
Rasa kantuk yang sempat membuat Gumbreg ketiduran langsung hilang entah kemana akibat tendangan dengkul Rakryan Purusoma. Sambil meringis menahan rasa sakit, Gumbreg berlari mengejar Panji Tejo Laksono dan anak buah nya menghadang para anggota Sekte Macan Besi.
Begitu Gumbreg sampai, Panji Tejo Laksono sedang bicara dengan Hauw Tian, Tetua Kedua Sekte Macan Besi.
"Brengsek siapa yang menendang punggung ku Lu?
Sakit sekali seperti di hantam balok kayu", gerutu Demung Gumbreg di samping Tumenggung Ludaka.
"Salahmu ketiduran saat berjaga..
Nanti saja itu di bahas. Sekarang sebaiknya kita segera bersiap. Para penyusup ini sepertinya tidak punya niat baik", sahut Tumenggung Ludaka sambil terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Hauw Tian yang sedang berhadapan.
"Tuan, sebaiknya kau urungkan niat kalian untuk masuk lebih jauh di istana Gubernur ini. Sebelum para prajurit datang, segeralah kembali.
Aku tidak ingin ada keributan di tempat ini", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Hauw Tian yang tidak mengenakkan penutup wajah.
"Huhhhhh..
Kau pikir bisa mengancam ku dengan para prajurit Gubernur Zhao? Aku berani bertaruh, mereka tidak akan sampai di tempat ini dengan cepat", jawab Hauw Tian sembari menyeringai lebar.
"Apa maksud dari ucapan mu, Tuan?
Apa kalian bekerja sama dengan para prajurit Gubernur Zhao untuk menyusup ke dalam istana ini?", Panji Tejo Laksono mencoba memahami apa maksud omongan Hauw Tian.
"Kau jangan sembarang memfitnah orang. Kami tidak ada hubungan dengan para prajurit Gubernur Zhao.
Sekarang serahkan Huang Lung pada ku maka ku jamin tidak ada pertumpahan darah di tempat ini", Hauw Tian mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Dia berharap ancaman nya bisa membuat takut pemuda tampan itu.
"Tuan Baju Kuning,
Kami hanya tamu di tempat ini, tapi meskipun hanya tamu tapi kami juga tidak mau menyerahkan kawan kami begitu saja. Apa salahnya hingga dia harus kami serahkan kepada kalian?", Panji Tejo Laksono memang merasa tidak nyaman dengan banyaknya orang yang menginginkan Huang Lung, apalagi Pendeta Wang Chun Yang pernah memperingatkan bahwa dia harus berhati-hati menghadapi Huang Lung.
"Dia memiliki barang yang seharusnya bukan hak nya. Aku hanya ingin mengambil kembali barang itu dan mengembalikan nya kepada yang berhak.
Apa kau sudah mengerti ha?", bentak Hauw Tian keras.
"Barang apa? Setahu ku Huang Lung tidak memiliki barang bawaan berharga selama perjalanan ini", Panji Tejo Laksono mulai penasaran.
"Dia membawa Stempel Giok Naga, yang merupakan tanda mandat dewa untuk Kaisar Song", mendengar jawaban Hauw Tian itu, Panji Tejo Laksono terkejut bukan main. Tak disangka bahwa ternyata Huang Lung menyembunyikan sesuatu yang penting dan berlindung kepada rombongan nya selama perjalanan ini. Meski sedikit kesal dengan ulah Huang Lung, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.
"Benar tidaknya omongan mu, aku tidak tahu. Tapi yang jelas Huang Lung adalah kawan kami, jadi sebaiknya kalian kembali saja jika tidak ingin adu nyawa dengan kami", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Phhuuuiiiiiihhhhh....
"Kau pikir aku takut dengan mu, Orang Selatan?
Sekarang waktunya kalian merasakan kemampuan beladiri dari Daratan Tengah. Biar tidak sombong di negeri kami!"
Usai berkata demikian, Hauw Tian melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan cakar tangan nya merupakan bagian dari jurus Dewa Macan Mencakar Langit yang merupakan ilmu andalan Sekte Macan Besi.
Shhrreeettthhh !!
Dengan mudah Panji Tejo Laksono berkelit menghindari cakaran Hauw Tian. Bersama dengan majunya Tetua Kedua Sekte Macan Besi, Si Macan Hitam dan para anggota Sekte Macan Besi lainnya langsung ikut menerjang maju ke arah Tumenggung Ludaka dan kawan-kawan. Pertarungan sengit segera pecah di tengah malam buta itu.
Gumbreg yang masih dongkol dengan rasa sakit di punggungnya, langsung mengayunkan pentung sakti nya ke arah seorang anggota Sekte Macan Besi yang menerjang maju ke arah nya. Sang anggota Sekte Macan Besi mengayunkan cakar besi tiga ujung menyambut gebukan pentung sakti Gumbreg.
Thrrraaannnnggggg !!
Kedua nya sama sama melompat mundur beberapa langkah setelah adu senjata. Gumbreg segera berlari cepat kearah lawan yang seperti nya memiliki tenaga dalam yang seimbang dengan nya. Memang lawan Gumbreg adalah salah satu dari murid utama Ketua Sekte Macan Besi, Pang He.
Gumbreg segera mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala lawan.
Whhuuuuuuuggggh !
Sang lawan dengan cepat berguling ke tanah sambil menebas kaki kanan Gumbreg. Merasa dirinya dalam bahaya, dengan cepat Gumbreg mengangkat kaki kanan nya lalu menjatuhkan diri ke tanah sambil menggebuk ke arah anggota Sekte Macan Besi ini.
Bhhuuuuummmmmmhh !
Sang lawan berguling ke samping kanan dan mengayunkan cakar besi nya. Gumbreg terlambat menghindar beberapa saat hingga cakar besi itu merobek baju kesayangan nya pada atas pinggang nya. Rasa perih langsung terasa karena darah segar merembes keluar dari luka Gumbreg.
Sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera berdiri sembari menatap tajam ke arah lawan yang tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kau senyum senyum? Sudah merasa menang ha?
Aku akan menghabisi nyawa mu dalam tiga jurus saja bajingan!", maki Gumbreg yang tentu saja tidak di pahami oleh anggota Sekte Macan Besi yang menjadi lawannya. Gumbreg segera mengalirkan tenaga dalam nya pada pentung sakti, hingga sebuah cahaya biru kekuningan redup tercipta.
Sembari menggeram keras, Demung Gumbreg melesat cepat kearah lawan. Tentu saja sang lawan terkejut bukan main melihat perubahan pergerakan pria bertubuh tambun ini. Secepat kilat dia mengayunkan kembali cakar besi nya untuk menghadang serangan pentung sakti Gumbreg.
Thhraaaangggggggg !
Kuatnya gebukan pentung sakti membuat lawan Sampai nyaris terduduk karena menahan tekanan. Gumbreg yang melihat peluang, dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah perut lawan.
Bhhhuuuuuuggggh !
Aaauuuuggggghhhhh !
Lawan langsung jatuh terduduk dan terseret mundur beberapa langkah. Gumbreg tidak memberi kesempatan untuk mengambil nafas. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera melompat ke udara dan meluncur turun ke arah lawan sembari menghantamkan pentung sakti nya ke arah punggung lawannya.
Bruuuuaaaakkkkhhh !
Hancur sudah punggung anggota Sekte Macan Besi terkena gebukan pentung sakti Gumbreg. Dia langsung muntah darah segar. Tak lama kemudian dia tewas dengan punggung remuk.
"Rasakan itu bajingan!
Beraninya kau merusak baju pemberian Dhek Jum. Hukuman yang pantas untuk mu hanya mati", ujar Gumbreg sambil meludah ke arah mayat anggota Sekte Macan Besi itu. Sembari membekap luka nya, Gumbreg segera melesat ke arah Luh Jingga yang sedang di keroyok oleh beberapa orang anggota Sekte Macan Besi. Tanpa basa-basi lagi, Gumbreg langsung mengayunkan pentung sakti nya ke arah mereka.
Tumenggung Ludaka melompat mundur beberapa langkah ke belakang usai pedang pendek nya berbenturan dengan cakar besi milik Si Macan Hitam. Mereka berdua sesama pendekar yang menggunakan senjata ganda.
'Kepandaian nya menggunakan senjata ganda tidak lebih buruk dari ku. Aku harus merubah rencana ', batin Tumenggung Ludaka sambil memasukkan sebilah pedang pendek nya ke arah pinggang.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg!
Telinga Si Macan Hitam yang peka mendengar suara desingan senjata rahasia menuju ke arah nya. Salah satu dari dua penegak hukum Sekte Macan Besi ini segera membuat gerakan berputar cepat yang merupakan ilmu pertahanan andalannya. Angin kencang menderu bersamaan dengan berputar nya tubuh Si Macan Hitam. Pisau pisau kecil yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka bermentalan saat terkena kibasan angin tubuh Si Macan Hitam.
Melihat itu, Tumenggung Ludaka kembali melemparkan senjata rahasia nya secara beruntun sembari memutari Si Macan Hitam dengan ilmu meringankan tubuh nya. Puluhan pisau kecil melesat cepat kearah Si Macan Hitam layaknya tetes air hujan. Ini adalah ilmu melempar senjata rahasia yang menjadi andalan Tumenggung Ludaka selama ini, Hujan Pisau Dewa Kematian.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !
Thhraaaangggggggg thrrriiinnnggggg !
Beberapa pisau bermentalan saat terkena kibasan angin cakar besi Si Macan Hitam. Namun beberapa lainnya berhasil menyayat kulit tubuh sang lawan. Perlahan gerakan tubuh Si Macan Hitam mulai melambat seiring dengan banyaknya luka sayat yang di deritanya. Serangan Tumenggung Ludaka benar benar seperti tiada habisnya. Walaupun sebenarnya jumlah pisau kecil yang di miliki Tumenggung Ludaka hanya ratusan, namun terasa seperti ribuan. Ini adalah ilmu lempar dan tangkap yang mengandalkan kecepatan tinggi. Diantara para pejabat tinggi Istana Kotaraja Kadiri, hanya Tumenggung Ludaka saja yang mampu menyusul pergerakan Prabu Jayengrana dan Ketiga selirnya yaitu Dewi Sasikirana atau Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
Si Macan Hitam terduduk di tanah sembari ngos-ngosan mengatur nafasnya. Sekujur tubuhnya penuh luka sayat yang terus mengeluarkan darah.
Tumenggung Ludaka menangkap pisau kecil yang terakhir dan menatap tajam kearah Si Macan Hitam yang masih hidup meskipun dengan luka yang parah. Sang pimpinan Pasukan Lowo Bengi ini sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaannya.
"Bangsat !
Tak ku sangka bahwa aku Si Macan Hitam akan bertekuk lutut pada seorang pendekar yang tidak punya nama di dunia persilatan Tanah Tiongkok.
Kalau begitu, aku tidak akan mati seorang diri!", teriak Si Macan Hitam sambil memusatkan seluruh tenaga dalam pada dadanya. Dia ingin mati bersama dengan Tumenggung Ludaka dengan meledakkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja tubuh Si Macan Hitam membesar dan terus membesar. Melihat itu, Tumenggung Ludaka segera melompat menjauh dari dekat Si Macan Hitam.
Haaaaarrrrrrgghhhh.....
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat terdengar dari tubuh Si Macan Besi. Kerasnya suara ledakan terdengar hingga keluar tembok istana Gubernur Zhao.
Hauw Tian terkejut bukan main melihat sikap bodoh Si Macan Hitam. Dia segera melompat mundur menjauhi Panji Tejo Laksono yang menjadi lawannya.
"Dasar bodoh !
Tindakan Si Macan Hitam ini akan menjadi petaka bagi ku. Aku harus cepat pergi dari tempat ini", gumam Hauw Tian sembari menatap ke arah seorang anggota Sekte Macan Besi yang sedang terluka setelah bertarung melawan Tumenggung Rajegwesi. Hauw Tian segera melesat cepat kearah nya dan menyambar tubuh sang anggota Sekte Macan Besi itu secepat kilat. Segera dia melemparkan anggota Sekte Macan Besi itu kearah Panji Tejo Laksono sebagai pengalih perhatian.
Whhhhuuuuggghhh !
Tubuh anggota Sekte Macan Besi melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Di atas udara dia melihat Hauw Tian melesat cepat kearah luar dinding istana Gubernur Zhao.
"Mau kabur dari ku? Tidak semudah itu!"
Panji Tejo Laksono dengan cepat meluncur ke arah perginya Hauw Tian. Ajian Sepi Angin nya membuat tubuhnya seringan kapas saat melesat cepat mengejar Hauw Tian.
Terjadilah kejar kejaran antara Hauw Tian dan Panji Tejo Laksono. Mereka terus bergerak cepat menuju ke arah Utara.
Saat hampir sampai di pinggir kota Chenliu, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat kearah Hauw Tian dan mengayunkan sebuah tongkat ke arah kepala sang Tetua Kedua Sekte Macan Besi.
Whhhhuuuuggghhh !
Serangan tiba tiba ini tentu saja membuat Hauw Tian kalang kabut dan dengan cepat menghindari dengan berhenti di halaman sebuah kuil tua yang tidak terawat.
Bersamaan dengan itu pula, Panji Tejo Laksono dan si bayangan hitam mengepung Hauw Tian dari dua sisi yang berbeda.
"Bangsat!
Kenapa kau ikut campur urusan ku, Kong San?", maki Hauw Tian sembari menatap tajam ke si bayangan hitam yang tak lain adalah Kong San, ketua cabang Partai Pengemis cabang Kota Chenliu.
"Hehehehe...
Aku hanya tidak suka melihat mu yang sok jagoan, melarikan diri dari seorang pemuda. Apa kata dunia persilatan jika tahu Hauw Tian, Tetua Kedua Sekte Macan Besi mesti kabur dari seorang pemuda kemarin sore?", ujar Kong San sembari terkekeh kecil.
"Tutup mulut mu, Kong San. Sebaiknya kau jangan ikut campur urusan ku ini atau Sekte Macan Besi akan menjadi musuh Partai Pengemis", Hauw Tian mendelik tajam ke arah Kong San alias Si Pengemis Tongkat Hitam.
"Mau mengancam ku dengan nama besar Sekte Macan Besi? Uhhh aku takut...
Aku tidak peduli kau tahu! Bahkan jika Ketua mu Si Busuk Pang He sendiri yang kemari, aku sama sekali tidak gentar! ", setelah terdengar teriak lantang dari Kong San, ratusan pengemis terlihat mengepung tempat itu, " Kalau kau ingin bebas dari tempat ini, mudah saja Hauw Tian".
"Katakan saja apa mau mu, Kong San?
Aku tidak punya banyak waktu untuk omong kosong dengan mu", ujar Hauw Tian segera.
"Hahahaha, dasar sok sibuk phuihhhhh...
Katakan saja pada ku, apa tujuan mu masuk ke dalam istana Gubernur Zhao? Dan siapa yang menyuruh mu untuk melakukan nya?", Kong San mendelik kereng pada Hauw Tian.
"Ini adalah rahasia sekte.. Aku tidak boleh mengatakan nya meskipun nyawa ku taruhannya ", jawab Hauw Tian sembari menatap ke sekeliling nya. Sangat sulit untuk bisa lolos dari tempat ini.
"Oh masih berani kau tidak mengatakan nya, baiklah kalau itu mau mu..
Pendekar muda,
Kau tentu juga ingin tahu rahasia apa yang sedang di sembunyikan oleh Hauw Tian ini bukan? Sekarang waktunya kau bertindak. Hauw Tian tidak akan bisa lolos dari tempat ini di bawah pengawasan ku", Kong San mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.
"Aku mengerti, Tetua. Mohon bantuannya", ujar Panji Tejo Laksono sembari mulai merapal Ajian Tameng Waja yang sedari tadi tidak ia gunakan. Selarik sinar kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
"Hanya dia kau minta untuk menghentikan ku, Kong San? Kau terlalu meremehkan aku.
Bocah tengik!
Kau sedari tadi mengganggu ku. Sekarang waktunya kau aku antar menemui Raja Neraka!", ujar Hauw Tian yang segera mengerahkan tenaga dalam nya pada jemari tangannya. Tiba-tiba saja muncul asap hitam bercampur bau anyir darah dari kedua jari jemari tangan Hauw Tian. Itu adalah ilmu andalan Hauw Tian, Cakar Macan Darah. Jangankan daging dan kulit manusia, kekuatan cakar ini mampu merobek lempengan logam keras dengan mudah.
Sembari menyeringai lebar, Hauw Tian mengayunkan cakar tangan nya ke arah Panji Tejo Laksono.
"Mati kau bocah keparat!"