
"Kawan baru? Kalian kawan baru ku?", Sriati seolah tak percaya mendengar jawaban Gayatri.
"Tentu saja Nisanak. Sekarang tolong kau jelaskan siapa nama mu dan apa yang sedang terjadi sebenarnya?", tanya Gayatri dengan lembut.
"Namaku Sriati, ayah ku adalah seorang Lurah Wanua Panawijen di barat Pakuwon Tumapel. Saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari Wanua Pucung menghadiri undangan pernikahan anak Lurah Wanua Pucung, di tengah jalan kami di hadang oleh Danarjati dan orang-orang Padepokan Ular Siluman. Ayah ku berusaha melawan mereka tapi dia bukan tandingan Danarjati dan..
Huhuhuhuhu....
Danarjati membunuh ayah di depan mata ku huhuhuhuhu...", tangis Sriati langsung pecah begitu teringat dengan kejadian yang baru saja ia alami. Gayatri segera memeluk tubuh Sriati untuk meredam emosi gadis berkulit sawo matang itu.
Di temani oleh Panji Tejo Laksono dan Naratama, Sriati beserta Gayatri dan Dyah Kirana menyaksikan pemakaman ayahnya. Air mata Sriati terus berlinang membasahi pipinya saat Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka memasukkan tanah ke liang lahat tempat peristirahatan sang Lurah Wanua Panawijen.
Setelah pemakaman Lurah Wanua Panawijen selesai, Panji Tejo Laksono menawari Naratama dan Sriati untuk sementara bersama dengan mereka sebelum mencapai tujuan. Sriati dan Naratama yang tidak punya pilihan lain dengan malu-malu menerima tawaran dari sang adipati Seloageng.
Rombongan Panji Tejo Laksono segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah timur. Sriati kini menumpang kereta kuda yang menjadi kendaraan utama rombongan itu sedangkan Naratama yang masih belum sembuh benar dari luka akibat pertarungan dengan kelompok Danarjati, ikut duduk di samping Demung Gumbreg yang menjadi kusir kereta kuda.
"Selanjutnya kemana tujuan mu Sriati? Apa kau ingin kembali ke Panawijen?", tanya Gayatri segera.
"Saya masih bingung dengan apa yang harus saya lakukan, Nyi Tantri. Jika pulang ke Panawijen, saya pasti hanya akan menjadi budak dari ibu tiri saya yang menguasai seluruh harta Kanjeng Romo Lurah.
Tapi kalau saya tidak pulang kesana, lantas kemana lagi? Mendiang ibu hanya anak tunggal yang tidak memiliki saudara. Saya sebatang kara di dunia ini", air mata Sriati kembali berlinang membasahi pipinya.
"Kalau kau bersedia, ikutlah denganku Sriati. Kau bisa bantu-bantu aku berdagang kain. Nanti saat aku pulang ke Panjalu, kau bisa tinggal bersama dengan aku, Kirana maupun Jingga", ujar Gayatri sembari tersenyum tipis.
Mendengar tawaran dari Gayatri, Sriati tersenyum dan segera mengangguk tanda setuju.
"Kalau begitu, kita nanti ke mampir dulu ke Panawijen untuk mengambil beberapa barang ku Nyi Tantri. Ada beberapa peninggalan mendiang ibu ku yang ingin aku ambil disana. Toh jika ingin ke Tumapel, kita mesti melewati Panawijen lebih dulu", ujar Sriati segera.
"Benar, Kangmbok Tantri..
Itu memang searah dengan Tumapel. Jadi kita menyempatkan diri sebentar sebelum melanjutkan perjalanan", imbuh Dyah Kirana sembari mengangguk setuju.
Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah timur. Memasuki wilayah Wanua Siganggeng, dengan kelancaran dan sopan santun yang di miliki oleh Gayatri, mereka berhasil membeli seekor kuda sebagai kendaraan untuk Naratama. Ini di lakukan agar perjalanan mereka semakin cepat karena beban kereta kuda menjadi berkurang.
Selepas meninggalkan Wanua Siganggeng, pada tengah hari mereka memasuki tapal batas wilayah Wanua Panawijen. Sriati meminta Gumbreg menghentikan laju kereta kuda nya di depan sebuah rumah besar yang terletak di tepi jalan raya menuju ke arah Pakuwon Tumapel.
Rumah itu di kelilingi oleh halaman luas dengan sebuah pendopo di depannya. Ada beberapa pohon besar yang tumbuh di depan nya seperti pohon sawo dan rambutan yang membuat suasana terasa begitu sejuk karena rindangnya daun daun pepohonan. Dua orang lelaki nampak sedang menyapu halaman luas itu dari daun-daun yang berguguran tertiup angin. Mereka berdua sedikit terkejut melihat kedatangan Sriati yang turun dari kereta kuda yang cukup bagus kalau untuk ukuran orang desa.
"Ndoro Putri Sriati, kog bisa bersama dengan kereta kuda itu? Ki Lurah Mpu Rino kemana?", berondongan pertanyaan terlontar dari mulut lelaki tua yang merupakan abdi ayah Sriati.
"Romo Lurah sudah di bunuh orang, Ki Bejo. Yang membunuhnya adalah Danarjati dan orang-orang nya yang tempo hari melamar ku untuk dijadikan istri keduanya", jawab Sriati sendu.
Kaget Ki Bejo mendengar jawaban itu. Segera dia teringat dengan kejadian tempo hari sesaat setelah Ki Lurah Mpu Rino dan Sriati berangkat ke Wanua Pucung untuk menghadiri undangan pernikahan anak Lurah Wanua Pucung. Kala itu Ki Bejo sempat mengintip Nyi Sulastri istri kedua Ki Lurah Mpu Rino yang juga merupakan ibu tiri Sriati sedang berbicara dengan Danarjati. Nyi Sulastri sempat menyerahkan sekantong kepeng perak kepada Danarjati kala itu. Hal ini menyebabkan Ki Bejo langsung punya pikiran buruk tentang Nyi Sulastri.
"Lantas apa yang akan Ndoro Putri Sriati lakukan setelah ini?", tanya Ki Bejo setelah termenung sejenak.
"Aku akan ikut Nyi Tantri berdagang kain, Ki Bejo. Aku pulang kemari hanya untuk mengambil beberapa barang peninggalan mendiang ibu ku. Mungkin setelah itu, aku tidak akan pernah kembali lagi kemari", jawab Sriati sembari segera melangkah menuju ke arah kamar tidur nya.
Tak berapa lama kemudian dia sudah kembali sambil membawa sebuah buntalan kain hitam berisi beberapa potong pakaian dan beberapa barang.
"Aku permisi dulu, Ki Bejo. Semoga kau dan putra mu sehat selalu. Aku mohon pamit", ujar Sriati sambil berlalu meninggalkan rumah Ki Lurah Mpu Rino itu. Setelah itu, Sriati segera naik ke atas kereta kuda dan rombongan pedagang yang menjadi samaran Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya bergerak meninggalkan tempat itu menuju ke arah Pakuwon Tumapel.
'Kasihan Ndoro Putri Sriati, dia menjadi korban dari keserakahan ibu tiri nya yang ingin menguasai harta benda peninggalan mendiang Ki Lurah Mpu Rino.
Lebih baik aku berhenti bekerja saja dari tempat ini. Aku tidak Sudi mengabdi pada perempuan serakah itu', batin Ki Bejo setelah melihat rombongan Panji Tejo Laksono yang semakin menjauh dari tempat itu. Setelah berhenti sebentar untuk makan siang di warung makan yang ada di tepi jalan raya, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan nya.
Saat hari menjelang sore, sebelum memasuki wilayah Kota Pakuwon Tumapel, tiba tiba..
Klleettthoookkkk !!!
Suara keras itu segera menghentikan laju pergerakan mereka. Demung Gumbreg segera melompat turun dari kudanya dan melangkah ke arah sumber suara. Roda kereta kuda sebelah kiri terperosok ke dalam lobang yang ada di pinggir jalan. Roda yang terbuat dari kayu itu pecah. Untung saja mereka tidak terguling jatuh karena ada sebuah tonggak kayu di tepi jalan menyangga badan kereta.
Panji Tejo Laksono, Naratama dan Tumenggung Ludaka segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing begitu pula dengan Sriati, Gayatri, Luh Jingga dan Dyah Kirana. Mereka semua segera mendekati Demung Gumbreg yang geleng-geleng kepala melihat rusaknya roda kereta kuda.
"Ada apa Paman Gudel?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Itu Ndoro Tejo, rodanya rusak terperosok ke dalam lobang. Sepertinya kita harus bermalam di sini sambil menunggu saya dan Ki Renggo memperbaiki roda kereta kuda sialan kita ini", gerutu Demung Gumbreg sembari menendang roda kereta kuda itu.
"Sudah tidak apa-apa.. Namanya juga musibah. Nyi Tantri, persiapkan semuanya untuk bermalam di tempat ini.
Aku akan mencari sesuatu yang bisa kita makan untuk tambahan makan malam kita semua. Mumpung masih belum terlalu sore, siapa tahu aku dapat menemukan babi hutan atau ayam hutan di depan sana", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Gayatri. Perempuan cantik itu segera mengangguk mengerti.
Menggunakan Ajian Sepi Angin, tubuh Panji Tejo Laksono menjadi seringan kapas. Dengan lincah, Panji Tejo Laksono melompat dari satu pucuk pohon ke pohon besar lainnya untuk mencari keberadaan ayam hutan atau babi hutan yang biasanya mencari makan di kawasan hutan yang ada sungai kecil nya. Luh Jingga mengekor Panji Tejo Laksono dengan ilmu yang berasal dari Kitab 5 Tapak Dewa. Ajian Langkah Dewa Bayu yang merupakan bagian dari Ajian Tapak Dewa Bayu. Meski tidak secepat Ajian Sepi Angin, namun setidaknya itu mampu mengimbangi pergerakan Panji Tejo Laksono.
Mereka berdua menyusuri sungai kecil yang membelah hutan itu karena melihat ada jejak babi hutan yang tercetak pada lumpur di bantaran sungai kecil dekat rombongan Panji Tejo Laksono hendak bermalam. Semakin lama mereka semakin masuk ke dalam hutan. Akhirnya apa yang mereka cari akhirnya ketemu juga. Seekor babi hutan jantan sedang asyik memakan buah nangka busuk yang jatuh di bantaran sungai. Tanpa menunggu lama, Panji Tejo Laksono segera meraih sebuah dahan pohon kering sebesar jempol kaki orang dewasa. Dengan menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi, Panji Tejo Laksono melemparkan dahan kering itu kearah perut sang babi hutan.
Whhhuuuggghhhh..
Jllleeeeeppppphhh.. Nggguuiiiikkkkkk!!!
Babi hutan itu menjerit keras. Dia tidak mati meski perutnya bolong setelah terkena lemparan ranting pohon kering dari Panji Tejo Laksono dan berlari kencang kearah timur. Melihat buruan mereka lari, Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga segera mengejar.
Kecepatan lari hewan buas itu di tambah rimbunnya pepohonan hutan kecil ini membuat Panji Tejo Laksono kesulitan menangkap nya meski mereka sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka masing-masing. Saat Luh Jingga melihat depan ada sebuah tempat yang cukup longgar untuk menghadang laju pergerakan babi hutan, Luh Jingga segera mencabut pedang nya. Bersalto dua kali dia mendahului langkah si babi hutan dan dengan cepat menebas leher babi hutan itu sekuat tenaga.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh ..!!
Nggguuiiiikkkkkk !!!
Babi hutan itu langsung roboh dengan kepala nyaris putus saking kuatnya pengaruh tebasan pedang Luh Jingga. Perempuan cantik berbaju merah kekuningan itu segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang tertegun menatap ke arah Utara. Luh Jingga yang penasaran langsung melompat tinggi ke udara mendekati Panji Tejo Laksono yang berdiri di ranting pohon besar.
"Ada apa Kangmas?", tanya Luh Jingga segera. Panji Tejo Laksono tidak menjawabnya tapi jari tangan nya menunjuk ke arah Utara. Luh Jingga segera menoleh ke arah yang dimaksud. Betapa kagetnya perempuan cantik itu melihat apa yang ada disana.
Ratusan barak prajurit terlihat berada di pinggir sebuah padang rumput yang luas. Di tengah-tengah padang rumput, ribuan orang prajurit dengan menggunakan jarit berwarna merah yang merupakan ciri khas prajurit Jenggala nampak sedang berlatih perang-perangan. Ada yang berlatih membabat kepala boneka dari pohon pisang dengan menunggang kuda. Ada yang mengadu kepandaian memainkan tombak. Ada pula yang berlatih bertarung dengan pedang dan tamengnya. Di sisi lainnya, ratusan orang prajurit sedang berlatih memanah.
"Hemmmmmmm...
Jadi rupanya mereka mempersiapkan para prajurit di tempat ini. Benar sudah kecurigaan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana bahwa Prabu Samarotsaha sedang menyusun kekuatan untuk menyerbu ke arah Panjalu", ujar Panji Tejo Laksono lirih namun masih terdengar oleh Luh Jingga.
"Lantas apa rencana Kangmas Pangeran selanjutnya? Kita kacaukan barak prajurit ini atau kita meneruskan perjalanan ke Tumapel?", tanya Luh Jingga segera.
"Kita tidak boleh bertindak gegabah dalam menghadapi situasi ini, Dinda Jingga. Sebaiknya kita kembali ke tempat yang lain. Nanti malam aku akan datang lagi ke tempat ini untuk mengetahui secara pasti apa rencana mereka selanjutnya. Ayo Dinda Jingga", usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono melompat turun ke arah babi hutan yang tergeletak di tanah. Dengan sekali sentak, Panji Tejo Laksono menyeret kaki babi hutan itu kearah tempat rombongan nya berada diikuti oleh Luh Jingga.
Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung disambut gembira oleh Gayatri, Dyah Kirana, Sriati, Naratama, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg. Mereka segera mengumpulkan kayu-kayu kering sebagai persiapan untuk membuat api unggun.
Langit barat semakin memerah pertanda senja sebentar lagi akan menghilang dari dunia. Kegelapan malam perlahan mulai menutupi seluruh dunia dengan cahaya bintang gemintang dan bulan separuh yang menggantung di langit Tumenggung Ludaka mulai menyalakan api pada tumpukan kayu kering itu yang segera menjalar membakar kayu. Demung Gumbreg langsung memutar babi hutan yang sudah di tusuk saat api mulai berkobar.
Bau harum daging babi hutan panggang benar-benar membuat air liur mereka seperti mau menetes saja. Sementara mereka asyik menunggu babi hutan panggang itu matang sempurna, mereka tidak menyadari bahwa Panji Tejo Laksono sudah tidak ada di tempat itu.
Kabut turun di kaki selatan Gunung Kawi hingga suasana malam itu terasa begitu dingin.
Di tenda besar yang ada di tengah barak prajurit yang sedang berlatih perang, seorang lelaki gagah bertubuh kekar sedang duduk di kursi yang di sediakan untuk nya. Kumisnya tebal melintang di wajahnya. Semua orang yang pertama kali melihatnya pasti langsung keder melihat seramnya wajah lelaki berusia sekitar 5 dasawarsa ini . Disampingnya seorang lelaki bertubuh cebol dengan kipas yang terbuat dari bambu terus mengipasi nya.
Dia adalah salah seorang punggawa prajurit Kadipaten Kanjuruhan yang merupakan pimpinan tertinggi di barak prajurit itu. Namanya Senopati Badraseta. Dia adalah salah satu perwira tinggi prajurit yang cukup disegani di kalangan keprajuritan Jenggala karena wibawa dan ilmu kanuragan nya yang tinggi.
Sedangkan lelaki cebol yang berdiri di sampingnya adalah Bungkik Janadipa, penasehat utama sekaligus adik seperguruan Senopati Badraseta di Perguruan Watu Belah di kaki Gunung Semeru sebelah selatan.
Di hadapannya, sekitar sepuluh orang bawahannya yang berpangkat Tumenggung, Juru, Demung dan Bekel sedang duduk bersila menanti titah sang pimpinan. Juga seorang yang memakai tudung pelindung kepala dari kain merah yang senantiasa menunduk hingga wajahnya sama sekali tidak terlihat. Meskipun begitu, semua orang bawahan Senopati Badraseta sepertinya terlihat ketakutan dengan sosok misterius ini.
Sosok bertudung merah itu baru saja mengulurkan sebuah nawala pada Senopati Badraseta. Usai membaca nawala itu dalam hati, kening Senopati Badraseta nampak berkerut seolah tidak begitu suka dengan isi nawala yang baru saja dibacanya.
"Jadi ini perintah yang kau bawa dari Istana Kotaraja Kahuripan, Merak Geni?", tanya Senopati Badraseta seraya menatap ke arah sosok yang bertudung merah itu.
"Itu adalah nawala yang di berikan langsung oleh Gusti Patih Simbarmanyura sendiri, Gusti Senopati. Mengenai isi di dalamnya saya kurang tahu", suara seorang perempuan terdengar dari balik tudung merah itu.
"Hemmmmmmm...
Dalam surat ini, Gusti Patih Simbarmanyura memerintahkan kepada ku agar aku secepatnya ber-..."
Belum selesai omongan Senopati Badraseta, Bungkik Janadipa sang penasehat utama menyilangkan kipas bambunya ke depan Senopati Badraseta. Tangan cebol nya segera berputar cepat lalu menghantam ke arah pintu tenda besar.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Dua buah senjata rahasia berbentuk seperti jarum sebesar lidi melesat cepat kearah luar.
Thhraaaangggggggg thraakkkk!!
Terdengar suara besi yang terhempas dan salah satu nya langsung melesat ke arah tiang tenda besar itu. Semua orang terkejut melihat itu semua. Segera mereka berdiri dan bersiap siaga. Bungkik Janadipa menggeram sembari berkata,
"Ada yang menguping pembicaraan kita.
Orang itu bersembunyi di dalam kabut".