
Sepanjang waktu itu, Panji Tejo Laksono sama sekali tidak memperhatikan segala omongan Pendeta Wang Chun Yang dan Gubernur Wu Ming. Pandangan nya nampak terus memperhatikan Dai Ruo Ruo, Xiong Hu dan Xiao Xing.
Ini juga di sadari oleh Wu Xiao Rong dan Huang Lung. Dua orang gadis cantik yang menaruh perhatian pada sang pangeran muda dari Kadiri itu nampak sedikit kesal dengan sikap Panji Tejo Laksono. Mereka curiga Panji Tejo Laksono yang terus menatap ke arah Dai Ruo Ruo, telah jatuh hati pada perempuan cantik yang sudah berumur itu.
"Pendekar Thee,
Apa yang membuat mu terus menatap ke arah meja makan di sudut ruangan itu? Apa kau mengenal mereka?"
Pertanyaan Wu Xiao Rong serta merta menghentikan percakapan antara Pendeta Wang Chun Yang dan Gubernur Wu Ming. Pimpinan Aliran Chun Yang itupun ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Wu Xiao Rong.
'3 pimpinan Sekte Bendera Tujuh Warna..
Bagaimana bisa mereka ada di sini? Apa mereka juga sedang mengejar Huang Lung?'
Berbagai pertanyaan melintas di kepala pendeta Tao ini sembari melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang sepertinya punya sebuah pikiran terhadap 3 orang yang sedang duduk di meja makan yang sedikit tersisih dari pandangan.
"Saudara Thee,
Maafkan keponakan ku karena sudah bersikap lancang pada mu. Mohon tidak menjadi pikiran yang buruk tentang nya. Xiao Rong, kau jaga sikap mu di depan Saudara Thee..", ujar Gubernur Wu Ming sembari menoleh ke arah Wu Xiao Rong.
"Tapi Paman, aku...."
"Nona Xiao Rong tidak salah, Gubernur Wu. Saya saja yang kurang sopan hingga tak memperhatikan omongan Gubernur Wu. Mohon dimaafkan", Panji Tejo Laksono menghormat pada Gubernur Wilayah Shou dengan cara khas Tanah Tiongkok. Melihat ini, Gubernur Wu Ming langsung tersenyum tipis.
"Saudara Thee sungguh rendah hati..
Kalau begitu, aku permisi dulu. Kalau ada perlu apa apa, silahkan Saudara Thee dan Pendeta Wang menghubungi pihak istana gubernur.
Rong Er, ayo kita pulang ke istana", setelah menghormat pada Panji Tejo Laksono dan Pendeta Wang, Gubernur Wu meninggalkan tempat itu bersama Wu Xiao Rong yang terlihat ogah-ogahan perginya. Sepertinya dia masih ingin tinggal lebih lama lagi bersama Panji Tejo Laksono.
Setelah Gubernur Wu Ming pergi, pelayan penginapan dengan cekatan mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan mereka masing-masing. Panji Tejo Laksono mendapat kamar tidur terbaik, bersebelahan dengan kamar Luh Jingga dan Huang Lung. Sementara Pendeta Wang Chun Yang mendapatkan tempat yang sedikit jauh dari kamar tidur mereka. Gumbreg, Ludaka, Rajegwesi dan Rakryan Purusoma mendapatkan kamar tidur di lantai bawah bersama dengan para pengiring mereka.
Tiga pasang mata terus mengawasi pergerakan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Setelah tahu apa yang mereka ingin tahu, ketiga orang ini pergi meninggalkan tempat itu.
Menjelang sore, tiba-tiba saja hujan turun dari langit. Mengguyur wilayah Kota Shou hingga menyebabkan semua kegiatan penduduk nya terhenti.
Saat itu, serombongan orang berpakaian layaknya pendekar memasuki penginapan dengan maksud untuk berteduh sekaligus membeli makanan.
"Duh kenapa sih tiba tiba hujan turun?", gerutu salah seorang gadis cantik sembari mengibaskan rambutnya yang basah. Gadis cantik itu masih muda, sekitar berusia 2 dasawarsa. Tubuhnya langsing dengan kulit putih dan matanya yang terlihat lebih lebar di bandingkan kebanyakan para penduduk Negeri Tiongkok. Bajunya yang putih dengan sedikit hiasan biru semakin memperindah tampilan sang gadis muda ini.
"Iya Tuan Putri, padahal tadi langit cerah sekali seperti akan cerah sepanjang hari. Kota ini memang aneh", sambung seorang pemuda yang sedikit lebih muda yang bertubuh gemuk di banding gadis cantik itu tadi.
"Chai Yuan,
Jaga bicaramu, jangan asal panggil aku dengan sebutan Tuan Putri di tempat seperti ini. Panggil aku dengan sebutan Nona Besar Song. Ingat itu...
Kau bilang kau hapal betul daerah sini, tapi kenapa hal sekecil ini saja kau tak tahu? Kau sedang menipu ku ya?", si gadis muda nan cantik itu melotot ke arah sang pemuda.
"Tidak berani, Ah Yuan tidak akan berani menipu Tuan Putri eh maaf Nona Besar.
Biasanya di musim semi, di Kota Shou tidak pernah hujan pada awal. Hujan selalu di akhir. Tapi sepertinya ini di luar kebiasaan Nona Besar", jawab Chai Yuan sambil membungkukkan badannya sedikit takut dengan amarah gadis cantik itu.
"Kau terlalu banyak alasan, seharusnya.."
Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan janggut panjang langsung memotong omongan si gadis cantik itu, "Nona Besar Song, tolong kendalikan amarah mu".
Mendengar perkataan itu, si gadis cantik yang di panggil dengan nama Nona Besar Song ini langsung menoleh ke arah nya. Lelaki paruh baya ini adalah pengawal setia nya sejak berangkat dari Kota Kaifeng hingga Xiangyang. Mereka semua dalam perjalanan pulang ke Ibu Kota Kekaisaran Song, Kaifeng setelah selesai melaksanakan tugas yang mereka terima.
"Tapi Paman Chen, dia...."
"Aku mengerti kekesalan Nona Besar Song, tapi ini semua bukan kesalahan Chai Yuan. Aku juga mengerti dengan keadaan cuaca di Kota Shou, jadi mohon Nona Besar Song tidak mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu.
Sebaiknya setelah hujan reda kita ke Istana Gubernur Wu untuk menginap. Mereka pasti gembira melihat kedatangan kita", ujar lelaki paruh baya yang di panggil dengan nama Paman Chen itu segera.
"Huhhhhh, aku malas untuk bertemu dengan Wu Xiao Rong. Perempuan ular bisa bisa membuat tidur ku tak nyenyak, lebih baik kita bermalam di sini saja", ujar Nona Besar Song sambil membuang muka. Rupanya dia sangat membenci Wu Xiao Rong, keponakan Gubernur Wu Ming. Entah ada masalah apa antara mereka berdua.
"Kalau Nona Besar Song ingin demikian, saya tidak akan keberatan.
Chai Yuan,
Cepat pesankan kamar tidur untuk kita semua", perintah Paman Chen sambil menoleh ke arah Chai Yuan yang masih diam saja tak bergerak dari tempatnya berdiri.
Chai Yuan segera mengangguk mengerti dan bergegas menemui pemilik penginapan untuk menyewa kamar tidur bagi Nona Besar Song dan para pengawal nya.
Tak berapa lama kemudian, Chai Yuan kembali bersama beberapa pelayan penginapan yang segera mengantar mereka ke kamar tidur yang mereka sewa.
Hujan deras terus mengguyur wilayah Kota Shou. Sesekali terdengar suara guruh dan kilat petir menyambar hingga membuat suasana semakin terasa dingin.
Malam semakin larut. Hujan deras telah mereda namun gerimis masih juga turun membasahi bumi.
Brruuugggggh..!
Auuuggghhhhh !!
Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera membalikkan badannya dan menangkap tubuh Nona Besar Song. Ilmu meringankan tubuh Panji Tejo Laksono yang tinggi, membuat tubuhnya dengan mudah melayangkan turun ke lantai bawah penginapan sembari memeluk pinggang Nona Besar Song.
Mata indah Nona Besar Song langsung terpaku pada wajah tampan sosok yang menolong nya meski Panji Tejo Laksono nampak lebih tenang saat membawa Nona Besar Song turun ke lantai bawah. Bahkan setelah sampai di lantai bawah pun, Nona Besar Song masih juga tidak berkedip menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Nona, kita sudah selamat. Apa kau baik-baik saja?"
Ucapan Panji Tejo Laksono dengan suara berat namun berwibawa langsung menyadarkan Nona Besar Song yang pikiran nya entah melayang kemana. Gadis cantik itu segera menunduk sambil tersipu malu dengan sikap nya sendiri. Saat Panji Tejo Laksono melepaskan pelukannya pada pinggang, Nona Besar Song seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup nya.
Melihat Panji Tejo Laksono hendak melangkah pergi, buru buru Nona Besar Song bicara, " Tuan Muda tunggu dulu".
"Iya Nona, apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?", Panji Tejo Laksono tersenyum ramah.
"Aku aku ingin sekali berterimakasih kepada mu, Tuan Muda. Kau sudah menolong ku tadi.
Kalau boleh tau, siapa namamu Tuan Muda?
Aku Song Zhao Meng. Semua orang yang akrab dengan ku memanggil ku Meng Er", Nona Besar Song tersenyum manis.
"Namaku Tejo Laksono.. Kawan kawan ku biasanya memanggil ku dengan sebutan Saudara Thee, Nona Meng Er", balas Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Thee Jo?
Sepertinya Tuan Muda bukan orang Kekaisaran Song ya? Darimana Tuan Muda berasal?", Nona Besar Song penasaran. Memang di lihat dari segi manapun, Panji Tejo Laksono tetap tidak bisa terlihat seperti orang Tionghoa pada umumnya. Matanya yang lebar juga kulit nya yang kuning langsat benar benar tidak bisa menipu asal usul nya meski belakangan ia sering menggunakan pakaian khas Negeri Tiongkok sebagai baju ganti.
Secara singkat, Panji Tejo Laksono segera menceritakan tentang kisah asal usul nya dan bagaimana dia bisa sampai di tempat itu. Nona Besar Song manggut-manggut mendengar semua penjelasan dari Panji Tejo Laksono.
"Oh jadi kau duta besar dari Negeri di Laut Selatan yang ingin berkunjung ke Istana Kekaisaran Song ya?
Kebetulan sekali, aku bisa mengantar mu menemui Kaisar Huizong secara pribadi. Apa kau tertarik untuk bersama dengan ku ke Ibukota Kaifeng?", Nona Besar Song tersenyum penuh arti.
"Nona Meng Er,
Aku berterimakasih sekali atas tawaran mu. Tapi Pendeta Wang Chun Yang dan Saudara Huang Lung sudah berjanji untuk mengantar ku menemui Kaisar Huizong.
Aku tidak enak hati dengan mereka", ujar Panji Tejo Laksono menolak halus tawaran Nona Besar Song.
Huhhhhh..
"Pendeta busuk itu hanya bisa mengantar mu di tempat pertemuan umum saja. Jika bukan kerabat dekat Istana, tidak di perbolehkan untuk menemui Yang Mulia Kaisar Huizong secara pribadi", Nona Besar Song seperti nya tidak suka di tolak keinginan nya.
Mendengar perkataan Nona Besar Song seketika membuat Panji Tejo Laksono berfikir bahwa gadis cantik di depannya ini pasti bukan wanita sembarangan. Setidaknya dia adalah kerabat dekat Istana Kekaisaran Song.
"Kalau tidak merepotkan Nona Meng Er, aku sangat senang dan berterima kasih kepada Nona", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Nona Besar Song. Gadis cantik itu langsung tersenyum lebar mendengar ucapan sang putra tertua Prabu Jayengrana.
Saat mereka tengah asyik mengobrol tiba-tiba dua buah jarum berwarna hijau melesat cepat kearah mereka.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Telinga Panji Tejo Laksono yang peka langsung menangkap suara jarum berwarna hijau yang di lemparkan dengan tenaga dalam tingkat tinggi itu. Panji Tejo Laksono langsung memutar telapak tangan kanannya. Sang pangeran muda itu mengumpulkan sebagian tenaga dalam nya lalu menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah samping tanpa memalingkan wajahnya dari tatapan Nona Besar Song.
Blllaaaaaarrr thraakkkk!!
Terdengar suara ledakan keras di sertai oleh asap putih serta hancur nya jarum berwarna hijau itu di udara. Saat yang bersamaan, sepuluh orang meluncur turun dari atas atap bangunan penginapan dan mendarat di sekeliling tempat Panji Tejo Laksono dan Nona Besar Song berada.
"Kau boleh juga, pemuda tampan bermata lebar!", hardik seorang lelaki kemayu yang ternyata adalah Xiao Xing. Disampingnya ada Dai Ruo Ruo dan Xiong Hu juga beberapa anggota Sekte Bendera Tujuh Warna.
Ledakan keras tadi rupanya memicu kedatangan para pengawal pribadi Nona Besar Song dan para prajurit Panjalu. Mereka dengan cepat bersiap untuk bertarung. Huang Lung, Pendeta Wang Chun Yang, Luh Jingga dan seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu pun muncul di belakang setelah mereka di kagetkan dengan suara keras ledakan tadi.
Melihat munculnya banyak orang mengepung mereka, Xiao Xing langsung menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Nona Besar Song. Dia segera mencabut sepasang pisau belati yang tersembunyi dibalik pinggangnya sambil berkata,
"Xiong Hu, Dai Ruo Ruo..
Rupanya kita sedang beruntung. Niatnya cuma merebut stempel giok naga tapi justru ada ikan besar yang ada di depan mata hahahaha", ujar Xiao Xing sembari tertawa keras.
"Hahahaha kau benar, Racun Hijau..
Sekarang bagaimana cara kita selesaikan ini semua?", Xiong Hu memutar senjata nya sembari menyeringai lebar menatap ke sekeliling nya. Xiao Xing tersenyum kemayu lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan Nona Besar Song sambil berkata,
"Kalian urusi Huang Lung dan Pendeta busuk itu secepatnya. Jangan main-main lagi.
Pemuda tampan ini bagian ku!"