
Kaki ku rasanya sangat sakit, karna aku terjatuh cukup dalam. lubang apa ini? dia berbentuk persegi panjang. bahkan setelah ku cermati dengan seksama.
Ya ampun, ini liang lahat?
Nafasku semakin memburu di buatnya? mengapa aku sampai bisa masuk ke dalam liang lahat?
"Lea....
Suara orang tersebut kembali terdengar, aku berjongkok berharap orang tersebut tidak bisa menemukan ku.
"Lea ....
Aku membekap mulutku, berharap orang tersebut tidak mendengar suara ku dan deru nafasku.
"Lea....
Suara tersebut semakin jelas terdengar.
Hingga, aku memejamkan mataku rapat
untuk beberapa saat. tidak lama. terdengar suara deru langkah yang terdengar keras.
seperti ada beberapa orang yang berjalan mendekat,
Suara itu terdengar semakin jelas. aku mengedarkan pandangan. namun nihil. liang lahat ini memiliki tinggi di atas kepala ku, itu membuatku kesulitan untuk mencari sumber suara tersebut.
Tapi tunggu,
Suara orang yang tadi terus memanggilku hilang, bergantian setelah ada suara deru banyak orang yang seperti mendekat.
Apa dia takut?
jadi dia pergi?
suara deru langkah terdengar semakin mendekat, baguslah. aku akan meminta orang orang itu untuk membantu ku keluar dari dalam liang lahat ini?
sangat tidak lucu dan sangat menakutkan berada di dalam sini.
hingga beberapa orang ku lihat mengitari liang lahat ini,
"Pak, tolong saya. saya tadi terjatuh dan masuk ke sini"
Namun, mereka masih saja diam. seolah tidak mendengar apa yang aku katakan.
"Pak, Pak tolong saya"
kali ini aku mengulurkan tangan ku pada mereka. namun mereka masih saja diam mematung.
"Tolong pak"
Aku terus meminta tolong, namun mereka malah mengambil cangkul dan hendak menguburku hidup hidup.
melihat adanya ketidak beresan aku berteriak meminta tolong,
"Tolong.....
"Tolong....
"Pak, saya mohon jangan kubur saya pak"
"Pak, saya masih hidup"
"Tolong....
"Siapapun tolong saya"...
tidak ada yang mendengar atau menyahut ucapan ku. hingga aku benar benar takut dan menangis.
dan sebuah tangan terulur ke dalam. aku menengadah ke atas. ku lihat ada seorang wanita berjongkok di atas dan mengulurkan tangan putih nya.
tanpa pikir panjang, aku pun langsung menyambut tangan nya. entah tenaga dari mana. tubuhku langsung terangkat ke atas.
ku tatap sekeliling, orang orang yang tadi hendak menguburku tidak ada?
ku lihat wanita yang mengenakan pakaian serba hitam dengan cadar di wajah nya itu.berjalan meninggalkan tubuhku.
lekas ku kejar wanita yang memiliki tenaga luar biasa, serta berkulit putih tersebut.
"Eemm, mbak terima kasih sudah membantuku"ucapku
Namun dia hanya mengangguk, dan kembali berjalan
"Tunggu, siapa namamu?"
dia terus berjalan. aku terus mengejarnya. namun anehnya. aku sama sekali tidak bisa mengejarnya. padahal dia hanya berjalan. dan aku berlari.
setelah merasa lelah, aku pun hanya diam melihat tubuh wanita bercadar itu semakin menjauh, hingga hilang di antara pohon pohon besar.
Siapa dia?
Lama aku memandangi wanita itu.
Hingga aku memutuskan untuk kembali, ke tempat di mana tadi aku berasal. dan saat aku berbalik badan. ada asap hitam pekat yang membuatku kesulitan untuk bernafas. bahkan aku juga tidak bisa melihat apapun lagi?
Hingga, dimana saat aku membuka mataku. aku sangat terkejut. bagaimana tidak? aku tengah berada di kamar ku. aku tengah duduk di atas kasur empuk milik ku.
Apa jangan jangan? aku tidur selama tiga hari lagi, seperti kemarin? untuk membuktikan nya. aku langsung lari keluar kamar, dan mencari asisten rumah tangga ku.
Saat aku mengitari rumah, asisten ku tengah terlelap di kamar nya. dan saat ku lihat jam di dinding rumah ku. jam menunjukan pukul 03,00 dini hari.
itu artinya aku tidak tidur selama tiga malam seperti kemarin, aku hanya mimpi beberapa saat saja. karna tadi aku pulang pukul 02,00 dini hari.
Di keesokan harinya....
Aku sudah siap dan rapih. aku memutuskan untuk pergi ke Mall. sekedar mencuci mata. atau berbelanja sedikit. mungkin dengan begitu. pikiran ku akan berkurang sedikit.
"Bu, apa ibu sakit?" tanya asisten ku kala aku tengah menyantap hidangan yang dia masak tadi pagi.
"Tidak, memangnya kenapa?" jawab ku seraya masih mengunyah makanan di dalam mulut ku.
"Wajah ibu terlihat pucat sekali?" ucapnya sambil terus melihat wajah ku.
"Masa sih, tapi saya tidak kenapa kenapa? saya merasa baik baik saja kok" jawab ku yang semakin bingung. pasalnya beberapa hari yang lalu. manager resto juga mengatakan hal yang serupa.
Tapi semalam, kala aku bercermin untuk pergi kencan. ku lihat wajah ku baik baik saja?
Lalu, mengapa siang ini asisten ku mengatakan hal serupa?
"Eemm, mbak saya minta tolong. coba bawakan cermin kecil di kamar saya" ucapku yang penasaran akan wajah ku.
"Baik Bu" jawab nya seraya berjalan ke lantai atas. dimana kamarku berada.
Tak menunggu lama, asisten ku sudah kembali dengan cermin kecil di tangan nya.
"Ini Bu" ucapnya seraya menyerahkan cermin yang ku minta.
Aku pun langsung bercermin untuk memastikan. apakah benar wajah ku pucat seperti orang sakit yang di katakan mereka?
Namun, saat aku bercermin. wajah ku biasa biasa saja. tidak pucat seperti orang sakit atau seperti yang mereka katakan.
"Eemm mbak, memang nya mbak lihat wajah saya seperti apa?" tanyaku karna penasaran.
"Wajah ibu pucat, kaya gak ada darah nya gitu. terus bibir nya sampai berwarna putih gitu" jawabnya seraya terus melihat wajah ku.
Ini aneh, aku lekas kembali bercermin. ku lihat wajah ku berwarna putih. karna memang kulit ku putih bersih. dan itu tidak pucat. karna aku memakai riasan blush-on berwarna oranye di pipi. itu justru menambah membuat wajah nampak fresh, dan bibir ku juga tidak putih atau pucat, karna aku memakai lipstik berwarna nude, justru itu membuat wajah ku semakin terlihat elegan.
Namun, mengapa pandangan mereka dan aku berbeda ya?
"Apa mbak yakin?" tanyaku yang masih penasaran.
"Yakin Bu, apa ibu tidak melihat nya?" jawabnya dengan alis bertaut.
"Eemm, begini mbak. kamu duduk dulu coba" ucapku yang semakin bingung.
Aku memutuskan untuk bertanya pada asisten ku saja, selain dia sudah bekerja lama di rumah ku. dia juga berusia lebih tua dariku. dan beliau juga kan berasal dari kampung. mungkin dia akan paham apa yang menimpa ku.
"Ada apa Bu? apa semua nya baik baik saja?" tanya nya kala kami sudah duduk saling berhadapan.
"Saya pernah mendapat amanat dari seseorang yang hampir meninggal. beliau meminta saya untuk melakukan sesuatu. dan saya tidak tahu apa saya menyanggupinya atau tidak? Namun, Saya selalu terbayang akan kejadian di mana dia kesakitan kala melepas kan nyawa nya? apa saya salah? atau apa yang harus saya lakukan?" ucapku yang mulai bertanya.
"Eemm, saya kurang paham Bu, tapi, biar saya panggil mas Amin saja ya Bu, kebetulan dulu suami saya pernah jadi guru ngaji" jawabnya kemudian berjalan keluar.
Setelah asisten ku hilang di balik pintu samping, aku kembali menyandarkan kepalaku ke kursi. berharap ada yang bisa menjawab pertanyaan ku.
dan Ya, jika memang aku terkena santet, mengapa dukun itu tidak bisa menyembuhkan ku? buktinya aku masih mengalami kejadian aneh.
Tak berselang lama. asisten ku kembali bersama suaminya. yang kebetulan juga bekerja di rumah ku sebagai tukang kebun.
"Permisi Bu, kata Asih ibu memanggil saya?" ucap nya.
"Iya mang, ada yang mau saya tanyakan. apa boleh?" jawabku.
"Silahkan Bu" jawabnya.
Aku pun menceritakan pasal amanat dari mbok Inah padaku. dan aku juga menceritakan tentang bayang bayang akan kematian mbok Inah hari itu.
"Setahu saya, walau ibu tidak menjawab Iya, tapi ibu mengangguk. itu berarti ibu menyanggupinya. dan itu bisa di catat sebagai janji. dimana ibu harus menepatinya". ucapnya
"Tapi, bagaimana cara nya?" jawabku
"Saya tidak tahu Bu, saya juga tidak tahu amanat seperti apa yang mbok Inah minta pada ibu. hanya ibu dan mbok Inah yang tahu?" jawabnya.
Ya, dia memang benar. aku memang tidak menceritakan Amanat apa yang terucap hari itu. karna aku juga tidak mungkin mengatakan. mbok Inah memintaku untuk berhenti menjadi wanita malam.
"Saran saya Bu, sebaiknya ibu bertanya pada orang yang lebih tepat dan paham. orang yang ibu percaya dan mampu merahasiakan semua aib ibu," ucapnya lagi.
"Siapa?" jawabku
"Ustadzah" ucapnya.
"Apa emang yakin dia bisa membantu menjawab pertanyaan saya?" jawabku.
"In sha Allah bisa Bu," ucapnya.
Mbak Asih dan mang Amin berpamitan untuk kembali ke pekerjaan mereka. Ya, mereka adalah orang yang aku percayai untuk mengurus rumah ku dulu, sebelum aku menempatinya. mengapa aku begitu percaya?
karna selain mereka bekerja dengan ku cukup lama. selama aku meninggalkan rumah ku dulu. tidak ada satu barang pun yang hilang. dan ketika aku kembali ke rumah ku, semua pekerjaan selesai dan bersih.
mereka sangat bertanggung jawab pada pekerjaan nya. itu sebab nya aku tidak canggung untuk bertanya pada mereka?