
Aku dan penjaga makam akhirnya memilih duduk di bawah pohon beringin, pohon ini terdapat sebuah bangku kayu. yang biasa di gunakan oleh penjaga makam ini untuk beristirahat.
Selain tempat nya yang cukup teduh, karna kebetulan matahari tengah terik sekali. dan jarak antara tempat kami duduk dengan makam Rangga juga tidak begitu jauh. Hanya terhalang 4 makam yang lain.
"Siapa kamu Nak? dan ada keperluan apa?" Tanya penjaga makam.
"Perkenalkan, Nama saya Lea kek. saya ingin bertanya beberapa hal tentang makam Itu" Jawabku seraya menunjuk makam Rangga.
"Makam Nak Rangga?" Ucap kakek penjaga makam dengan heran.
Tentulah kakek penjaga makam ini heran. mengapa aku bertanya tentang makam Rangga. Dan apa keperluan ku, sedangkan aku bukan warga sini dan terlihat asing.
"Iya kek, makam Rangga" Jawabku.
"Eemm, memang nya Nak Lea ini siapa? dan mengapa ingin bertanya tentang makam Rangga? Apa Nak Rangga ada Hal yang belum di selesaikan dengan Nak Lea?" Tanya kakek penjaga makam.
"Tidak kek, saya hanya ingin tahu bagaimana keseharian Almarhum Rangga semasa hidupnya dulu. hanya itu kek" Jawabku.
"Sejauh yang kakek tahu, Nak Rangga anak yang baik. dia anak yang Rajin beribadah ke Musholah. Nak Rangga juga anak yang penurut. dia tidak pernah membantah perintah dari kedua orang tuanya. bahkan sampai akhir hayat nya" Ucap sang kakek sembari menatap ke arah makam Rangga.
"Jadi, Semasa hidup. Rangga adalah anak yang baik ya kek, Lalu, Apakah saya boleh tahu penyebab Rangga meninggal?" Jawabku.
"Memang nya kenapa Nak? Sebenarnya kamu ini siapa? dan mengapa kamu ingin tahu perihal penyebab kematian Rangga? apa sebenarnya kepentingan mu?" Tanya kakek sembari melihat heran ke arah ku.
"Saya bukan siapa siapa kek, Kakek jawab saja" Jawabku.
"Nak Rangga meninggal karna di hakimi masa" Ucap kakek setelah cukup lama berpikir.
"Di hakimi masa? Mengapa itu bisa terjadi?" Jawabku.
"Nak Rangga kepergok tengah mencuri di salah satu rumah warga Nak" Ucap kakek.
"Mencuri, Bukan kah tadi kakek mengatakan jika Rangga anak yang baik dan Sholeh? lantas mengapa dia sampai mencuri" Jawabku.
"Nak Rangga mencuri karna desakan dari kedua orang tuanya. itu lah penyebab dia di hakimi masa sampai meninggal dunia" Ucap kakek.
"Kakek tahu dari mana jika Rangga di desak kedua orang tuanya?" Jawabku.
"Sebelum kejadian memilukan itu, Nak Rangga sempat datang ke Mushola. dia terlihat muram dan bingung, Kakek bertanya mengapa dia terlihat sangat bingung? dia menceritakan semua nya? Bagaimana kedua orang tuanya memaksa dia untuk mengambil perhiasan di salah satu rumah warga" Ucap kakek sembari mata menatap lurus ke depan.
"Jika memang Rangga terpaksa mencuri karna desakan kedua orang tuanya? mengapa mereka masih bebas hingga saat ini?" Jawabku.
"Orang tua Rangga bukan Manusia, Siapa yang berani berurusan dengan mereka. Hanya Allah yang bisa membalas semua perbuatan mereka berdua" Ucap sang Kakek yang sontak membuatku terkejut.
"Bukan Manusia? maksud kakek apa?" Jawabku.
"Jika mereka manusia, tentulah mereka tidak akan membiarkan anak mereka banting tulang mencari uang demi membiayai hidup mereka. Jika mereka manusia, mereka tidak akan menjual anak mereka demi segepok uang. dan jika mereka manusia. mereka tidak akan diam melihat anak mereka mati bersimbah darah. karna perintah dari mereka" Ucap sang Kakek.
Benar, Semua yang di katakan kakek ini memang benar adanya. Jika mereka Manusia. mereka tidak akan menjual bayi mereka hanya demi uang, dan jika mereka Manusia. mereka tidak akan memaksa anak mereka untuk mencuri. hingga harus meregang nyawa karna di hakimi warga.
Mereka memang bukan manusia, Ku kira mereka hanya berbuat kejam kepadaku. sampai membuang dan tidak peduli jika aku menjadi santapan hewan buas sekalipun. rupanya mereka juga melakukan kebiadaban kepada anak anak mereka yang lain.
"Apa tidak ada upaya dari warga untuk melapor ke polisi?" Jawabku.
Ya, daerah sini ku lihat memang banyak sekali perkebunan. ada yang menanam berbagai bumbu dan juga umbi umbian.
dan ada juga yang menanam sayuran.
"Juragan Karso?" Jawabku.
"Iya, Juragan Karso. dia menikahi Indah, kakak dari Nak Rangga" Ucap kakek. yang langsung membuatku menatap ke arah nya.
Jadi, juragan yang di maksud Radit tadi adalah dia? Juragan Karso? aku harus mencari tahu siapa lelaki ini?
"Apa kakek tahu di mana rumah juragan Karso tersebut?" Jawabku.
"Untuk apa Nak? kamu jangan kesana, atau membuat urusan dengan dia Nak. dia bukan orang baik. dia memiliki banyak sekali pengawal yang tidak segan melukai orang lain yang berurusan dengan juragan Karso" Ucap kakek. dengan cemas
"Tidak kek, saya tidak akan membuat urusan dengan orang itu" Jawabku.
*****************************
Setelah berbincang panjang lebar dengan Kakek penjaga makam. dan mengetahui tentang kepribadian serta sikap kedua orang tuaku. aku akhirnya memutuskan untuk pulang, tentunya setelah memberi beberapa lebar uang ratusan pada sang kakek.
melihat kondisi tubuhnya yang cukup renta. dan melihat gubuk nya yang berdiri di dekat makam. dan hanya tinggal seorang diri. membuat hati Nuraniku tergerak. aku harus bisa merubah kondisi desa disini. mungkin kakek itu hanya satu di antara puluhan warga yang terzalimi oleh kekejaman manusia tidak berhati.
Yang memanfaatkan ketidak kemampuan warga tak berdaya demi sebuah keuntungan yang merugikan warga yang lain.
"Radit, setelah sampai ke rumah. tolong cari tahu tentang Juragan Karso, apa saja yang dia lakukan. dan jangan lupa secepatnya buat jadwal pertemuan ku dengan Indah" Titah ku pada Radit yang sibuk menyetir mobil.
"Baik Bu, Apakah Juragan Karso itu Suaminya Indah Bu?" Jawab Radit.
"Ya, menurut informasi yang saya dapat dari kakek tadi. bahwa Juragan Karso adalah Suaminya Indah." Ucapku.
"Baik Bu, saya akan mencari tahu tentang orang itu, dan saya juga akan segera menjadwalkan pertemuan ibu dengan Indah," Jawab Radit.
"Terima kasih," Ucapku.
Perjalanan terasa Tidak begitu panjang, tidak seperti perjalanan awal tadi. Namun, kali ini aku mendapat banyak sekali informasi. salah satunya tentang keberadaan adik adik ku.
dan bagaimana sikap dua manusia yang seharusnya menjadi orang tuaku. Namun, tidak membuat ku merasa bangga memiliki mereka berdua. melainkan membuatku merasa malu mengakui mereka berdua sebagian orang tuaku. dan merasa sangat Jijik dengan perlakuan mereka yang tidak berubah hingga kini.
"Radit, Eemm sebelum kamu mencari tahu tentang Juragan Karso dan Indah. bisakah kamu mencari keberadaan Bayi yang di jual oleh Siti dan suaminya?" Ucapku yang baru teringat dengan Bayi malang yang baru saja sebulan yang lalu di jual orang tuanya.
"Bayi yang mana Bu? yang pertama atau yang kedua?" Jawab Radit bingung.
"Yang kedua, Namun, jika memungkinkan dan jika bisa. carilah bayi yang pertama di jual" Ucapku.
"Baik Bu, saya akan mencari keberadaan bayi itu" Jawab Radit.
"Bagus, terima kasih Radit" Ucapku.
Aku memutuskan untuk mencari keberadaan bayi malang itu dulu. baru aku akan meneruskan mencari Indah dan putri.