Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Kediaman Lurah Wanua Ranja


Dyah Kirana langsung tersenyum lebar ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Panji Tejo Laksono. Baginya, pengakuan dari Adipati Seloageng itu sudah memberikan bukti bahwa pangeran muda dari Kadiri itu tidak ingkar janji. Sedangkan para pemuda dan sesepuh Wanua Ranja yang ada di tempat itu langsung manggut-manggut mengerti.


Setelah mendengar kata-kata itu, Mpu Anggada segera menceritakan tentang kejadian yang menimpa wilayah yang dipimpinnya itu pada Panji Tejo Laksono.


Selama sepekan terakhir, setidaknya ada 8 orang gadis perawan yang di culik oleh sesosok makhluk yang bisa terbang. Sampai hari ini, tak satupun dari mereka yang kembali. Pencarian sudah dilakukan sejak awal kejadian itu, bahkan hingga menyisir wilayah hutan yang ada di sekitar Wanua Ranja namun hasilnya nihil. Mpu Anggada sudah mengutus dua orang sesepuh Wanua Ranja untuk menemui Akuwu Sindupati di Pakuwon Bedander untuk meminta bantuan kepada pihak pakuwon namun sampai hari ini bantuan yang dijanjikan oleh mereka tidak kunjung datang.


Hemmmmmmm...


Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Panji Tejo Laksono. Ada rasa sedikit kesal dalam hatinya mendengar penuturan Lurah Wanua Ranja itu.


"Diantara kalian semua, siapa yang bisa berkuda paling cepat?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke arah para pemuda desa yang ikut serta dalam pertemuan siang hari itu.


"Saya, Gusti Pangeran Adipati. Mondol juga bisa melakukannya", ujar seorang pemuda bertubuh kekar dengan kumis tipis.


"Nama mu siapa? Dan sanggupkah kau jika harus sampai di Kota Seloageng sore ini juga?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah pemuda itu.


"Saya Warma, Gusti Pangeran Adipati. Saya siap jika di tugaskan untuk ke Kota Kadipaten Seloageng hari ini juga. Tapi kalau sendiri tidak nyaman rasanya. Lebih baik Mondol juga ikut sebagai teman perjalanan", jawab si pemuda desa bernama Warma itu segera.


"Bagus kalau begitu..


Sekarang juga berangkatlah ke Kota Kadipaten Seloageng. Bawalah lencana ini dan tunjukkan pada Patih Sancaka. Katakan padanya, aku minta agar dikirim 400 orang prajurit pilihan ke Wanua Ranja hari ini juga. Apa kalian sudah mengerti?", perintah Panji Tejo Laksono sembari mengulurkan sebuah lencana perak bergambar gapura pada mereka.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati", ujar kedua orang itu sembari menerima lencana perak yang di berikan oleh Panji Tejo Laksono. Keduanya segera bergegas mundur dari pendopo kelurahan Wanua Ranja. Berbekal dua kuda milik Mpu Anggada, kedua orang pemuda desa itu segera menggebrak hewan tunggangan nya menuju ke arah Kota Kadipaten Seloageng.


Setelah dua orang itu pergi, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Mpu Anggada dan para sesepuh Wanua Ranja yang masih ada di tempat itu.


"Malam ini, kumpulkan semua anak gadis Wanua Ranja di tempat ini. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Kita akan lebih mudah menjaga mereka jika berkumpul di satu tempat", ucap Panji Tejo Laksono yang segera di sambut dengan anggukan kepala dari para sesepuh dan Lurah Wanua Ranja. Mereka semua sama sekali tidak pernah berpikir demikian. Dalam hati, semuanya mengagumi kecerdasan Panji Tejo Laksono dalam memecahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Siang itu juga, Mpu Anggada di bantu oleh Jagabaya mengumpulkan para gadis di wanua itu. Gadis remaja yang berusia di atas 13 tahun langsung di bawa ke pendopo kelurahan Wanua Ranja. Hingga lepas tengah hari, sedikit nya ada 27 gadis desa yang ada di tempat itu.


"Ini sudah semuanya, Ki Lurah?", tanya Panji Tejo Laksono sembari melihat kerumunan gadis gadis desa yang ada di pendopo kelurahan.


"Tinggal putri Ki Mendra yang tinggal di ujung jalan sana, Gusti Pangeran Adipati. Ki Jagabaya sedang menjemputnya", jawab Ki Lurah Wanua Ranja Mpu Anggada segera.


"Baguslah.. Sekarang minta istri mu untuk menyiapkan makan malam bagi semua orang yang ada di sini. Dan perintahkan kepada semua pemuda dan orang yang masih bisa berjaga untuk membentuk pagar betis di sekeliling kediaman mu. Saat menjelang senja, mereka semua sudah harus berkumpul di sini untuk berjaga-jaga ", perintah Panji Tejo Laksono segera.


"Hamba mengerti Gusti Pangeran Adipati ", ucap Mpu Anggada sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Sementara para warga Wanua Ranja disibukkan dengan pengaturan pengamanan yang di lakukan oleh Panji Tejo Laksono, kedua orang pemuda Wanua Ranja telah sampai di depan gerbang istana Kadipaten Seloageng. Dengan diantar oleh dua orang prajurit penjaga, mereka menuju ke arah Pendopo Agung Kadipaten Seloageng.


Saat itu, di ruang Pendopo Agung Kadipaten Seloageng, Patih Sancaka yang sedang menerima laporan harian dari para punggawa istana Seloageng, segera menatap ke arah datangnya dua orang pemuda desa yang datang bersama dengan dua orang prajurit penjaga gerbang istana. Ayu Ratna dan Gayatri yang juga ikut serta dalam pertemuan itu mengernyitkan dahinya melihat kedatangan tamu tak diundang ini.


"Mohon ampun Gusti Patih, Gusti Permaisuri Pertama.


Ada dua orang pemuda ini mengaku diutus oleh Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Mereka ingin menyampaikan pesan dari Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono untuk Gusti Patih Sancaka", ujar si prajurit penjaga gerbang istana sembari menghormat pada Patih Sancaka dan Ayu Ratna.


Mendengar itu, Ayu Ratna dan Gayatri saling berpandangan. Tak mereka sangka kalau kabar baik tentang keberadaan Panji Tejo Laksono saat ini akan sampai secepat itu. Ayu Ratna segera menoleh ke arah Patih Sancaka dan mengangguk halus sebagai tanda persetujuan.


Warangka praja Seloageng itu segera mengangkat tangan kanannya ke arah mereka seraya berkata, "Apa pesan yang ingin kalian sampaikan kepada ku?"


Warma segera berjongkok dan maju ke depan Patih Sancaka. Dia segera merogoh kantong baju nya dan menghaturkan lencana perak bergambar gapura pemberian Panji Tejo Laksono pada sang patih Seloageng. Segera Patih Sancaka mengambil lencana perak bergambar gapura itu. Dia mengenali nya sebagai lencana milik sang penguasa Kadipaten Seloageng.


"Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono meminta agar Gusti Patih Sancaka hari ini juga mengirimkan 400 orang prajurit pilihan ke Wanua Ranja untuk menangkap pengacau keamanan yang sedang merajalela di Wanua Ranja", ujar Warma seraya menghormat pada Patih Sancaka.


"Lantas dimana Kangmas Pangeran Adipati sekarang?", sahut Ayu Ratna yang penasaran ingin tahu tentang keberadaan Panji Tejo Laksono.


"Beliau sedang di Wanua Ranja, Gusti Permaisuri", jawab Warma.


Mendengar jawaban itu, baik Ayu Ratna maupun Gayatri menarik nafas lega. Keduanya tersenyum simpul setelah tahu keberadaan suami mereka. Patih Sancaka segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata,


"Tunggu di alun alun Kota Kadipaten Seloageng, hai utusan. Aku sendiri yang akan mengatur para prajurit yang di minta oleh Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", Patih Sancaka segera memberikan isyarat kepada mereka untuk meninggalkan tempat itu. Warma, Mondol dan prajurit penjaga gerbang istana itu segera menghormat pada Patih Sancaka, Ayu Ratna dan Gayatri. Ketiganya bergegas keluar dari dalam ruang pribadi Adipati Seloageng.


"Paman Sancaka,


Aku minta ijin agar aku sendiri yang akan memimpin dalam pasukan yang diminta oleh Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Luh Jingga akan menemani perjalanan ku nanti nya", ucap Gayatri usai utusan Panji Tejo Laksono itu pergi.


"Tapi Gusti Selir, apakah Gusti Pangeran Adipati tidak akan marah jika hamba mengijinkan Gusti Selir sendiri yang berangkat?", tanya Patih Sancaka segera.


"Paman Patih tenang saja. Aku sendiri nantinya yang akan menjelaskan pada Kangmas Pangeran Adipati", mendengar jawaban ngotot dari Gayatri, Patih Sancaka hanya bisa mengangguk mengerti.


Tepat saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, rombongan pasukan Seloageng sampai di rumah Lurah Wanua Ranja. Kedatangan mereka disambut gembira oleh para penduduk yang mendapat tugas jaga pengamanan di seputar pendopo kelurahan Wanua Ranja. Jika tadi mereka masih was-was karena takut menghadapi munculnya makhluk yang bisa terbang itu, kekhawatiran itu langsung sirna tatkala mereka melihat kedatangan para prajurit Seloageng.


Gayatri langsung melompat turun dari kudanya setelah sampai di depan gerbang kediaman Mpu Anggada. Di susul oleh Luh Jingga dan Senopati Gardana, ketiganya segera bergegas masuk ke dalam pendopo kelurahan Wanua Ranja. Mata kedua perempuan cantik itu langsung berbinar binar ketika melihat Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat kedatangan mereka.


"Kangmas Pangeran, kamu baik baik saja bukan? Aku sangat mencemaskan mu", ujar Gayatri sembari berlari menuju ke arah Panji Tejo Laksono. Seolah tak peduli dengan tatapan mata semua orang, putri Tumenggung Sindupraja itu langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono.


"Seperti yang kau lihat, Dinda Gayatri. Aku baik baik saja, kau tidak perlu mencemaskan keadaan ku seperti ini.


Eh kenapa kau ikut serta dalam rombongan pasukan ini Dinda? Apa Patih Sancaka tidak melarang mu?", Panji Tejo Laksono menatap wajah cantik selir pertama nya ini.


"Paman Patih Sancaka sudah melarang ku, Kangmas Pangeran. Tapi aku sendiri yang memaksa untuk ikut jadi Kangmas Pangeran tidak boleh menyalahkan Paman Patih", mendengar jawaban Gayatri itu, Panji Tejo Laksono langsung geleng-geleng kepala. Dia sangat mengenal sifat keras kepala yang di miliki oleh Gayatri.


Luh Jingga yang sedari tadi hanya diam saja, menajamkan penglihatan nya pada sosok perempuan muda cantik yang dari awal kedatangan mereka terlihat tidak senang namun terus menunduk untuk menyembunyikan perasaannya.


"Kangmas Pangeran Adipati, siapa gadis itu?", pertanyaan Luh Jingga langsung membuat Gayatri ikut menatap wajah cantik Dyah Kirana yang berdiri di belakang Panji Tejo Laksono. Putri Tumenggung Sindupraja itu langsung melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono.


"Iya Kangmas Pangeran, siapa gadis cantik ini? Kenapa dia sedari tadi hanya diam di belakang mu?", Gayatri ikut nimbrung dalam pertanyaan Luh Jingga. Panji Tejo Laksono langsung menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara.


"Namanya Dyah Kirana, putri Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru di wilayah Jenggala", ujar Panji Tejo Laksono.


"Orang Jenggala? Bagaimana mungkin ada orang Jenggala di wilayah Kadipaten Seloageng? Pasti dia adalah mata-mata yang berhasil Kangmas Pangeran tangkap, bukan?", cerocos Gayatri yang segera bersikap waspada terhadap Dyah Kirana. Mendengar itu Panji Tejo Laksono langsung geleng-geleng kepala.


"Kau ini selalu saja lebih dulu menyimpulkan tanpa mendengar penjelasannya, Dinda Gayatri.


Dengarkan aku baik-baik, baru kau bisa menilai nya. Apa kalian tadi sempat mendengar cerita Wulandari tentang kakek tua berbaju putih yang menghilang bersama ku?", mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono itu, kedua perempuan cantik itu segera mengangguk tanda mengiyakan.


"Nah, aku tadi di tantang adu ilmu kanuragan oleh Maharesi Padmanaba kakeknya Dyah Kirana ini dengan sebuah pertaruhan.


Jika aku menang maka aku akan menerima sebuah senjata pusaka. Tapi jika aku kalah bertarung, aku harus menuruti semua keinginan Maharesi Padmanaba.


Dan aku kalah....", imbuh Panji Tejo Laksono segera. Kaget Gayatri dan Luh Jingga mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Mereka yang selama ini tahu bahwa Panji Tejo Laksono memiliki banyak ilmu kanuragan tingkat tinggi dan seorang pertapa tua telah mengalahkan nya.


"Lantas apa hubungannya dengan perempuan itu, Kangmas Pangeran?", tanya Gayatri yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.


"Maharesi Padmanaba ingin mewariskan ilmu kesaktiannya kepada ku sebagai hadiah taruhan dari ku. Juga dia ingin aku menikah dengan cucu kesayangan nya ini", tambah Panji Tejo Laksono seraya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


APAAAAAAA????!!!


Kedua istri Panji Tejo Laksono terlonjak saking kagetnya mendengar jawaban Panji Tejo Laksono. Suara keras mereka membuat semua orang menoleh ke arah mereka hingga Gayatri buru-buru membekap mulutnya agar tidak ada suara yang keluar.


"Ja-jadi dia harus kau nikahi Kangmas Pangeran?", gagap Gayatri berbicara sembari menunjuk ke arah Dyah Kirana.


"Huffffffffttt itulah kenyataannya, Dinda Gayatri.


Kalian suka tidak suka harus rela aku membagi cinta dengan Dyah Kirana. Aku sudah berjanji pada kakeknya sebelum kakeknya moksa menuju alam keabadian ", ucap Panji Tejo Laksono sembari menghela nafas berat.


Gayatri hampir pingsan mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Untung saja Luh Jingga yang berdiri di belakangnya sigap menangkap tubuh mungil putri Tumenggung Sindupraja itu. Dyah Kirana buru-buru ikut memapah Gayatri yang lemas kakinya. Bersama Luh Jingga, Dyah Kirana membawa Gayatri ke dalam bilik kamar di kediaman keluarga Lurah Wanua Ranja yang di sediakan untuk tempat istirahat bagi dia dan Panji Tejo Laksono. Sedangkan sang pangeran muda dari Kadiri itu hanya menghela nafas panjang. Cepat atau lambat, kejadian ini pasti akan terjadi.


Sesampainya di bilik kamar tidur, Luh Jingga dan Dyah Kirana segera merebahkan tubuh Gayatri ke atas pembaringan. Luh Jingga segera meraih kipas dari anyaman bambu yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan sementara Dyah Kirana menuangkan air kendi ke cangkir dan menyerahkan nya pada Gayatri yang masih terbaring di atas ranjang.


"Mi-minumlah ini Kangmbok. Su-supaya segar kembali badan mu", ucap Dyah Kirana segera. Gayatri menerima uluran cangkir air minum dari Dyah Kirana dan segera meminumnya. Setelah beberapa teguk, wajah cantik Gayatri terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Terimakasih banyak. Siapa nama mu tadi?", tanya Gayatri segera.


"Dyah Kirana, Kangmbok", jawab putri Resi Ranukumbolo itu dengan cepat.


"Dyah Kirana ya?


Mulai sekarang kau akan menjadi saudari kami. Perkenalkan namaku Gayatri dan ini adalah Luh Jingga", ucap Gayatri sembari bergegas duduk di atas pembaringan. Rasa lemas nya berangsur menghilang setelah meminum air putih pemberian Dyah Kirana. Putri Resi Ranukumbolo itu segera membungkuk hormat kepada dua istri Panji Tejo Laksono itu.


"Selain kami, masih ada dua orang lagi istri Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Mereka adalah Ayu Ratna dan Dewi Wulan..."


Belum sempat Luh Jingga menyelesaikan omongannya, dari arah luar pagar kediaman Lurah Wanua Ranja, terdengar suara teriakan keras yang mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu.


"Setan nya sudah muncul!!!!!"