Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Para Prajurit Penjaga Perbatasan


****


Sementara Panji Tejo Laksono dan rombongannya mulai bergerak meninggalkan Tanah Tiongkok, di Pendopo Agung Kadipaten Kalingga, Adipati Aghnibrata sedang mengadakan pertemuan dengan Senopati Muda Jarasanda, Mapanji Jayagiri, Gayatri dan Resi Tandi.


Kemarin seorang utusan dari Kadipaten Rajapura datang ke Istana Kalingga, membawa sebuah surat dari Adipati Waramukti yang isinya meminta agar Kalingga bergabung bersama mereka untuk memberontak terhadap kekuasaan Prabu Jayengrana di Daha. Jika pun Kalingga menolak membantu, Adipati Waramukti meminta agar Adipati Aghnibrata tidak menganggu Kadipaten Rajapura ataupun membantu para prajurit Panjalu.


Adipati Aghnibrata merasa bingung apa yang harus dia perbuat untuk memberikan jawaban tentang keputusan nya pada surat Adipati Waramukti. Mengutus seseorang ke daerah yang sedang keruh seperti Kadipaten Rajapura bisa sangat berbahaya bagi siapapun yang berangkat ke sana. Butuh seseorang yang berilmu tinggi yang bisa mempertahankan diri saat ada masalah yang mendekat.


Sikap Adipati Aghnibrata yang murung di atas singgasana nya ini terlihat jelas oleh Senopati Muda Jarasanda, Pangeran Mapanji Jayagiri, Resi Tandi dan Gayatri yang sedang menghadap padanya. Lelaki sepuh penguasa Kadipaten Kalingga ini nampak sedang berpikir keras saat Mapanji Jayagiri buka suara.


"Kanjeng Adipati Aghnibrata,


Kenapa risau sekali seperti ini? Setiap permasalahan pasti ada jalan nya", ucapan Mapanji Jayagiri seketika membuat Adipati Aghnibrata menatap ke arah nya.


"Apa maksud dari ucapan mu itu , Gusti Pangeran Jayagiri? Tolong beri hamba penjelasan agar hamba mampu memahami nya", ujar Adipati Aghnibrata segera.


Hemmmmmmm


"Yang Kanjeng Adipati Aghnibrata butuhkan adalah seorang pengantar nawala bukan? Aku bersedia melakukannya", jawab Mapanji Jayagiri dengan penuh keyakinan.


Mendengar jawaban itu Adipati Aghnibrata terkejut bukan main begitu juga dengan Senopati Muda Jarasanda, Resi Tandi dan Gayatri.


"Ta-tapi itu sangat berbahaya bagi keselamatan Gusti Pangeran. Hamba tidak berani kena murka Gusti Prabu Jayengrana jika sampai terjadi apa apa dengan Gusti Pangeran karena melakukan tugas ini", gagap Adipati Aghnibrata berbicara, mencoba mencegah keinginan Mapanji Jayagiri.


"Itu benar Gusti Pangeran. Gusti Ratu Ketiga pun juga akan menghukum berat hamba jika sampai Gusti Pangeran kenapa-napa. Itu terlalu berbahaya", ujar Senopati Muda Jarasanda segera.


"Kanjeng Adipati Aghnibrata dan Paman Jarasanda tidak perlu khawatir. Aku akan meminta Guru Resi Tandi untuk membayangi langkah ku dari jarak yang tidak terlalu jauh", Mapanji Jayagiri tersenyum simpul.


"Tapi Gusti Pangeran,...."


Belum sempat Adipati Aghnibrata menyelesaikan omongannya, Mapanji Jayagiri terlebih dulu sudah memotongnya.


"Kanjeng Adipati Aghnibrata,


Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk Kerajaan Panjalu layaknya Kangmas Pangeran Tejo Laksono yang sampai ke Negeri China untuk menjadi duta besar. Sebagai putra Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku harus siap menghadapi tantangan dan rintangan apapun demi tegaknya hukum di wilayah Panjalu Kanjeng Adipati. Jadi biarkan aku saja yang berangkat ke Rajapura untuk menjadi pengantar nawala Kalingga bagi Adipati Waramukti", usai berkata demikian, Mapanji Jayagiri mengedarkan pandangannya ke arah Adipati Aghnibrata dan Senopati Muda Jarasanda. Kedua orang pembesar Kerajaan Panjalu itupun tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar keteguhan hati sang putri ketiga Prabu Jayengrana ini.


"Kalau begitu, aku akan mendampinginya mu Gusti Pangeran. Dengan begitu, jika terjadi sesuatu pada mu, maka aku tidak perlu mencari alasan saat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono pulang dari Tanah Tiongkok", sahut Gayatri dengan cepat.


Resi Tandi tersenyum senang mendengar ucapan Gayatri karena bagaimanapun kemampuan beladiri Mapanji Jayagiri belum bisa di katakan sempurna, jadi dia lega jika Gayatri Si Dewi Topeng Waja membantu menjaga keselamatan pribadi sang pangeran muda dari Kadiri ini. Sedangkan Adipati Aghnibrata dan Senopati Muda Jarasanda akhirnya turut bernafas lega karena setidaknya ada Gayatri yang menemani Mapanji Jayagiri.


Keesokan harinya, dengan menggunakan pakaian penyamaran layaknya seorang pendekar jalanan, Gayatri dan Mapanji Jayagiri berkuda menuju ke arah Kadipaten Rajapura dengan membawa sepucuk surat Adipati Aghnibrata untuk penguasa Tanah Rajapura. Sedangkan Resi Tandi menggunakan ilmu meringankan tubuh nya untuk membayangi langkah mereka berdua.


Setengah hari perjalanan, Gayatri dan Mapanji Jayagiri sampai di tapal batas wilayah antara Kadipaten Rajapura dan Kalingga.


"Kangmbok Gayatri,


Kita meneruskan perjalanan atau berhenti sebentar? Sepertinya kuda kuda kita sudah terlihat lelah", ujar Mapanji Jayagiri setelah menarik tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kaki kuda hitam tunggangan nya.


"Kangmbok? Apa tidak salah Gusti Pangeran menyebut ku dengan sebutan seperti itu?", Gayatri sedikit terheran mendengar sapaan akrab kangmbok dari Mapanji Jayagiri karena itu adalah sapaan untuk saudara dekat saja.


"Hehehehe apa salahnya jika aku menyebut Kangmbok Gayatri dengan sebutan Kangmbok? Aku tahu loh kalau Kangmbok Gayatri ini adalah salah satu dari calon selir Kangmas Tejo Laksono", jawab Mapanji Jayagiri sembari tersenyum penuh arti.


"Hahhh? Darimana kau tahu semua itu Gusti Pangeran?", Gayatri yang baru saja melompat turun dari kudanya terkejut mendengar penuturan Mapanji Jayagiri.


"Semua orang di Istana Kadiri sudah mengetahui nya, Kangmbok. Itu adalah rahasia umum. Kanjeng Romo Prabu Jayengrana saja juga tahu hal itu.


Jadi sudah sepantasnya jika aku menghormati mu sebagai calon kakak ipar ku hehehehe", Mapanji Jayagiri terkekeh kecil sembari mengikat tali kekang kudanya di semak perdu yang tumbuh di tepi sungai kecil tempat mereka berhenti.


Mendengar jawaban itu, Gayatri pun hanya tersenyum kecut sembari ikut mengikat tali kekang kudanya di dekat rerumputan yang menghijau untuk memberi makan kudanya.


Mereka berdua segera menuju ke bawah pohon rindang yang tumbuh di dekat sungai kecil itu untuk beristirahat sejenak sembari mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.


Awan mendung kelabu berarak di angkasa menandakan bahwa sebentar lagi musim penghujan akan segera tiba. Burung burung cendet dan kutilang nampak berkicau di ranting pepohonan seakan menghibur Gayatri dan Mapanji Jayagiri melepaskan lelah di bawah pohon besar itu. Sayup sayup terdengar suara seruling yang di tiup menandakan bahwa ada perkampungan tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


Setelah cukup lama beristirahat, Gayatri dan Mapanji Jayagiri segera merapikan barang bawaan mereka dan kembali memacu kuda mereka menyeberangi sungai kecil yang menjadi batas wilayah antara Kadipaten Kalingga dan Rajapura.


Seorang prajurit Rajapura yang bertugas sebagai pengintai di atas pepohonan hutan, melihat kedatangan mereka berdua di kejauhan lantas memberikan isyarat kepada rekannya untuk memberi tahu pimpinan mereka yang di tugaskan untuk menjaga perbatasan. Dengan menggunakan tangga bambu, si rekan prajurit itu segera bergegas turun dari tempat pengintaian dan melapor ke pada seorang perwira rendah yang menjadi pimpinan regu prajurit penjaga perbatasan ini.


"Ampun Gusti Bekel,


Ada dua orang berkuda yang menuju ke arah tempat kita. Tampaknya mereka datang dari Kalingga", lapor si prajurit itu segera. Mendengar laporan itu, si perwira rendah ini yang tengah rebahan pada gubuk kayu kecil pos penjagaan keamanan ini langsung bangun.


"Semuanya cepat bersiaga! Lakukan sesuai dengan petunjuk. Cepat !!", teriak si perwira rendah prajurit Rajapura berpangkat Bekel ini dengan cepat. Sepuluh orang yang berjaga di tempat itu langsung menghunus senjata mereka masing-masing sementara dua orang pengintai di atas pohon segera menyiapkan anak panah mereka.


Saat Gayatri dan Mapanji Jayagiri sampai di tempat itu, si perwira rendah prajurit Rajapura yang bernama Bekel Kadru ini langsung berteriak lantang, "Berhenti !"


Gayatri dan Mapanji Jayagiri segera menarik tali kekang kudanya, kuda meringkik keras dan berhenti berlari. Kesepuluh prajurit Rajapura segera mengepung mereka berdua.


"Siapa kalian? Mau apa lewat tempat ini?", tanya Bekel Kadru sembari menatap tajam ke arah Gayatri dan Mapanji Jayagiri yang masih duduk di atas pelana kuda mereka.


"Kami adalah utusan Gusti Adipati Aghnibrata dari Kalingga, ingin menghaturkan surat Gusti Adipati Aghnibrata kepada Adipati Waramukti di Rajapura", jawab Mapanji Jayagiri segera.


"Berikan surat itu pada ku!


Semua orang asing di larang memastikan wilayah Kadipaten Rajapura tanpa terkecuali", ujar Bekel Kadru sembari mengulurkan tangannya untuk menerima surat yang diomongkan oleh Mapanji Jayagiri.


"Maaf Gusti Bekel...


Kami mendapat tugas dari Adipati Aghnibrata untuk menyampaikan langsung surat ini pada Adipati Waramukti. Jadi kami tidak bisa memberikan surat itu kepada mu", jawab Mapanji Jayagiri segera.


"Tuduhan mu semakin ngawur, Ki Bekel..


Kami ini utusan dari Kalingga. Tidak ada hubungannya dengan Istana Kadiri. Sebaiknya kalian tidak menggangu perjalanan kami atau kalian akan menyesal jika kami melaporkan tindakan kalian pada Adipati Waramukti", Gayatri yang tidak tahan lagi mendengar tuduhan Bekel Kadru ikut angkat bicara. Tapi hal itu justru semakin membuat Bekel Kadru marah.


"Kurang ajar !


Sok sok an mau melaporkan kami pada Gusti Adipati Waramukti. Prajurit Rajapura, geledah mereka. Jika menolak, kalian bisa menggunakan kekerasan. Aku yang akan bertanggung jawab!".


Teriakan keras dari Bekel Kadru yang merupakan perintah penggeledahan, langsung membuat para prajurit Rajapura yang mengepung Mapanji Jayagiri dan Gayatri dengan cepat menerjang maju. Dua orang prajurit yang terdepan, segera membabatkan pedang nya ke arah pinggang Mapanji Jayagiri.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!


Sambaran angin dingin berdesir kencang mengikuti tebasan pedang para prajurit Rajapura. Mapanji Jayagiri segera menepak punggung kudanya hingga hewan pelari itu segera bergerak maju sedangkan tubuh sang pangeran ketiga dari Kadiri ini melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang dua orang prajurit Rajapura. Begitu mendarat di tanah, dua orang prajurit bersenjatakan tombak langsung menusukkan senjatanya ke arah Mapanji Jayagiri.


Whuuthhh whuuthhh !!


Mapanji Jayagiri segera berkelit menghindari tusukan Tombak lawan, namun dua orang prajurit lainnya langsung menerjang maju ke arah Mapanji Jayagiri. Pertarungan sengit satu lawan 6 pun segera terjadi.


Menggunakan Ilmu Silat Cakar Rajawali Galunggung, Mapanji Jayagiri melawan 6 prajurit Rajapura yang mengeroyoknya. Dua tebasan pedang prajurit mengarah ke arah kaki, Mapanji Jayagiri dengan cepat menjejak tanah lalu melenting ke udara sembari mengayunkan cakar tangan kanan nya ke arah leher seorang prajurit Rajapura dengan cepat.


Shrraaaakkkkhhhh...


Aaauuuuggggghhhhh !!!


Sang prajurit Rajapura langsung terjungkal ke tanah sembari menjerit keras saat lehernya robek besar. Darah segar mengalir keluar dari luka nya. Dua orang prajurit yang bersenjatakan tombak langsung menusukkan senjata mereka ke arah Mapanji Jayagiri bergantian dengan cepat.


Whuuthhh whuuthhh..!


Mapanji Jayagiri lincah berjumpalitan kesana kemari menghindari tusukan tombak para prajurit Rajapura. Setelah menemukan tumpuan tepat, Mapanji Jayagiri segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras beruntun ke arah kepala lawan.


Dhaaaasssshhh dhhaaaassshhh..


Oooouuuuuugggghhhhh !!


Dua prajurit bersenjatakan tombak itu langsung terjatuh ke tanah, tombak mereka terlepas dari genggaman. Kembali Mapanji Jayagiri melesat cepat kearah tiga orang prajurit yang mengeroyoknya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, mereka semua telah tersungkur ke tanah sembari memegangi dadanya yang terasa sakit seperti baru di hantam balok kayu.


Melihat anak buah nya terkapar berjatuhan, Bekel Kadru segera mencabut keris di pinggangnya dan menerjang maju ke arah Mapanji Jayagiri.


Di sisi lain, Gayatri yang baru saja merobohkan 4 orang prajurit Rajapura yang mengeroyoknya terlihat tersenyum sinis melihat kemampuan beladiri lawannya. Saat itu dua anak panah melesat cepat kearah nya.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Gayatri yang merasakan bahaya mengancam, dengan cepat mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya dan segera menebaskan pedangnya kearah dua anak panah yang di lepaskan oleh para prajurit pemanah dari atas pohon.


Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg..


Thraakkkk !!


Dua anak panah langsung hancur terkena tebasan pedang Gayatri. Segera gadis cantik Putri Tumenggung Sindupraja ini menyarungkan pedang nya dan segera memanjat pohon besar yang menjadi tempat bersembunyi para prajurit pemanah.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Lagi lagi dua anak panah melesat cepat kearah Gayatri dengan maksud ingin menjatuhkan gadis cantik itu. Namun pendekar wanita yang berjuluk Si Dewi Topeng Waja ini dengan cepat berkelit menghindari anak panah, lalu melompat ke arah tempat pengintaian dua orang prajurit pemanah itu.


Di atas tempat persembunyian, Gayatri dengan cepat melayangkan pukulan keras kearah seorang prajurit pemanah.


Bhuuukkkhhh..


Aaauuuuggggghhhhh !!


Si prajurit pemanah terhuyung huyung dan satu tendangan melingkar dari kaki Gayatri langsung membuat si prajurit pemanah terjatuh dari atas tempat persembunyian mereka. Dia langsung tewas seketika setelah kepalanya terbentur batu. Satu pemanah lainnya mencoba mengalahkan Gayatri dengan mengayunkan busur panah ke arah kepala Putri Tumenggung Sindupraja itu.


Whhhuuuggghhhh !


Gayatri dengan cepat merendahkan tubuhnya dan menghantam perut si prajurit pemanah itu dengan keras. Si prajurit pemanah langsung terpental dan jatuh ke tanah dengan keras. Dia pun tewas seketika.


Melihat lawan nya sudah menemui ajal, Gayatri melayang turun ke arah Mapanji Jayagiri yang sedang meladeni permainan silat Bekel Kadru.


"Butuh bantuan tidak?", teriak Gayatri sembari menatap ke arah pertarungan sengit antara mereka. Mendengar ucapan itu, Mapanji Jayagiri segera berteriak keras, " Terimakasih atas tawaran nya Kangmbok, tapi aku masih bisa mengatasinya!".


Usai berkata demikian, Mapanji Jayagiri segera mencabut pedang butut yang masih ada di punggungnya lalu menerjang maju ke arah Bekel Kadru yang menyambut sabetan pedang butut Mapanji Jayagiri dengan keris miliknya.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg !!


Secepat mungkin, serangan beruntun di layangkan oleh Mapanji Jayagiri. Bekel Kadru yang tak menyangka bahwa lawannya bisa menggunakan senjata pedang, mulai keteteran. Dalam beberapa jurus, dua luka sayatan pedang mulai menghiasi tubuh Bekel Kadru. Namun perwira rendah prajurit Rajapura itu belum juga mau menyerah.


Dengan penuh nafsu membunuh, dia mengayunkan kembali keris nya kearah Mapanji Jayagiri. Putra ketiga Prabu Jayengrana itu bergerak cepat ke arah samping sembari menusukkan pedang butut nya ke arah perut Bekel Kadru.


Jllleeeeeppppphhh..


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Raungan keras terdengar dari mulut Bekel Kadru saat pedang butut Mapanji Jayagiri menembus perut nya tembus punggung. Saat Mapanji Jayagiri mencabut pedang nya, perwira rendah prajurit Rajapura itu terhuyung huyung mundur dan roboh ke tanah. Dari lukanya darah segar mengalir keluar. Tak berapa lama kemudian dia tewas bersimbah darah.


Setelah melihat kematian lawan, Mapanji Jayagiri segera menyarungkan kembali pedang butut nya dan mendekati Gayatri yang sudah menunggunya sembari berkata,


"Mari kita tinggalkan tempat ini, Kangmbok".