HIJRAH

HIJRAH
"SARAN KAK SINDI"


Setelah meminta asisten ku menunggu ku mandi dan bersiap. aku pun melajukan Mobil ku menuju kediaman kak Sindi.


Sepanjang perjalanan. pikiran ku selalu terganggu akan mimpi dan bunga yang tadi ku tinggalkan masih tergeletak di lantai kamarku tersebut.


Sekitar 15 menit di perjalanan. Akhirnya mobil yang ku kendarai pun telah tiba di pekarangan rumah kak Sindi.


pembantu yang dulu ku pekerjakan untuk membantu Mbok Inah dengan sigap membukakan gerbang besar ini.


"Kak Sindi ada mbak?" tanyaku kala keluar dari dalam mobil.


"Ada Bu" jawabnya.


Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah kak Sindi.


"Kak, kak Sindi" ucapku sedikit berteriak.


"Lea," Jawab kak Sindi seraya berjalan keluar kamar nya.


"Kak" ucapku menghampiri dan memegang lengan nya.


"Lea, kamu kemana saja? sudah tiga hari tidak ada kabar. kakak telpon tidak di angkat. kakak Chat tidak di baca? kamu kemana saja? kakak khawatir kamu kenapa kenapa tahu gak?" jawabnya


"Kak, kita duduk dulu. aku mau menceritakan satu hal" ucapku


kak Sindi pun mengikuti arahan yang ku berikan. walau dari wajah nya terlihat sangat jelas ada kebingungan disana?


"Ada apa Lea? Dan bilang pada kakak kemana kamu selama tiga hari ini?" ucap kak Sindi setelah kami telah duduk di sofa miliknya.


"Itu yang mau aku bicarakan kak" jawabku lemas.


"Ada apa Lea?" ucapnya.


"Kak, sebenarnya selama tiga hari ini aku tidak kemana mana, aku hanya tidur di rumah ku" jawabku.


"Jika kamu hanya tidur, mengapa kamu sampai tidak menjawab telpon dari kakak?" ucapnya.


"Itulah kak, setelah selesai dengan pekerjaan ku malam itu. aku pulang ke rumah dan tidur di kamarku. aku merasa hanya tidur sebentar. namun rupanya aku tidur selama tiga hari lamanya" jawabku tak yakin


"Gimana maksudnya, kakak tidak mengerti?" ucapnya dengan alis bertaut.


"Aku juga tidak mengerti kak, cuma tadi siang aku di kejutkan dengan suara asisten ku yang mengetuk pintu kamar begitu keras. saat ku buka dia menjelaskan aku tidak keluar kamar selama tiga hari" jawabku.


"Tunggu, jadi maksud kamu. kamu tidur selama tiga hari tanpa bangun?" ucapnya


"Sepertinya begitu kak, awalnya aku tidak percaya. namun setelah datang kesini aku baru percaya" jawabku.


Seketika keheningan menimpa kami berdua. Sepertinya kami berdua saling larut dalam pikiran masing masing. sejujurnya pikiran ku masih terganggu akan mimpi ku itu. bagaimana mungkin dan bisa. aku sampai tidur tiga hari lamanya? padahal aku hanya merasa tidur sebentar saja.


Sejujurnya aku merasa tidak nyaman. entah kenapa ada perasaan khawatir dalam diriku. terlebih bunga yang ada dalam mimpi ku. bisa berada di dunia nyata?


Apa aku terkena santet?


atau ilmu hitam lain nya mungkin?


Tapi, aku sama sekali tidak merasa kesakitan sama sekali?


beberapa detik. kami diam dalam pikiran masing masing.


"Dan kakak tahu gak? Malam itu aku bermimpi di perhatikan oleh banyak sekali manusia. aku merasa telanjang. padahal aku masih mengenakan pakaian.


dan aku berlari sekuat tenaga. hingga kaki ku membawaku ke sebuah lapangan yang hanya berisikan rumput berwarna oranye.


namun, setiap kaki ku melangkah. rumput tersebut seperti enggan aku sentuh. ku tatap langit


sama sekali tidak ada matahari. namun di sana sangat panas sekali. aku bahkan merasa jika matahari berada tepat di pucuk kepala ku. dan saat aku menangis karna aku merasa sangat takut, tiba tiba ada sebuah bunga berwarna putih dan bercorak hitam. Tiba tiba jatuh begitu saja di atas pangkuan ku. aku tidak tahu dari mana bunga itu berasal. karna di lapangan tersebut sama sekali tidak ada tanaman bunga. Dan......" Sambung ku.


"Dan apa?" tanya kak Sindi.


"Dan saat aku bangun dan sepenuhnya telah tersadar, aku mendapati bunga tersebut berada di lantai kamar ku kak" Ucapku.


"Apa kamu yakin Lea?" jawab kak Sindi penuh tanya.


"Aku sangat Yakin kak, Menurut kakak apa yang telah terjadi?" ucapku.


"Dan...." ucapku menggantung.


"Dan apa?" jawabnya.


"Sebenarnya, di malam sebelum kematian mbok Inah. Mbok Inah selalu memintaku berhenti dari pekerjaan kita. Namun aku selalu mengalihkan pembicaraan. hingga puncak nya. kala mbok Inah hendak menghembuskan nafas terakhirnya. dia meminta ku untuk bertaubat. dan berhenti kak" ucapku


"Apa?" jawab kak Sindi.


"Iya kak, selama ini aku tidak tahu harus bicara bagaimana? dan kakak juga tahu sendiri. kita tidak akan mudah keluar dan berhenti dari pekerjaan itu!" ucapku.


"Kita harus tanyakan pada orang yang lebih paham Lea," jawab kak Sindi.


"Apa jangan jangan aku terkena santet kak?" ucapku


"Hush, jangan bicara hal yang tidak tidak. kita cari tahu dan tanyakan saja pada ahlinya" jawab kak Sindi.


"Eemm, apa kita akan pergi ke dukun kak?" ucapku


"Mungkin, karna kakak sendiri tidak tahu arti dari mimpi dan hal yang menimpa padamu Lea" jawab kak Sindi.


"Eemm kak, Kalau kita pergi ke ustadz saja bagaimana? entah kenapa? aku tidak yakin untuk pergi ke dukun" ucapku.


"Apa ustadz paham dengan mimpi yang kamu alami?" jawab kak Sindi.


"Aku juga tidak tahu kak? tapi, hati aku seperti tidak memberi ijin untuk pergi ke dukun kak" ucapku.


"Kamu begitu karna kamu habis mengalami hal yang aneh, kakak rasa ustadz belum tentu bisa menjawab pertanyaan kita Lea." jawab kak sindi


"Lalu, menurut kakak bagaimana?" ucapku


"Kita pergi saja ke orang pintar," jawab kak Sindi.


"Kalau menurut kakak itu yang terbaik, aku ikut saja" ucapku.


Sejujurnya aku tidak terlalu percaya dengan yang namanya dukun atau orang pintar, bukan karna aku tidak mempercayai kemampuan mereka. atau ilmu yang mereka miliki.


Namun, Saat aku kecil. Ayah selalu mengatakan kalau kita hidup jangan pernah menyekutukan Allah, kata Ayah mempercayai orang pintar atau dukun itu namanya musyrik. atau dosa besar.


Tapi, aku juga tidak mungkin menolak saran dari kak Sindi. mengingat selama ini dia banyak sekali berjasa dalam hidupku.


Lagi pula. aku juga bukan manusia atau wanita terhormat, Mengingat banyak nya dosa yang sengaja ku perbuat saja. rasanya aku tidak pantas menasehati orang lain.


Aku pun hanya diam. kak Sindi sibuk menelpon seseorang. pikiran ku masih larut dalam peristiwa yang menimpa ku.


"Bu, mau saya buatkan minum?" tanya ART yang bekerja di rumah kak Sindi.


"Minta bawain saja air putih ya mbak" jawabku lemas


"Baik Bu" ucapnya seraya pergi.


Setelah selesai menunggu kak Sindi bersiap.kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat di mana orang pintar itu tinggal.


sepanjang perjalanan aku sama sekali tidak bersemangat, mungkin bukan hanya aku tidak sepenuhnya ingin pergi bertanya pada orang pintar. namun juga pikiran ku masih terganggu akan mimpiku itu.


perjalanan yang kami tempuh sangat lah jauh, kami juga masuk ke sebuah perkampungan yang aku tidak tahu dimana? karna sepanjang perjalanan aku hanya memejamkan mataku.


Jalanan mulai sempit, hanya cukup untuk satu mobil saja. hingga kita pun tiba di depan sebuah rumah dengan Bilik bambu sebagai dinding nya. rumah dengan Model panggung.


halaman di depan rumah sangat rapi dan bersih. ku perkirakan orang nya pasti selalu membersihkan rumah ini.


"Kita sudah sampai Lea, ayo kita masuk" ajak kak Sindi.


Aku pun hanya mengangguk dan mengikuti ajakan dari kak Sindi. hingga kami berdiri di depan sebuah pintu yang terbuat dari papan.


kak Sindi mengetuk pintu beberapa kali. hingga keluar lah seorang Lelaki paruh baya.


"Mbah, saya Sindi dan ini Lea. kami kesini mau." belum sempat kak Sindi menyelesaikan ucapan nya. lelaki paruh baya ini sudah menimpali ucapan kak Sindi.


"Saya sudah tahu, ayo masuk!" jawab lelaki tua tersebut.


Kami berdua pun masuk ke dalam rumah. kami di persilahkan duduk di ruang tengah rumah ini. rumah ini memiliki dua kamar. salah satu nya tertutup gorden. hingga aku tidak tahu isi dalam kamar tersebut.