
Setelah memohon kepada Danu agar aku bisa segera pulang, akhirnya Danu pun mengabulkan apa yang aku ingin kan. Walau baru sehari di rumah sakit. aku sudah sangat merindukan suasana rumah. Terlebih, aku juga ingin sekali bertemu dengan Adik adik ku. Ah, rasanya pasti sangat bahagia. Apalagi Yuda sudah di temukan. aku ingin sekali melihat Rupa adik ku yang malang itu.
Aku juga harus memberi apresiasi yang sangat besar kepada Radit dan teman teman nya. Kerja mereka memang tidak bisa di ragukan lagi. Padahal aku meminta mereka untuk berlibur, biarkan saja tugas mencari Yuda mereka tunda. Tapi, rupanya mereka sangat gesit dan pekerja keras. Baru juga sehari, mereka sudah menemukan Yuda?
"Baik lah sayang, kalau kamu tetap mau pulang hari ini. aku akan mengajukan kepada dokter yang menangani kamu, dan aku juga akan membawakan Gamis serta kerudung yang kau pinta tadi" Ucap Danu seraya memegang tangan ku lembut.
"Terima kasih banyak, dan oh iya. apa kau memberi ku ijin untuk mengenakan Cadar?" Jawab ku.
"Untuk hal tersebut, aku memasrahkan semua keputusan kepadamu sayang, Namun percaya lah. aku akan selalu mendukung semua keputusan yang kau ambil. selama kamu merasa nyaman dan bahagia. percayalah aku akan selalu mendukung kamu" Ucap Danu.
"Terima kasih banyak ya sayang" Jawabku.
Danu membelai rambut ku dengan begitu lembut, tidak pernah dia melepas genggaman tangan nya. kehangatan yang Danu curahkan, mampu membuatku benar benar merasa menjadi wanita yang paling beruntung di seluruh dunia.
Setelah memaksaku untuk makan. Danu pun pergi meninggalkan ku. dia meminta ijin untuk menemui dokter yang selama ini menangani ku. dan membawakan Gamis yang ku minta.
Entah bagaimana lagi aku berucap syukur?
Rasanya saat ini aku sudah tidak ingin meminta apapun lagi. Allah sudah memberiku banyak sekali kebahagiaan. bahkan apa yang pernah ku lalui, Cobaan yang pernah ku lewati. Semua nya terganti dengan kenikmatan yang tiada Tara. bahkan apa yang saat ini ku peroleh, sungguh melebihi dari apa yang sudah ku lalui selama ini.
Seandainya saja, Jika Ayah dan Ibu masih ada? Mungkin mereka juga akan ikut bahagia dengan apa yang telah ku gapai? bayangan akan kebaikan dua manusia berhati mulia itu, sejenak membuyarkan kesadaran ku. kenangan akan kasih sayang mereka berdua. tidak pernah aku bisa membalasnya.
mungkin dengan menjadi wanita yang baik, dan berjalan di jalan Allah. mereka akan bahagia di Surga sana. dan mungkin juga, Allah memberi kami kesempatan untuk berjumpa di Surga Nanti.
Danu mengelus tangan ku dengan lembut, yang seketika menyadarkan ku. akan bayangan kebahagiaan yang tidak akan bisa terulang kembali. Danu berpamitan, dia meminta ijin untuk pergi. dan mengecup kening ku sebelum dia benar benar bangkit dari duduk nya. Aku tersenyum. kala senyum manis tersirat di wajah lelaki tertampan ku. lelaki terhebat ku. lelaki yang kini sudah Sah menjadi suamiku.
punggung lelaki yang ku sayang nan cinta. telah hilang di balik pintu rumah sakit. Kini hanya ada aku berteman kan sunyi.
Ruangan yang cukup luas ini, Rasanya terasa begitu sunyi setelah kepergian Danu.
************************
PERSI DANU..................
Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa ku dustakan. Hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi. telah terjadi tepat di hadapan mata ku.
Setelah lebih dari 4 bulan lamanya. Lea istri yang sangat ku cinta. Wanita Tercantik yang Ku Halal kan harus Jatuh Koma karna luka tembakan yang cukup parah.
Bagaimana tidak? salah satu peluru bersarang tepat di jantung nya. bahkan beberapa dokter pun sudah mengangkat tangan. karna kondisi Lea yang terbilang cukup parah.
Tubuh wanita itu sama sekali tidak merespon obat obatan yang kami beri. berbagai pertolongan sudah kami kerahkan. Namun, tetap saja tidak ada respon dari tubuh nya.
Beberapa rekan dokter ku hanya berkata. untuk memasrahkan semua kepada yang Kuasa. Ya, bagaimana pun juga. Kami semua adalah makhluk Ciptaan yang kuasa.
Seberapa besar pun kami berusaha. Semua keputusan tetap lah ada pada tangan yang kuasa.
Kuasa Allah tidak bisa kita tebak.
Selama Empat bulan lamanya. Lea terbaring dengan selang infus yang 24 jam menempel di lengan nya. dengan selang oksigen yang tidak pernah lepas dari indra penciuman nya.
dengan kondisi yang terbilang cukup lemah.
Wajah yang semakin hari semakin memucat, membuat kami semua sebagai tenaga medis. mulai menyimpulkan. bahwa Salah satu makhluk ciptaan Allah ini, menandakan bahwa dia sudah lelah.
Lea benar benar seperti mayat hidup, Dengan sisa nafas yang di bantu beberapa alat rumah sakit. membuat sebagian dokter mulai mengangkat tangan nya.
Satu minggu sebelumnya, pihak dokter yang merawat Lea. memang menyarankan aku untuk mengikhlaskan Istri ku, untuk merelakan kepergian istriku. mereka meminta untuk mencabut semua alat yang tertempel di beberapa tubuh Lea.
Walau dalam pikiran ku, bahwa Lea ku memang tidak akan bangun lagi. bahwa Lea ku tidak akan membuka lagi matanya. dan Lea ku benar benar ingin pergi meninggalkan ku.
Aku meminta pihak rumah sakit untuk membiarkan wanita tercantik ku, tetap berada di rumah sakit. tetap mendapat perawatan yang baik. bagaimana pun, aku tidak bisa mengubur wanita yang teramat ku cinta ini, apalagi melihatnya di kubur hidup hidup.
Lea ku masih bernafas, walau tubuh nya yang begitu kurus. wajah nya yang begitu pucat. bahkan sudah tidak ada pergerakan di anggota tubuhnya. yang membuat sebagian dokter. menyebutnya sebagai mayat hidup.
Setelah melalui beberapa argumen dan permohonan. akhirnya pihak rumah sakit memberi ku ijin, untuk tetap membiarkan Istri ku berada di rumah sakit.
dan semua terbukti,
Di malam itu, hujan turun begitu deras. bahkan aku bisa merasakan bahwa hujan benar benar terasa ada di hadapan mataku. udara dingin begitu kental. dan seolah menembus tulang tulang ku. deru suara hujan benar benar terdengar begitu memilukan.
hingga ku hampiri istriku. dan alangkah terkejutnya aku, kala melihat wajah wanita yang amat ku cinta. Hanya tersisa tulang berlapis kulit, aku sendiri tidak bisa berkata apapun lagi?
Memang, akhir akhir ini. tubuh Lea semakin kurus. Namun di malam ini. aku benar benar melihat wajah nya bagai tengkorak. tulang tulang tergambar jelas di wajah cantiknya.
hanya tersisa kulit putih pucat yang menyelimuti tukang rahang tersebut.
ku pegang tangan nya. entah bagaimana pula. padahal tadi, sebelum aku duduk di sofa dan memeriksa beberapa berkas pasien. tubuh Lea masih hangat. Namun, saat ini tubuhnya terasa begitu dingin, Bak sebuah batu es. tubuhnya benar benar dingin,
Segera ku selimuti tubuh istriku. dengan air mata yang memaksa untuk keluar. Namun, sekuat tenaga ku tahan!
Bayangan buruk sudah melintas di pikiran ku. pikiran akan Ajal yang akan menjemput istriku. sudah tergambar jelas di bayangan ku.
ku cium beberapa kali wajah dan tangan mulusnya. yang kini hanya tersisa tukang berlapis kulit. air mata mulai mengalir begitu saja. sampai hujan dan gemuruh saling bersahutan. seolah menandakan bahwa kesedihan ku telah mereka dengar.
Aku larut dalam bayangan negatif ku. hingga kaki ku seolah melangkah berjalan ke arah sofa. ku tatap tubuh wanita ku, yang masih setia terbaring di atas tempat tidur nya.
hingga tidak terasa mataku begitu berat, sangat berat sekali. bahkan aku tidak bisa membuka kedua mataku. hingga aku terbawa di alam bawah sadar ku.
Dan.....................