
Setelah menyaksikan hukuman yang di terima Mommy dan para bodyguard nya itu. aku dan kak Sindi bergegas untuk pulang ke rumah ku. karna rumah kak Sindi telah dia jual. aku akan meminta kak Sindi untuk tinggal bersama ku.
lagipula rumah ku cukup besar jika di tinggali oleh ku sendiri.
**********************
"Baiklah Danu, sekali lagi terima kasih. terima kasih atas bantuan mu, aku akan kembali pulang ke rumah ku" ucap ku pada Danu.
"Eemm, baiklah. aku senang kini kau sudah bisa hidup seperti sedia kala. tetap lah Istiqomah Lea. jangan pernah tinggalkan sholat mu." jawabnya.
"Iya, kalau begitu aku pergi sekarang, sekali lagi terima kasih banyak" ucapku.
"Iya, kalau memungkinkan. sering lah mampir ke rumahku. untuk menjenguk Bibi" jawabnya.
"Hah?" ucapku bingung
"Eemm, maksudku kamu masih bisa main dan datang ke rumah ku" jawabnya.
"Oh, iya nanti aku akan main ke rumah mu" ucapku.
"Lea," panggil seseorang saat aku dan kak Sindi berjalan keluar ruang persidangan.
"Angga,?" jawabku.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Angga.
"Ya, dan Oh ya. aku belum berterima kasih kepadamu, Terima kasih banyak sudah membantuku. dan tolong sampaikan pula kepada rekan rekan mu " Jawabku
"Sama sama, itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai polisi, kamu mau pulang sekarang?" ucap Angga.
"Iya, aku dan kak Sindi akan pulang ke rumah ku" jawabku.
"Baik lah, kalau begitu biar ku antar" ucapnya.
"Tidak, tidak usah Angga. aku bisa pulang sendiri" jawabku.
"Lea, aku di perintahkan oleh atasanku untuk mengantarmu sampai rumah. jadi ku mohon jangan tolak tugasku" ucapnya.
"Oh begitu, baik lah" jawabku.
Akhirnya aku pun pulang di antar oleh Angga menggunakan mobil patroli.
Sepanjang perjalanan tidak henti hentinya aku mengucap syukur. atas apa yang sekarang ku alami.
Selain mendapatkan kebebasan ku, aku juga mendapatkan kakak ku kembali.
"Lea, boleh kah aku bertanya?" tiba tiba Angga memecah keheningan di antara kami.
"Ya, silahkan" jawabku.
"Apa kamu sudah ada kekasih?" ucapnya yang sontak membuatku sedikit terkejut.
"Tidak" jawabku.
"Syukurlah" ucapnya.
"Maksud nya?" jawabku.
"Oh tidak, tidak apa apa kok" ucapnya.
30 Menit Kemudian.......
"Jadi ini rumah mu?" tanya Angga.
"Iya, ayo mampir dulu" jawabku.
"Wah sebenernya sih mau sekali aku mampir. tapi, Nanti saja" ucapnya.
"Oh, begitu?" jawabku.
"Nanti aku akan mampir kesini. itu pun kalau boleh" ucapnya.
"Tentu saja boleh Angga. kamu kan telah membantuku" jawabku.
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ya" ucap Angga.
"Iya, hati hati" jawabku.
"Sebaiknya kamu yang jaga hati Lea, karna ada seseorang yang sudah menyimpan hati padamu" ucapnya seraya tertawa dan memasuki mobil nya.
Aku tidak mengerti apa yang di katakan Angga barusan, mengapa dia menanyakan apakah aku telah memiliki kekasih?
dan mengapa dia mengatakan, bahwa ada seseorang yang telah menyimpan hati padaku?
Apa sebenarnya yang dia maksud kan?
Aku pun mendorong kursi roda kak Sindi. dan memasuki rumah ku kembali, Sungguh bahagia hatiku hari ini, akhirnya aku bisa kembali menempati rumah ku.
Mbak Asih dan Mang Amin telah berdiri menyambut kedatangan ku. melihat dua pegawai setiaku yang kini berdiri sembari memegang sebuah kalung bunga. aku lekas menghampiri mereka dan memeluk tubuh mbak Asih.
"Ya ampun Bu, saya senang sekali ibu selamat" ucap nya.
"Iya mbak, maaf kan saya sudah membuat kalian cemas dan hidup penuh tekanan selama ada orang jahat itu" jawabku.
"Tidak apa Bu, dan saya senang sekali bisa melihat ibu berhijrah. ibu terlihat sangat cantik mengenakan hijab" ucap nya.
"Terima kasih" jawabku.
Setelah ritual ala ala yang di lakukan mbak Asih dan Mang Amin. yang mengalungkan bunga di leher ku, aku dan kak Sindi pun memasuki rumah ku.
Aku telah membeli sebuah rumah di dekat resto ku. rumah yang tidak begitu besar, hanya memiliki tiga kamar tidur. aku juga menyediakan beberapa perabotan rumah tersebut, sebelum akhirnya meminta Nenek yang merawat kak Sindi. tinggal di rumah tersebut.
Aku meminta supir untuk membawa nenek dan keluarganya ke sini, aku akan memberikan mereka kejutan,
Ya, memang. Semenjak kembali dari desa mereka. aku meminta mereka menempati sebuah kontrakan petakan. di mana mereka sementara tinggali. karna aku harus menyelesaikan masalah ku terlebih dahulu.
Tapi, kini masalahku telah selesai. tibalah aku menepati janjiku. untuk memberi kan tempat tinggal yang layak bagi mereka.
Suara klakson mobil terparkir di halaman depan rumah ini.
dan terlihat juga nenek serta anak menantunya keluar dari dalam mobil.
Nenek dan keluarga nya sangat terkejut. kala aku mengatakan bahwa aku memberikan rumah ini untuk nenek, Tangisan mereka pecah, bahkan mereka hampir saja sujud di kaki ku.
Tangisan kebahagiaan mereka berhasil membuat hatiku terasa damai,
Aku juga meminta dua menantu lelaki nenek untuk bekerja di resto ku. dengan mereka bekerja. mereka bisa membiayai kehidupan mereka. dan bisa merubah kehidupan mereka.
Setelah selesai dengan kejutan untuk nenek dan keluarga nya. aku menyempatkan diri mampir di resto ku. menurut kabar, orang orang jahat itu, tidak bisa melacak resto atau rumah makan ku.
bagus lah,
Aku mampir untuk melihat kondisi dan kabar di resto ku, karna hampir tiga bulan aku tidak mengunjungi usaha ku itu.
****************************
PERSI DANU.....
Aku bahagia, kala hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi orang orang jahat itu, biarkan mereka merasakan balasan atas apa yang telah mereka perbuat.
Namun, ada kesedihan dalam diriku. kala Lea harus kembali ke rumah nya.
Itu artinya, aku tidak bisa melihat dia setiap hari. dan memungkinkan tidak akan bisa melihatnya kembali.
Aku tahu, aku benar benar jatuh cinta kepada wanita itu, terlebih kala dia bisa merubah hidupnya. dan merubah penampilan nya. Lea sangat cantik dengan balutan hijab di kepala nya.
Walau pun penampilan nya kini tertutup, tapi, dia malah terlihat semakin cantik.
"Den" ucap Bibi.
"Ya bi" jawabku.
"Aden sedang memikirkan neng Lea ya?" tiba tiba Ucapan bibi membuatku terkejut.
"Ah bibi Sok tahu, kata siapa saya sedang memikirkan Lea? dia sekarang sudah bahagia Bi. kehidupan nya sudah kembali normal. dia juga sudah kembali ke rumah mewah nya" jawabku.
"Bibi kan cuma tanya? kok Aden jawabnya banyak sekali?" ucapnya.
"Oh, iya ya" jawabku.
"Den, Neng Lea itu cantik ya" ucapnya.
"Sangat BI, dia sangat cantik. malah kecantikan nya tiada banding nya" jawabku.
"Aden Naksir gak sama Neng Lea?" ucapnya.
"Ah bibi apaan sih, Nggak lah BI, aku masih mau pokus ke pekerjaan ku" jawabku
"Syukurlah" ucapnya yang sontak membuatku terkejut.
"Kok syukur BI?" jawabku bingung
"Ya syukur kalau Aden gak naksir Neng Lea. jadi bibi bisa jodohkan dengan keponakan bibi yang polisi itu Den, si Radit. pasti dia suka. sedangkan kan Neng Lea orang nya bukan cuma Cantik, tapi sangat baik" ucapnya.
"Bibi apaan sih, Radit itu masih dalam pembelajaran kepolisian. mana boleh dia menikah!" jawabku tak suka dengan rencana bibi ku ini.
"Loh, Kok Aden marah, katanya tadi gak Naksir Neng Lea?" ucapnya.
"Gak kok, siapa yang marah? aku kan hanya memberi tahu bibi. kalau Radit itu belum boleh pacaran apalagi menikah. karna belum lulus jadi anggota kepolisian" jawabku.
"Den Aden, bibi bekerja disini tuh sudah bertahun tahun. bibi bekerja dari Aden masih kuliah. sampai sekarang sudah jadi seorang dokter, jadi Aden gak bisa bohongi bibi. Bibi tahu, Aden suka sama Neng Lea kan?" ucapnya
"Bibi sok tahu ah" jawabku.
"Masih aja malu malu" ucapnya.
Aku pun pergi masuk ke kamar ku. dan meninggalkan bibi sendiri dengan sejuta pertanyaan nya itu.
Aku pun memasuki kamarku, yang dulu di tempati oleh Lea.
Entah kapan aku bisa bertemu lagi dengan dia?
baru beberapa hari saja dia meninggalkan rumah ku, rumah ini terasa sangat sunyi sekali.
Bibi benar, aku memang mencintai kamu Lea.
Tapi, aku sendiri tidak tahu harus mengatakan dengan cara apa? mengingat ucapan mu kala itu. bahwa kamu tidak ingin menikah.
Apakah aku akan siap, menerima penolakan darimu?
Lea, aku sangat merindukan mu......
Semoga Allah selalu menjaga mu,
dan semoga kau selalu bahagia di luar sana......