
Lelaki ini terus mendengarkan cerita ku, cerita yang bahkan bisa membuat sebagian orang menangis, dan bahkan merasa Jijik. bagaimana tidak jijik. selain aku adalah anak haram. yang sengaja di buang oleh kedua orang tua nya. aku pun seorang pelacur.
Sungguh, aku sendiri merasa sangat jijik dengan diriku sendiri. bagaimana dengan orang lain?
"Mengapa kamu tidak sungkan menceritakan semua masa lalu mu padaku? bahkan kamu juga tidak malu mengakui bahwa kamu pernah menjadi wanita penghibur?" ucapnya
"Malu, aku ini sudah tidak punya rasa malu. dan apa juga yang harus ku tutupi? bukan kah bangkai akan tetap tercium walau kita menyimpan nya dengan rapi?" jawabku.
"Mengapa kamu memilih bekerja menjadi wanita penghibur? apa tidak ada pekerjaan yang lain" ucapnya.
"Mau bagaimana lagi, aku hanya lulusan Sekolah Dasar(SD). dulu aku pernah bekerja menjadi pembantu. Namun ya begitu, teman ku memfitnah ku sedemikian rupa. sampai aku di hina sedemikian rupa" jawabku.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? apa kamu akan kembali ke pekerjaan mu lagi?" ucapnya.
"Tentu tidak, jika pun aku harus meregang nyawa. aku akan memilih untuk mati. dari pada kembali ke jalan itu. aku sudah tidak ingin kembali berbuat dosa" jawabku.
"Bagus, itu keputusan yang sangat bagus." jawabnya.
"Iya" jawabku.
"Lalu, di mana kedua orang tua kandung mu? bukan kah Ayah dan Ibu, mereka adalah orang tua angkat mu?" ucapnya.
"Entahlah, aku hanya tahu mereka kedua orang tuaku. orang yang sudah membesarkan ku dengan penuh kasih sayang" jawabku.
"Apa kamu tidak ada Niatan untuk mencari keberadaan mereka?" ucapnya.
"Untuk apa? bukan kah mereka sendiri tidak menginginkan ku. mereka saja tega membuang ku sewaktu kecil. dan sengaja membuang ku di desa yang semua warganya tidak akan menerima ku" jawabku.
"Tapi, bagaimana pun mereka tetap orang tuamu Lea. terlebih Ayah mu. jika nanti kau hendak berkeluarga atau menikah. kamu pasti membutuhkan restu serta wali nya" ucapnya.
"Menikah?" jawabku.
"Iya, apa kamu akan hidup sendiri seumur hidup? tentunya tidak bukan?" ucapnya.
"Siapa yang mau menikah dengan ku, kamu ini ada ada saja" jawabku terkekeh.
"Memangnya kamu tidak percaya akan ketentuan Allah? " ucapnya.
"Aku percaya, Namun, aku tidak Yakin saja. lagi pun, aku tidak mau menikah" jawabku.
"Mengapa, bukan kah itu adalah ibadah yang besar?" ucapnya.
"Bagi sebagian orang dan wanita, pasti impian mereka adalah bisa menikah. tapi, tidak dengan ku" jawabku.
"Mengapa, apa alasan nya?" ucapnya.
"Masa lalu ku, pekerjaan ku, aku tidak mau. di kemudian hari. suami atau keluarga suami ku akan mengolok olok ku. karna aku pernah menjadi wanita penghibur. aku tidak mau lagi hidup dengan penuh hinaan. ku rasa. selama ini sudah cukup aku terhina. aku tidak ingin lagi mendengar kata kata itu lagi. sungguh, tidak ingin" jawabku.
"Aku paham apa yang kamu katakan," ucapnya
"Ya" jawabku.
Tidak lama kemudian, setelah kami saling berbicara. dan larut dalam pikiran kami masing masing. pembantu lelaki yang ku tahu bernama Danu tersebut masuk dengan membawa sebuah mangkuk.
"Neng, ini buburnya telah siap. di makan dulu Ya" ucapnya seraya menaruh mangkuk dan gelas berisi air putih. di meja kecil.
"Iya, sebaiknya kamu makan dulu" ucap Danu.
"Baik lah" jawabku
"Kalau begitu, Bibi keluar dulu ya Den. bibi mau belanja sayur. mumpung tukang sayur nya lewat depan rumah" ucap Bibi.
"Iya Bi, oh iya tolong beli daging. ikan dan beberapa sayuran. Lea butuh banyak nutrisi dan vitamin." ucap Danu.
Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Danu.
pasalnya setelah mbok Inah, baru kali ini aku mendapat perhatian dari seseorang.
Lekas ku ambil mangkuk di meja kecil dekat tempat tidur, Namun. tangan ku masih terasa lemas. hingga mangkuk yang ku pegang hampir saja terjatuh ke bawah.
"Ya ampun" ucapku kaget.
"Sini, biar aku saja" jawabnya
"Tidak usah, biar aku saja" ucapku.
"Sudah kamu diam, tenaga kamu belum pulih seutuh nya" jawabnya.
Danu pun mengambil mangkuk yang berisi bubur di atas meja. dia menyendok bubur dan meniup nya untuk beberapa saat. kemudian dia menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut ku.
aku sempat merasa sangat canggung. hingga di saat dia mengisyaratkan aku untuk mengikuti arahan darinya.
Sekitar 15 menit, Bubur yang ada di dalam mangkuk pun telah tandas. aku merasa tubuhku mendapat sedikit tenaga dari sebelumnya.
"Lea, kamu istirahat saja. aku harus pergi bekerja" ucapnya seraya membaringkan tubuhku kembali.
"Baik lah" jawabku.
Danu pun berjalan ke arah lemari. ku lihat dia membawa beberap pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.
alangkah terkejutnya aku. kala melihat Danu mengenakan jas. yang biasa di kenakan oleh dokter.
Rupanya dia adalah seorang dokter?
Pantas saja dia bisa merawat ku selama di rumah nya. rupanya dia tahu luka luka dan obat untuk ku.
"Lea, aku pergi bekerja dulu. kamu tidur lah" ucapnya seraya berjalan keluar kamar.
Aku pun hanya membalas nya dengan sebuah anggukan kecil di kepala Ku.
****************
Satu Minggu Kemudian.....
Setelah satu Minggu tersadar, kini aku telah belajar menggerakkan kaki ku kembali. aku juga merasa sangat bosan dan malu. jika hanya berbaring di atas tempat tidur. bagaimana pun aku adalah tamu.
aku harus tahu diri. tidak mungkin aku terus berbaring dan tidak mengerjakan apapun.
aku belajar berjalan sedikit demi sedikit. mulai dari berpegangan pada tembok.
Ku paksakan kaki ku untuk terus melangkah.
"Kamu sudah bisa bangkit dari tempat tidur?" ucap Danu kala masuk ke dalam kamar
"Iya, aku bosan seharian berada di atas tempat tidur. jadi, aku belajar berjalan saja" jawabku.
"Sini," ucapnya seraya memegang kedua tanganku.
Kini aku berjalan dengan di papah oleh Danu, perlakuan baik Danu membuatku sedikit canggung. bagaimana pun dia adalah seorang dokter muda. yang mungkin tidak sedikit wanita yang mengidamkan nya.
Bagaimana jika kekasih nya tahu, jika Danu menyimpan ku di rumah nya? apa itu tidak akan menjadi masalah baru. untuk ku dan dia?
Aku harus segera sembuh. dan meninggalkan rumah Danu. aku tidak mau terus terusan merepotkan Danu dan BiBi.
"Kita jalan jalan di luar mau?" ucapnya kemudian
"Boleh" jawabku.
Danu pun memapah ku. untuk menuruni anak tangga. Namun, kala aku baru menginjakan kaki di beberapa anak tangga. Kaki ku terasa ngilu. hingga Danu dengan sigap menggendong tubuhku menuruni anak tangga.
Jantung ku terasa begitu berdebar dengan hebat nya. siapa juga yang tidak akan merasa kan hal yang sama.
Danu, lelaki dengan berbadan tinggi tegap. kulit nya yang putih dan mata sedikit sipit
serta terdapat lesung pipi. di kala dia tersenyum.
giginya yang tersusun rapi dan putih. serta alis yang hitam dan tebal. wajah yang mirip seperti opa opa Korea.
Ku lihat sepintas ke bawah. bibi terlihat tersenyum melihat Danu membopong tubuhku.
"Mau kemana Den?" tanya Bibi kala kami telah sampai di lantai bawah.
"Mau bawa Lea jalan jalan di sini Bi" jawabnya.
"Oh iya Den" ucap bibi
Setelah tubuhku kembali berdiri di atas lantai. Danu kembali memapah ku, kami berjalan saling berhadapan. dan Danu masih terus memegang tangan ku.
**********************
Satu Bulan Kemudian......
Kini, kondisi ku benar benar telah pulih, aku juga sudah bisa menggerakkan serta berjalan sendiri dengan lancar. luka luka di bagian wajah dan tubuhku juga sudah mengering.
Hari ini, aku memutuskan untuk meninggalkan kediaman Danu, aku tidak mau terus menerus merepotkan mereka.
Setelah sarapan di meja. yang sudah di siapkan Bibi. aku berniat untuk berbicara perihal Niatan ku untuk keluar dari rumah Danu.
"Eemm, Danu apa aku boleh bicara sesuatu?" ucapku.
"Apa?" jawabnya seraya meletakan sendok di atas meja.
"Aku sudah sembuh, dan aku sangat sangat berterima kasih padamu. kamu sudah menolongku dan merawat ku hingga pulih. aku memutuskan untuk meninggalkan rumah mu" ucapku.
"Kamu akan pergi kemana?" jawabnya dengan alis yang bertaut.
"Mungkin kembali ke rumah ku" ucapku
"Apa kamu Yakin? apa orang orang itu tidak akan menemukan mu di rumah mu?" jawabnya.
"Entahlah, tapi, aku juga tidak bisa terus terusan berada disini. aku juga harus mencari kakak ku. aku harus memastikan bahwa dia juga selamat" ucapku.
Beberapa detik kediaman meliputi kami. aku tidak tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Danu.
Hingga........