
Aku pun tidak berbuat apa apa lagi, walau dalam hati aku ingin mencari Lea dan meminta penjelasan darinya? Dan meminta maaf padanya. Namun aku juga tidak ingin membantah ucapan mommy. Aku tidak mau durhaka pada wanita yang telah melahirkan ku hanya Demi Lea.
Walau aku pernah menyimpan rasa pada Lea, namun kekecewaan ku sangat lah besar. Mengapa dia tidak berusaha menemui ku jika memang dia tidak bersalah. mengapa dia harus hilang begitu saja. Seperti menandakan bahwa dia memang bersalah.
6 bulan setelah kepulangan ku...
Aku dan Mommy berjalan jalan di Mall terbesar di kota kami. mommy berbelanja beberapa barang dan aku sangat ingin makan makanan dari Korea.
Sekitar satu jam lebih menemani Mommy berbelanja. Kami pun memutuskan untuk makan di resto Jepang. Karna Mommy tidak ingin makan makanan Korea. Melainkam sedang ingin makan ramen.
Aku pun mengikuti kemauan Mommy. Hingga kami pun makan dengan lahap nya. Namun kala aku tengah menunggu Mommy menghabiskan makanan nya. Mataku tidak sengaja menangkap seorang wanita yang tidak asing di mata ku.
Wanita itu sangat mirip dengan Lea, namun penampilan mereka sangat berbanding terbalik. Wanita itu terlihat bukan seperti orang miskin melainkan orang kaya. Terlihat jelas dari dress mahal yang dia kenakan. Dan sebuah tas dari brand ternama yang biasa di kenakan para artis itu pun melingkar di tangan nya.
Mataku terus menatap wanita yang berjalan masuk ke resto di mana aku dan Mommy duduk.
Senyum nya, matanya dan wajah nya benar benar mirip sekali dengan Lea?
Namun, lea tidak mungkin sekaya itu?
Dia sangat cantik, mata yang sedikit sipit
Hidung yang mancung. Dan lesung pipi kala dia tersenyum. Sangat mirip artis Korea.
Hingga dia pun duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat ku duduk dan menyantap makanan yang telah di antarkan pramusaji di resto ini.
"Lea?" Seketika aku kaget kala Mommy juga memperhatikan wanita yang sedari tadi aku perhatikan.
"Apa Mom, jadi Mommy juga menyangka jika itu Lea?" Jawabku
"Wajah nya sih mirip Lea, namun penampilan nya? Sepertinya bukan" ucapnya sembari terus melihat ke arah wanita yang asik menyantap makanan milik nya.
"Rehan juga berpikiran bahwa itu Lea" jawabku.
Hingga wanita itu pun selesai makan. Dan terlihat memainkan sebuah ponsel dengan lambang sebuah apel yang sudah di makan itu. Ponsel yang harganya sangat mahal tersebut, bahkan aku saja tidak berani membeli ponsel itu. Bukan karna tidak punya uang. Namun harganya itu bisa seharga dengan sebuah mobil.
Hingga aku pun memberanikan diri untuk menghampiri wanita itu.
"Mom, Rehan mau ke sana dulu ya. Rehan mau memastikan dia Lea atau bukan" ucapku pada Mommy yang sedari tadi masih memutar kepala nya melihat wanita itu.
"Mau apa sih Nak, lagian Mommy yakin dia itu bukan Lea. Mana mungkin lea bisa sekaya itu. Lihat saja barang yang dia kenakan semua nya dari brand ternama. Mana mungkin itu Lea. Mungkin saja cuma mirip" jawab Mommy ketus.
"Ya, tapi Rehan mau memastikan saja Mom, Rehan merasa bahwa itu lea Mom. Rehan janji setelah mendapat jawaban dari pertanyaan Rehan. Rehan akan segera kembali" ucapku menjelaskan.
"Terserah kamu saja lah nak, Mommy yakin bahwa dia itu bukan Lea." Jawab Mommy.
Aku pun memberanikam diri berjalan mendekat ke arah meja wanita itu. Dari kejauhan wajah nya memang mirip lea. namun dari dekat wajah nya benar benar sama persis.
Tiba tiba jantung ku berdetak begitu kencang, rasa yang sama kala aku dulu mengungkapkan cinta pada Lea. Wanita itu masih pokus dengan layar ponsel nya. Dia tidak menyadari keberadaan ku yang berdiri di depan nya.
Aku terus menatap wajah wanita ini, wajah nya benar benar sama dengan Lea. Dan perasaan ku juga sama kala dulu begitu mencintai Lea. Namun, wanita ini terlihat lebih cantik dari Lea. Dengan riasan make up di wajah nya. Parpum mahal nya. Dan rambut yang tergerai dengan model Curly.
Terlihat sangat cantik dan sesuai dengan wajah nya.
"Permisi?" Ucapku membuat nya mengangkat wajah nya.
"Permisi?" Ucapku lagi.
"Ya, mau apa!" Jawabnya.
Sejenak kemudian jantung ku berasa berdetak kencang, suara itu. Suara yang dimiliki Lea. Suara yang selalu bisa membuat ku bergetar.
"Maaf, apa kamu Lea?" Ucapku memberanikan diri sembari duduk di hadapan nya.
"Ya, lalu kamu apa?"jawabnya seketika membuat ku terkejut.
"Jadi benar kamu Lea?" Ucapku yang antusias, aku tidak menyangka Lea akan berubah begitu cantik. Ya, walau dulu Lea memang sudah terlihat cantik. Namun Lea yang sekarang benar benar sangat cantik. Kulit yang putih mulus dan wajah yang di poles dengan riasan make up. Membuat nya sangat indah di pandang.
"Mau apa lagi kamu?" Jawabnya dengan tatapan begitu tajam.
"Lea, sebenarnya aku sangat senang bisa bertemu dengan mu. Bagaiman kabar mu?" Ucapku
"Huh, tidak usah sok baik, kamu mau apa?" Jawabnya yang membuat ku sedikit terkejut.
Mengapa sikap Lea berubah?
"Lea? Eemm, apa kamu tahu bahwa.." ucapku
"Tahu kalau mbak Siti yang bersalah? Tahu kalau selama ini dia yang telah memfitnahku? Atau tahu kalau mbak Siti sudah membunuh mbak Nurma?" Jawabnya yang membuatku begitu terkejut.
"Lea? Apa kamu marah?" Ucapku
"Marah, menurut anda? Perlakuan serta hinaan yang di buat kedua orang tua anda pada saya, apa saya tidak berhak marah?" Jawabnya.
"Tapi Lea, jika hari itu kamu tidak bersalah. Mengapa kamu tidak menjelaskan?" Ucapku.
"Menjelaskan, apa hari itu aku tidak memberi penjelasan? Aku sudah berkata jujur. Namun apa ada yang percaya? Tidak bukan, bahkan kamu sendiri juga meragukan itu" jawabnya dengan mata yang begitu tajam menatap ku.
"Eemm, aku. Maaf kan aku Lea. Aku sudah termakan dengan ucapan mbak Siti" ucapku
"Maaf, menurut mu. Apa masih pantas aku memberi maaf?" Jawabnya
"Lea, aku tahu aku bersalah. Tolong maafkan aku dan kedua orang tuaku, berikan aku satu kesempatan lagi. Aku janji akan memperbaiki semua nya" ucapku
"Haha, kesempatan yang seperti apa? Dan janji yang bagaimana? Bukan kah aku selalu memberimu kesempatan? Dan percaya dengan semua janjimu yang akan selalu bersama ku dan menikahi ku? Tapi mana, semua nya tidak terbukti. Kamu bukan hanya diam kala aku di siksa dan di hakimi kedua orang tuamu, namun kamu juga tidak sedikitpun membela ku. Malah kamu juga tidak percaya dengan ku bukan? Dan ikut membuang ku dengan hina!" Jawabnya
Jujur saja, ucapan Lea kali ini membuatku seperti tersambar sebuah petir tepat di bagian dada ku. Rasanya sangat sakit. Apa sejahat itu aku dulu?
Mengapa aku baru menyadari aku begitu bersalah,
Bukan kah benar, dulu aku berjanji akan meyakinkan kedua orang tuaku. Dan menjadikan Lea menjadi istriku. Dan akan selalu bersama dengan nya. Baik atau pun buruk. Suka maupun duka.
Mengapa aku bisa melupakan semua janji yang pernah ku katakan, mengapa aku sampai lalai dengan semua perkataan ku?
Apa Lea benar benar marah padaku?
Apa dia tidak ingin memperbaiki hubungan kami lagi?
Apa dia sudah tidak mau berjuang demi hubungan kami?