HIJRAH

HIJRAH
"RESTO BARUKU"


Tiga Bulan Kemudian........


Semua warga memang masih hidup dan tinggal di rumah mereka. Namun aku terus meminta mereka melunasi hutang yang telah mereka pinjam dariku. Tak segan segan aku meminta bantuan pihak kepolisian setempat untuk memberi peneguran terhadap mereka.


Hutang mereka memang sangat besar, aku sendiri tidak merasa yakin jika mereka bisa melunasi semua nya? Namun rencana ku adalah memberi mereka semua pelajaran. agar tidak memandang manusia miskin buruk. dan menghinakan manusia lain tanpa mengukur keimanan pada diri mereka.


Setiap bulan nya mereka semua mencicil hutang yang mereka pinjam dariku. Aku tidak ingin peduli bagaimana cara mereka melunasi semua hutang nya. Bagiku itu bukan urusan ku. Karna urusan ku adalah semua uang ku kembali dan mereka mendapat balasan dari apa yang aku alami dulu.


Bukan kah dulu mereka membuat ku dan kedua orang tua ku begitu kesusahan


Bukan hanya masalah keuangan. Mereka juga sangat tidak berbudi.


Hari ini, selepas dari salon untuk perawatan


Aku memutuskan untuk berkunjung ke resto ku, Ya, memang beberapa bulan yang lalu. Aku memberanikan diri untuk membuat sebuah restoran. Setelah melihat rumah makan ku berjalan lancar dan ramai pengunjung, aku akhirnya memberanikan diri membuka restoran


Sebuah restoran dengan bernuansa pedesaan, beberapa tanaman hijau dan kolam ikan menghiasi restoran baruku.


Tempat ini bukan hanya menyuguhkan nuansa khas pedesaan. Disini juga terdapat gedung yang sengaja di buat untuk acara nikahan atau acara besar lain nya.


Gedung yang memiliki dua lantai tersebut, menyuguhkan nuansa modern dan nuansa luar negri.


Tidak hanya itu, menu andalan di resto ku ini juga menyediakan makanan khas Nusantara. Yang kaya akan rempah dan bumbu. Beberapa makanan daerah di pilih untuk di jadikan makanan pilihan. Tidak hanya itu. Di resto ku juga menyediakan beberapa desert. Dan pasta.


Menurut Manager yang mengurus resto ku. Kita juga butuh menu yang banyak di gemari kalangan remaja. Seperti kopi, minuman kekinian dan juga pasta.


45 menit di perjalanan. Akhirnya aku sampai di resto yang sedari tadi ku tuju. Dari luar aku melihat beberapa kendaraan berjejer di area parkir.


Senyum ku merekah kala melihat beberapa meja di isi oleh pengunjung. Itu artinya resto ku mendapat respon yang positif dari pengunjung.


Aku pun duduk di salah satu meja yang memang kosong dan jauh dari pengunjung yang lain.


"Bu, mau saya buat kan minuman?" Tanya waiters saat aku tengah memainkan ponsel ku.


"Tolong buatkan saja Capuccino" jawabku


"Baik Bu" ucapnya seraya pergi meninggal kan ku.


Saat aku tengah menunggu minuman ku. Tiba tiba ponsel ku berdering dan terpampang nama Mbak Sri disana.


Ya, setelah beberapa tahun yang lalu. Mbak Sri sudah menikah dengan lelaki idaman nya. Sekarang usia pernikahan nya genap 6 bulan. Dan Zani seraya Zian sebentar lagi akan memasuki Sekolah Menengah Pertama(SMP)


Beberapa tahun bergelut dengan pekerjaan yang hina. Aku merasa puas. Karna pengorbanan ku tidak lah sia sia.


Ibu kini rumah nya sudah bagus dan besar, semua kebutuhan Zani serta Zian sudah bisa ku penuhi. Bahkan aku juga bisa memberi modal usaha untuk mbak Sri di kampung. Dia ingin membuka usaha berjualan bakso. Karna kebetulan suaminya memiliki bakat untuk membuat bakso yang enak. Jadi dia memutuskan untuk membuka kedai bakso di kampung nya.


"Hallo mbak Sri, apa kabar?" Ucapku kala sambungan telpon telah tersambung.


"Hallo Lea, kabar ku baik. Bagaimana dengan kabar mu disana?" Jawabnya


"Kabar ku juga baik mbak, ada apa ya mbak?" Ucap ku.


"Syukurlah kalau baik, apa aku mengganggu mu lea?" Jawabnya.


"Tidak mbak, kebetulan aku sedang berkunjung di resto baruku mbak" ucapku.


"Oh iya, bagaimana dengan resto barumu Lea. Apa semua nya baik baik saja?" Jawabnya.


"Syukurlah kalau semua nya baik, oh iya Lea. Aku mau mengembalikan pinjaman modal yang dulu aku pinjam. Alhamdulilah. Aku sudah ada uang untuk mengembalikan nya" jawabnya.


"Tidak usah di kembalikan mbak, mbak simpan saja uang nya" ucapku seraya menerima capuccino pesanan ku.


"Kenapa memang nya Lea," jawabnya.


"Aku memberi modal bukan dalam bentuk pinjaman mbak, namun aku sengaja memberikan nya." Ucapku.


"Tapi kan jumlah nya lumayan besar Lea, uang 10 juta itu besar Lea" jawabnya.


"Ya sudah, kalau mbak Sri tetap mau membayar nya, tolong mbak Sri jangan bosan menjaga ibu serta Zani dan Zian. Dengan begitu semua nya aku anggap lunas"ucapku.


"Kok bisa gitu sih Lea, aku akan menjaga mereka semua karna mereka saudaraku. Tapi uang ini sangat besar Lea. Aku tidak enak kalau kamu hanya menganggap nya lunas. Dengan imbalan aku mengurus keluarga ku sendiri" jawabnya.


"Tidak apa mbak, uang nya mbak simpan saja. Uang itu bisa mbak gunakan untuk mengembangkan usaha mbak kan? Mbak bisa menambahkan menu. Seperti jus dan mie ayam. Jadi bukan hanya bakso" ucapku.


"Lea, aku merasa tidak enak kalau begini" jawabnya.


"Ya sudah, tidak apa mbak. Nanti kalau aku main ke kampung tolong buatkan aku bakso nya ya." Ucapku.


"Hehe, iya pasti Lea. Semua bakso disini gratis kalau buat kamu. Oh iya, sudah lama sekali kamu tidak main ke sini? Kapan kamu mau main kesini" jawabnya.


"Doakan saja agar aku dapat libur kerja ya mbak, soalnya disini aku sedang sibuk sibuk nya" ucapku.


"Iya, semoga secepatnya kamu ada waktu untuk main kesini ya. Dan semoga kamu selalu di berikan rejeki yang banyak dan selalu sehat sehat disana ya" jawabnya.


"Aamiin, terima kasih banyak mbak" ucapku.


"Tidak, harusnya aku yang berterima kasih Lea" jawabnya.


"Ya sudah, kalau begitu sama sama" ucap ku.


"Ya sudah, kalau begitu telpon nya aku matikan ya" jawabnya.


"Iya mbak" ucapku.


Sambungan telpon pun terputus. Aku sudah membuat janji dengan kak Sindi untuk bertemu disini. Kak Sindi belum pernah berkunjung ke resto baruku. ya, walau baru buka sekitar 2 bulan yang lalu.


"Lea" suara yang amat ku kenal itu.


"Kak, sini" jawabku melambaikan tangan pada kak Sindi.


"Maaf ya telat, tadi aku terjebak macet di jalan" ucapnya


"Ndok, wah ini restoran barumu Ndok? Besar sekali" ucap mbok Inah seraya melihat sekeliling dan duduk.


"Iya mbok, bagaimana mbok suka?" Jawabku.


"Ini mah seperti restoran orang gedongan Ndok, mbok gak sangka akhirnya kamu bisa sukses seperti sekarang" ucap mbok Inah seraya mengelus pundak ku.


"Lea pasti sukses mbok, dia itu wanita pekerja keras dan punya jiwa kegigihan yang luar biasa tinggi. Dia berani mencoba walau belum tahu hasil akhirnya. Kakak bangga sama kamu Lea" jawab kak Sindi seraya menggenggam lengan ku.


"Semua ini tidak luput dari doa dan dukungan kalian berdua. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang orang baik seperti kalian" ucapku


Ya, hari ini aku berencana mentraktir kak Sindi dan mbok Inah untuk makan sepuasnya di resto ku. Aku ingin mereka ikut merasakan kebahagiaan yang tengah ku rasakan. Karna bagaimana pun. Aku tidak akan bisa seperti ini. Tanpa berjumpa dengan mereka berdua.