
Teriakan keras dari mulut salah seorang prajurit penjaga gerbang istana langsung membuat geger seluruh penghuni istana Kadipaten Bojonegoro. Bunyi kentongan bertalu-talu atau juga disebut sebagai titir oleh masyarakat Jawadwipa, membangunkan semua penghuni istana. Mereka semua berlarian menuju ke arah kentongan di tabuh.
Di halaman balai tamu kehormatan yang menjadi tempat tinggal Mapanji Jayawarsa dan para anggota rombongan pengiring pengantin dari Istana Katang-katang di Kadiri alias Dahanapura, mereka mengerubungi mayat Selasih si penari tledek terkenal yang di bunuh oleh orang tak dikenal. Mereka semua saling bertanya satu sama lain karena semuanya tidak ada yang melihat peristiwa pembunuhan ini.
Bekel Prajurit Kadipaten Bojonegoro, Randusongo, langsung mendekati ke arah para prajurit penjaga gerbang istana yang pertama kali melihat mayat Selasih.
"Apa kalian melihat sesuatu yang mencurigakan saat terdengar suara teriakan dari Selasih ini?", tanya Bekel Randusongo sembari menatap ke arah dua prajurit yang pertama kali datang.
"Mohon ampun Gusti Bekel..
Sewaktu hamba datang kemari, Selasih ini sudah tergeletak meregang nyawa dengan luka seperti ini.
Selain itu, kami yang sedang berjaga juga tidak melihat siapapun yang mencurigakan masuk ke dalam istana. Mungkin para prajurit yang berpatroli melihat sesuatu, hamba kurang tahu", si prajurit penjaga gerbang istana menghormat pada Bekel Randusongo. Mendengar jawaban itu, Bekel Randusongo segera menoleh ke arah kepala regu prajurit patroli yang ikut berkerumun di tempat itu.
"Apa kalian melihat sesuatu yang tidak biasa saat bertugas?".
"Mohon maaf Gusti Bekel...
Tadi kami sempat melihat sesuatu yang seperti terbang melintas di atas kepala kami. Kami mengira kalau itu hanya seekor burung malam besar atau seekor kalong saja", jawab si kepala regu prajurit patroli dengan cepat.
"Hemmmmmmm... Rupanya ada seorang pembunuh berilmu tinggi yang menjadi pelaku pembunuhan ini.
Kau segera laporkan ini pada Tumenggung Sudana. Sisanya amankan tempat ini, jangan sedikitpun memindahkan mayat Selasih sebelum Tumenggung Sudana datang. Aku dan kepala regu prajurit patroli ini akan berupaya untuk mengejar si pembunuh itu. Segera berangkat!", ujar Bekel Randusongo segera.
"Baik Gusti Bekel", jawab seluruh prajurit yang ada di tempat itu. Setelah memberikan perintah, Tumenggung Sudana segera bergegas keluar dari dalam istana diikuti oleh para prajurit yang berpatroli untuk mengejar si pembunuh bayaran.
Kegaduhan di balai tamu kehormatan itu rupanya telah membangunkan Pangeran Mapanji Jayawarsa. Saat putra kedua Prabu Jayengrana itu bangun dan keluar dari kamar tidur nya, dia di beritahu bahwa Selasih si penari tledek yang menemaninya tidur malam itu terbunuh di halaman istana. Serta merta, Mapanji Jayawarsa segera bergegas menuju ke tempat dimana Selasih di temukan. Dan benar saja, begitu Mapanji Jayawarsa sampai di tempat itu, dia melihat bahwa wanita cantik yang semalam suntuk bercinta dengan nya telah terbujur kaku dengan tubuh bersimbah darah.
"Bangsat !!
Apa saja kerja para prajurit penjaga istana ini hingga seorang pembunuh bebas berkeliaran di dalam istana tanpa ketahuan ha?", maki Mapanji Jayawarsa dengan gusar. Pria muda tampan yang merupakan putra dari Permaisuri Kedua Ayu Galuh ini benar-benar marah melihat tewasnya Selasih.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Kami semua berjaga jaga sesuai dengan kebiasaan. Sepertinya pembunuh yang menghabisi nyawa Selasih merupakan orang berilmu tinggi. Para prajurit patroli yang sempat melihat sesosok bayangan hitam terbang keluar dari dalam istana saat ini sedang mengejar nya sekarang", lapor sang prajurit penjaga gerbang istana dengan menunduk ketakutan.
"Huhhhhh.. Kalau sampai pembunuh itu tidak di temukan juga, jangan harap kalian semua bisa bebas tanpa hukuman.
Sekarang angkat mayat Selasih dan urus pemakaman nya. Cepat, jangan bikin aku tambah kesal dengan kebodohan kalian! ", perintah Mapanji Jayawarsa sembari melotot ke arah para prajurit.
Dengan sigap para prajurit Kadipaten Bojonegoro segera mengangkut mayat Selasih keluar dari dalam Istana Kadipaten Bojonegoro sedangkan Mapanji Jayawarsa kembali ke tempat peristirahatan nya dengan muka masam.
Dari sudut pintu tembusan menuju Keputren, Dewi Rara Muninggar dan Surti saling berpandangan sejenak sebelum senyum terukir di wajah cantik Dewi Rara Muninggar.
"Kau jalankan tugas mu dengan baik Surti".
*****
Panji Tejo Laksono terus menggebrak kuda tunggangan nya diikuti oleh seluruh pengikutnya setelah bermalam di Kota Qi. Setelah menempuh perjalanan selama 2 hari semalam akhirnya mereka tiba di kota Zhou yang terletak di tepi Sungai Yinghe. Selama perjalanan nyaris tak terjadi gangguan apapun. Penduduk yang ramah dan bersahabat juga menjadi tambahan wawasan baru bagi Panji Tejo Laksono.
Kota Zhou terkenal dengan kota yang penuh kebebasan. Sebagai salah satu tempat yang menjadi pelabuhan sungai yang merupakan urat nadi perdagangan di Daratan Tiongkok waktu itu, kota ini pun semakin berkembang menjadi kota dengan kebebasan nya. Hukum dan pemerintahan kurang memiliki pengaruh di tempat ini sehingga usaha kemaksiatan seperti rumah judi, pelacuran dan kedai arak pun tumbuh subur di tempat yang juga berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang yang ingin ke Kaifeng ataupun kota lain di selatan. Ada banyak bandit dan penjahat yang sering membuat kekacauan di Kota Zhou ini sehingga kota ini tidak benar-benar aman sepenuhnya meski sudah di dalam benteng tembok kota.
Tak hanya itu, Kota Zhou pun menjadi tempat beberapa usaha pengawalan yang terkenal. Mungkin karena faktor keamanan lah yang membuat usaha ini bisa berkembang pesat di kota Zhou. Meskipun banyak jasa pengawalan yang ada, namun hanya ada dua yang begitu menguasai jasa pengawalan di kota ini. Mereka adalah Jasa Pengawalan Bendera Naga dan Jasa Pengawalan Tian Ming.
Jasa pengawalan Tian Ming di pimpin oleh seorang lelaki paruh baya bertubuh besar yang bernama Chow Tian Ming yang memiliki lebih dari 200 orang pengawal dengan memakai seragam berwarna hitam. Sebenarnya jasa pengawalan ini adalah usaha Chow Tian Ming untuk mendapatkan kedok sempurna sebagai persembunyian dari usaha yang dilakukan oleh nya. Anak buah nya rata-rata adalah bekas perampok dan pencuri yang kini di dandani sebagai orang terhormat untuk menarik simpati masyarakat Kota Zhou. Namun mereka pun kadang tidak segan merampok sendiri orang yang menyewa jasa pengawalan mereka jika tahu bahwa orang yang menyewanya adalah orang kaya raya. Mereka memiliki markas di timur kota Zhou, di dekat sebuah rumah bordil yang terkenal di tepi sungai Yinghe.
Sedangkan Jasa Pengawalan Bendera Naga sendiri di pimpin oleh seorang lelaki sepuh yang bernama Long Wu. Bekas perwira prajurit Kekaisaran Song yang sudah pensiun ini, meninggalkan ibukota Song untuk hidup bersama dengan istri dan satu satunya putri mereka, Long Lian di kota kelahirannya. Mereka lantas mendirikan jasa pengawalan ini sebagai usaha untuk menyambung hidup. Perlahan tapi pasti, Jasa Pengawalan Bendera Naga berkembang hingga memiliki sekitar 150 pengawal yang terdiri dari bekas prajurit, pendekar yang lelah berkelana dan beberapa murid perguruan yang ingin mencoba untuk mencari pekerjaan. Mereka membangun sebuah markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga di sisi barat Kota Zhou, tepatnya di sisi pertemuan dua anak sungai Yinghe yang merupakan urat nadi perdagangan di kota ini.
Sudah sejak lama, Chow Tian Ming membenci Long Wu karena banyak sekali penyewa jasa pengawalan nya yang berpindah ke tempat Jasa Pengawalan Bendera Naga milik Long Wu. Selain itu, Long Wu pun lebih dekat dengan Walikota Zhou, Jiang Wei karena istri Long Wu merupakan sepupu Jiang Wei. Meski pun membenci Long Wu, Chow Tian Ming tidak memperlihatkan wajah aslinya di depan Long Wu. Dia malah berusaha untuk mendekatkan putra keduanya, Chow Yun dengan putri semata wayang Long Wu, Long Lian. Meski Long Lian tidak memperlihatkan sikap tertarik pada Chow Yun, tapi Chow Yun yang tebal muka terus berusaha untuk mendekati Long Lian yang memiliki wajah cantik.
Saat ini Long Lian sedang menikmati makanan yang dia pesan dalam sebuah rumah makan yang terletak di utara Kota Zhou bersama dengan dua pengawal yang ditugaskan oleh Long Wu untuk menemani sang nona muda. Chow Yun yang tebal muka terus berusaha untuk menarik perhatian Long Lian sembari mengajak Long Lian untuk mengobrol meski gadis cantik itu terlihat tidak terlalu menanggapi omongan Chow Yun saat rombongan Panji Tejo Laksono masuk ke dalam rumah makan ini.
"Adik Lian,
Apakah kau tahu, baru baru ini ayah ku pulang dari Kota Kaifeng dan membawa banyak sekali barang bagus. Apa kau tertarik untuk melihat nya?", ujar Chow Yun sembari terus tersenyum pada Long Lian. Namun yang diajak bicara kini justru sedang melongo melihat ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang bicara dengan sang pemilik rumah makan untuk mempersiapkan banyak makanan bagi para pengikutnya.
Melihat itu, Chow Yun merasa kesal karena merasa di abaikan begitu saja oleh Long Lian dan segera ikut menoleh ke arah Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga yang sedang berjalan menuju ke salah satu meja makan yang terletak di sudut ruangan.
Merasa geram karena Panji Tejo Laksono mencuri perhatian Long Lian, Chow Yun segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Panji Tejo Laksono diikuti oleh dua orang pengawal pribadi nya.
Ku lihat baru pertama kali kau datang ke kota ini. Apa kau bukan penduduk Kota Zhou?", tanya Chow Yun begitu dia ada di dekat meja Panji Tejo Laksono.
"Benar sekali Tuan Muda Chow, aku Thee Jo.
Aku kebetulan saja melintas di kota ini setelah melakukan perjalanan jauh dari Kaifeng. Memangnya kenapa Tuan Muda Chow?", Panji Tejo Laksono berusaha sesopan mungkin pada Chow Yun karena sebelumnya sudah di beri tahu bahwa Kota Zhou sangat tidak aman untuk orang asing.
"Huh pantas saja kau masih bisa sesombong ini pada ku. Semua orang di Kota Zhou ini sangat mengenal ku, Chow Yun putra Chow Tian Ming, kepala Jasa Pengawalan Tian Ming yang sangat terkenal hingga ke Ibukota Kaifeng.
Kalau kau orang yang tahu diri, seharusnya kau segera tuangkan teh untuk ku sebagai tanda penghormatan mu pada ku, Tuan Muda Thee", ujar Chow Yun dengan pongahnya. Saat Song Zhao Meng yang kesal dengan sikap sombong Chow Yun hendak menjawab omongan Chow Yun, Long Lian yang sedang menikmati makan siang nya langsung menggebrak meja makan di depannya sembari mendelik tajam ke arah Chow Yun.
"Chow Yun,
Apa kau ingin selalu mengganggu setiap orang baru yang memasuki Kota Zhou ini menggunakan nama Jasa Pengawalan Tian Ming mu ha? Orang macam apa kau ini?", teriak Long Lian sembari berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah mereka.
"Adik Lian, bukan begitu maksud ku. Aku hanya ingin...", belum selesai Chow Yun bicara, Long Lian lebih dulu memotong perkataan nya.
"Hanya ingin apa? Hanya ingin mengganggu nya dan menyombongkan diri mu?
Ingat Chow Yun,
Yang memiliki Jasa Pengawalan Tian Ming itu ayah mu, bukan kau. Jangan jadi lelaki tidak berguna yang hanya bersembunyi di balik nama besar ayahnya saja", seketika wajah Chow Yun langsung merah padam mendengar kata kata dari Long Lian.
"Adik Lian, jaga bicaramu ya!
Jangan sampai aku lupa bahwa kau adalah seorang gadis", hardik Chow Yun sembari menunjuk ke arah Long Lian.
"Apa kau pikir aku takut dengan mu, Chow Yun?
Kalau kau memang lelaki sejati, ayo kita buktikan dengan bertarung di halaman. Sudah terlalu lama aku bersabar dengan sikap konyol mu yang berusaha untuk mendekati ku", tantang Long Lian segera.
"Kauu..."
"Tuan Muda Yun, sebaiknya Anda mengalah untuk saat ini. Orang bijak berkata, mengalah hari ini untuk menang esok hari ", bisik salah seorang dari dua pengawal pribadi Chow Yun segera. Dia sepenuhnya menyadari bahwa jika di paksakan untuk bertarung melawan Long Lian, maka beberapa orang di luar rumah makan yang merupakan orang Long Wu pasti akan menyerbu masuk untuk membantu anak majikan mereka.
Hemmmmmmmm...
Chow Yun langsung mendengus dingin karena juga menyadari situasi yang sedang mereka hadapi. Bagaimanapun juga ia bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca keadaan.
"Adik Lian,
Kali ini aku biarkan kau merendahkan martabat ku di depan semua orang yang hadir di tempat ini. Tapi ingat aku tidak akan berdiam diri untuk penghinaan yang kau lakukan.
Dan kau Tuan Muda Thee,
Sebaiknya anda berhati-hati di Kota Zhou ini jika masih ingin hidup lebih lama ", usai berkata demikian, Chow Yun segera melangkah pergi dari rumah makan itu diikuti oleh dua orang pengawal yang setia menemani nya.
Setelah Chow Yun pergi, Panji Tejo Laksono langsung menghormat pada Long Lian.
"Terima kasih atas bantuannya , Nona Muda eh siapa tadi nama nona?".
"Nama ku Long Lian, Tuan Muda.. Orang tua ku memanggil ku dengan nama Lian Lian sedang orang yang sayang pada ku memanggil ku dengan nama Lian Er", ujar Long Lian sembari tersenyum malu-malu. Ini membuat Song Zhao Meng dan Luh Jingga terlihat tidak suka dengan sikap Long Lian.
"Oh iya Nona Lian. Nama ku Thee Jo.
Sekali lagi aku berterimakasih pada nona karena sudah membantu kami", sambung Panji Tejo Laksono segera.
"Ah tidak perlu sungkan Tuan Muda Thee..
Oh ya aku sarankan agar kalian semua sebaiknya ikut aku ke markas Jasa Pengawalan Bendera Naga untuk beristirahat. Aku hafal dengan cara berpikir Chow Yun apalagi kalau dia sudah mengeluarkan ancaman seperti itu", imbuh Long Lian menawarkan bantuan. Mendengar hal itu, Panji Tejo Laksono langsung mengangguk menyetujui karena dia juga tidak ingin ada masalah lagi di perjalanan pulangnya.
Setelah menikmati makan siang, rombongan Panji Tejo Laksono mengikuti Long Lian ke arah markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga. Song Zhao Meng yang kurang suka dengan Long Lian, langsung berbisik pada Luh Jingga yang kini duduk di sampingnya dalam kereta kuda,
"Kak Gang Er,
Kita harus waspada dengan Nona Muda Long ini".