Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Rumah Makan Bunga Persik


Sinar matahari pagi menghangatkan suasana kawasan Kota Beishan yang semalam suntuk di guyur hujan deras. Geliat kehidupan sehari-hari masyarakat Tionghoa yang mendiami wilayah selatan Sungai Yihe ini kembali pulih meski harus bersinggungan dengan beceknya jalan dan tanah yang tergenang air hujan. Para pedagang mulai membuka lapak dagangan mereka. Kedai arak dan beberapa rumah makan juga mulai terlihat ramai dikunjungi oleh para pengunjung yang sebagian besar merupakan orang yang melakukan perjalanan dari Kota Luoyang ke Kota Zhengzhou. Para petani pun mulai sibuk dengan segala kerepotan mengurus sawah dan ladang. Beberapa pandai besi juga terlihat mulai menyalakan api untuk mulai menempa peralatan rumah tangga dan pertanian yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Kota Beishan.


Pagi itu, di penginapan tempat Panji Tejo Laksono menginap, terjadi kesibukan sejak tadi pagi buta. Para pelayan sibuk menyiapkan makanan dalam jumlah banyak untuk keperluan sarapan pagi para pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng yang di pimpin oleh Jenderal Liu King. Karena banyaknya jumlah makanan yang harus mereka buat, sang pemilik penginapan sampai harus menyewa tenaga kerja tambahan hanya untuk menyiapkan makanan bagi para pengawal. Mereka bahu membahu dalam memasak di dapur penginapan agar kebutuhan sarapan para pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng tercukupi.


Panji Tejo Laksono terlihat membuka mata nya perlahan sembari mengucek mata beberapa kali sebelum mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat dia tidur. Putri Song Zhao Meng terlihat telah bangun dan meninggalkan nya tidur sendiri di atas ranjang peraduan. Saat Panji Tejo Laksono hendak bangun, pintu kamar tidur terbuka dari luar dan wajah cantik Song Zhao Meng tersembul sembari tersenyum manis. Dia terlihat segar setelah mandi pagi. Di tangan perempuan cantik Putri Kaisar Huizong ini, ada nampan yang berisi mangkok besar yang berisi air hangat untuk cuci muka sang pangeran muda dari Kadiri.


"Kakak Thee, kau sudah bangun tidur rupanya. Aku tidak tega membangunkan mu jadi aku mandi lebih dulu.


Ini cuci muka mu lebih dulu agar kau terlihat segar", ujar Song Zhao Meng sambil meletakkan nampan berisi mangkok air cuci muka di atas meja kecil di sudut ruangan kamar tidur.


"Kenapa kau repot-repot mengantarkan air cuci muka untuk ku, Meng Er?


Biasanya Luh Jingga yang membawakan nya untuk ku", tanya Panji Tejo Laksono sambil membenahi pakaiannya yang kusut. Setelah beres, dia segera berjalan mendekati Song Zhao Meng yang masih berdiri di samping meja kecil seraya memegang sebuah handuk kecil di tangan nya.


"Kakak Thee,


Kau harus ingat. Istri mu bukan hanya Lu Qing Gang saja. Aku juga istri mu. Tentu saja aku juga harus berbuat hal yang sama dengan nya. Tidak boleh ada perbedaan meski aku adalah seorang putri Kaisar Song yang Agung.


Sekarang cuci wajah mu sebelum mandi. Aku tidak mau melihat suami ku yang tampan ini menjadi tidak sedap dipandang mata hanya karena malas merawat tubuhnya", ucap Song Zhao Meng segera.


"Ah tak ku sangka, ternyata kau bisa bersikap seperti ini juga Tuan Putri Meng Er...


Aku senang dengan perubahan sikap mu ini. Oh iya, mulai sekarang sedikit sedikit belajar lah bahasa Tanah Jawadwipa agar kau mengerti apa yang di bicarakan oleh orang orang ku. Tentu kau lebih mudah belajar bahasa Jawadwipa pada Paman Purusoma karena dia tahu dua bahasa seperti aku", Panji Tejo Laksono tersenyum setelah berkata demikian. Sang pangeran muda dari Kadiri ini mulai mencuci mukanya dengan air hangat yang disiapkan oleh Song Zhao Meng.


Putri Kaisar Huizong ini terlihat tersenyum simpul mendengar ucapan Panji Tejo Laksono dan segera berkata, "Aku akan belajar, Kakak Thee.."


Usai mandi dan berganti pakaian, Panji Tejo Laksono keluar dari dalam kamar tidur di temani oleh Song Zhao Meng. Luh Jingga sudah menunggu nya dan segera segera menggelayut manja di lengan kiri sang pangeran muda karena sekarang adalah waktu gilirannya. Putri Song Zhao Meng pun hanya tersenyum tipis saja karena dia mulai menyadari bahwa Panji Tejo Laksono bukan hanya milik nya seorang.


Setelah sarapan pagi, rombongan itu segera melanjutkan perjalanan. Jalan becek sudah mulai kering dan tanah yang tergenang air hujan pun sudah mulai terlihat. Matahari pagi sudah sepenggal naik ke langit yang cerah hari itu.


Pemandangan alam nan indah tersaji di depan mata para anggota rombongan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng. Gunung gunung batu yang memamerkan keindahan bentang alam yang indah dengan sawah dan ladang yang menghijau di kakinya, seolah turut menemani perjalanan mereka meninggalkan Kota Beishan. Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah Kota Zhengzhou di sebelah barat.


Selepas tengah hari melakukan perjalanan, melewati beberapa desa yang ada di sepanjang perjalanan mereka, menjelang matahari tergelincir ke barat, rombongan besar itu sampai di pintu gerbang Kota Zhengzhou yang megah. Setelah melewati pemeriksaan para prajurit penjaga gerbang kota, rombongan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng memasuki kota besar ini.


Para penduduk Kota Zhengzhou pun turut minggir ke tepi jalan setelah mereka melihat Jenderal Liu King, Chen Su Bing dan Cai Yuan berada di barisan terdepan dalam rombongan ini. Apalagi beberapa pengawal pribadi di belakang mereka membawa bendera merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Hong yang merupakan tanda kebangsawanan. Beberapa anak kecil terlihat berlarian, berebut tempat untuk melihat siapa gerangan yang lewat karena kereta kuda Putri Song Zhao Meng tertutup tirai merah yang tipis hingga siapa yang di dalam tidak terlihat jelas.


Karena ibu Putri Song Zhao Meng berasal dari Zhengzhou dan masih merupakan adik dari Gubernur Zhengzhou, Chow Sing maka untuk malam ini rombongan besar ini mengikuti arahan dari Putri Song Zhao Meng untuk bermalam di istana. Ibu Song Zhao Meng sendiri adalah istri keempat Kaisar Huizong yang bergelar Maharani Mingjie. Song Zhao Meng sendiri memiliki 8 saudara kandung dan 58 saudara tiri yang lain.


Kedatangan Song Zhao Meng di istana Gubernur Zhengzhou langsung di sambut gembira oleh pamannya sendiri, Chow Sing. Setelah mengutarakan maksudnya untuk menumpang bermalam di Zhengzhou sekaligus menemui nenek putri Kaisar Huizong ini, Sima Qian , Gubernur Chow Sing langsung bersedih hati nya.


Melihat perubahan air muka paman nya itu, Putri Song Zhao Meng langsung bertanya, "Apakah telah terjadi sesuatu Paman?".


"Nenek mu baru saja bertengkar dengan ku, Tuan Putri..


Dia sekarang memilih untuk tinggal di Paviliun Bulan Indah agar tidak saling berpapasan dengan ku. Aku sudah berulang kali meminta maaf kepada nya, tapi kau tahu sikap nenekmu seperti apa. Dia perempuan tua yang keras kepala", Gubernur Chow Sing menghela nafas berat ketika teringat penyebab pertengkaran antara dia dan ibu nya.


Menanggapi hal itu, Putri Song Zhao tersenyum simpul. Dia cukup hafal dengan tingkah laku Sima Qian, neneknya dari pihak ibu.


"Paman Chow Sing tidak perlu khawatir", hibur Putri Song Zhao Meng," Nenek pasti akan baik baik saja di Paviliun Bulan Indah. Nanti biar aku yang akan bicara padanya. Berdoa saja ya Paman, semoga aku bisa membujuk nenek untuk mau tinggal bersama dengan Paman Chow lagi".


"Kau memang yang terbaik, Tuan Putri..


Aku beruntung karena memiliki keponakan yang pintar seperti mu", ujar Gubernur Chow Sing dengan gembira.


Setelah menempatkan para prajurit pengawal Panji Tejo Laksono dan barang bawaan mereka di istana Gubernur, Putri Song Zhao Meng mengajak Panji Tejo Laksono menemui nenek Sima Qian di Paviliun Bulan Indah. Namun kali ini dia hanya meminta Luh Jingga saja yang bersama mereka. Alasannya karena para pengawal pribadi nya telah kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.


Mereka bertiga segera keluar dari dalam Istana Gubernur Chow dan berjalan santai menuju ke arah Paviliun Bulan Indah yang memang tak terlalu jauh dari Istana Gubernur Zhengzhou.


Saat melewati sebuah rumah besar yang terlihat ramai dikunjungi oleh para pelanggan, Putri Song Zhao Meng langsung menggelandang tangan kanan Panji Tejo Laksono kesana. Rumah makan ini terlihat indah dengan hiasan lampion merah dengan beberapa tulisan khas Tanah Tiongkok. Diatas pintu masuk, terdapat tulisan besar berhuruf China dengan tinta emas yang berbunyi "Rumah Makan Bunga Persik".


"Selamat datang Nona Muda, Tuan Muda. Mari silahkan silahkan..


Tuan Muda dan Nona Muda ingin pesan apa?", sambut seorang pelayan rumah makan dengan ramah saat Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga memasuki pintu rumah makan ini.


"Pelayan,


Apa disini masih menyediakan daging asap bumbu manis?", tanya Song Zhao Meng segera.


"Kalau begitu, sediakan 3 porsi daging asap bumbu manis dengan Arak Madu Seribu Bunga kalian.


Yang cepat ya", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis.


"Akan segera kami sediakan. Silahkan duduk Nona Muda, Tuan Muda..


Sepertinya meja yang tersedia hanya tinggal yang di ujung sana saja. Silahkan Nona Muda dan Tuan Muda kesana. Nanti pesanan kalian akan segera kami antar", jawab si pelayan seraya menunjuk ke arah sebuah meja makan yang ada di ujung ruangan rumah makan yang sedang penuh pengunjung itu.


Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga segera melangkah ke arah yang ditunjukkan. Di meja makan yang lain, beberapa pasang mata perempuan muda berbaju putih terpaku dengan kehadiran Panji Tejo Laksono. Benar saja, mereka adalah para murid Perguruan Er Mei yang sedang bersama dengan guru mereka, Lu Wei Siang, seorang pendekar besar wanita di dunia persilatan Tanah Tiongkok yang juga dikenal sebagai Biksuni Tangan Seribu. Hanya Yan Ting Ting saja, murid pertama Perguruan Er Mei yang terlihat tidak terpengaruh.


Perubahan air muka para murid Perguruan Er Mei itu membuat Lu Wei Siang mengernyitkan keningnya. Tak pernah sekalipun Xiao Mei, Hua Rong dan kawan kawan nya bersikap seperti itu.


Ehemmm ehemmm...!!


Deheman Lu Wei Siang langsung membuka Xiao Mei dan yang lainnya langsung kaget dan buru buru menundukkan wajahnya agar semburat merah jambu di wajah mereka tidak di lihat oleh guru mereka.


"Xiao Mei, Hua Rong..


Apa yang sedang kalian lihat? Kenapa sikap kalian aneh seperti itu?", tanya Biksuni Lu sembari menatap heran kearah mereka.


"Anu.. itu guru..


Kak Xiao Mei, kau saja yang bicara", ujar Hua Rong sembari terus menunduk.


"Kenapa kau membebankan semuanya pada ku, Hua Rong? Sikapmu selalu seperti itu!


Eh maaf Guru..


Orang yang baru masuk ke dalam rumah makan itu adalah orang yang menolong kami dari gangguan Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou ketika menyusul guru kemari. Dia menghajar dua orang tua bangka mesum itu seorang diri. Kami yang berdelapan saja tidak bisa sedikitpun melukai dua orang jahat itu", ujar Xiao Mei segera. Dia tidak sedikitpun berbohong pada Biksuni Lu Wei Siang.


Hemmmmmmm..


"Masih begitu muda, wajahnya juga tampan. Pantas saja kalian melihatnya seperti itu.


Melihat dandanan nya, sepertinya dia bukan dari Daratan Tengah ini. Bisa menghajar Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou, tentu bukan ilmu beladiri sembarangan yang di milikinya.


Aku harus menyapanya dan berterima kasih kepada nya karena dia sudah menolong kalian", ujar Biksuni Lu Wei Siang seraya berdiri dari tempat duduknya. Xiao Mei, Hua Rong, Yan Ting Ting dan ketujuh orang murid Perguruan Er Mei segera berdiri meninggalkan tempat mereka makan dan menuju ke arah meja makan Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


Kedatangan Biksuni Lu Wei Siang dan para muridnya membuat Panji Tejo Laksono yang sedang menunggu pesanan makanan sedikit kaget juga. Song Zhao Meng yang pernah bertemu sebelumnya dengan Biksuni Lu Wei Siang ini langsung berdiri dari kursinya.


"Buddha sungguh baik hati padaku. Biksuni Seribu Tangan bersedia datang kemari.


Salam hormat kami kepada kalian Biksuni Lu Wei Siang", sapa Song Zhao Meng sembari menghormat pada pimpinan Perguruan Er Mei itu segera.


"Aku sungguh beruntung ada yang mengenali ku, tapi maafkan aku yang tidak berguna ini lupa dengan mu, Nona Muda.


Siapa nama mu? Atau dimana kita pernah bertemu sebelumnya?", Biksuni Lu Wei Siang dengan sopan bertanya.


"Tentu saja Biksuni Lu akan lupa bahwa kita pernah bertemu Chengdu beberapa tahun yang lalu saat ada pertemuan para pendekar yang membahas tentang sikap para pendekar aliran putih terhadap Aliran Ming yang mulai meresahkan. Aku adalah gadis kecil yang bersama dengan Paman Chen Su Bing waktu itu Biksuni", jawab Song Zhao Meng sambil tersenyum.


"Buddha memberkati..


Rupanya kau gadis kecil itu. Sungguh kita berjodoh disini. Maaf jika aku mengganggu waktu mu gadis kecil, tapi aku kemari untuk berterima kasih kepada Tuan Muda ini karena sudah menolong murid murid ku sewaktu di ganggu Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou kemarin", Biksuni Lu Wei Siang membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono yang ikut berdiri menyambut kedatangan para anggota Perguruan Er Mei ini. Ucapan Biksuni Lu Wei Siang segera membuat Song Zhao Meng menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Biksuni tidak perlu begitu. Kebetulan aku hanya lewat dan tak sengaja mendengar pertarungan murid Biksuni dengan dua setan tua itu. Hanya bantuan kecil, tak perlu di bahas", Panji Tejo Laksono membalas hormat Biksuni Lu Wei Siang dengan membungkukkan badannya.


"Sungguh pendekar muda yang rendah hati. Aku sangat kagum pada mu", sahut Biksuni Lu dengan sopan.


Saat mereka sedang bercakap-cakap, dari arah pintu Si Sesat Tua Guo Tian Yin dan Ah Seng muridnya muncul. Mata Guo Tian Yin tampak nanar menatap ke arah Panji Tejo Laksono karena ciri-ciri nya sama dengan yang di ceritakan oleh Si Bandit Baju Hijau. Dengan penuh amarah, Guo Tian Yin langsung menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono sembari berteriak keras,


"Bocah keparat !


Disini kau sembunyi rupanya!!"