
Aku masih tidak menyangka, jika aku akan mengatakan hal seperti tadi?
apa mas Rehan baik baik saja?
Aku tahu betul, pasti mental nya sangat terganggu, karna bagaimana pun. dia sudah hidup berlinang harta sedari kecil, di tempatkan dalam situasi seperti ini, pasti akan sangat berat untuk nya.
Namun, mau bagaimana lagi? aku juga tidak bisa terus membiarkan dirinya. hidup dalam sebuah angan, yang tidak mungkin jadi kenyataan.
Aku telah memiliki hidup yang baru, aku telah menemukan lelaki yang ku sayangi, dan menyayangi diriku, bahkan dia tidak keberatan. dengan masa lalu ku, yang bahkan sangat buruk ini.
Mobil terus ku lajukan, selama dalam perjalanan. aku tidak henti henti nya merasa bersalah, bagaimana pun, aku juga terlibat dengan situasi yang menimpa mas Rehan saat ini.
"Lea, kenapa wajah mu muram begitu? apa ada masalah" tanya kak Sindi, kala aku telah sampai dan duduk di hadapan nya.
"Tadi aku bertemu dengan mas Rehan kak" jawabku.
"Mau apa lagi dia? apa dia membuat onar lagi?" ucap kak Sindi.
"Tidak, tadi aku menemui nya karna aku ingin menjelaskan padanya. bahwa aku sudah Move-on dan menemukan orang lain, Namun, apakah kakak tahu? apa yang dia katakan?" jawabku.
"Apa," ucap kak Sindi.
"Dia mengatakan, tidak akan pernah melepaskan ku. bahkan dia merasa. jika Danu telah merebut ku darinya, dan dengan mudahnya dia mengatakan. jika aku tidak menikah dengan nya. maka lelaki lain pun tidak boleh menikahi ku" jawabku.
"Apa, Gila benar dia. bukan nya sadar akan kesalahan nya. dia malah menyalahkan orang lain? apa dia lupa, dulu dia membuang kamu Lea? dasar lelaki Gila" ucap kak Sindi penuh amarah.
"Aku tahu itu kak, itu lah sebabnya aku tidak ingin kembali kepada nya. Namun," jawabku.
"Namun apa, Lea jangan katakan kalau kamu memilih kembali kepada Rehan, dan membatalkan pernikahan kamu dengan Danu, pokonya kakak gak setuju!" ucap kak Sindi.
"Tidak kak, aku tidak mungkin mengatakan itu. maksud ku, rupanya mas Rehan benar benar bangkrut. kini dia dan Mommy nya tinggal di sebuah kontrakan kecil" jawabku.
"Oh ya, baguslah. dengan begitu mereka tidak akan menghina serta merendahkan orang miskin lagi, karna mereka sekarang sudah miskin
biar tahu rasa mereka!" ucap kak Sindi
"Kak, gak baik bicara begitu. aku pernah merasakan bagaimana hidup susah. bagiku yang sudah hidup miskin dari kecil saja. masih terasa berat, apalagi buat mas Rehan. yang sedari kecil hidup dengan berlinang harta. pasti semua nya sangat berat" jawabku.
"Huh, Lalu, kamu mau apa?" ucap kak Sindi.
"Tadinya aku berpikir, ingin membantu perekonomian mereka kak" jawabku.
"Apa, tidak tidak. kakak tidak setuju!" ucap kak Sindi.
"Mengapa? bukan kah membantu sesama manusia lain. sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim kak?" jawabku
"Ya, kalau kamu mau membantu orang lain kakak akan sangat setuju, tapi, jika kamu membantu mereka. kakak tidak setuju!" ucap kak Sindi.
"Kenapa? apa alasannya" jawabku.
"Lea, jika kamu membantu mereka, kakak sangat Yakin, mereka akan besar kepala,. mereka akan menganggap bahwa kamu sangat mudah di manfaatkan. dan satu lagi, Rehan pasti akan dengan leluasanya mengganggu hubungan kamu dengan Danu,
dan bagaimana dengan Danu? jika dia tahu kamu membantu mantan kekasih kamu. apa dia akan baik baik saja" ucap kak Sindi.
"Tapi kak, membantu sesama manusia sudah menjadi kewajiban kita" jawabku.
"Lea, kakak tidak mau ambil resiko. kakak gak mau kalau Danu sampai membatalkan pernikahan nya dengan mu, hanya karna Rehan ya!" ucap kak Sindi.
"Tapi, aku merasa bersalah kak. aku merasa bahwa aku juga terlibat dengan kondisi mas Rehan saat ini?" jawabku.
"Lea, mereka bangkrut seperti itu, itu adalah hukuman dari sang pencipta. mereka terlalu angkuh dan sombong, mereka hanya mengira bahwa harta adalah segalanya. dan orang miskin tidak memiliki hak serta harga diri. mereka memang pantas mendapatkan balasan seperti itu, kamu jangan merasa bahwa kamu bersalah. dan harus bertanggung jawab atas kehidupan mereka. karna mereka begitu, adalah atas ijin Allah" ucap kak Sindi.
"Lalu, apa aku harus diam? melihat manusia lain dalam kesusahan?" jawabku.
"Lea, mereka tidak hidup begitu sengsaranya. sampai kamu harus menanggung semua kebutuhan mereka? Rehan masih memiliki mobil? dan mereka tinggal di rumah. yang berarti tidak kepanasan serta kehujanan, jadi hidup mereka tidak lah begitu sengsara" ucap kak Sindi.
"Jadi, mau kakak aku tidak membantu mereka?" jawabku.
"Ya, kakak tidak mau kamu memberi celah untuk mereka. dan kakak juga tidak mau. kalau pernikahan kamu sampai batal. karna Rehan dan ibunya" ucap kak Sindi.
"Baiklah, aku akan memikirkan semua nya." jawabku.
"Ya" ucap kak Sindi.
"Baik kak, kalau begitu. aku masuk ke kamar dulu. aku ingin istirahat" jawabku seraya bangkit dari duduk. dan berjalan menaiki anak tangga. untuk menuju kamar ku.
Aku juga tahu? bahwa mas Rehan dan ibunya memang keterlaluan. mereka menganggap harta adalah hal yang paling penting, Adab serta Etika. mereka melupakan semua itu,
padahal, jika mereka menyadari semua nya. bahwa harta tidak lah penting, semua nya terbukti,. saat ini mereka tidak sekaya seperti dulu? apa mereka akan sadar dengan perbuatan mereka yang terdahulu...
Sesampai nya aku ke dalam kamarku, aku langsung membaringkan tubuhku di kasur kesayangan ku, rasanya badan ku sangat pegal sekali,
[Lea, kamu mau nitip sesuatu gak? aku baru selesai bekerja]
Sebuah pesan dari Danu, membuyarkan niatku yang ingin tidur sesaat.
[Tidak ada, ] jawabku.
[Eemm, yakin?]Balasnya.
[Iya, memangnya kenapa?] jawabku.
[Tidak apa apa, tadinya aku mau sekalian ke rumah mu, Tapi, jika kamu tidak mau menitip sesuatu. aku tidak jadi ke rumah mu] balasnya.
[Lah, ada yang begitu? kalau kamu mau main kesini, ya tinggal main Danu, kenapa aku harus menitip sesuatu?] jawabku.
[Makannya, minta lah sesuatu, agar aku bersemangat main ke sana] balasnya.
[Baiklah, belikan aku gorengan di pinggir jalan, bisa?] jawabku.
[Gorengan?] balasnya
[Iya, gorengan di gerobak yang jualan di dekat gerbang perumahan ku, tolong belikan aku gorengan disana, apa bisa?] jawabku.
[Tentu bisa, aku hanya heran dengan kamu?] balasnya
[Heran kenapa lagi? tadi katanya gak enak kalau main, tapi aku gak nitip sesuatu?lah sekarang kok malah heran?] jawabku.
[Ya jelas aku heran, kamu itu kaya. tapi kenapa jajan gorengan, di pinggir jalan lagi? sangat langka sekali] balasnya.
.[ Aku dari kecil hidup susah, mau makan gorengan pun dulu sangat susah, jadi, aku mau Titip gorengan saja, dan jangan lupa minta rawit nya ya?] jawabku.
[Siap, bidadari surgaku] balasnya.
[Gombal ya?] jawabku.
[Kok gombal, aku serius] balasku.
[Bohong ah,] Jawabku.
[Aku sedang belajar romantis tahu,] balasnya.
[Biar apa?] jawabku.
[Biar kamu terus senyum, kaya sekarang] balasnya.
[Ih, siapa yang bilang aku sedang tersenyum? sok tahu deh] jawabku.
[Yakin, kok aku kaya ngerasa kamu sedang senyum senyum sendiri ya?] balasnya.
[Dasar, sok tahu ah] jawabku.
[Kalau nanti aku kesana, terus lihat pipimu memerah, aku siram kamu pake tepung] balasnya.
[Kok disiram pake tepung? memang aku adonan kue apa] jawabku.
[Habis, mau cubit hidung. belum jadi muhrim nya, dosa ah] balasnya
[ iya deh, pak dokter Danu] jawabku.
.[Ya sudah, aku kesana sekarang ya] balasnya.
Tidak ada lagi pesan yang masuk dari Danu, dia benar, aku sangat bahagia. menyadari bahwa dia sedang berusaha merubah sifat nya yang pendiam. serta kaku, dia sedang berusaha romantis. hanya untuk membuatku bahagia.
Danu, semoga apa yang kamu lakukan demi membuatku bahagia, Allah membalasnya dengan jutaan Rahmat dari Tuhan.....
"