
Saat gorden lusuh di buka perlahan oleh ibu mbak Nurma, nampak jelas terlihat. seorang kakek tua dengan rambut yang sudah memutih. tubuh yang sangat kurus seperti tulang berlapis kulit. kondisi tubuh bapak. mengingatkan ku akan kondisi tubuh ibuku dulu. yang sangat kurus sekali. bapak tengah terbaring di atas ranjang yang hanya terbuat dari bambu. tanpa ada kasur yang menghalangi kerasnya bambu yang menyentuh langsung tubuhnya.
Aku dan kak Sindi mengikuti langkah ibu tersebut,
"Bapak tidak banyak bicara setelah Nurma tiada. nurma memang anak kami satu satunya. dan bagaimana pun juga dia lah tulang punggung keluarga setelah bapak sakit. kepergian Nurma meninggalkan banyak sekali Luka di hati bapak." ucap nya.
"Apa bapak setiap harinya hanya diam begini Bu?" jawabku.
"Tidak, sebelum nya bapak banyak sekali bicara, dia selalu ingin berbicara dengan Nurma. walau tentang apa pun itu." ucapnya.
"Jadi, bapak murung setelah mbak Nurma tiada?" tanya kak Sindi.
"Iya, selama ini memang bapak sangat menyayangi Nurma. bahkan sempat tidak memberikan ijin kala nurma memutuskan untuk merantau jauh ke kota" ucapnya.
Mendengar penuturan ibu, dan melihat secara langsung kondisi bapak. membuat ku semakin merasa bersalah. aku dan kak Sindi pun akhirnya kembali lagi ke ruang tengah.
***********
Selama disini kami mendapat perlakuan yang baik dari semua pihak. tidak ada satu pun orang disini yang mencibir dan menghina kami. kami mendapat perlakuan bak tamu terhormat disini. hingga satu hari aku memutuskan untuk kembali ke kota.
"Kak, kapan kita kembali ke kota" ucapku kala kak Sindi tengah bermain ponsel. Ya, kami memang sudah ada dua hari di kampung mbak Nurma.
"Terserah kamu saja, kakak mah ikut saja" jawabnya.
"Kita pulang besok saja bagaimana kak? tidak enak terlalu lama bertamu." ucapnku
"Memang benar, kasihan mereka" jawabnya.
"Eemm, kak. aku boleh pinjam uang?" ucapku memberanikan diri. karna sejujurnya aku tidak ada uang. hanya ada satu juta itupun yang di berikan kak Sindi sebagai gaji untuk ku yang membantu membereskan rumah nya.
"Berapa?" jawabnya.
"Satu atau dua juta kak" ucapku.
"Untuk apa Lea?" jawabnya sambil menautkan alisnya.
"Untuk ku berikan pada ibunda mbak Nurma. sejujurnya aku tidak enak hati. dan merasa sangat bersalah akan kematian mbak Nurma" ucapku menjelaskan.
"Iya, kakak mengerti" jawabnya .
Tak lama kak Sindi pun menyerahkan sejumblah uang pecahan seratusan padaku.
"Terima kasih ya kak" ucapku.
"Iya Lea sama sama" jawabnya.
Di malam itu, saat kami selesai menyantap makan malam yang di sediakan pemilik rumah. Aku memutuskan untuk berpamitan besok pagi.
Setelah ibu mbak Nurma selesai menyuapi bapak makan. dan duduk bersama kami.
Seperti inilah keseharian di rumah sini. bukan hanya lantai nya masih tanah. rumah ini pun tidak memiliki tv. sungguh sangat memprihatinkan.
"Bu, besok saya dan kak Sindi akan kembali lagi ke kota" ucapku kepada wanita baik di hadapan ku.
"Mengapa secepat itu Nak, saya kira kalian akan lama disini" jawabnya nampak terkejut.
"Kak Sindi harus bekerja. dan saya juga" ucapku.
"Baik lah, saya tidak bisa memaksakan kalian untuk tetap tinggal. sering sering lah berkunjung kesini Nak, saya akan sangat senang" jawabnya seraya memegang kedua tangan ku
"Iya Bu, saya akan sering berkunjung kesini" ucapku
"Iya, saya akan menunggu kedatangan mu kesini Nak" jawabnya.
"Iya Bu, apa ada nomor telpon yang bisa di hubungi? agar kita bisa selalu bertukar kabar" ucap kak Sindi memberi saran.
"Saya tidak punya telpon, ada ponsel Nurma. tapi saya tidak bisa menggunakan nya?" jawabnya.
"Saya ada mbak," ucap seorang wanita yang ku tahu dia adalah saudara mbak Nurma.
"Oh iya, Sri ada ponsel." jawabnya.
"Boleh mbak" jawab mbak Sri.
kak Sindi pun mencatat nomor ponsel mbak Sri, .
Di pagi harinya......
Aku dan kak Sindi sudah bersiap untuk kembali ke kota. kak Sindi sudah memanaskan mobilnya. dan aku tengah melihat ibu dengan telaten nya menyuapi bapak. yang sesekali meneteskan air mata nya.
.
Bapak selalu memeluk foto mbak Nurma. aku sangat paham apa yang di rasakan beliau. seorang ayah akan sangat dekat dengan anak perempuan nya. apalagi mbak Nurma anak satu satunya beliau. mbak Nurma sering sekali memanjakan beliau. aku sering mendengar kala aku bersama Mbak nurma dulu.
Dia sering sekali menelpon orang tuanya. dan menanyakan bapak ingin apa?
saat ibu sudah keluar, Zani dan Zaki sudah berangkat ke sekolah dari pagi tadi.
"Bu, kami pamit pulang ke kota" ucapku dan kak Sindi yang sudah berada di teras rumah. yang di temani banyak sekali orang.
"Iya Nak, hati hati di jalan. beri kabar jika sudah sampai" jawabnya.
"Titip salam pada bapak, tadi saya lihat bapak sedang tertidur. dan titipkan juga salam saya pada Zani dan Zaki" ucapku sembari memegang tangan ibu.
"Iya Nak, ibu akan titipkan salam mu pada mereka" jawabnya.
"Dan ini.... ada sedikit uang untuk kebutuhan ibu dan keluarga. memang tidak banyak namun saya harap ibu menerimanya" ucapku sembari memberikan uang tiga juta rupiah ke tangan ibu.
"Apa ini nak? kenapa kamu memberikan uang banyak sekali?" jawabnya yang kaget.
"Itu tidak seberapa dengan kebaikan ibu sekeluarga pada saya selama berada disini, In shaa Allah. setiap bulan nya saya akan mengirimkan uang pada ibu. untuk membantu ibu" ucapku
"Tidak Nak, kamu tidak perlu melakukan itu, ibu masih bisa bekerja mencari uang. simpan lah uang mu. untuk keperluan mu" jawabnya.
"Bu, saya hanya sendiri. tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. disini ada Zani ada Zaki. dan ada bapak juga. yang harus mendapat asupan yang bagus" ucapku.
"Kamu memang anak yang baik nak," jawabnya seraya mengelus pipiku.
"Terima kasih banyak Bu" ucapku.
Aku dan kak Sindi pun berpamitan. dan memasuki mobil kami. sekilas ku lihat ibu mengusap sudut matanya. apa ibu menangis?
Mereka sangat baik terhadapku, aku bahkan sempat merasakan kesedihan kala hendak pergi meninggalkan ibu.
Mobil kami pun melaju, meninggalkan desa tempat tinggal mbak Nurma. perjalanan kami terus berlanjut. sepanjang perjalanan. aku berpikir. bagaimana caranya aku bisa mendapatkan banyak uang?
Kasihan melihat kondisi bapak. yang hanya tidur di atas bale. tanpa kasur. kasihan pula pada ibu. Dengan kondisi fisik nya yang sudah jelas tidak bisa bekerja berat lagi, bagaimana dia menghidupi kedua anak mbak Nurma dan bapak?
Aku harus membantu mereka,
aku harus menggantikan mbak Nurma. menjadi tulang punggung bagi mereka.
aku harus mewujudkan cita cita kedua anak mbak Nurma. dengan begitu aku akan merasa mampu membayar semua kebaikan mbak Nurma terhadapku. dan rasa bersalah ku atas kematian mbak Nurma akan sedikit berkurang.
"Kamu kenapa bengong aja? nanti kesambet loh" ucap kak Sindi yang sadar aku tengah melamun.
"Tidak kak, aku hanya sedang berpikir. bagaimana cara membantu kekuarga mbak Nurma" jawabku.
"Iya, kasihan sekali kehidupan mereka" ucap kak Sindi.
"Iya kak, yang tersisa hanya ibu mbak Nurma. dengan kondisi nya begitu? bagaiman cara dia memberi makan pada keluarga nya" jawabku.
"Kamu benar" ucap kak Sindi.
Mobil terus melaju, beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat. hingga tepat pukul 9 malam kami tiba di rumah. kami sangat lelah. hingga kak Sindi langsung masuk dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk nya. aku pun masuk ke kamar ku dan membaringkan tubuhku.
hingga aku tak tahu jam berapa aku tertidur.
dan terbangun kala bermimpi bertemu dengan mbak Nurma. yang tersenyum padaku. dia berterima kasih padaku.
hingga aku pun terjaga. dan rupanya matahari sudah menampakan dirinya.....