
Air mataku menetes, tangan ku bergetar. tubuhku terasa sangat lemas dan lunglai. aku tidak percaya, bahwa aku terlahir dari dua manusia yang sangat jahat dan tidak berbudi.
"Nak, sekarang kamu tahu? mengapa kami menyarankan jika kamu jangan mencari mereka? mereka bukan orang yang baik, kami hanya Takut, jika mereka akan memanfaatkan kamu Nak" ucap seorang lelaki tua.
"Iya, jika hanya menjadi wali nikah. saya dan kami disini pasti akan bersedia Nak"
"Benar, kami akan dengan senang hati membantu kamu Lea"
"Saya akan memikirkan semua ini? Kalau begitu, saya permisi. saya harus kembali ke rumah, karna ada banyak sekali yang harus saya urus. sekali lagi, saya berterima kasih, karna kalian semua sudah bersedia membantu saya. dan Maaf, saya sudah membuang waktu kalian. dengan berkumpul disini" jawabku
"Tidak Nak, tidak apa apa. kami mengerti, semua ini pasti berat bagimu, semoga kamu kuat Ya"
Aku pun meninggalkan balai desa, dan berjalan menuju di mana mobil ku terparkir. menerima sebuah kenyataan, bahwa aku anak haram saja. rasanya sudah cukup berat. dan sekarang? aku harus menerima sebuah kenyataan pahit lagi, jika kedua orang tuaku?
Apa Danu akan menerima ku?
dan apa Danu, akan melanjutkan pernikahan nya dengan ku? jika dia tahu siapa kedua orang tuaku yang sebenarnya?
Mobil terus melaju, pikiran ku terus terganggu dengan kenyataan pahit ini, akan kah aku mengatakan semua nya?
Sesampai nya aku di rumah, Ku lihat kak Sindi tengah berdebat dengan ibu mas rehan di ruang tamu rumah ku,
Ya Allah, apalagi ini?
"Ada apa ini?" tanyaku kala tiba di rumah ku.
"Lea, ibu nya Rehan memaksa untuk tinggal disini" jawab kak Sindi, yang membuatku semakin pusing saja.
"Maaf, kenapa anda ingin tinggal disini? ini bukan hotel?" ucapku pada ibunya mas rehan, yang ku lihat. mulai kesini, sikap nya mulai memuakkan
"Lea, saya pokonya mau tinggal disini, saya tidak betah tinggal di kontrakan kecil Lea. di sana panas dan banyak nyamuk, tolong biarkan saya tinggal disini Lea. lagian kan rumah ini besar, pasti ada banyak kamar kosong kan. dari pada di biarkan kosong. lebih baik, saya tempati kan?" jawabnya dengan begitu ringan.
"Enak saja, kamu pikir rumah ini hotel nenek mu apa? yang seenaknya kamu bisa datang dan tinggal disini?" Ucap kak Sindi.
"Hey, saya juga tahu? kamu juga disini cuma numpang kan? kamu juga bukan kakak nya Lea yang asli kan? kamu itu cuma kakak angkat nya kan, jadi kamu tidak berhak ikut bicara disini" jawab ibu mas rehan.
"Cukup, saya sedang sangat lelah, bisa tidak anda diam? Mbak Asih," Tegas ku.
"Iya Bu?" jawab mbak Asih.
"Mbak, tolong antarkan ibu ini masuk ke kamar tamu, yang ada di belakang ya?" titah ku.
"Baik Bu" jawab mbak Asih.
bak Asih pun mengantarkan ibunya mas rehan ke kamar tamu yang ku suruh,
"Lea, kamu ijin kan ibunya Rehan tinggal disini?" tanya kak Sindi.
"Biarkan saja lah kak, biarkan dia menginap disini satu atau dua hari" jawabku.
"Baik lah, kalau itu keputusan mu, dan, apa kamu sudah mendapat informasi kedua orang tua kandung mu?" tanya kak sindi.
"Kita bicara di kamar ku saja yu kak, aku tidak mau ada siapapun yang mendengar nya" jawabku.
aku menaiki anak tangga, sedangkan kak Sindi, di bantu mas Amin untuk masuk ke dalam kamar ku, Ya, walau kini kak Sindi tidak lagi duduk di kursi roda. karna dia sudah menggunakan kaki palsu. jadi, dia bisa berjalan bebas kembali
Sesampainya kami di kamar ku, aku segera menutup pintu kamar ku,
"Ada apa Lea? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya kak Sindi dengan wajah penuh cemas.
"apa ini Lea?" tanya kak Sindi, dengan alis bertaut
"Kakak buka saja" jawabku.
kak Sindi pun membuka kertas tersebut, tidak lama kemudian, wajah nya berubah menjadi pucat. aku sangat Yakin, pasti dia terkejut dengan kenyataan diriku.
"Lea, apa ini surat dari kedua orang tua kandung mu?" tanya kak Sindi
"Iya, warga desa menemukan surat dan foto mereka bersama tubuhku" jawabku.
"Ya Allah, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" ucap kak Sindi
"Entah lah kak, aku tidak tahu harus berkata apa? apa aku harus memberi tahu Danu apa yang sebenarnya atau tidak? apa Danu akan melanjutkan pernikahan nya dengan ku, setelah dia tahu semua nya atau tidak? aku sangat bingung kak" jawabku tertunduk. rasanya tubuhku sangat lemas,
"Sebaiknya kamu tetap memberi tahu Danu, bukan kah kejujuran itu sangat penting. terlebih kalian akan melangsungkan pernikahan, jangan sampai ada yang kamu sembunyikan dari Danu, biarkan dia tahu semua nya Lea. terlebih dia menerima nya atau tidak, yang terpenting kamu sudah jujur. percayalah, kejujuran itu harganya sangat mahal Lea" ucap kak Sindi.
"Jadi, aku harus memberi tahu Danu semua ini kak?" jawabku
"Ya, sebaiknya kamu beri tahu saja" ucap kak Sindi .
"Baiklah, aku akan memberi tahu Danu semuanya. semoga dia mau menerima nya ya kak, tolong doakan aku ya kak" jawabku
"Lea, tanpa kamu meminta pun, kakak pasti akan mendoakan kamu Lea. kakak sangat menyayangi kamu, kamu adalah adik kakak. kamu satu satu nya orang yang kakak punya." ucap kak Sindi, seraya memeluk tubuhku.
."Terima kasih kak, terima kasih karna kakak selalu ada bersama dengan ku, dan terima kasih. kakak sudah bersedia menemaniku selama ini" jawabku
"Tidak, kakak yang seharusnya berterima kasih, kamu sudah banyak sekali membantu kakak. sampai kakak bisa berjalan lagi, dan bisa melalui masa masa yang berat kemarin, terima kasih Lea" ucap kak Sindi.
.
"Aku bahagia mempunyai kakak" jawabku.
"Kakak jauh lebih bahagia, bisa memiliki dan di pertemukan dengan kamu" ucap kak Sindi.
Kami pun saling berpelukan hingga
Tok..Tok..Tok...
Terdengar suara pintu kamar ku di ketuk, aku dan kak Sindi saling tatap, siapa yang mengetuk pintu kamar ku. aku pun berjalan. ke arah pintu yang di ketuk.
Terlihat mang Amin tengah berdiri di depan pintu kamar ku .
"Bu, maaf telah mengganggu waktunya" ucapnya seraya tertunduk
"Ya, tidak apa apa mang. ada apa?" jawabku.
"Bu, bisa ikut saya ke lantai bawah? Tamu ibu merubah rumah Bu" ucapnya
"Apa yang mang Amin katakan, saya tidak mengerti?" jawabku.
"Ibu bisa melihatnya sendiri Bu" ucapnya.
"Lea Sebaiknya kita lihat saja ke bawah" saran kak Sindi.
Aku pun berjalan menuruni anak tangga, sedangkan kak Sindi di bantu turun oleh mang Amin, aku tidak sabar, ada apa sebenarnya. sampai tukang kebun kepercayaan ku ini. sampai memintaku turun. untuk memastikan apa yang terjadi di bawah.