Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ilmu Sembilan Matahari


Teriakan keras Guo Tian Yin Si Sesat Tua langsung membuat semua hal yang di lakukan oleh semua pelanggan Rumah Makan Bunga Persik terhenti. Semua mata tertuju pada Guo Tian Yin yang melotot ke arah Panji Tejo Laksono dan para murid Perguruan Er Mei berada. Beberapa orang yang mengetahui siapa jati diri Guo Tian Yin langsung bersiap untuk pergi dari tempat itu. Mereka tahu bahwa jika Guo Tian Yin berteriak keras seperti itu, maka bisa dipastikan akan terjadi masalah.


Biksuni Lu Wei Siang, pimpinan Perguruan Er Mei pun segera menoleh ke arah Guo Tian Yin.


"Sesat Tua,


Mau apa kau kemari? Apa kau ingin mencari masalah di tempat ini?", tanya Biksuni Lu Wei Siang yang sama sekali tidak takut dengan Guo Tian Yin. Ada nada ketus yang terdengar dari suara Biksuni Lu Wei Siang.


"Bukan urusan mu, perawan tua... Minggir kau !


Aku ingin membuat perhitungan dengan bocah keparat itu", Si Sesat Tua Guo Tian Yin menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Mendengar ejekan Guo Tian Yin pada Lu Wei Siang sebagai perawan tua, pimpinan Perguruan Er Mei itu langsung merah padam wajah nya menahan amarah.


"Lancang sekali mulut mu !


Apa kau ingin adu kepandaian ilmu beladiri dengan ku, Sesat Tua?", Biksuni Lu Wei Siang dengan cepat memutar telapak tangan kanannya, bersiap untuk bertarung.


"Aku tidak takut dengan mu, perawan tua. Tapi kali ini aku malas meladeni tantangan mu. Urusan ku dengan pemuda tengik itu, bukan kau!", ucap Guo Tian Yin dengan lantang.


"Kauuu..."


"Biksuni, mohon tenang sebentar", potong omongan Panji Tejo Laksono yang melihat Biksuni Lu Wei Siang mulai naik pitam.


"Dia mencari saya, mohon ijinkan saya bicara sebentar pada nya", imbuh Panji Tejo Laksono sembari menoleh ke arah Guo Tian Yin Si Sesat Tua, " Tuan, ada urusan apa kau mencari ku?".


"Anak muda,


Apa kau yang sudah membunuh murid ku Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou?", Guo Tian Yin menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Iya, aku yang melukai mereka. Ini karena dua orang tua itu mencoba berbuat kurang ajar pada para murid Perguruan Er Mei.


Aku tidak tahu mereka masih hidup atau mati saat aku tinggalkan, tapi satu yang pasti aku yang sudah melukai mereka", ujar Panji Tejo Laksono dengan jantan mengakui segera.


"Keparat !


Saat nya kau membayar hutang nyawa yang kau ambil dari murid ku!", usai berkata keras demikian, Guo Tian Yin langsung melesat cepat ke arah Panji Tejo Laksono. Tak ingin mengganggu dan merusak Rumah Makan Bunga Persik, Panji Tejo Laksono melesat keluar dari ruangan rumah makan yang penuh dengan orang ini melewati jendela yang terbuka lebar.


Melihat itu, Guo Tian Yin mengejar Panji Tejo Laksono keluar Rumah Makan Bunga Persik. Xiao Mei yang ada di samping Biksuni Lu Wei Siang langsung berlutut di hadapan gurunya. Dia khawatir dengan keselamatan Panji Tejo Laksono.


"Guru, mohon bantuannya..


Pendekar muda itu mungkin memang hebat tapi menghadapi Si Sesat Tua Guo Tian Yin pasti akan mendapat masalah besar. Tolong dia guru, dia sudah menjaga kehormatan kami", ucap Xiao Mei sembari menghormat pada Lu Wei Siang.


"Kau ini benar-benar lugu, Mei Er..


Pendekar muda itu sama sekali tidak takut dengan Guo Tian Yin. Tapi dia keluar dari dalam rumah makan ini karena beberapa sebab diantaranya adalah dia tidak mau merusak tempat makan ini. Jangan khawatir, aku bukan orang yang tidak tahu membalas budi. Jika sampai dia dalam masalah menghadapi Si Sesat Tua itu, aku akan segera membantu nya. Sekarang ayo kita lihat mereka", jawab Biksuni Lu Wei Siang sembari ikut keluar dari dalam rumah makan itu, menyusul Panji Tejo Laksono dan Guo Tian Yin.


Luh Jingga dan Putri Song Zhao Meng meski masih belum bisa berbicara satu sama lain, langsung saling berpandangan mata sebentar, setelah Luh Jingga mengangguk, dua wanita cantik ini segera bergegas mengejar Panji Tejo Laksono.


Di luar Rumah Makan Bunga Persik, terjadi pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Guo Tian Yin.


Dengan kecepatan tinggi, Guo Tian Yin Si Sesat Tua menyerang Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat dan mematikan. Namun sang putra tertua Prabu Jayengrana dari Panjalu ini menghadapi lawannya dengan tenang.


Dengan satu gerakan cepat, Guo Tian Yin membuat gerakan tendangan keras melingkar untuk menyapu betis kaki Panji Tejo Laksono. Tendangan ini di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan Guo Tian Yin.


Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan mendarat di atas atap bangunan Rumah Makan Bunga Persik. Melihat itu, Guo Tian Yin segera mengejar Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan tapak tangan kanan ke arah bahu sang pangeran muda.


Whhhuuuggghhhh ..!!


Dengan lincah Panji Tejo Laksono menangkis hantaman tapak tangan kanan Guo Tian Yin dengan gerakan memutar lengan kanannya. Dengan cepat pula dia menghantamkan tapak tangan kiri nya yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi ke arah perut Guo Tian Yin.


Si Sesat Tua itu segera memapak serangan Panji Tejo Laksono dengan tapak tangan kiri nya.


Blllaaaaaarrr !!


Ledakan keras terdengar saat kedua tapak tangan mereka berdua beradu. Dua orang berilmu tinggi ini masing-masing terdorong mundur dan mendarat turun di tanah dengan cepat. Penjajakan tenaga dalam mereka telah selesai. Panji Tejo Laksono merasakan sedikit ngilu pada tangan kiri nya karena mengerahkan sepertiga bagian tenaga dalam nya sedangkan Guo Tian Yin yang mengerahkan separuh tenaga dalam nya merasakan kebas setelah beradu tenaga.


"Bocah keparat!


Pantas saja kau begitu sombong. Rupanya punya kepandaian juga. Sudah cukup main-main nya. Sekarang waktunya aku mengantar mu menghadap Raja Neraka".


Usai berkata demikian, Guo Tian Yin merentangkan kedua tangannya lalu kedua telapak tangan menghentak keras. Sebuah bayangan besar berbentuk iblis raksasa yang menyeramkan tercipta di atas tubuh Guo Tian Yin. Ini adalah Bayangan Iblis Langit yang merupakan ilmu andalan Guo Tian Yin yang sangat termasyhur di dunia persilatan Tanah Tiongkok. Angin dingin berhawa dingin kematian yang pekat berbau anyir darah menderu kencang menderu layaknya badai di sekitar tubuh Guo Tian Yin.


Melihat itu, Biksuni Lu Wei Siang langsung berteriak keras, "Pendekar muda, berhati-hatilah..


"Terimakasih atas peringatannya Biksuni Lu..


Aku pasti akan berhati-hati menghadapi orang tua itu", jawab Panji Tejo Laksono segera di tengah amukan angin dingin aneh beraroma anyir darah dari Guo Tian Yin Si Sesat Tua.


Dengan cepat ia merapal mantra Ajian Tameng Waja miliknya. Sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuh nya sebagai perlindungan diri. Sedangkan kedua telapak tangan nya turun ke bawah untuk persiapan mengeluarkan Ilmu Sembilan Matahari. Dia ingin menjajal seberapa kuat Ilmu Sembilan Matahari yang dia miliki dengan mengeluarkan tahap ke sembilan Ilmu Sembilan Matahari yang bernama Sembilan Matahari Menyinari Dunia. Hawa panas menyengat terkumpul di sekitar tempat itu, semakin lama semakin panas.


Ini seketika membuat seluruh orang yang menyaksikan pertarungan hidup mati ini menjauh karena tak kuat dengan hawa panas yang tercipta. Hanya pendekar berilmu tinggi seperti Biksuni Lu Wei Siang saja yang mampu bertahan. Luh Jingga harus mengeluarkan seluruh tenaga dalam nya untuk melindungi tubuh nya. Sedangkan Putri Song Zhao Meng memilih untuk mengerahkan tenaga dalam Bulan Es nya yang dingin untuk tetap berdiri di tempatnya. Ini membuat Luh Jingga sedikit terhenyak melihat kemampuan beladiri yang di sembunyikan oleh Putri Song Zhao Meng. Selain mereka bertiga, semuanya memilih untuk menjauh hampir 10 tombak jauhnya dari halaman Rumah Makan Bunga Persik.


Guo Tian Yin mendengus keras lalu melenting tinggi ke udara sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya kearah Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan gerakan itu, bayangan iblis raksasa yang tercipta juga menghantamkan tapak tangan kanan nya kearah putra sulung Prabu Jitendrakara ini.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!


Ledakan dahsyat terdengar saat tapak bayangan iblis raksasa ini menghajar tubuh Panji Tejo Laksono dengan telak. Asap tebal menutupi seluruh tubuh tempat itu bersama dengan debu beterbangan.


Semua orang sudah berpikir bahwa Panji Tejo Laksono tewas di tangan Guo Tian Yin. Ah Seng bahkan tersenyum lebar dan yakin bahwa pembunuh Si Bandit Baju Merah ini pasti mampus. Lu Wei Siang menghela nafas panjang karena berpikir hal yang sama, begitu pula dengan Xiao Mei dan para murid Perguruan Er Mei yang lain.


Hanya Putri Song Zhao Meng dan Luh Jingga saja yang masih terlihat tenang saja melihat pemandangan itu.


Guo Tian Yin yang semula mengira bahwa dia sudah memenangkan pertarungan ini, melotot lebar matanya saat debu yang beterbangan dan asap tebal yang menutupi seluruh tempat itu menghilang. Begitu pula dengan semua orang yang melihat kejadian itu. Mereka seakan tak percaya melihat Panji Tejo Laksono masih berdiri kokoh tempat nya dengan tubuh yang bersinar kuning keemasan.


"Guru,


Apakah kau juga melihatnya? Itu ilmu apa?", tanya Xiao Mei pada Biksuni Lu Wei Siang yang juga melongo melihat pemandangan ini.


"Tubuh Emas? Pendekar muda ini punya Tubuh Emas?


I-itu ilmu beladiri pertahanan tubuh tertinggi dalam sejarah. Ilmu itu sudah menghilang ratusan tahun, bagaimana dia bisa menguasainya?", Biksuni Lu Wei Siang benar benar terkejut.


"Apakah itu artinya pendekar muda ini mampu mengalahkan Bayangan Iblis Langit milik Guo Tian Yin, Guru?", Xiao Mei mencoba untuk menegaskan kemungkinan Panji Tejo Laksono memenangkan pertarungan.


"Jangankan Bayangan Iblis Langit, Ilmu Buddha Tangan Seribu milik ku pun tak kan bisa melukai tubuhnya Xiao Mei", jawab Biksuni Lu Wei Siang sembari tak mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.


Guo Tian Yin yang masih bernafsu untuk mengalahkan Panji Tejo Laksono segera melompat tinggi ke udara.


"Aku tidak percaya bahwa aku tidak bisa mengalahkan mu, bocah sialan!", sembari berteriak lantang seperti itu, Guo Tian Yin kembali menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah Panji Tejo bertubi tubi. Puluhan tapak tangan raksasa Bayangan Iblis Langit menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Namun saat hampir menyentuh tubuh sang pangeran muda, tiba-tiba saja ia menghilang bagai sirna ditelan bumi.


Bhhuuuuummmmmmhh bhhuummhh !


Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Namun di saat itu juga, Panji Tejo Laksono muncul di udara sembari menghantamkan sembilan bola sinar merah kekuningan yang berkumpul dalam satu lingkaran besar seperti matahari kearah bayangan iblis raksasa Guo Tian Yin sembari berteriak lantang.


"Sembilan Matahari Menyinari Dunia..


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat....! "


Gllleeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrr.....!!!!


Ledakan maha dahsyat terdengar, menciptakan gelombang kejut dan angin kencang menderu tajam. Semua orang sampai menutup mata, tak mampu melihat pemandangan itu sama seperti sebelumnya. Debu beterbangan mengiringi hembusan angin kencang ini berikut asap tebal yang menutupi seluruh tempat itu.


Saat semua itu mereda, terlihat pemandangan yang mengerikan. Panji Tejo Laksono berdiri gagah menatap ke arah Guo Tian Yin yang tewas mengenaskan. Tubuh lelaki yang berjuluk Si Sesat Tua itu hangus seperti baru saja di bakar api yang sangat panas. Seluruh kulit tubuh nya menghitam dan rambut kepala nya pun turut raib separuh.


Biksuni Lu Wei Siang sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi selain rahangnya yang terbuka lebar seperti mau lepas melihat semua kejadian ini. Guo Tian Yin, salah satu dedengkot dunia persilatan Tanah Tiongkok terbunuh dengan mudah oleh seorang lelaki muda yang bahkan tidak lebih tua dari murid pertamanya. Ini merupakan kejadian luar biasa yang menimpa dunia persilatan Daratan Tengah.


Luh Jingga dan Putri Song Zhao Meng langsung berlari ke arah Panji Tejo Laksono usai asap tebal dan debu beterbangan itu menghilang.


"Gusti Pangeran, kau baik baik saja?", tanya Luh Jingga segera. Tak mau kalah, Putri Song Zhao Meng pun angkat bicara, "Kakak Thee, apa kau terluka?"


Panji Tejo Laksono hanya tersenyum simpul melihat ulah kedua perempuan cantik itu.


"Aku baik baik saja Luh.., kau tidak perlu khawatir..


Meng Er, aku tidak terluka. Kau lihat sendiri bukan?", jawab Panji Tejo Laksono pada dua orang gadis cantik yang menggunakan dua bahasa berbeda ini. Mendengar jawaban itu, baik Luh Jingga dan Putri Song Zhao Meng tersenyum lebar. Mereka berdua begitu bangga dengan kemampuan beladiri yang dimiliki oleh Panji Tejo Laksono.


Selepas pertarungan sengit ini, para prajurit Gubernur Zhengzhou berdatangan ke Rumah Makan Bunga Persik. Putri Song Zhao Meng segera menjelaskan duduk permasalahannya dan memerintahkan kepada mereka untuk membersihkan mayat Guo Tian Yin dari halaman Rumah Makan Bunga Persik. Sementara para prajurit bekerja, Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Song Zhao Meng kembali masuk ke dalam Rumah Makan Bunga Persik untuk menikmati hidangan. Tak seorangpun yang berani bersikap kurang ajar pada mereka setelah melihat kematian salah satu jagoan dunia persilatan Tanah Tiongkok tewas di tangan Panji Tejo Laksono. Bahkan Biksuni Lu Wei Siang pun mengakui keunggulan seorang Panji Tejo Laksono diatas ilmu beladiri yang dimilikinya. Dia begitu hormat kepada sang pangeran muda dari Kadiri ini.


Selesai makan di Rumah Makan Bunga Persik, Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga meninggalkan tempat itu menuju ke arah Paviliun Bulan Indah dimana langit mulai memerah di ufuk barat. Seorang lelaki paruh baya yang menjadi penjaga gerbang Paviliun Bulan Indah membungkuk hormat kepada Putri Song Zhao Meng karena mengenali cucu Sima Qian, pemilik Paviliun Bulan Indah ini. Lelaki yang bekerja sebagai kepala pelayan Paviliun Bulan Indah ini mengantar mereka masuk ke dalam Paviliun.


Seorang wanita tua yang berusia sekitar 80 tahun atau 8 dasawarsa, nampak sedang membaca sebuah buku sastra China di taman paviliun saat mereka masuk. Wajah perempuan tua yang merupakan nenek putri Song Zhao Meng itu langsung cerah melihat kedatangan Song Zhao Meng.


"Cucu ku,


Kau datang mengunjungi nenek?"