
Satu Bulan Kemudian.....
Selama ini aku tinggal di rumah kak Sindi, dia tidak mengijinkan ku pergi. walau aku tidak mengikuti langkah nya menjadi wanita penghibur. dia tidak mengijinkan ku terlantar di jalanan.aku membantu membereskan rumah nya. hingga satu saat, aku ingin sekali bertemu dengan mbak Nurma. entah kenapa? beberapa hari belakangan ini aku selalu kepikiran mbak Nurma, bahkan aku sampai memimpikan mbak Nurma.
aku memutuskan untuk menemui mbak Nurma. dan meminta izin pada kak Sindi. semenjak mengetahui masa lalu kak Sindi. aku tidak lagi ragu, mengetahui dia memiliki pengalaman hidup yang hampir sama dengan ku.
dan aku juga tidak ingin merendahkan pekerjaan yang di geluti kak Sindi. memang benar, jika kita tidak beruntung. menjadi pembantu pun akan membawa kita pada jalan kesusahan.
Contohnya aku, sudah bekerja dengan rajin dan benar. bersikap baik pada teman kerja ku. tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan nya yang selalu ku kerjakan. tahu tahu nya aku malah di fitnah oleh nya.
Dan akhirnya membuatku di berhentikan secara tidak hormat. bahkan yang lebih menjijikan lagi, dia sampai tega mencuri uang hasil kerja ku selama ini.
Dasar manusia tak berbudi. Umpatan demi umpatan yang ku lontarkan jika mengingat apa yang telah di perbuat mbak Siti padaku.
Setelah pekerjaan ku di dapur telah usai. aku berjalan mencari kak Sindi.
dan mendapati kak Sindi tengah duduk di sofa sembari memegang foto almarhum Ayah nya.
Ya, kak Sindi memang sempat membawa ayah nya berobat, Namun takdir berkata lain. di saat dia memiliki banyak uang. Ayah nya telah berpulang.
kak Sindi juga menyadari, bahwa pekerjaan yang dia jalani memang lah tidak bagus. namun tuntutan hidup yang membuatnya enggan meninggalkan rutinitas nya itu.
"Kak" ucapku kala berdiri di hadapan wanita itu.
"Iya Lea?" jawabnya
"Eemm, kak. saya mau pamit. mau menemui mbak Nurma. belakangan ini aku selalu kepikiran dia. dan sampai terbawa mimpi" ucapku.
Ya, kak Sindi sudah tahu tentang mbak Nurma. aku menceritakan semua pada kak Sindi. bagaimana aku bertemu mbak Nurma. hingga dia membantu ku bekerja di rumah itu. bagaimana kebaikan yang mbak Nurma berikan selama ini padaku?
bahkan aku juga menceritakan tentang kehidupan keluarga ku semasa di kampung dulu, kak Sindi dan si mbok sampai menangis mendengar kisah hidupku yang pelik ini.
Bagaimana kesucian ku terenggut di malam kematian ibuku, bagaimana aku di usir dari tempat tinggal ku? dan saat aku berprofesi sebagai pemungut botol bekas.
"Kamu mau menemui mbak Nurma?" jawabnya.
"Iya kak, itupun kalau kak Sindi mengijinkan" ucapku.
"Tentu saja Lea, sejujurnya saya juga ingin bertemu dengan wanita baik seperti mbak nurma itu? kalau begitu biar saya antar kan kamu kesana ya" jawabnya antusias.
"Kak Sindi mau mengantarkan saya?" ucapku.
"Iya, memangnya kenapa?" jawabnya.
"Tidak kak, baik ayo kak." ucapku.
Kami pun pergi, mobil yang kak Sindi membelah jalanan yang tidak begitu macet, aku mengingat jalanan yang pernah ku lalui dengan berjalan kaki dulu.
hingga mobil kak Sindi memasuki sebuah perumahan yang pernah menjadi tempat ku mencari rejeki.
"Stop disini kak, rumah nya majikan mbak Nurma yang itu" ucapku sembari menunjuk salah satu rumah.
"Oh yang itu, lalu bagaimana?" jawabnya.
"Saya ingin menemui mbak Nurma, tapi sayangnya HP ku telah di rampas. jadi saya tak bisa menghubungi nya? jika saya ke sana langsung. takutnya ada majikan nya mbak Nurma. nanti saya malah membuat masalah" ucapku bingung.
Entah kenapa? jantung ku terasa bergetar hebat, aku juga merasakan ada nya ketidak beresan. namun aku benar benar tak tahu?
apa yang akan terjadi.
"Begini saja Lea, jika kamu takut membuat masalah. biar saya yang turun dan mencari mbak Nurma?" jawab kak sindi.
"Kak Sindi serius?" ucapku.
Kak Sindi pun turun dari mobil. dia berjalan menuju rumah tempat mbak nurma bekerja. ku lihat kak Sindi memencet bel rumah beberapa kali, karna rasa penasaran pun. aku turun dari mobil dan menghampiri kak Sindi.
Bel pun di pencet kembali oleh kak Sindi. hingga beberapa saat, pintu rumah pun di buka.
.Seorang wanita cantik. yang ku tahu dia adalah pemilik rumah ini pun keluar dan menghampiri kami berdua.
"Lea? kamu Lea bukan" ucapnya seraya menautkan alis nya.
"Iya Bu, saya Lea. saya kesini mau menemui mbak Nurma" jawabku dengan keringat hampir membasahi sekujur tubuhku.
Mengingat apa yang terjadi padaku hampir dua bulan yang lalu? aku takut kedatangan ku malah membuat masalah untuk mbak Nurma.
"Nurma?" ucapnya dengan wajah yang semakin bingung.
"Iya Bu, saya ingin bertemu dengan mbak Nurma. bolehkan?" jawabku.
"Memangnya kamu dari mana saja? apa kamu tidak tahu apa yang terjadi pada mbak mu?" ucapnya.
Seketika aku dan kak Sindi saling tatap, aku dan kak Sindi di buat bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan majikan mbak Nurma ini? dan sebenarnya apa yang telah terjadi pada mbak nurma?
"Memangnya apa yang terjadi dengan mbak Nurma?" jawabku semakin penasaran.
"Ayo, masuk dulu" ucapnya dengan menyuruh ku dan kak Sindi masuk ke rumah.
Kami berdua pun mengikuti langkah majikan mbak Nurma. hingga dia mempersilahkan kami berdua duduk di sofa tamu miliknya.
hingga beberapa saat datang seorang wanita paruh baya membawa air minum untuk kami berdua.
Ku edarkan mataku? Namun aku tidak menemui sosok mbak Nurma. apa dia sudah berhenti. dan di gantikan dengan wanita tadi?
"Bu, mbak Nurma dimana? mengapa saya tidak melihatnya" ucapku
"Kamu benar benar tidak tahu. apa yang terjadi pada mbak mu Lea?" jawabnya dengan wajah bingung.
"Tidak, memangnya apa yang terjadi pada mbak Nurma?" ucapku.
Beberapa saat, majikan mbak Nurma melihat ke arahku. lalu melihat ke arah kak Sindi. dengan memasang wajah yang sangat bingung.
"Mbak mu sudah meninggal, hampir tiga Minggu yang lalu" jawabnya seketika membuat ku serasa di sambar petir.
Bagai di sambar sebuah petir, aku mendapati sebuah kenyataan. bahwa mbak Nurma telah tiada?
"Apa, mbak Nurma telah tiada?" jawab kak Sindi nampak terkejut.
"Iya, saya juga bingung. mengapa kamu sampai tidak tahu mbak mu sudah tiada?" ucap majikan mbak Nurma seraya melihat ke arahku
"Saya tidak tahu Bu, selama ini saya bekerja dengan kak Sindi, dan ponsel saya telah di rampok" jawabku.
"Jadi, kamu juga tidak tahu penyebab mbak mu meninggal?" ucapnya.
"Tidak, memang nya apa penyebab mbak Nurma meninggal Bu?" jawabku berusaha menahan diri.
Entah kenapa? aku merasa sesak di dada. kenangan akan canda dan tawa antara kami berdua. kebaikan yang banyak di lakukan dan di berikan oleh mbak nurma padaku?
kita selalu tertawa bersama jika bertemu, banyak sekali topik pembicaraan yang kami lontarkan jika bersama, ada kisah sedih sampai kami berdua menangis. ada kisah lucu, sampai kami berdua sakit perut karna kebanyakan tertawa.
Aku tidak menyangka jika mbak Nurma telah tiada?
"Semua karna Siti, teman kerja mu dulu" jawab majikan mbak Nurma. yang membuatku semakin kaget luar biasa..