
"Kenapa Gerbang garasi terbuka sayang?" Ucap Danu heran.
"Entah lah, apa mungkin mang Amin sedang lupa?" Jawab Lea.
"Sepertinya begitu" Ucap Danu.
Setelah memasuki garasi rumah nya. mereka segera turun dan berjalan memasuki dalam rumah.
Dari luar terdengar jelas suara riuh.
"Siapa yang menangis?" Tanya Lea
"Eemm, dari suara nya seperti?" Jawab Danu yang memotong ucapan nya.
Mereka saling diam untuk beberapa saat
Hingga..........
"Itu suara kak Sindi!" Ucap Lea seketika.
Tanpa banyak berkata, Lea lekas berlari memasuki rumah nya. dengan kepanikan yang mulai menyeruak di seluruh pikiran nya. Lea mendapati Sindi tengah menangis begitu memilukan.
Tidak hanya Sindi yang di tenangkan oleh Putri dan Istri Angga. Angga juga terlihat begitu kebingungan. Mbak Asih juga terlihat duduk di lantai dan menangis.
Indah yang tengah menggendong Yuda juga menangis.
Lea melihat semua orang yang dia sayang tengah menangis. Namun, entah apa yang mereka tangisi?
Lea berjalan pelan mendekat. di susul oleh Danu yang berjalan di belakang Lea istrinya.
"Pak Danu?" Ucap mbak Asih yang menyadari kedatangan Danu.
Seketika semua mata tertuju pada Danu. dan tidak hanya Danu, mereka juga menyadari akan sosok wanita berpakaian Syar'i yang berdiri berdampingan dengan Danu.
"Danu " Ucap Beberapa dari mereka.
"Ada apa ini? mengapa kalian semua menangis?" Tanya Danu yang merasa heran. apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Danu, Danu katakan padaku. Jika firasat ku salah, kau tidak mungkin mencelakai Lea bukan? Katakan bahwa kau tidak akan membiarkan Adik ku menderita bukan?!" Ucap Sindi seraya memegang kerah baju Danu.
"Apa maksud mu? aku sama sekali tidak mengerti?" Jawab Danu yang kebingungan.
"Danu, Sindi menyangka jika kau mengumpulkan kami semua disini karna kau akan membicarakan. Bahwa kau akan melepaskan semua alat yang terpasang pada Lea. kekhawatiran Sindi yang membuat nya menangis seperti itu, dan tentunya itu juga menjadi pertanyaan bagi kami semua. termasuk aku?" Ucap Angga menjelaskan.
"Semua alat yang terpasang pada Lea memang telah di cabut, aku baru hendak mengatakan jika.." Jawab Danu
PLAK.
"Apa, Berani sekali kamu!" Ucap Sindi seraya menampar Danu, dan membuat semua orang yang ada disana begitu terkejut. termasuk Lea.
"Sabar Sindi sabar" Ucap Angga dan yang lain.
"Berani sekali kau, Siapa yang memberi mu Hak untuk melepaskan semua alat pada tubuh adik ku! jangan karna kau suaminya. dan jangan karna adik ku mencintai kamu, kau jadi bertindak sesuka mu!" Ucap Sindi yang mengamuk hendak memukul Danu, Namun di tahan beberapa orang.
"Apa maksud mu kak, aku sama sekali tidak mengerti?" Jawab Danu.
"Berani sekali kau memanggilku kakak! aku tidak Sudi di panggil kakak oleh kamu, kau bukan lelaki baik Danu, kau lelaki yang jahat. sangat jahat. mengapa kau tega membunuh Lea ku. jika kau memang tidak menginginkan nya. kembalikan dia padaku. aku akan dengan sangat senang menyambutnya. tidak kah kau tahu? aku sakit, Aku sangat sakit mendapati Lea ku koma selama 4 bulan ini. tidak kah kau mengetahui penderitaan ku! mengapa kau sampai membiarkan Lea ku pergi Danu. mengapa" Ucap Sindi seraya menangis kembali. yang membuat Lea heran? dengan ucapan Sindi. terlebih tentang koma dirinya?
Lea terdiam mematung, dia menyaksikan semua kericuhan di rumah nya. dia melihat kekacauan kakak nya. kakak yang selalu berpenampilan rapih dan berwajah cantik, kini telah berubah. kakak nya berpenampilan seperti orang yang hampir Gila. rambut tidak karuan. baju sudah nampak usang.
Entah apa yang terjadi pada Sindi kakak nya?
"Danu, katakan padaku. mengapa kau sampai melakukan perbuatan bodoh ini?" Tanya Angga pada Danu.
"Angga, aku sama sekali tidak mengerti? apa yang sebenarnya kalian katakan?" Jawab Danu.
"Apa benar yang kau katakan tadi, jika kau telah mencabut semua alat yang terpasang selama ini di tubuh Lea?" Ucap Angga.
"Iya, memang aku telah mencabut semua alat itu. apa salah nya? mengapa kalian bertanya dan bersikap aneh sekali" Jawab Danu yang masih merasa heran.
."Tidak........ Lea kakak mohon kembalilah Lea. jangan tinggalkan kakak Lea. kakak tidak sanggup jika harus begini Lea" Teriak Sindi yang mendengar penuturan Danu.
Tentu saja, hal tersebut membuat Danu semakin keheranan? dan membuat Lea semakin berdiri termenung di tempat nya.
kericuhan yang terjadi di rumah nya. membuat semua orang menangis. dan entah apa penyebabnya? sampai mereka tidak menyadari. jika ada orang yang juga berdiri di antara mereka.
Lea dan Danu masih tidak mengerti, apa yang telah terjadi di rumah ini? mengapa Sindi sampai sehisteris itu?
BRUK.......
Angga memukul pipi Danu dengan cukup keras. sontak itu membuat semua orang terkejut, termasuk Lea. Namun, entah kenapa? kaki nya seperti kaku untuk bergerak. ia seolah seperti terhipnotis untuk tetap berdiri dan menyaksikan semua nya.
"Ayah sudah, kita bisa bicarakan semua baik baik" Ucap Istri Angga yang menenangkan suaminya.
"Tidak Bund, ini semua tidak bisa di bicarakan dengan baik baik. sahabat mu ini sudah gila. dia sudah hilang akal! bisa bisa nya dia melakukan semua ini. dan mengambil keputusan besar tanpa bertanya pada kita!" Ucap Angga seraya menatap Danu dengan tatapan penuh amarah.
"Angga, ada apa ini? mengapa kau sampai memukulku? memangnya apa yang telah aku lakukan? dan, keputusan besar apa yang kau bicarakan?" Jawab Danu yang merasa heran.
"Masih bisa kau bertanya begitu? setelah kau berbuat jahat kepada Lea istrimu? wanita yang kau katakan sangat berharga dalam dirimu? Wanita yang kau katakan sangat kau cintai," Ucap Angga dengan mata merah nya.
" Ada apa Ini sebenarnya? aku memang mencintai Lea. lantas apa salahnya?" Jawab Danu
"Cinta? kau bahkan tidak pantas mengatakan itu! setelah kau membunuh Lea. masih bisa kau mengatakan jika kau mencintai Lea Danu. dasar bedebah!" Ucap Sindi
"Membunuh? Siapa yang mengatakan jika aku membunuh Lea? Sindi, kau tahu betul jika aku mencintai Lea. dan kau Angga, kau adalah sahabat ku. aku tidak pernah merahasiakan apapun darimu. termasuk perasaan ku kepada Lea? mengapa kalian mengira jika aku telah membunuh Lea?" Jawab Danu.
"Bodoh, masih kah kau tidak ingin mengakui nya? setelah kau mengatakan jika kau telah mencabut semua alat yang selama 4 bulan ini menyambung hidup Lea? yang kau sendiri tahu. jika alat tersebut di lepas. maka hidup Lea akan berakhir. dan kau telah melakukan nya bukan!" Ucap Angga.
"Aku memang telah mencabut semua alat itu, Tapi, aku tidak mungkin membunuh Lea. aku sangat mencintai nya. mana bisa aku membunuhnya. membunuh Lea sama saja aku membunuh diriku sendiri." Jawab Danu.
."Bohong, kau memang tidak pantas bersama adik ku. harusnya dari dulu aku menolak mu Danu!" Ucap Sindi.
"Mengapa kalian mengira jika Lea telah meninggal? siapa yang memberi kabar tersebut?" Jawab Danu.
"Cukup Danu, kau adalah dokter. dan kau pasti lebih tahu apa yang telah menimpa Lea. dan apa yang akan terjadi jika salah satu alat tersebut di cabut dari tubuhnya. masihkan kau bertanya?" Ucap Angga.
"Angga, aku tahu kondisi Lea sangat buruk belakangan ini. bahkan kau juga melihat perubahan tubuhnya? Tapi .." Jawab Danu.
"Tapi, kau dengan tega nya mencabut alat penyambung hidup Lea. alat yang memberinya nafas!" Ucap Sindi.
"Apa, apa kalian mengira jika Lea telah meninggal? dan kalian mengira jika aku yang telah membunuhnya?" Jawab Danu.
"Ya, memang itu yang terjadi bukan!" Ucap Angga.
"Hehe, seperti nya kalian memang belum sepenuhnya mengenal ku. bahkan kau Angga. ku kira persahabatan kita dari jaman SMP dulu. bisa membuat kita saling mengenal satu sama lain, rupanya aku salah. kalian sampai menuduhku telah membunuh istriku sendiri? istri yang aku cintai melebihi hidup ku sendiri. Tapi, aku sangat bahagia. kalian begitu menyayangi Lea ku. sampai tidak terima jika ada yang menyakiti dirinya. bahkan itu berlaku kepadaku hehe. Jika aku telah membunuh Lea. katakan, apa aku akan berani datang kesini? Dan lalu siapa wanita itu?" Jawab Danu seraya menunjuk Lea.
Seketika semua mata tertuju pada Lea. yang masih setia berdiri mematung di tempat nya.
mereka semua sampai tidak menyadari, jika Danu tidak datang sendiri. jika Danu membawa seorang wanita bercadar bersama nya?
Semua terdiam untuk beberapa saat. mereka semua melihat ke arah Lea. dengan tatapan penuh pertanyaan?