
Sungguh, alangkah terkejutnya aku kala mendengar Nama mbak Siti yang di sebutkan oleh majikan mbak Nurma. apalagi mengetahui bahwa mbak Siti adalah penyebab meninggalnya mbak Nurma.
"Apa, mbak Siti penyebab meninggalnya mbak Nurma?" jawabku dengan dada yang semakin bergemuruh hebat.
Ku lihat kak Sindi sampai mendengarkan percakapan kami dengan seksama. terlihat juga kekagetan luar biasa di wajahnya.
"Iya, menurut penuturan saksi sih begitu" ucap majikan mbak Nurma.
"Menurut saksi bagaimana Bu?" tanya kak Sindi
"Iya, waktu itu saya tengah berada di rumah. nurma memang meminta izin keluar sebentar dan saya tidak tahu dia menemui Siti. untuk bertanya mengapa dia sampai tega memfitnah mu" ucapnya sembari melihat ke arah ku.
"Jadi, sekarang semua sudah tahu. bahwa Lea tidak bersalah?" tanya kak Sindi.
"Sebenarnya tidak, hanya saya memang percaya bahwa kamu tidak mungkin melakukan itu semua, Nurma menceritakan semua yang terjadi padamu, dan hubungan mu dengan Rehan" jawab majikan mbak Nurma seraya melirik ke arah ku.
"Maaf Bu, semua nya terjadi begitu saja. saya juga berusaha untuk tidak membawa hati dalam pekerjaan saya. namun..." ucapku sambil tertunduk.
Ya, semua nya terjadi karna keteledoran ku sendiri.andai aku tidak menaruh hati pada mas Rehan, dan tidak menjalani hubungan yang sudah pasti tidak akan mendapat restu itu. pasti semua nya tidak akan terjadi, dan mungkin mbak Nurma masih berada disini bersama ku.
" Tidak apa Lea, saya tidak menyalahkan mu dan juga Rehan. siapa yang bisa melawan hati kalau sudah berkata? andai Rehan anak saya. saya akan merestui hubungan kalian. kamu gadis yang baik dan sopan. namun orang tua Rehan. yang tak lain adalah kakak saya.dan kakak ipar saya. adalah orang yang sangat mementingkan Babat bebet dan bobot dalam hubungan anak anak nya. Ya, Saya tahu hubungan kalian tidak akan bisa menyatu. karna harta adalah hal yang penting dalam keluarga kakak saya" jawabnya seraya mengelus pundak ku.
"Lalu, apa yang terjadi dengan mbak Nurma sampai dia bisa meninggal? dan apa yang di perbuat oleh mbak Siti" tanya kak Sindi.
"Saya tidak tahu jelas nya, hanya menurut saksi mereka beradu mulut di taman. dan Siti mendorong Nurma, sampai dia terjatuh dan tertabrak sebuah mobil" jawab majikan mbak Nurma.
"Apa," jawabku.
Dada ku terasa bergemuruh hebat kala mendengar penyebab mbak Nurma meninggal. Mengapa mbak Siti begitu jahat? tidak puas kah dia telah memfitnahku dan merampas semua uang ku? sampai dia berbuat sedemikian sampai mengakibatkan mbak Nurma tiada.
"Lalu, dimana mbak Siti sekarang? apa dia sudah di hukum atas perbuatan nya?" tanyaku
"Tidak, Sebelumnya Siti memang sempat di bawa ke kantor polisi. namun kakak saya memberi jaminan atas penahanan Siti hingga ia terbebas. dan hanya menjadi tahanan kota" jawab nya.
"Apa, ini semua tidak benar. mbak Nurma sampai meninggal karna perbuatan Mbak Siti. mengapa dia masih bisa berkeliaran dengan bebas?" tanya kak Sindi.
"Itulah, saya berulang kali bicara pada Kakak saya. namun karna Siti sudah bekerja lama dengan nya. kakak saya percaya pada setiap ucapan Siti." jawabnya
"Ini semua tidak benar, mbak Nurma sampai meninggal. lalu, dimana sekarang mbak Siti Bu?" tanyaku.
"Di rumah kakak saya pastinya, karna Siti tidak di perbolehkan keluar kota oleh anggota kepolisian. sampai kasus ini di nyatakan telah selesai dan Siti terbukti tidak bersalah" jawabnya
Mendengar penuturan mantan majikan mbak Nurma. membuat ku benar benar tak habis pikir. ingin sekali rasanya aku menjambak wanita yang bernama Siti itu.
"Apa mbak nurma di makam kan di kampung halaman nya?" tanya kak Sindi.
"Sepertinya begitu, saya hanya mengantarnya dari rumah sakit. dan memberi pesangon terakhir untuk keluarga nya Nurma. saya tidak ikut ke kampung nya. karna kebetulan hari itu saya ada pekerjaan yang penting" jawabnya.
Sekarang apa yang harus ku lakukan? tidak mungkin juga aku bertanya pada majikan mbak Nurma di mana kampung halaman dan alamat lengkap nya mbak Nurma. sedangkan dari awal aku memang telah berbohong.
"Baik Bu, terima kasih atas infonya. saya mohon pamit. dan maaf telah mengganggu waktunya?" ucap kak Sindi seraya menarik lengan ku.
"Iya Bu, saya akan menemui mbak Nurma" jawabku.
"Kami permisi Bu" ucap kak Sindi.
Aku dan kak Sindi pun pergi dari rumah mantan majikan mbak Nurma. rencana awal ingin bertemu dengan mbak Nurma kandas sudah. kala mengetahui mbak Nurma telah tiada karna telah membela ku? andai mbak Nurma tidak menemui wanita jahat itu. pasti mbak nurma masih hidup.
Lalu, bagaimana dengan keadaan anak nya mbak Nurma? bukan kah selama ini mbak Nurma yang menjadi tulang punggung untuk anak dan orang tuanya?
karna kebetulan kedua orang tua mbak Nurma telah sepuh. bahkan Ayah mbak Nurma terakhir tengah sakit dan tidak bisa berjalan?
lalu, bagaimana dengan nasib mereka. setelah di tinggal pergi oleh mbak Nurma?
Mobil yang kami tumpangi terus melaju.
"Lea," tiba tiba kak Sindi membuyarkan lamunan ku.
"Iya kak" jawabku.
"Kamu yang sabar ya, kamu pasti sangat tertekan dengan apa yang terjadi pada mbak Nurma." ucapnya seraya terus melihat ke arah depan.
"Iya kak, saya hanya belum percaya jika mbak nurma telah tiada" jawabku.
"Saya juga terkejut, apalagi kala mendengar penyebab mbak nurma meninggal dunia" ucapnya.
"Iya kak, saya hanya tengah memikirkan nasib kedua anak nya mbak Nurma dan orang tua mbak Nurma. selama ini dia yang menjadi tulang punggung keluarga" jawabku yang masih memikirkan nasib mereka
"Lalu bagaimana? apa kita mesti pergi kesana?" ucap kak Sindi.
"Saya tidak tahu kampung halaman mbak Nurma kak" jawabku.
Sejenak keheningan meliputi kami berdua. hingga.
"Begini saja, kita pergi ke rumah sakit yang sempat merawat mbak Nurma, kita tanya alamat rumah mbak Nurma di sana? mereka pasti tahu. karna pihak ambulan rumah sakit tersebut yang membawa jenazah mbak Nurma kan?" ucap kak Sindi.
"Apa itu bisa kak?" jawabku.
"Pasti bisa, ayo kita ke rumah sakit itu" ucap kak Sindi. sembari melajukan mobilnya ke arah rumah sakit dekat perumahan tempat Mbak Nurma bekerja dulu.
Selama dalam perjalanan aku berharap keberuntungan berpihak padaku. aku harap ada kemudahan di sana. agar aku bisa mendapatkan alamat rumah mbak Nurma. 25 menit pun berlalu, dan kami tiba di salah satu rumah sakit besar di kota ini.
kak Sindi pergi ke bagian resepsionis rumah sakit. aku tak tahu apa yang di bicarakan kak Sindi. dia hanya menyuruh ku untuk duduk di bangku yang memang telah disediakan pihak rumah sakit. kak Sindi khawatir aku pingsan karna terlalu banyak tertekan.
Beberapa lama kak sindi beradu mulut dengan pihak rumah sakit, hingga akhirnya kak Sindi mengabarkan telah mengantongi alamat rumah mbak Nurma.
Namun karna alamat rumah nya sangat jauh, dan bisa menghabiskan waktu sampai seharian di perjalanan, kak Sindi mengatakan kita akan pergi di keesokan paginya.
dia meminta ku untuk bersiap dan menyiapkan hati. karna mungkin akan ada tangisan yang tumpah kala sampai di makam mbak Nurma.
Aku berulang kali mengatakan akan pergi sendiri ke rumah mbak Nurma. namun kak Sindi terus memaksa untuk mengantarku dengan mobilnya. dia tidak mengijinkan ku pergi sendirian.