Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ksatria Lama


Demit Ireng terkejut bukan main dengan kemunculan sosok lelaki paruh baya bertubuh kekar ini. Matanya yang terlatih untuk melihat di kegelapan malam dapat melihat bahwa sosok lelaki berpakaian bangsawan ini bukan ksatria sembarangan. Terbukti dia mampu berdiri di atas pucuk pepohonan layaknya menapak tanah dan kehadiran nya tak bisa di rasakan olehnya.


"Bangsat tua ! Kau muncul seperti hantu saja..


Siapa kau?", tanya Demit Ireng setelah mengatasi keterkejutannya. Sosok lelaki paruh baya itu hanya tersenyum saja sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Yang pantas bertanya itu aku. Siapa kau dan apa tujuan mu berbuat keributan di tempat ini?", sosok berpakaian bangsawan yang tak lain dan tak bukan adalah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana ini balik bertanya pada Demit Ireng.


"Setan Alas !


Ditanya malah balik bertanya. Kalau kau memang tidak ada urusannya dengan Panji Tejo Laksono, sebaiknya kau menyingkir dari jalan ku atau kau ingin cepat menghadap pada Sang Dewa Kematian ha?", Demit Ireng membentak keras sembari mendelik tajam ke arah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana seolah ingin menakuti sang Raja Panjalu ini dengan tatapan matanya.


"Ada hubungannya atau tidak, itu bukan urusanmu. Tapi yang jelas kau sudah menciptakan keributan di tempat ini, maka dari itu kau layak mendapatkan hukuman mati", nada suara yang dingin dan menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya terucap dari bibir Prabu Jayengrana.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Hanya karena mampu mengimbangi ku dalam ilmu meringankan tubuh, kau sudah jumawa sekali orang tua..


Aku Demit Ireng bukanlah orang yang mudah kau kalahkan!", ucap Demit Ireng sembari menjejak pucuk pohon besar tempatnya mengamati situasi pertarungan antara anak buahnya melawan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Tubuh Demit Ireng langsung melesat cepat kearah Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


Whhhuuutthh.. !!


Satu hantaman keras di layangkan oleh Demit Ireng pada sang Raja Panjalu itu. Dengan sedikit menggeser tubuhnya, Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana menghindari hantaman tangan Demit Ireng. Dengan gerakan cepat sikut sang Raja Panjalu itu segera mendarat di rusuk kanan Demit Ireng.


Dheeepppppphh..


Oouuugghhhhhh !!


Demit Ireng melengguh keras saat sikutan keras Panji Watugunung mendarat di rusuknya. Anak buah Resi Mpu Wisesa itu terhempas ke bawah, namun tangan kanan nya masih sempat menggapai pucuk ranting pohon hingga dia berhasil bertahan. Sekali hentak, tubuh Demit Ireng yang seringan kapas melenting tinggi dan mendarat di depan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


Pertarungan sengit dengan ilmu silat tangan kosong pun terjadi.


Adu pukulan dan tendangan pun berlangsung seru. Meski Demit Ireng mengerahkan seluruh kemampuan beladiri tangan kosong nya, namun Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana adalah jagoan lama ilmu silat Padas Putih dari Bukit Tawang. Setiap gerakannya selalu terbaca oleh Sang Maharaja Panjalu hingga hanya terkesan seperti bocah baru belajar silat melawan seorang pendekar kawakan.


Dalam 10 jurus saja, Panji Watugunung sudah berhasil mendaratkan setidaknya 4 pukulan dan tendangan keras ke tubuh Demit Ireng sedangkan sang pesuruh Kelompok Bulan Sabit Darah ini tak sekalipun mampu melakukannya.


Sementara itu di luar tembok balai tamu kehormatan, ratusan prajurit Seloageng sudah mengepung tempat itu setelah ledakan keras terdengar saat pertama kali. Di pimpin oleh Senopati Gardana, mereka membentuk pagar betis untuk mencegah para perusuh itu melarikan diri.


Demit Ireng dengan cepat menghantamkan tangan kanannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke arah dada Prabu Jayengrana. Sedikit menggeser posisi tubuhnya, Prabu Jayengrana dengan cepat mencekal pergelangan tangan Demit Ireng dan menariknya dengan keras.


Sentakan kuat ini membuat Demit Ireng kehilangan keseimbangan dan tubuhnya hendak jatuh ke tanah. Prabu Jayengrana dengan cepat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah punggung Demit Ireng yang oleng.


Dhhiiieeeeesssshhh !!


Aaauuuuggggghhhhh !!


Tubuh Demit Ireng segera meluncur turun ke bawah pohon dan menghantam tanah dengan keras. Tendangan keras dari kaki kanan Panji Watugunung tadi terasa seperti hantaman balok kayu besar pada punggungnya hingga nafasnya terasa begitu sesak. Meski geram dan sedikit tersengal-sengal mengatur nafasnya, Demit Ireng bangkit dari tempat jatuhnya sembari mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Matanya melotot tajam ke arah Panji Watugunung yang meluncur turun dari atas pohon dengan indahnya dan mendarat dua tombak di depannya.


Sisa anggota nya yang masih hidup yaitu Peri Randu, Jerangkong Kuburan, Buto Ijo, Genderuwo Pandan dan Setan Gundul segera meninggalkan Lawannya dan bergegas mendekati sang pimpinan yang nampaknya sudah menderita luka dalam.


"Demit Ireng, bagaimana keadaan mu?", tanya Buto Ijo segera.


"Aku tidak apa-apa, tapi bajingan tua ini rupanya bukan bangsawan biasa. Kita harus berhati-hati jika berhadapan dengan nya", ujar Demit Ireng sembari meringis usai mengurut dada nya yang terasa sesak.


"Branjangkawat, Tuyul Alas, Memedi Sawo, Bajang Kerek dan Banaspati sudah tewas di tangan Panji Tejo Laksono dan dua orang perempuan itu. Rupanya Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya merupakan pendekar pendekar muda berilmu tinggi.


Kalau di teruskan, sepertinya kematian kita semua hanya menunggu waktu. Kita tidak boleh mati konyol di sini, Demit Ireng ", ucap Genderuwo Pandan sembari menatap tajam kearah Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang bergegas mendekati Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


"Kau benar, Genderuwo Pandan..


Kalau begitu salah satu dari kita harus bisa lolos dari tempat ini untuk melaporkan semua ini pada pimpinan ketujuh. Kita harus bersedia mengorbankan diri agar tujuan pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah tercapai.


Kau satu-satunya perempuan di kelompok kita. Sebaiknya kau yang melarikan diri saat kami membuat sibuk Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya", ucap Demit Ireng sembari menoleh ke arah Peri Randu. Perempuan bertopeng itu segera mengangguk mengerti. Yang lainnya pun segera bersiap untuk membuat jalan bagi Peri Randu kabur.


Sementara Demit Ireng dan kawan-kawan nya menyusun rencana pelarian dari tempat itu, Panji Tejo Laksono langsung menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana yang tegak berdiri memandang ke arah kelompok Demit Ireng.


"Terimakasih atas bantuannya, Kanjeng Romo", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Aku tidak membantu apa-apa, Tejo Laksono..


Sejak awal kehadiran mereka, aku sudah tahu. Ku kira mereka hanya lewat saja, tak tahunya malah mencari masalah dengan mu. Kita harus mencari keterangan dari pihak mereka, tentang siapa dalang dari semua ini karena aku yakin mereka hanya para pembunuh bayaran", jawab Prabu Jayengrana yang tak melepaskan pandangannya dari kelompok Demit Ireng.


"Kalau begitu, kita tangkap saja salah satu dari mereka, Ayahanda Maharaja. Lalu kita tanyai mereka. Kalau sampai tidak mengaku, kita siksa mereka di penjara biar kapok.


Gemas sekali aku dengan mereka", Song Zhao Meng ikut nimbrung dalam obrolan antara ayah dan anak itu. Mendengar perkataan Song Zhao Meng, Prabu Jayengrana hanya tersenyum saja.


Genderuwo Pandan, Jerangkong Kuburan, Buto Ijo, Setan Gundul dan Demit Ireng langsung melesat ke arah Prabu Jayengrana, Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga. Demit Ireng yang masih penasaran dengan Prabu Jayengrana, kembali menerjang maju ke arah Maharaja Panjalu itu. Sementara Buto Ijo dan Genderuwo Pandan yang ingin membalas dendam kematian Branjangkawat langsung mengepung Panji Tejo Laksono. Sedangkan Setan Gundul dan Jerangkong Kuburan kembali mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Pertarungan sengit kembali terjadi di antara mereka.


Demit Ireng kini mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk beradu nyawa dengan Prabu Jayengrana. Dia bermaksud untuk mengeluarkan Ajian Segoro Geni yang menjadi ilmu kanuragan pamungkas nya selama ini.


Kedua tangan Demit Ireng segera tertangkup di depan kemudian saling bergesekan hingga menciptakan asap putih yang berhawa panas. Mulut Demit Ireng terus merapal mantra Ajian Segoro Geni nya. Dari kedua telapak tangan yang tertangkup di depan dada, bola sinar merah menyala seperti api perlahan tercipta dan terus membesar seiring berjalannya waktu.


"Sira ratuning geni.. Jagat ira jagat geni..


Langit ira langit geni.. Segoro ira Segoro Geni..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt ...!!!"


Demit Ireng segera menghantamkan bola sinar merah menyala berhawa panas itu ke arah Prabu Jayengrana yang masih berdiri di tempatnya. Selubung tubuh sang Maharaja Panjalu berwarna kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Prabu Jayengrana yang tersenyum tipis saat Ajian Segoro Geni yang di lepaskan oleh Demit Ireng telak menghantam tubuhnya.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar. Asap putih tebal membumbung tinggi ke udara bersamaan dengan debu beterbangan di sekitar tempat Prabu Jayengrana berdiri. Mata Demit Ireng membeliak lebar melihat Prabu Jayengrana berjalan keluar dari asap tebal yang menutupi tempatnya berdiri. Sang Maharaja Panjalu itu sama sekali tidak cidera atau terluka dalam.


"Aku akan melepaskan mu, jika kau mengatakan siapa dalang dari semua keributan ini, Kisanak..


Tapi kalau kau masih membangkang, jangan salahkan aku jika bertindak kejam", ucap Prabu Jayengrana sambil menunggu jawaban dari Demit Ireng.


Chuuuihhhhhh...


"Lebih baik aku mati daripada harus menjadi seorang pengkhianat, ksatria lama..", ucap Demit Ireng sembari kembali merapal mantra Ajian Segoro Geni nya.


"Keras kepala kau rupanya. Kalau begitu, cukup sudah perlawanan mu hari ini Kisanak", usai berkata demikian tiba tiba saja Prabu Jayengrana menghilang dari pandangan mata Demit Ireng. Namun di kejap waktu berikutnya, mata Demit Ireng melotot lebar saat tangan Prabu Jayengrana telah mencekik lehernya.


Belum sempat Demit Ireng berkata, sebuah sinar biru kehijauan segera terlontar dari mulut Sang Maharaja Panjalu dan langsung mengikat tubuhnya. Rasa sakit segera menyerang seluruh tubuh Demit Ireng.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Raungan keras terdengar dari mulut Demit Ireng saat Ajian Waringin Sungsang yang di gunakan oleh Prabu Jayengrana menghisap tenaga dalam dan daya hidup sang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah. Perlahan tubuhnya menghitam dan mengering bersamaan dengan darah segar yang mengalir keluar dari mulut, hidung, telinga dan mata Demit Ireng. Saat Ajian Waringin Sungsang menyedot habis semua tenaga dalam dan daya hidup Demit Ireng, Prabu Jayengrana segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke dada lawan.


Hiyyyyaaaaaaaatttttt...


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Tubuh Demit Ireng langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Disaat yang bersamaan, Peri Randu yang melihat ada kesempatan untuk melarikan diri langsung melesat cepat kearah luar tembok istana Kadipaten Seloageng sembari berkata lirih,


"Saudara saudara ku, aku pasti akan kembali pada Panji Tejo Laksono dan orang-orang nya,


Untuk balas dendam!"