Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga


Long Lian terdiam mendengar ucapan ibunya. Setidaknya dia sadar bahwa Panji Tejo Laksono dan dia ibarat bumi dan langit yang berjarak sangat jauh. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan memendam perasaan suka nya pada sang pangeran muda dari Kadiri itu sedalam-dalamnya.


Malam terus beranjak naik. Semakin lama hawa dingin malam semakin dingin menusuk tulang. Pesta besar-besaran yang di adakan oleh Long Wu untuk Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng pun telah berakhir. Semua orang telah berada di peraduan mereka masing-masing untuk tidur melepaskan diri dari segala hiruk pikuk kesibukan dunia mereka untuk sesaat.


Matahari pagi perlahan muncul di ufuk timur setelah kokok ayam jantan bersahutan terdengar. Suara suara alam ini menandakan bahwa pagi telah tiba di wilayah Kota Zhou. Geliat kehidupan manusia pun mulai terjadi di kota pelabuhan Sungai Yinghe ini.


Karena ingin berbuat baik kepada Putri Kaisar Huizong, Walikota Zhou Jiang Wei meminjamkan kapal Kota Zhou untuk rombongan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan agar lebih cepat sampai di Wilayah Kegubernuran Hefei. Panji Tejo Laksono pun tak menolak keinginan Walikota Zhou karena juga ingin cepat segera pulang ke Tanah Jawadwipa. Begitu juga dengan Song Zhao Meng yang berterima kasih atas kebaikan hati Walikota Zhou.


Pagi itu setelah selesai mengangkut barang bawaan mereka ke atas kapal besar milik Walikota Zhou, dua kapal besar ini segera meninggalkan Kota Zhou dengan di awaki beberapa orang kepercayaan Walikota Zhou. Perlahan kapal bergerak menyusuri Sungai Yinghe meninggalkan tempat itu. Long Lian menatap kepergian mereka dengan wajah sendu.


Riak air sungai yang bermuara di Laut China Timur ini terlihat tenang. Kapal yang ditumpangi oleh Panji Tejo Laksono berada di depan, sedangkan kapal yang mengangkut para prajurit Panjalu ada di belakang. Kali ini perjalanan mereka menuju ke wilayah Kegubernuran Hefei begitu santai.


"Gusti Pangeran,


Kira kira berapa lama kita sampai di pelabuhan Hefei?", tanya Luh Jingga sembari menyenderkan kepalanya di bahu kiri sang pangeran muda dari Kadiri itu. Panji Tejo Laksono yang berdiri di haluan kapal tersenyum simpul melihat tingkah Luh Jingga.


"Mana aku tahu Luh?


Coba kau tanya saja pada Meng Er. Pasti dia lebih tahu tentang hal itu", jawab Panji Tejo Laksono segera.


"Hemmmmmmm..


Aku ingin secepatnya pulang ke Panjalu, Gusti Pangeran. Entah kenapa aku selalu teringat pada Romo Resi Damarmoyo di Bukit Penampihan", ujar Luh Jingga sembari menatap ke langit selatan yang cerah.


"Aku juga sudah rindu pada kampung halaman kita, Luh..


Nanti begitu sampai di Lin'an, akan ku minta Paman Purusoma untuk segera mengangkat sauh agar kita cepat pulang kembali ke tempat kita", Panji Tejo Laksono turut memandang langit selatan. Ada perasaan rindu pada suasana di sekitar Kotaraja Daha.


Perahu mereka terus menyusuri Sungai Yinghe. Setengah hari perjalanan, mereka mencapai Kota Luoyang. Selepas membeli beberapa bekal makanan untuk perjalanan mereka, kapal kembali bergerak terus ke arah timur.


Begitu memasuki sebuah perkampungan yang terletak di tepi selatan Sungai Yinghe yang bernama Chengguan, tiba-tiba kabut tebal turun menyelimuti seluruh wilayah tempat itu hingga nahkoda kapal yang bernama Lao Tzu, terpaksa harus menghentikan perjalanan mereka dan menepi di tepi pelabuhan Desa Chengguan. Jarak pandang yang terbatas membuat mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju ke arah pelabuhan Hefei.


"Semuanya berhati-hati !


Ini bukan kabut biasa. Cepat masuk ke dalam rumah masing-masing ", terdengar suara berat seorang lelaki paruh baya sembari memukul gong kecil yang merupakan alat peringatan bahaya yang biasa bagi masyarakat Tionghoa.


Mendengar peringatan itu, semua orang yang ada di kapal penyeberangan sungai langsung bersiaga.


Seorang nelayan paruh baya yang baru saja selesai mencari ikan di Sungai Yinghe buru buru melompat ke dermaga kecil pelabuhan sungai itu dan dengan cepat mengikat tali perahu nya pada tiang pancang yang ada di sana. Setengah tergesa-gesa, keranjang bambu yang di gunakan untuk wadah ikan tangkapan nya terguling ke atas papan kayu dermaga karena dia tersandung saat berlari. Dia buru-buru mengumpulkan ikan hasil tangkapannya itu. Saat itu Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng serta Luh Jingga yang melihat kejadian itu segera mendekati nya. Tanpa diminta, Panji Tejo Laksono membantu memasukkan ikan yang tercecer ke dalam keranjang bambu.


"Maaf Paman, kenapa semua orang terlihat seperti sedang ketakutan karena kabut ini?


Apa paman bisa menceritakan kepadaku?", tanya Panji Tejo Laksono sembari terus membantu memasukkan ikan ke dalam keranjang bambu.


"Ada iblis yang berkeliaran saat kabut ini muncul, Tuan Muda. Dia selalu mengincar nyawa orang-orang yang berkeliaran di luar rumah. Sudah puluhan orang warga Desa Chengguan yang menjadi korban.


Terimakasih atas bantuan mu, aku pamit dulu", balas sang nelayan tua itu setelah ikan terakhir tangkapan nya yang tercecer masuk ke dalam keranjang. Buru buru dia memanggul keranjang bambu itu dan setengah berlari menuju ke arah rumah nya yang ada di ujung desa. Para penduduk Desa Chengguan pun langsung menutup pintu dan jendela rumah mereka masing-masing setelah anggota keluarga mereka masuk ke dalam rumah. Suasana di Desa Chengguan langsung sepi seperti desa mati.


Suasana seketika menjadi tegang. Semua orang segera saling beradu punggung untuk bersiap menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi.


Terdengar suara burung gagak yang tiba-tiba bersuara dari balik tebalnya kabut. Kemudian muncul beberapa gagak beterbangan dari dalam kabut. Sebentar kemudian muncul dua orang kurus berpakaian hitam-hitam seperti bulu burung gagak yang melayang turun ke depan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Wajah mereka yang penuh riasan berwarna hitam semakin menambah seramnya penampilan mereka.


Mereka berdua adalah iblis yang di maksud oleh nelayan tua tadi. Sepasang pendekar sesat yang namanya sangat di takuti oleh para pendekar dunia persilatan Tanah Tiongkok, Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga. Mereka berdua adalah sepasang pendekar kejam yang suka membunuh tanpa pandang bulu. Selain mereka menyembah Raja Neraka alias Raja Iblis sebagai syarat untuk menjadi kuat, mereka juga memiliki ritual pemujaan dengan mengorbankan nyawa orang.


Yang laki laki bernama Li Chun Jun. Pria bertubuh kurus namun berotot dengan mata besar dan kumis tipis ini, terlihat memakai hiasan bulu bulu gagak berwarna hitam di pakaian dan kepalanya. Sebuah pedang tersandang di punggungnya. Sedangkan yang perempuan bernama Qing Yu. Perempuan berwajah tirus ini terlihat seperti mayat hidup dengan kulit wajah pucat dengan mata yang cekung. Bibirnya yang tipis tampak menghitam akibat riasan bibir yang dia pakai. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Li Chun Jun, namun terlihat sedikit lebih berisi. Seperti Li Chun Jun, Qing Yu juga memakai riasan bulu gagak berwarna hitam di rambut dan pada lengan bajunya yang berwarna gelap.


Sebulan ini, mereka terus membantai rakyat di sekitar Desa Chengguan untuk memenuhi permintaan pengorbanan 100 nyawa untuk meningkatkan kekuatan tenaga dalam mereka dengan cara menghisap nyawa mereka. Sungguh tindakan yang hanya pantas di lakukan oleh seorang iblis yang menjelma sebagai manusia.


Sesungguhnya, pemerintah daerah dan pusat di Kekaisaran Song telah berulang kali berupaya untuk menangkap mereka hidup atau mati, namun semuanya gagal karena kepandaian ilmu beladiri mereka yang tinggi. Bahkan beberapa pendekar golongan putih yang ikut membantu, justru malah menjadi korban dari kemampuan beladiri mereka yang aneh dan sesat.


Panji Tejo Laksono langsung waspada terhadap Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga ini karena merasakan sesuatu kekuatan hitam yang berakar kuat dalam diri dua orang pria dan wanita ini.


Hihihihihihihi...!


Terdengar suara tawa lirih tapi menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya dari bibir Qing Yu alias Iblis Gagak Betina.


"Rupanya ada banyak sekali orang yang ingin mati di tempat ini, Kak Jun", Qing Yu terus melangkah sambil menyeringai lebar di samping Li Chun Jun yang menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan kedua gadis cantik di sampingnya.


Rakryan Purusoma yang memahami perkataan mereka langsung bergerak diikuti oleh Demung Gumbreg. Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi segera ikut melesat menyusul mereka berdua ke depan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga serta Song Zhao Meng dengan menggenggam erat senjata mereka masing-masing.


Tanpa menunggu perintah, keempat orang punggawa Kerajaan Panjalu itu segera menerjang maju ke arah Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga.


"Cecunguk cecunguk bodoh!


Kalian tidak tahu diri!!", ucap Li Chun Jun alias Si Iblis Gagak Jantan sembari mengibaskan tangan kanannya.


Whuuuggghh !


Serangkum angin dingin tenaga dalam berdesir kencang mengikuti kibasan tangan Li Chun Jun. Laksana tembok angin yang besar, kibasan angin dingin ini langsung menghadang laju pergerakan keempat orang perwira tinggi prajurit Panjalu yang melesat cepat kearah Sepasang Iblis Gagak Berkaki Tiga.


Dhhieeeeeessshhhh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Terdengar suara lenguhan panjang dari salah satu perwira tinggi prajurit Panjalu yang menerjang maju dan tubuh keempatnya terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah di tepi Sungai Yinghe dengan keras. Rakryan Purusoma yang memiliki kemampuan beladiri paling rendah langsung muntah darah segar sedangkan Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Demung Gumbreg nampak mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibir mereka. Ini menandakan bahwa tenaga dalam yang dimiliki oleh Li Chun Jun sangat tinggi.


"Brengsek uhukkk..


Si wajah mayat itu rupanya berilmu tinggi, Lu. Kita terlalu meremehkan mereka", ucap Demung Gumbreg sembari bangkit dari tempat jatuhnya. Dadanya terasa sesak bukan main, seperti baru saja di hantam balok kayu besar.


"Uhukkk uhukkk.. Kau benar Mbreg, kita terlalu gegabah langsung menyerang mereka.


Sebaiknya kita berhati-hati kalau tidak ingin mati konyol di sini uhukkk..", Tumenggung Ludaka terbatuk-batuk merasakan sakit pada dada nya. Dia langsung menggenggam erat gagang pedang pendeknya dan bersiap untuk maju kembali namun Panji Tejo Laksono langsung memberikan isyarat tangan kepada mereka berempat untuk diam di tempat mereka masing-masing.


"Paman berempat, sebaiknya kalian tetap di situ saja..


Urusan mereka, biar aku yang hadapi".