
Rara Pujiwati yang ketakutan dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"A-aku tidak tahu apa apa, Gusti Senopati..
Sumpah atas nama Dewa Wisnu, aku sama sekali tidak mengetahui tentang kejadian ini", Rara Pujiwati terbata bata menjawabnya pertanyaan Senopati Gardana. Mendengar jawaban itu, perwira tinggi prajurit Seloageng bertubuh gempal itu langsung memelototi Rara Pujiwati.
Brruuaaaakkkkkkkh !!
"Jangan bohong !!
Gusti Pangeran Adipati pasti akan menjatuhkan hukuman mati pada mu jika kau berani menutup-nutupi siapa dalang dari peristiwa ini. Cepat katakan, jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk menyiksa mu", Senopati Gardana menggebrak meja kayu di depan Rara Pujiwati dengan keras hingga bunyinya terdengar sampai di luar ruangan itu. Rara Pujiwati sampai terlonjak saking kagetnya.
"Sumpah mati, Gusti Senopati hamba tidak tahu..
Orang yang menyerang Gusti Pangeran Adipati itu datang bersama dengan Gusti Rakryan Maheswara, Mantri Amancapraja ke tempat hamba. Kata nya dia butuh pekerjaan, dan Gusti Rakryan Maheswara mengatakan bahwa ia bisa menyewa rombongan kami dengan harga tinggi jika orang itu masuk ke dalam rombongan para penabuh gamelan.
Karena berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang ditawarkan oleh Rakryan Maheswara, akhirnya hamba menerima kehadirannya. Andai saja hamba tahu akan berakhir seperti ini, hamba pasti menolak orang itu ", uraian panjang dari Rara Pujiwati membuat Tumenggung Ludaka dan berdiri di atas Senopati Gardana langsung mengernyitkan keningnya.
Hemmmmmmm..
"Jadi yang membawa masuk orang itu ke dalam rombongan kalian adalah Rakryan Maheswara?", tanya Tumenggung Ludaka yang sedari tadi terus mengawasi gerak-gerik Rara Pujiwati yang ketakutan. Tumenggung Ludaka yang berpengalaman dalam menangani permasalahan mata-mata seperti ini, langsung tahu bahwa Rara Pujiwati tidak sedang berbohong.
"Benar sekali Gusti Perwira..
Dia di bawa ke tempat kami di Kadipaten Karang Anom, sepekan sebelum acara ini di laksanakan. Orangnya pendiam dan tak banyak bicara, namun dia sering menghilang tanpa kabar. Namanya Gorawangsa", Rara Pujiwati mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Ludaka.
Mendengar nama itu di sebut, Senopati Gardana dan Tumenggung Ludaka saling berpandangan. Sebagai kepala pasukan Kadipaten Seloageng yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Jenggala, Senopati Gardana walaupun belum pernah bertemu namun sering mendengar sepak terjang Gorawangsa yang dikenal sebagai Pendekar Pedang Pencabut Nyawa sebagai pendekar bayaran yang sering membantai orang hanya berdasarkan kepeng emas di wilayah Jenggala.
Tumenggung Ludaka sendiri juga sering menerima laporan dari para telik sandi yang bertugas di perbatasan mengenai ulah Gorawangsa yang sering mengacau di perbatasan wilayah Panjalu.
"Gorawangsa? Jadi orang yang mencoba untuk mencelakai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono itu namanya Gorawangsa?", Tumenggung Ludaka kembali bertanya kepada sang penari tledek.
"Benar Gusti Perwira...
Namanya Gorawangsa. Dia pernah berkata bahwa ia berasal dari kaki Gunung Bromo", ucap Rara Pujiwati mempertegas cerita nya. Mendengar jawaban ini, baik Tumenggung Ludaka maupun Senopati Gardana semakin yakin bahwa orang yang berupaya untuk membunuh Panji Tejo Laksono adalah benar-benar Gorawangsa si Pendekar Pedang Pencabut Nyawa.
"Baik, kami percaya dengan omongan mu.. Namun untuk menjaga keselamatan mu, kau dan anak buah mu sebaiknya tetap di tempat ini sampai kami menanyai Rakryan Maheswara.
Aku khawatir, ada pihak lain yang ingin membungkam mulut kalian untuk menutupi jejak dalang upaya pembunuhan ini", begitu selesai bicara, Senopati Gardana dan Tumenggung Ludaka segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan satu isyarat, dua orang penjaga penjara segera mengantar Rara Pujiwati ke ruang tahanan nya.
"Kita harus segera melaporkan ini pada Gusti Pangeran Adipati, Tumenggung Ludaka..
Jika tidak, aku khawatir kalau Rakryan Maheswara kabur dari istana untuk menghindari penangkapan nya", mendengar ucapan Senopati Gardana, Tumenggung Ludaka mengangguk mengerti dan mereka berdua segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk menuju ke ruang pribadi Adipati Seloageng.
Sementara itu, Rakryan Maheswara yang melihat kegagalan Gorawangsa dalam mencelakai Panji Tejo Laksono diam diam mulai menyusun rencana pelarian nya. Meski masih ikut serta dalam acara ramah tamah, namun sebelum acara berakhir Maheswara sudah pulang lebih dulu.
Sesampainya di kediamannya, Maheswara segera menyiapkan beberapa baju ke dalam buntelan kain hitam. Melihat sikap aneh suaminya, Dewi Anggarasari segera bertanya.
"Mau kemana Kangmas? Kog kelihatan buru-buru begitu?".
Tanpa menoleh ke arah istrinya, Maheswara terus melakukan pekerjaan nya sambil menjawab sekenanya, " Ada urusan di luar kota. Harus berangkat hari ini juga".
"Kog mendadak sekali? Apa ini perintah dari Pangeran Panji Tejo Laksono?", kembali Dewi Anggarasari bertanya. Mendengar pertanyaan itu, Maheswara menghentikan kegiatannya sejenak. Wajah pria bertubuh kekar ini nampak menegang seperti sedang menahan amarahnya. Namun Maheswara segera menguasai dirinya agar tidak menimbulkan kecurigaan dalam diri Dewi Anggarasari.
"Benar, ini tugas dari Adipati baru Seloageng Dinda", jawab Maheswara sembari terus mencari-cari sesuatu di dalam tumpukan baju di lemari pakaian nya.
Mendengar jawaban itu, Dewi Anggarasari tidak bertanya lagi dan meninggalkan suaminya yang masih mengobrak-abrik seisi lemari pakaian nya.
Di ruang pribadi Adipati Seloageng, Panji Tejo Laksono yang menerima kedatangan Tumenggung Ludaka dan Senopati Gardana nampak sedang berpikir keras setelah mendengar penjelasan dan pemikiran dari kedua orang perwira ini. Pangeran muda dari Kadiri ini mengelus dagunya sembari terus mendengarkan uraian Tumenggung Ludaka tentang hasil penyelidikannya. Begitu Tumenggung Ludaka selesai bicara, Panji Tejo Laksono segera melontarkan pertanyaan nya.
"Jadi, menurut penyelidikan paman dan Senopati Gardana, dalang dari semua kejadian ini adalah Paman Maheswara?", mendengar pertanyaan itu, kedua orang itu segera mengangguk penuh keyakinan.
Jika di hitung dari rentetan peristiwa yang terjadi, ia adalah satu-satunya tersangka yang paling mungkin berbuat itu", jawab Senopati Gardana segera.
"Tapi kenapa dia tega berbuat seperti itu? Apa salah ku padanya? Sedangkan aku masih terhitung keponakannya", tanya Panji Tejo Laksono yang seakan masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
"Semua tindak kejahatan memang punya alasan, Gusti Pangeran.. Siapapun pelakunya, pasti memiliki alasan mereka sendiri.
Tapi entah itu keluarga atau kawan dekat dari Gusti Pangeran, untuk semua pelaku kejahatan harus mendapat hukuman yang setimpal agar di kemudian hari tidak ada yang berbuat hal serupa", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono yang masih duduk di atas kursi kebesarannya.
Hemmmmmmm..
"Aku mengerti Paman Ludaka.. Seperti janji ku pada penobatan tadi pagi, maka aku akan tegas dan tidak berpihak pada kebatilan. Semua tindak kejahatan akan mendapat hukuman yang setimpal.
Senopati Gardana,
Tangkap Paman Maheswara sekarang juga! Kalau dia melawan, gunakan segala cara untuk menangkapnya, hidup atau mati!", titah sang pangeran Adipati dari Seloageng itu segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati ", Senopati Gardana segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan bergegas keluar dari dalam ruang pribadi Adipati diikuti oleh Tumenggung Ludaka yang juga menghormat pada Panji Tejo Laksono. Keduanya segera bergegas menuju ke arah Ksatrian Seloageng.
Dengan membawa 200 prajurit pilihan dari Ksatrian Seloageng, kedua orang perwira ini segera bergerak cepat menuju ke arah kediaman Rakryan Purusoma.
Senyum lebar terukir di wajah Rakryan Maheswara begitu menemukan apa yang dicari nya. Sebuah jimat yang berwujud seperti seekor keong namun berupaya batu yang berbau harum. Ini adalah Jimat Keong Buntet, sebuah jimat yang bisa digunakan sebagai alat untuk melindungi diri dari segala senjata tajam karena jimat ini adalah jimat kekebalan tubuh.
Setelah menemukan apa yang di carinya, Rakryan Maheswara segera berlari menuju ke arah pintu kediaman nya sembari menyambar buntelan kain hitam yang berisi beberapa potong pakaian dan beberapa kepeng emas dan perak.
Namun alangkah terkejutnya Maheswara saat sampai di luar rumah nya dan melihat ratusan prajurit Seloageng telah mengepung rumah nya dengan senjata terhunus. Namun Maheswara segera menguasai diri seperti biasanya dan berjalan dengan tenang ke arah serambi kediaman nya. Di depan serambi, Tumenggung Ludaka, Senopati Gardana dan Demung Gumbreg yang ikut serta dalam upaya itu telah bersiap untuk menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.
"Senopati Gardana.. Ada apa ini? Kenapa kau mengepung rumah ku ha? Apa kau lupa bahwa aku adalah mantu dari mendiang Kanjeng Romo Adipati Tejo Sumirat juga Mantri Amancapraja dari Kadipaten Seloageng ini?", rentetan pertanyaan terucap dari mulut Maheswara. Mendengar itu, Senopati Gardana tersenyum kecut.
"Aku tahu itu semua, Maheswara.. Tapi yang aku sesalkan kenapa kau tega menyuruh orang untuk mencelakai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono? Apa maksud dari ulah mu ini?", mendengar pertanyaan Senopati Gardana, Maheswara pura pura terkejut.
"Mencelakai Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono?
Kau menuduh ku berbuat makar seperti itu? Jangan sembarangan menuduh, Senopati Gardana. Mana buktinya?", ucap Maheswara mencoba untuk berkelit dari tuduhan itu.
"Mulut mu memang tidak bisa di percaya, Rakryan Maheswara..
Tapi penari tledek itu sudah menceritakan semuanya. Sekarang ikut aku menghadap pada Gusti Pangeran Adipati untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mu", Senopati Gardana menatap tajam ke arah Maheswara.
"Kalau aku menolak? Kau bisa apa ha?", tantang Maheswara sembari melotot lebar ke arah Senopati Gardana.
"Maka jangan salahkan aku jika memaksa mu, Rakryan Maheswara. Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono sudah memerintahkan kepada kami untuk membawa mu hidup atau mati", Senopati Gardana tak kalah garang.
"Kurang ajar!!
Kau harus belajar dari bersopan santun dengan kerabat dekat Istana Kadipaten Seloageng, Senopati!!", setelah berteriak keras, Maheswara segera melesat cepat kearah Senopati Gardana sembari melayangkan tendangan keras.
Whuuussshh !!
Dengan tenang nya, Senopati Gardana mundur beberapa langkah hingga tendangan Maheswara hanya menghantam tanah. Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi. Adu kepandaian ilmu beladiri tangan kosong berlangsung sengit dan seru. Selama ini, Maheswara memang jarang memperlihatkan kemampuan beladiri nya hingga kepandaian ilmu silatnya cukup membuat Senopati Gardana terkejut.
Whuuthhh whuuthhh ..
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh !!
Senopati Gardana berhasil melayangkan dua hantaman keras ke arah dada Maheswara. Tubuh suami Dewi Anggarasari ini terdorong mundur beberapa langkah namun ia terlihat sama sekali tidak merasakan apa-apa. Ini semakin mengejutkan Senopati Gardana.
Sambil menepuk tempat bekas pukulan keras Senopati Gardana, Maheswara menyeringai lebar sembari berkata,
"Apa hanya segini saja kemampuan mu?"