti Putri Ayu Ratna", puji Tumenggung Murdaya yang berdiri di samping Adipati Aghnibrata. Mendengar perkataan itu, Adipati Aghnibrata tersenyum simpul.


"Kemampuan beladiri nya memang tinggi, Murdaya..


Ayahanda nya Gusti Prabu Jayengrana juga memiliki kemampuan beladiri yang sangat tinggi. Tak heran jika bakat nya menurun pada putranya", sahut Adipati Aghnibrata untuk menatap ke arah tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Resi Sanggabuana.


Panji Tejo Laksono mengatur nafasnya yang sedikit tersengal setelah menerima hantaman Ajian Tapak Penghancur Gunung. Meski Ajian Tameng Waja sempurna melindungi tubuh nya, namun tenaga dalam nya cukup banyak terkuras juga usai mengeluarkan tiga ajian pamungkas sekaligus. Untung saja dia memiliki Ajian Dewa Naga Langit yang dengan cepat mampu mengembalikan tenaga dalam nya kembali seperti semula. Perlahan, Panji Tejo Laksono berjalan mendekati Resi Sanggabuana dengan penuh kewaspadaan.


"Apa kau masih ingin meneruskan pertikaian antara kita, Resi Sanggabuana?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Huuuuooogggghhh..


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Bocah keparat..!!


Kau jangan jumawa lebih dulu. Aku masih belum kalah bangsat!".


Resi Sanggabuana segera bangkit dari tempat jatuhnya sembari mengusap sisa darah segar yang masih menempel di sudut bibir dan janggutnya. Saat ini dia akan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ajian Danawa yang selalu menjadi ilmu kanuragan pamungkas nya. Kedua tangannya terentang lebar ke samping kanan dan kiri tubuhnya lalu menangkup di atas kepala seperti tengah melakukan puja bakti terhadap dewa.


Angin dingin segera berdesir kencang melingkar di sekitar tempat Resi Sanggabuana berdiri. Debu dan daun daun beterbangan menyebar ke seluruh balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga. Ini membuat semua orang yang menonton pertarungan itu segera mengambil jarak jauh dari tempat itu.


Sinar hijau segera tercipta di sekitar tubuh Resi Sanggabuana. Perlahan otot tubuhnya mulai membesar dan terus membesar. Ini juga membuat tubuh sang Langkah Kilat dari Selatan ini membesar hampir 5 kali lipat dari tubuh manusia pada umumnya. Kulitnya pun berubah menjadi hijau tua. Inilah Ajian Danawa, sebuah ajian pamungkas yang sangat di takuti oleh para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat.


Melihat itu, Panji Tejo Laksono terperanjat juga. Tanpa menunggu lama lagi dia segera merapal mantra Ajian Waringin Sungsang nya untuk bersiap menghadapi Ajian Danawa milik Resi Sanggabuana. Namun tiba-tiba saja muncul sesuatu yang di luar perkiraan. Sebuah suara berat tanpa wujud terdengar di telinga semua orang yang ada di tempat itu.


"Sanggabuana..


Hentikan angkara murka mu!"