
Aku masih tidak mengerti dengan ucapan Danu tadi, mengapa dia mengatakan hal tersebut?
aku dan kak Sindi pun akhirnya masuk ke dalam rumah. aku bergegas masuk ke dalam kamar ku.
Rasanya kejadian tadi benar benar menguras tenaga ku, aku tidak mengerti dengan keputusan Angga dan Sari, bahkan yang membuatku sedikit bingung adalah, ucapan Danu barusan?
Mengapa Danu mengatakan begitu?
**************
Satu Minggu Kemudian......
Selepas acara yang gagal tersebut, Angga tidak pernah mengabari ku, bahkan tidak mengucapkan kata maaf sama sekali. apa dia tidak merasa bersalah?
Aku menyibukkan diriku di beberapa tempat usaha ku. bahkan aku juga melakukan perawatan kembali, sekedar untuk membuat otot serta pikiran ku sedikit tenang.
aku juga harus menjaga ke warasan ku,
masih ada kak Sindi yang harus ku jaga,
walau Zani dan Zian telah beranjak dewasa. dan tengah menempuh pendidikan di salah satu kota besar di kota nya.
Aku masih memiliki kak Sindi, yang harus ku jaga dan rawat sepenuh jiwa.
PERSI ANGGA..........
Benar dugaan ku, Lea akan sangat marah setelah mengetahui bahwa aku telah memiliki istri,
Tapi, memang itu rencana awalnya. aku dan Sari telah merencanakan ini semua sedemikian rupa. bagaimana agar Lea marah padaku, bahkan kepada Sari,
Satu Minggu setelah kejadian malam itu,
aku memutuskan untuk melanjutkan rencana awal kami, Sari telah berangkat ke Salon, untuk merias dirinya.
aku pun telah bersiap dengan batik andalan ku. dan seserahan yang dulu ku beli bersama Lea. telah di hias oleh pembantu kami.
[Danu, datang lah ke rumah, dan jangan lupa. pakai batik]
Ku kirim pesan ke Danu sahabatku.
tak lama, pesan pun telah berganti centang biru. dan nampak dia tengah mengetik...
[Mau apa, kenapa harus pakai batik? aku sedang di jalan baru pulang] balasnya.
[Kita ke rumah Lea sekarang, kamu lupa bahwa kita akan adakan lamaran] jawabku.
[Apa, lamaran. bukan kah Lea telah marah padamu?] balasnya.
[Tidak, dia sudah bersedia ku lamar. jadi cepat lah datang. dan jangan lupa berdandan serta kenakan lah batik terbagus mu] jawabku.
[Mengapa harus mengenakan batik terbagus? bukan kah kau yang bertunangan] balasnya.
[Jangan lah begitu, bagaimana pun ini adalah hari yang sangat istimewa untuk kita] jawabku
[Lebih tepat nya untuk mu] balasnya.
[Ya sudah, terserah kau saja. yang terpenting, cepat lah kesini] jawabku.
Tidak ada lagi obrolan di antara aku dan juga Danu, aku sangat tahu? dia pasti marah padaku. bagaimana pun juga. dia sangat menyukai Lea, Tapi, aku malah yang melamar wanita itu.
Salah sendiri, sudah tahu suka. mengapa tidak mengatakan saja!
sudah tua tapi masih saja malu malu. aku saja sudah memiliki anak, dia masih betah dengan status jomblo nya.
"Sayang" ucap Sari. dari pulang berias dari salon andalan nya
Wanita dengan mengenakan kaftan hitam dan rok batik dengan warna senada. serta balutan pasmina hitam membuat wanita ku terlihat sangat cantik. bak bidadari dari surga, itulah Sari.
"Cantiknya wanitaku" jawabku seraya merangkul pinggang nya yang ramping.
"Kamu ini, apa kamu sudah menyiapkan semua nya?" ucapnya seraya memastikan tugas yang tadi dia berikan padaku.
"Tentu saja, mana ada tugas dari mu yang tidak ku kerjakan? kita hanya tinggal menunggu Danu" jawabku seraya mengecup kening nya.
"Sayang, jangan lah begitu. nanti make up ku bisa luntur!" ucapnya
"Mau bagaimana lagi, kau sangat cantik" jawabku.
"Kau ini benar benar ya, aku sudah cape cape pergi ke salon, sampai 3 jam lamanya. masa harus luntur sebelum waktunya" ucapnya
"Haha, kalau luntur. biar aku yang pakaikan lagi bedak" jawabku.
"Kalau kamu yang pakaikan aku bedak, bukan cantik, malah jadi seram kelihatan nya" ucapnya
Tak berapa lama, Danu pun tiba dengan batik dan wajah yang dia tekuk sedemikian rupa.
"Ya ampun, itu wajah kenapa di tekuk begitu?" ucapku pada sahabatku.
"Jadi, kita benar benar akan melamar Lea?" jawabnya tanpa menoleh ke padaku.
"Ya, lalu menurutmu, untuk apa kita dandan dan membungkus semua ini" ucapku.
"Huh, kalau begitu ayo cepat pergi, aku ada urusan lain" jawabnya.
"Urusan apa Danu?" tanya Sari kepada sahabatku. yang ku tahu, pasti dia tengah marah padaku.
"Ada, aku ada janji dengan teman teman rumah sakit, ada hal yang harus kami bahas" jawabnya pada Sari.
"Oh begitu, kalau begitu kita pergi sekarang saja, lebih cepat akan lebih baik" ucapku.
Kami pun memasukan semua seserahan yang harus kami bawa. tidak sampai disitu, kami juga membawa beberapa kotak bolu, dan beberapa kue tradisional.
Selama dalam perjalanan, aku dan Sari terus tertawa bahagia, bagaimana tidak bahagia. ini adalah rencana awal kami, melamar Lea. adalah rencana yang kami berdua rencanakan.
Aku sangat yakin, Lea akan sangat terkejut, dan tidak bisa berkutik kala mengetahui kedatangan kami.
Walau dia tengah marah padaku, aku sangat yakin, bahwa Lea tidak akan bisa menolak lamaran ku.
"Sayang, apa kau tidak lihat wajah Danu tadi? Ya ampun, aku gak tega rasanya" ucap Sari.
"Biarkan saja lah sayang," jawabku.
beberapa menit kemudian kami pun tiba di rumah Lea.
"Ini rumah Lea?" tanya Sari padaku.
"Iya, ini rumah milik Lea" jawabku.
"Besar juga ya rumah nya?" ucapnya.
"Bagaimana tidak besar, dia itu pengusaha. Lea memiliki beberapa restoran di kota ini" jawabku.
"Wow, hebat juga ya?" ucap nya.
"Sangat, dia sangat hebat" jawabku.
"Iihh, kok kamu gitu, jangan bilang kalau kamu naksir juga sama Lea?" ucapnya.
"Kalau gak naksir, mana mungkin aku mau melamar nya" jawabku sambil terkekeh.
Sari memang baru pertama datang ke rumah Lea. jadi wajar jika Sari bersikap begini. yang dia tahu, Lea adalah wanita sederhana. dan tidak memiliki usaha resto yang cukup ramai setiap harinya.
"Assalamualaikum" ucap kami setelah sampai di ambang pintu, dan barang barang seserahan pun telah kami turun kan semua dari dalam mobil.
Wajah Danu semakin tidak enak di pandang, jangan kan tersenyum, menatap ku saja seperti enggan. aku sangat Yakin, jika bukan karna Sari ada di sini. aku sudah sangat Yakin, bahwa aku sudah kena bogem mentah dari Danu,
"Wa'alaikumsallam" jawab mbak Asih.
"Mbak Asih, Lea nya ada?" ucapku pada asisten Lea tersebut.
"Bu Lea, ada kok mas" jawabnya nampak sangat bingung.
"Bisa tolong panggilkan?" ucapku
"Oh, iya iya mas, sebentar saya panggilkan" jawabnya seraya berlari masuk ke dalam.
"Angga, jangan bilang kalau Lea belum tahu kedatangan kita!" ucap Danu seraya melihat ke arah ku.
"Memang" jawabku santai.
"Apa, jadi benar. kalau Lea belum tahu kalau kita datang ke sini?" ucapnya.
"Ini kan Surprise" jawabku.
"Gila kamu Angga, kamu benar benar sudah Gila!" ucapnya.
"Sudah sudah, kita itu sedang ada di rumah Lea. masa pada ribut sih!" ucap Sari melerai kami.
"Kamu juga Sari, kenapa jadi ikut ikutan Angga sih!" ucap Danu pada Sari
Sari tidak menjawab ucapan Danu. baru saja Danu hendak pergi meninggalkan rumah Lea. sang punya rumah sudah datang, hingga membuat tubuh Danu terpaku di tempat.
Ya, seorang wanita dengan balutan gamis berwarna hitam, dan kerudung berwarna Abu muda. membuat wanita yang beberapa hari yang lalu, memarahiku dan juga istriku. wanita yang pulang dengan wajah penuh kekecewaan.
wanita yang merasa tertipu oleh kejujuran ku. dia berdiri di ambang pintu, dengan wajah yang nampak sekali kebingungan.