HIJRAH

HIJRAH
"JATUHNYA HUKUMAN MOMMY"


Tok Tok Tok........


Danu mengetuk pintu papan tersebut, awalnya tidak ada jawaban serta gerakan.


Tok Tok Tok.......


Masih tidak ada jawaban atau tanda tanda rumah ini berpenghuni,


Tok Tok Tok......


Hingga di ketukan ke tiga kalinya, pintu terdengar terbuka. dan tak lama pintu benar benar terbuka sempurna.


Pandanganku kini berubah sempurna. melihat apa yang ku lihat di depan mataku. bahkan tangan ku sampai menutup mulut ku tak percaya.


Ya Allah, apakah ini benar?


Ka Sindi yang tengah duduk di bawah tanah. yang bersusah payah membuka pintu gubuk ini, dengan memakai pakaian yang sangat lusuh. serta.......


Ya Allah, ke mana kaki kakak ku?


segera ku hampiri kak Sindi. yang seolah olah tidak percaya melihat ku ada di hadapan nya. ku peluk erat tubuhnya. dia pun berbalik memeluk tubuhku dengan begitu erat,


Tangisan akhirnya tertumpah di antara kami berdua. kami saling meluapkan rasa rindu. dan rasa cemas selama ini.


hingga seorang wanita tua keluar dari dalam gubuk ini.


Dia melihat ke arah kami semua, dan tersenyum.


"Lea, benarkah ini kamu?" ucap kak Sindi seraya menangis.


"Iya kak, ini aku Lea" jawabku.


"Kamu masih hidup Lea, kakak hancur kala mendengar kabar kematian mu. kakak mengutuk diri kakak setiap malam. karna kakak telah menjerumuskan mu ke dalam dunia itu. kakak sangat menyesali itu semua Lea" ucap kak Sindi.


"Tidak kak, kakak tidak bersalah" jawabku.


"Maaf kan kakak Lea, sekali lagi kakak mohon maaf" ucapnya seraya terus menangis.


"Kak, aku sangat senang bisa menemukan kakak. sebentar lagi kita akan terbebas dan hidup dengan normal" jawabku.


"Kamu," ucap Kaka Sindi seraya melihat penampilan ku.


"Ya, aku sudah berubah kak. aku sudah bertaubat. ada seorang hamba Allah, yang membantuku untuk berhijrah" jawabku.


Ku peluk kembali tubuh kak Sindi. ya Allah, mohon kuatkan lah kakak ku. dalam menghadapi semua masalah ini.


Ya Allah, semoga semua permasalahan ini segera berakhir,


Setelah kami saling melepas rindu, Angga memerintahkan kami untuk memasuki mobil dan kembali ke kota, kami harus segera melaporkan perbuatan mereka semua.


Namun, kala aku berbalik badan, terdengar suara tembakan yang entah dari mana asalnya.


Yang sontak saja, bukan hanya membuatku terkejut. melainkan beberapa orang yang sedari tadi memperhatikan kami, warga warga desa membantu ku membawa tubuh kak Sindi memasuki gubuk tersebut.


Adu tembakan benar benar tidak bisa terelakan, Danu menggandeng tangan ku untuk memasuki gubuk ini, Namun, kala aku berjalan, sebuah tembakan tepat mengenai betis kaki ku, yang sontak membuatku terjatuh.


Dengan wajah yang nampak cemas. Danu membopong tubuhku memasuki gubuk. hingga akhirnya menutup pintu gubuk tersebut.


Aku di dudukan di sebuah tikar yang terbuat dari dedaunan. darah segar masih mengucur dari kaki ku, Danu segera mengangkat Gamis ku yang berwarna hitam, saat gamis tersebut di angkat. baru lah terlihat, bahwa darah yang keluar cukup banyak.


Danu segera mengangkat celana legging ku, dan kemudian merobek kemeja panel yang dia gunakan. Danu membalut luka ku dengan baju nya.


Ada rasa sakit di kaki ku, rupanya seperti inikah rasanya terkena tembakan.


suara tembakan masih terdengar di luar gubuk, suara saling tembak masih terus beradu,


Aku tak tahu, siapa yang telah menembak ku.


kak Sindi memeluk tubuh ku, dia terus menangis. bahkan Danu juga terlihat mengkhawatirkan ku,


Hingga, suara tembakan tidak lagi terdengar,


"Apa kamu tahu, jika akan terjadi peperangan seperti ini?" tanyaku pada Danu.


"Ya, aku tahu, sebenarnya Angga memberi saran. agar kamu tinggal di rumah, Namun, aku tidak tenang jika membiarkan mu sendiri di rumah" jawab Danu.


"Siapa mereka?" ucapku.


"Ya Allah," ucapku.


"Itu sebab nya, Angga memberi pengawalan yang ketat kepadamu tadi, karna aku takut. jika terjadi hal hal yang tidak di ingin kan" jawab Danu.


*******************


Kami semua sudah berada di dalam mobil, Danu mengobati luka di kaki ku. dan berhasil mengeluarkan peluru yang sempat bersarang di betis ku. walau agak ngeri kala danu berkutik dengan beberapa alat medis. dan tentunya. yang lebih ngilu adalah rasa di kaki ku. Danu, dia benar benar mempersiapkan semua nya. bukan hanya membawa pasukan kepolisian. dia juga membawa alat medis. untuk antisipasi.


Warga yang sebelumnya tinggal di desa bersama kak Sindi pun. aku membawa mereka semua. rupanya mereka adalah satu keluarga. dan nenek yang tinggal bersama kak Sindi adalah ibu nya.


Alasan mereka tinggal di tengah hutan, karna masalah ekonomi. mengapa pula aku membawanya?


Selain mereka telah menolong kakak ku, yang berarti aku telah berhutang Budi pada mereka. aku juga akan menyediakan tempat tinggal pada mereka. tentunya setelah urusan ku telah selesai.


"Lea, apa kamu yakin akan mengurus mereka semua?" tanya Danu padaku.


"Ya, aku akan membalas Budi mereka. karna mereka telah menyelamatkan kak Sindi" jawabku.


"Lalu, di mana mereka akan tinggal?" ucap Danu.


"Aku akan menyediakan tempat tinggal untuk mereka, dan jika urusan ku telah selesai. aku akan memperkerjakan beberapa dari mereka di resto ku" jawabku.


"Tapi, memangnya mereka berpendidikan? apa mereka memiliki ijazah?" tanya Angga.


"Pendidikan tidak penting bagiku, yang terpenting mereka berniat bekerja. dan merubah hidup mereka menjadi lebih baik. maka In Sha Allah aku akan mendukung mereka" jawabku.


"Kamu sangat baik Lea" ucap Danu.


"Aku belajar dari kamu Danu" jawabku.


"Cie Cie.... udah lah cepetan saja di Halal kan" ucap Angga. yang sontak membuat Danu salah tingkah.


"Begitu lah cinta pak" ucap polisi di belakang ku.


"Saya jadi ingat, waktu saya bertemu dengan istri saya"


"Jadi pingin balik lagi ke masa masa muda dulu"


"Boleh balik lagi, asal jangan menikah lagi"


"Iya, di marahi kapten tidak semenakut kan di marahin istri"


"Hahahaha"


Beberapa gurauan di dalam mobil. membuat rasa sakit di kaki ku. tidak begitu terasa. rupanya mereka humoris juga.


***************************


ATAS UPAYA PERCOBAAN PEMBUNUHAN, YANG DI LAKUKAN SAUDARI MARRY, ATAU YANG BIASA DI KENAL DENGAN SEBUTAN MOMMY. YANG BERHASIL MELUKAI DUA KORBAN NYA. YANG BERNAMA LEA PATMAWATI, DAN SINDI ANGGRAENI. YANG DI LAKUKAN OLEH BEBERAPA ORANG BAYARAN NYA. DAN LAPORAN PERDAGANGAN MANUSIA. YANG DI KETUAI OLEH MARRY. KAMI MENJATUHKAN HUKUMAN BERLAPIS. YAITU, HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP UNTUK SEMUA TERSANGKA.........


Suara ketukan palu hakim. berhasil membuatku bernafas dengan lega. akhirnya mereka mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan perbuatan mereka.


Aku memeluk tubuh kak sindi, akhirnya kami menang. dan kami bisa menjalani hidup kami dengan seperti biasa nya.


"Terima kasih Danu" ucapku pada Danu.


"Aku senang bisa membantumu Lea" jawab nya.


"Jika tidak ada kamu, dan bantuan darimu. aku sangat yakin, aku tidak akan bisa seperti sekarang" ucapku


"Sama sama" jawabnya.


PERSI AUTHOR.....


Lea kembali memeluk tubuh Sindi.


Ya, Sindi kehilangan satu kaki nya. disaat dia berhasil lari dari kecelakaan hari itu, dia bergegas pulang ke rumah. Namun, Sintia mengabari bahwa orang orang jahat itu. tahu di mana kediaman mereka. hingga Sindi menjual rumah nya dengan harga yang terbilang sangat murah.


Saat dia berupaya lari dari kejaran anak buah Marry, yang tidak lain adalah Mommy. Sindi tertabrak sebuah truk, hingga kaki nya terlindas. melihat kondisi Sindi yang terbaring lemah di tengah jalan. para penjahat tersebut lari. karna takut di hakimi masa.


Melihat itu, Sintia mengobati Sindi dan bergegas membawa Sindi jauh dari kota. dan menyembunyikan Sindi di perkampungan tersebut,


Sindi di rawat dan di obati oleh orang orang di kampung sana, hingga, luka di kaki nya sudah mulai mengering.


Sintia selalu mengirimi kabar kepada sindi. hingga, kabar di mana Lea telah meninggal. yang membuat Sindi sangat tertekan. serta di rundung rasa bersalah yang besar,