
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Gayatri, Luh Jingga, Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ayu Ratna memicingkan mata mereka ke arah gadis cantik berbaju hijau muda ini seolah mencoba untuk menelisik seluruh tubuh sang perempuan cantik itu karena ada yang merasa mengenal nya namun lupa-lupa ingat dengan si gadis cantik.
"Kau... En... dang Patibrata bukan?", Gayatri menunjuk ke arah perempuan cantik berbaju hijau muda ini dengan sedikit ragu kalau dia salah setelah dia melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono dan berjalan mendekati si gadis cantik yang berdiri di depan Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg ini.
"Ah ternyata Nini Gayatri masih belum lupa pada ku..", decak Endang Patibrata sembari tersenyum lebar.
"Wah aku pangling dengan penampilan mu sekarang, Nini Endang Patibrata..
Kau sekarang tambah cantik saja ya?", pujian dari Gayatri jujur mengakui bahwa memang Endang Patibrata jauh lebih cantik daripada yang dulu. Sekarang, Endang Patibrata menang bisa lebih berdandan layaknya seorang wanita bangsawan, bukan seorang gadis desa yang lugu. Kecantikan alami nya tak kalah dengan Luh Jingga maupun Ayu Ratna, meskipun belum bisa mengungguli Dyah Kirana.
"Ah Nini Gayatri terlalu memuji..
Saya masih gadis desa yang dulu pernah Kakang Tejo Laksono dan Nini Gayatri temui di Wanua Pulung", ucap Endang Patibrata merendah. Semua istri Panji Tejo Laksono tersenyum tipis mendengar jawaban itu karena senang dengan sikap Endang Patibrata yang rendah hati.
"Oh iya, aku ingin memperkenalkan Endang Patibrata sebagai saudari baru kalian.
Ini adalah Endang Patibrata, putri Paman Singo Manggolo kakak dari Cempluk Rara Sunti selir keempat Kanjeng Romo Prabu Jayengrana.
Nah mulai sekarang, kau Endang Patibrata harus memanggil Gayatri, Luh Jingga, Ayu Ratna, Dewi Wulandari dan Dyah Kirana sebagai Kangmbok mu", semua istri Panji Tejo Laksono langsung mengangguk mengerti saat nama mereka di sebut satu persatu oleh sang pangeran muda.
"Mohon bimbingannya ya Kangmbok semuanya..
Kalau ada tindak tanduk Patibrata yang kurang baik, mohon diingatkan agar saya bisa memperbaiki diri", ujar Endang Patibrata sembari menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada dan membungkuk hormat kepada para istri Panji Tejo Laksono.
Sementara para istri Panji Tejo Laksono saling berkenalan, Demung Gumbreg menatap mereka dengan penuh rasa iri.
"Andai saja Pergiwa dan Juminten bisa akur seperti mereka, pasti aku tidak perlu pusing dengan waktu bersama keluarga", gumam Demung Gumbreg yang sempat terdengar oleh telinga Tumenggung Ludaka.
"Sekalipun kau lebih tua dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, tapi urusan perempuan kau tak lebih dari seorang bocah berusia setengah dasawarsa jika dibandingkan dengan beliau, Mbreg...
Badan mu saja yang gede tapi otak mu kecil seperti otak udang hehehehe", ejek Tumenggung Ludaka sembari terkekeh geli.
"Kampret kau Lu..
Ini semua juga gara-gara kau. Pokoknya kalau sampai mereka ribut lagi seperti kemarin, kau harus ikut tanggung jawab ", omel Demung Gumbreg segera.
"Enak saja..
Kau yang dapat perempuan nya, aku pula yang harus pusing memikirkannya? Tidak mau! Kemarin itu, bantuan ku yang pertama dan terakhir untuk urusan mu dengan Juminten dan Pergiwa. Setelah itu, aku tidak sudi", ucap Tumenggung Ludaka sambil membuang muka.
"T-tapi Lu..."
Belum selesai Demung Gumbreg bicara, tangan kanan Tumenggung Ludaka terangkat ke atas.
"Cukup! Urusan itu kita bicarakan nanti saja..
Yang lebih penting, sekarang kita harus mengawal Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono karena sekarang dia adalah seorang Mahamantri I Sirikan, jabatan tertinggi punggawa Istana Kotaraja Daha setelah Mapatih Warigalit. Urusan mu, jangan di bahas sekarang..", pungkas Tumenggung Ludaka.
"Sial, kau mau menghindar dari tanggung jawab ya?
Awas saja kalau kau sampai tidak membantu ku mengha..
Aaauuuuggggghhhhh!!!! Kenapa kau hempppphhhh hemmmmppppp....", Tumenggung Ludaka langsung menginjak kaki Demung Gumbreg lalu segera membekap mulutnya untuk menghentikan ocehan nya karena dari arah samping kanan Istana Kadipaten Seloageng, Patih Sindupraja dan Patih Umbara dari Tanah Perdikan Lodaya berjalan mendekati tempat mereka berada.
"Tutup mulut mu dan diamlah!!
Ada sesuatu yang penting seperti nya sekarang", bisik Tumenggung Ludaka yang membuat Demung Gumbreg mengangguk mengerti. Usai melihat itu, Tumenggung Ludaka segera melepaskan bekapan tangannya.
"Sembah bakti kami kepada Nakmas Pangeran Adipati", ujar Patih Sindupraja yang diikuti dengan sembah pada sang pangeran muda. Patih Umbara turut membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Berdirilah Kanjeng Romo Patih dan kau Paman Patih Umbara.."
Begitu mendengar titah sang pangeran muda, kedua orang warangka praja sepuh di masing-masing daerah ini segera bangkit dari tempat mereka menyembah.
"Ada apa ini? Kenapa Paman Patih Umbara juga ada di istana ku?", tanya Panji Tejo Laksono kemudian.
"Hamba kemari atas suruhan dari Gusti Pangeran Arya Tanggung sang Penguasa Tanah Perdikan Lodaya, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", ucap Patih Umbara segera.
"Kalau memang demikian, sebaiknya kita bicarakan di Pendopo Agung Kadipaten Seloageng saja, Paman Patih Umbara..
Mari silahkan..", setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono segera melangkah ke Pendopo Agung Kadipaten Seloageng diikuti oleh semua orang.
Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya ke atas sebagai tanda persetujuan dari nya untuk Patih Umbara melanjutkan omongannya.
"Silahkan diteruskan Paman Patih Umbara.."
"Mohon ampun bila kedatangan saya tidak di saat yang tepat, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono..
Saya datang kemari atas suruhan dari Gusti Pangeran Arya Tanggung untuk menagih janji yang pernah Gusti Pangeran Adipati ucapkan saat datang ke Istana Lodaya tempo hari. Lantas apa jawaban dari Gusti Pangeran Adipati?", Patih Umbara menyembah pada Panji Tejo Laksono usai bicara.
Hemmmmmmm...
"Aku tidak akan ingkar janji atas apa yang pernah aku janjikan, Paman Patih Umbara..
Tolong sampaikan kepada Paman Pangeran Arya Tanggung bahwa Panji Tejo Laksono akan datang ke Istana Lodaya sepekan lagi dari sekarang. Paman Pangeran Arya Tanggung bisa mempersiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ku dengan Dewi Rara Kinanti sebelum aku datang kesana..", titah sang pangeran muda ini saat itu juga.
"Kalau memang begitu adanya, hamba mohon pamit pulang ke Lodaya Gusti Pangeran Adipati..
Terimakasih atas keramahtamahan yang di berikan kepada hamba selama tinggal di Istana Kadipaten Seloageng. Hamba mohon undur diri", Patih Umbara segera menyembah pada Panji Tejo Laksono sebelum beringsut mundur dari tempat itu. Wajah lelaki tua itu cerah karena berhasil menjalankan tugas yang diberikan oleh junjungan nya.
Selepas kepergian sang warangka praja Istana Lodaya, suasana di dalam pendopo agung itu kembali ceria dengan celoteh para istri Panji Tejo Laksono yang ribut dengan pengaturan waktu untuk menemani malam sang pangeran muda. Kembali Dyah Gayatri yang menjadi penengah antara mereka dan membagi waktu antara mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Sepekan berlalu dengan cepat...
Matahari pagi mulai mengintip dari balik gunung Kelud sebagai pertanda bahwa pagi telah datang. Suara keras Kokok ayam jantan yang bersahutan dari kandang mereka masing-masing seakan menjadi penanda waktu dan perintah agar semua orang mulai menjalankan tugasnya setelah semalaman terlelap dalam buaian mimpi yang indah.
Panji Tejo Laksono menggeliat bangun dari tempat tidur nya. Saat mata sang penguasa Kadipaten Seloageng ini terbuka, dia melihat sosok Luh Jingga yang sudah merapikan rambutnya setelah mandi pagi. Semalam suntuk mereka berbagi cinta dan kasih sayang dengan begitu mesra. Bahkan menjelang pagi tiba, Luh Jingga yang ingin secepatnya memperoleh momongan dari sang suami seperti Dyah Gayatri, meminta agar Panji Tejo Laksono sekali lagi bercinta dengan nya. Senyum lebar terukir di wajah tampan Panji Tejo Laksono dan dia segera bangun dari pembaringan nya usai memakai celana pendek selutut berwarna hitam nya.
Luh Jingga yang masih asyik bercermin sembari merapikan rambutnya yang basah sedikit kaget karena sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya yang ramping. Namun itu hanya sebentar saja karena begitu dia melihat Panji Tejo Laksono yang melakukannya, senyum lebar tersungging di wajah cantik alami sang putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini.
"Kau sudah bangun Kangmas Pangeran?", tanya Luh Jingga sembari meneruskan kegiatannya.
"Seperti yang kau lihat Dinda Jingga..
Aku sudah ada di belakang mu sekarang..", jawab Panji Tejo Laksono sembari mencium lembut pipi sang istri. Luh Jingga tersenyum menerima perlakuan mesra sang suami.
"Apa hari ini juga Kangmas Pangeran harus berangkat ke Lodaya?", kembali Luh Jingga bertanya.
"Iya Dinda Jingga..
Aku harus pergi ke Lodaya pagi ini. Percayalah, ini semua ku lakukan demi tetap tegaknya Kerajaan Panjalu. Bukan hanya sekedar nafsu semata", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Aku mengerti itu Kangmas Pangeran..
Berangkatlah ke Lodaya dan bawa pulang Nini Dewi Rara Kinanti ke Seloageng. Kami semua para istri mu, menunggu kedatangan mu kembali. Jangan lupa ajak Nimas Endang Patibrata untuk menemani perjalanan mu agar dia merasa nyaman dengan semua keadaan yang kau alami", ujar Luh Jingga sambil tersenyum penuh arti. Endang Patibrata memang sudah dinikahi oleh Panji Tejo Laksono, dua hari yang lalu.
Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti dan kembali mencium pipi Luh Jingga sebelum bergegas menuju ke arah tempat mandi di belakang Istana Kadipaten Seloageng.
Setelah matahari sepenggal naik ke langit timur, rombongan pengantin dari Seloageng berangkat menuju ke arah Tanah Perdikan Lodaya. Tak kurang 1000 orang prajurit mengawal sang penguasa Kadipaten Seloageng. Naratama dan Senopati Gardana memimpin para prajurit pengawal sang pangeran muda. Dalam rombongan itu, ada pula Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang ditugaskan oleh Prabu Jayengrana untuk mengikuti kemanapun langkah kaki sang pangeran muda.
Beberapa kereta kuda yang mengangkut beberapa hadiah dan barang seserahan pernikahan termasuk 50 ekor kerbau dan kuda ada di belakang rombongan ini.
Begitu sampai di tepi Sungai Kapulungan tepatnya di wilayah Wanua Ranja yang memiliki dermaga penyeberangan ke wilayah Tanah Perdikan Lodaya, rombongan itu berhenti sejenak. Beberapa nahkoda kapal besar yang terikat pada tiang pancang dermaga, langsung memerintahkan kepada para anak buahnya untuk membantu para prajurit menaikkan barang ke atas kapal penyeberangan.
Saat itu, Panji Tejo Laksono yang sedang duduk di kursi kayu jati yang ada di bawah pohon rindang dekat dermaga penyeberangan sambil menatap ke arah para prajurit nya, merasakan sesuatu yang sedang mengancam nyawa tengah bergerak cepat ke arah nya.
Whhhuuuuuusssshhh!!
Panji Tejo Laksono langsung menyambar pergelangan tangan Endang Patibrata dan melompat menghindari cahaya merah kehitaman yang langsung menghantam tempat duduknya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar dan ini langsung memantik perhatian dari seluruh prajurit pengawal pribadi sang pangeran muda. Semuanya langsung mencabut senjata mereka masing-masing dan bergerak cepat menuju tempat Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata berada.
"Gusti Pangeran, kau tidak apa-apa?", tanya Tumenggung Ludaka yang datang paling awal karena berada tak jauh dari tempat Panji Tejo Laksono.
"Aku baik-baik saja, Paman Ludaka.. Serangan itu datang dari arah sana..", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah barat. Mata semua orang langsung tertuju ke arah yang ditunjuk oleh sang pangeran. Dari arah itu muncul seorang lelaki sepuh berambut panjang kemerahan dengan bersama dengan empat orang bertopeng.
"Panji Tejo Laksono.!!
Hari ini kau harus mati!!"